rss

Selasa, 31 Mei 2011

Ibnu Taimiyah Rahimahullahu Berkata Tentang Sepuluh Amal Penghapus Dosa


Sepuluh Amal Penghapus Dosa

والمؤمن اذا فعل سيئة فان عقوبتها تندفع عنه بعشرة أسباب
Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Jika seorang mukmin melakukan kemaksiatan maka hukuman akibat maksiat tersebut bisa tercegah dengan sepuluh sebab.
أن يتوب فيتوب الله عليه فان التائب من الذنب كمن لاذنب له
Pertama, mukmin tersebut bertaubat sehingga Allah menerima taubatnya karena sesungguhnya orang yang bertaubat dari suatu dosa itu bagaikan orang yang tidak pernah melakukannya.
او يستغفر فيغفرا له
Kedua, atau dia memohon ampun kepada Allah dengan lisannya sehingga Allah mengampuninya.
او يعمل حسنات تمحوها فان الحسنات يذهبن السيئات
Ketiga, atau dia melakukan amal kebajikan yang bisa menghapus kemaksiatannya karena sesungguhnya amal kebajikan itu menghapus dosa amal keburukan.
او يدعو له اخوانه المؤمنون ويستغفرون له حيا وميتا
Keempat, atau didoakan dan dimohonkan ampunan kepada Allah oleh saudaranya sesama orang beriman baik ketika dia masih hidup ataupun setelah meninggal dunia.
او يهدون له من ثواب أعمالهم ما ينفعه الله به
Kelima, atau mendapatkan pahala amal shalih yang dihadiahkan oleh orang-orang yang beriman kepadanya lalu Allah memberi manfaat kepadanya dengan sebab hadiah pahala amal shalih tersebut
او يشفع فيه نبيه محمد
Keenam, atau mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad.
او يبتليه الله تعالى فى الدينا بمصائب تكفر عنه
Ketujuh, atau Allah memberikan ujian kepadanya di dunia dengan berbagai macam musibah yang menjadi sebab terhapusnya dosanya.
او يبتليه فى البرزخ بالصعقة فيكفر بها عنه
Kedelapan, atau Allah mengujinya di alam Barzakh dengan siksaan kubur yang menjadi sebab terhapusnya dosa-dosanya.
او يبتليه فى عرصات القيامة من اهوالها بما يكفر عنه
Kesembilan, atau Allah mengujinya di padang Mahsyar dengan berbagai kengerian yang ada di sana yang hal ini menjadi sebab terhapusnya dosa-dosanya.
او يرحمه ارحم الراحمين
Kesepuluh, atau dia mendapatkan kasih sayang Allah.
فمن اخطأته هذه العشرة فلا يلومن الا نفسه
Siapa yang tidak mendapatkan satu pun dari sepuluh sebab pencegah hukuman atas dosa maka janganlah dia menyalahkan kecuali diri sendiri.
كما قال تعالى فيما يروى عنه رسول الله يا عبادى انما هى اعمالكم احصيها لكم ثم او فيكم اياها فمن وجد خيرا فليحمد الله ومن وجد غير ذلك فلا يلومن الا نفسه
مجموع الفتاوى – (10 / 46-45)
Sebagaimana firman Allah dalam hadits qudsi, “Wahai, hamba-hambaKu itulah amal perbuatan kalian yang kucatat untuk kalian lalu Kuberikan balasan. Siapa yang mendapatkan balasan kebaikan maka hendaknya dia memuji Allah. Sebaliknya siapa yang mendapatkan balasan yang lain maka janganlah dia menyalahkan kecuali dirinya sendiri” (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah jilid 10 hal 45-46, cetakan standar).
Catatan:
Perkataan Ibnu Taimiyyah sebagiannya memerlukan uraian penjelasan yang lebih detail.
READ MORE - Ibnu Taimiyah Rahimahullahu Berkata Tentang Sepuluh Amal Penghapus Dosa

Mantan Budak di Mata Singa


Mantan Budak di Mata Singa

عَنِ ابْنِ الْمُنْكَدِرِ ، أَنَّ سَفِينَةَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْطَأَ الْجَيْشَ بِأَرْضِ الرُّومِ ، أَوْ أُسِرَ فِي أَرْضِ الرُّومِ ، فَانْطَلَقَ هَارِبًا يَلْتَمِسُ الْجَيْشَ ، فَإِذَا هُوَ بِالأَسَدِ ، فَقَالَ لَهُ : أَبَا الْحَارِثِ ، إِنِّي مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ مِنْ أَمْرِي كَيْتَ وَكَيْتَ ، فَأَقْبَلَ الأَسَدُ لَهُ بَصْبَصَةٌ حَتَّى قَامَ إِلَى جَنْبِهِ كُلَّمَا سَمِعَ صَوْتًا ، أَهْوَى إِلَيْهِ ، ثُمَّ أَقْبَلَ يَمْشِي إِلَى جَنْبِهِ ، فَلَمْ يَزَلْ كَذَلِكَ حَتَّى بَلَغَ الْجَيْشَ ، ثُمَّ رَجَعَ الأَسَدُ
Dari Ibnu al Munkadir, sesungguhnya Safinah-bekas budak Rasulullah-kehilangan jejak rombongan pasukannya ketika berada di negeri Romawi atau beliau tertawan di negeri Romawi lalu beliau kabur mencari rombongan pasukan tersebut. Tiba-tiba beliau bertemu dengan seekor singa. Beliau berkata kepada sang singa, “Wahai singa-dalam bahasa Arab singa disebut juga Abul Harits-, aku adalah bekas budak Rasulullah. Aku sedang mengalami kondisi demikian dan demikian. Sang singa pun mendekati Safinah sambil mengibas-ibaskan ekornya. Akhirnya sang singa berdiri di samping Safinah. Setiap kali mendengar suara, singa tersebut mendekat. Akhirnya singa tersebut berjalan bersebelahan dengan Safinah sampai berjumpa dengan rombongan pasukan. Setelah itu, sang singa pun kembali ke tempatnya [Syarh Sunnah karya al Baghawi jilid 13 hal 313 no hadits 3732].
Syaikh Syu’aib al Arnauth mengatakan, “Para perawinya adalah para perawi yangtsiqah (kredibel) akan tetapi Ibnul Munkadir tidaklah mendengar (riwayat) dari Safinah. Riwayat ini juga terdapat dalam al Mushannaf no 20544. Redaksi semisal juga diriwayatkan oleh al Hakim 3/606, dinilai shahih oleh al Hakim dan penilaian al Hakim disetujui oleh Dzahabi. Hadits ini juga disebutkan oleh Suyuthi dalam al Khashaish. Suyuthi mengatakan bahwa hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Saad, Abu Ya’la, al Bazzar, Ibnu Mandah, al Baihaqi dan Abu Nu’aim” [Syarh al Sunnah karya al Husain bin Mas’ud al Baghawi tahqiq Syu’aib al Arnauth jilid 13 hal 313, terbitan al Maktab al Islamy Beirut, cetakan kedua 1403 H].
Al Albani mengatakan, “Al Hakim dalam 3/606 juga meriwayatkan dengan redaksi yang semisal. Al Hakim mengatakan, “Shahih menurut kriteria Muslim”. Penilaian dari al Hakim ini juga disetujui oleh Dzahabi dan benarlah apa yang dikatakan oleh keduanya” [Misykah al Mashabih karya Muhammad bin Abdullah al Khatib al Tibrizi tahqiq al Albani jilid 3 hal 1676 no hadits 5949, terbitan al Maktab al Islamy, cetakan kedua tahun 1399].
Hadits di atas menceritakan sebuah kejadian yang dialami oleh Safinah-dalam bahasa Arab bermakna perahu-yang merupakan gelaran untuk seorang bernama Mahran, kun-yahnya adalah Abu Abdurrahman.
Dari Sa’id bin Jumhan dari Safinah, Ummu Salamah membeliku lalu membebaskan diriku dari perbudakan. Aku membuat perjanjian dengan Ummu Salamah bahwa aku mau merdeka asalkan aku tetap diperbolehkan untuk melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama aku masih hidup. Aku katakan, “Aku tidak ingin berpisah dengan Nabi selama aku masih hidup” [Shifah al Shofwah karya Ibnul Jauzi jilid 1 hal 671, terbitan Dar Al Ma’rifah Beirut, cetakan ketiga 1405 H].
Tentang asal muasal gelar safinah yang beliau sandang, penjelasannya ada dalam riwayat berikut ini:
عن سَعِيد بْنُ جُمْهَانَ ، عَنْ سَفِينَةَ ، قَالَ : كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ ، فَكُلَّمَا أَعْيَا بَعْضُ الْقَوْمِ أَلْقَى عَلَيَّ سَيْفَهُ وَتُرْسَهُ وَرُمْحَهُ ، حَتَّى حَمَلْتُ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا كَثِيرًا ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَنْتَ سَفِينَةُ.
Dari Sa’id bin Jumhan, dari Safinah, beliau mengatakan, “Kami bersama Rasulullah dalam sebuah perjalanan. Jika ada anggota rombongan yang kecapekan maka dia meminta aku untuk membawakan pedang, tameng ataupun tombaknya. Sehingga aku membawa beban muatan yang cukup banyak”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Engkau adalah safinah alias perahu” (HR Ahmad no 21975. Syu’aib al Arnauth mengatakan, “Sanadnya berkualitas hasan”).
Pelajaran terpenting dari hadits di atas adalah adanya karomah (kejadian luar biasa) yang dialami oleh orang-orang yang shaleh.
Terkait dengan karomah untuk hamba-hamba Allah yang shaleh ada tiga sikap manusia. Ada dua sikap salah dan satu sikap yang benar.
Dua sikap yang salah adalah:
Pertama, sikap sebagian orang bahwa semua kejadian luar biasa adalah karomah meski orang tersebut jauh dari ajaran agama. Mereka meyakini bahwa kejadian luar biasa yang dialami oleh orang yang tidak pernah shalat dan tidak pernah berpuasa adalah karomah padahal itu adalah kejadian luar biasa dari bantuan setan jin. Demikian pula, sebagian orang over dosis dalam menghormati dan memuliakan orang shaleh yang memiliki karomah sampai-sampai dipertuhankan. Kuburnya didatangi untuk dimintai kelancaran rezeki, keturunan dll.
Kedua, adalah keyakinan Mu’tazilah yang mengingkari adanya kejadian luar biasa pada diri seorang hamba Allah yang saleh karena mereka beranggapan bahwa kejadian luar biasa hanya bisa dialami oleh para nabi. Tentu ini adalah anggapan yang tidak benar. Yang benar, kejadian luar biasa yang berasal dari anugerah Allah itu bisa dialami oleh para nabi dan bisa dialami orang-orang yang saleh.
Sedangkan sikap yang benar adalah meyakini adanya berbagai kejadian luar biasa. Jika hal itu dialami oleh nabi disebut mu’jizat. Jika dialami oleh manusia saleh yang bukan nabi disebut karomah. Jika dialami oleh orang jauh dari ketaatan kepada Allah maka itu adalah bagian dari ahwal syaithaniyyah alias bantuan setan. Mereka itulah para dukun yang memiliki khadam atau dalam bahasa jawa disebut dengan rewang yang hakikatnya adalah setan jin yang dipuja oleh para dukun.
Jadi tolak ukur yang membedakan antara ahwal syaithaniyyah dengan karomah adalah kondisi orang yang memilikinya. Jika amal perbuatan tersebut sesuai dengan ajaran Islam maka kejadian luar biasa yang dia alami adalah karomah. Jika tidak maka itulah bantuan setan.
READ MORE - Mantan Budak di Mata Singa

Matinya Tokoh Kesesatan


Matinya Tokoh Kesesatan

Seorang muslim sejati itu merasa sedih dengan wafatnya para ulama dan dai. Demikian pula, muslim sejati merasa gembira dengan matinya ahli bid’ah dan orang sesat terutama jika dia adalah tokoh, icon dan aktor intelektual dari sebuah kesesatan. Muslim sejati merasa gembira karena dengan meninggalnya mereka, tulisan dan pemikiran sesat orang tersebut yang menyesatkan banyak orang berhenti. Para ulama salaf tidak hanya mengingatkan bahaya para tokoh kesesatan mana kala mereka hidup lalu ketika mereka mati lantas kita memohonkan rahmat Allah untuk mereka bahkan menangisi kepergian mereka. Teladan para salaf adalah mereka menyelaskan kesesatan orang tersebut meski orang tersebut sudah mati. Salaf menampakkan rasa gembira dengan matinya tokoh kesesatan bahkan mereka saling menyampaikan berita gembira dengan matinya tokoh kesesatan.
ففي صحيح البخاري ومسلم يقول صلى الله عليه وسلم عن موت أمثال هؤلاء: ((يستريح منه العباد والبلاد والشجر والدواب))
Dalam shahih Bukhari dan Muslim Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai kematian tokoh kesesatan “Kematiannya menyebabkan manusia, tanah, pohon dan hewan merasa nyaman”.
فكيف لا يفرح المسلم بموت من آذى وأفسد العباد والبلاد.
Bagaimana mungkin seorang muslim tidak merasa gembira dengan matinya seorang yang mengganggu dan merusak pemikiran banyak manusia dan merusak alam semesta.
لذلك لما جاء خبر موت المريسي الضال وبشر بن الحارث في السوق قال: لولا أنه كان موضع شهرة لكان موضع شكر وسجود، والحمد لله الذي أماته،..(تاريخ بغداد: 7/66) (لسان الميزان: 2/308)
Oleh karena itu ketika terdengar berita mengenai matinya Bisyr al Marisi saat Bisyr bin al Harits berada di pasar beliau berkomentar, “Seandainya berita ini bukanlah berita yang tersebar luas tentu saja berita ini adalah berita yang perlu direspon dengan kalimat syukur bahkan sujud syukur. Segala puji milik Allah yang telah mematikannya” [Tarikh Baghdad 7/66 dan Lisan al Mizan 2/308].
وقيل للإمام أحمد بن حنبل: الرجل يفرح بما ينزل بأصحاب ابن أبي دؤاد، عليه في ذلك إثم؟ قال: ومن لا يفرح بهذا؟! (السنة للخلال: 5/121)
Ada seorang yang bertanya kepada Imam Ahmad, “Apakah berdosa jika seorang itu merasa gembira dengan musibah yang menimpa para pengikut Ibn Abi Duad [tokoh Mu’tazilah]?” Jawaban Imam Ahmad, “Siapa yang tidak gembira dengan hal tersebut?!” [as Sunnah karya al Khallal 5/121].
وقال سلمة بن شبيب: كنت عند عبد الرزاق -يعني الصنعاني-، فجاءنا موت عبد المجيد، فقال: (الحمد لله الذي أراح أُمة محمد من عبد المجيد). (سير أعلام النبلاء: 9/435)
Salamah bin Syubaib mengatakan, “Suatu hari aku berada di dekat Abdurrazzaq ash Shan’ani lalu kami mendapatkan berita kematian Abdul Majid”. Abdurrazzaq ash Shan’ani lantas merespons, “Segala puji milik Allah yang telah membuat nyaman umat Muhammad dari gangguan Abdul Majid” [Siyar A’lam an Nubala’ 9/435].
وعبد المجيد هذا هو ابن عبدالعزيز بن أبي رواد، وكان رأساً في الإرجاء.
Abdul Majid yang dimaksudkan dalam hal ini adalah Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abu Rawad yang merupakan tokoh besar sekte Murjiah.
ولما جاء نعي وهب القرشي -وكان ضالاً مضلاً- لعبد الرحمن بن مهدي قال: الحمد لله الذي أراح المسلمين منه. ( لسان الميزان لابن حجر: 8/402)
Tatkala Abdurrahman bin Mahdi mendengar berita kematian Wahb al Qurasyi, salah seorang tokoh kesesatan,beliau berkomentar, “Segala puji milik Allah yang telah membuat nyaman kaum muslimin dari gangguannya” [Lisan al Mizan 8/402].
وقال الحافظ ابن كثير في (البداية والنهاية 12/338) عن أحد رؤوس أهل البدع: (أراح الله المسلمين منه في هذه السنة في ذي الحجة منها، ودفن بداره، ثم نقل إلى مقابر قريش فلله الحمد والمنة، وحين مات فرح أهل السنة بموته فرحاً شديداً، وأظهروا الشكر لله، فلا تجد أحداً منهم إلا يحمد الله)
Dalam kitab al Bidayah wan Nihayah 12/338 Ibnu Katsir berkata mengenai salah seorang tokoh ahli bidah, “Allah telah membuat kaum muslimin nyaman dari gangguannya pada tahun ini tepatnya pada bulan Dzulhijjah dan dimakamkan di dalam rumahnya lantas dipindah ke pekuburan Quraisy. Hanya milik Allah segala puji dan anugrah. Di hari kematiannya ahlu sunnah merasa sangat gembira. Ahli sunnah menampakkan rasa syukur mereka kepada Allah. Tidaklah anda jumpai seorang pun ahlu sunnah pada hari tersebut melainkan memuji Allah”.
هكذا كان موقف السلف رحمهم الله عندما يسمعون بموت رأسٍ من رؤوس أهل البدع والضلال،
Demikianlah sikap salaf saat mendengar kabar kematian salah seorang tokoh ahli bidah dan tokoh kesesatan.
وقد يحتج بعض الناس بما نقله الحافظ ابن القيم في (مدارج السالكين: 2/345) عن موقف شيخه شيخ الإسلام ابن تيمية من خصومه حيث قال: (وجئت يوماً مبشراً له بموت أكبر أعدائه وأشدهم عداوة وأذى له، فنهرني وتنكَّر لي واسترجع، ثم قام من فوره إلى بيت أهله فعزاهم وقال: إني لكم مكانه …)
Sebagian orang tidak sepakat dengan hal di atas lalu beralasan dengan pernyataan Ibnul Qayyim di Madarijus Salikin 2/345 menceritakan sikap gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah terhadap musuhnya. Ibnul Qayyim mengatakan, “Suatu hari aku datang menemui Ibnu Taimiyyah untuk menyampaikan berita kematian musuh terbesar beliau, seorang yang paling memusuhi dan suka menyakiti beliau. Beliau membentakku dan menyalahkan tindakanku. Beliau mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un kemudian segera berdiri menuju rumah keluarga orang tersebut lalu menyampaikan bela sungkawa dan mengatakan, ‘Aku adalah pengganti perannya’.
ومن تأمل ذلك وجد أنه لا تعارض بين الأمرين فمن سماحة شيخ الإسلام ابن تيمية أنه لا ينتقم لنفسه ولذلك عندما أتاه تلميذه يبشره بموت أحد خصومه وأشدهم عداوة وأذى له= نهره وأنكر عليه، فالتلميذ إنما أبدى لشيخه فرحه بموت خصمٍ من خصومه لا فرحه بموته لكونه أحد رؤوس البدع والضلال.
Siapa saja yang merenungkan dua sikap ahli sunnah di atas pasti akan berkesimpulan bahwa tidak ada pertentangan di antara keduanya. Di antara sikap besar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah adalah tidak ingin balas dendam. Oleh karena itu ketika murid beliau menyampaikan kabar gembira akan matinya salah seorang musuh beliau, seorang yang sangat keras permusuhan dan gangguannya terhadap beliau, beliau membentaknya dan menyalahkan tindakannya. Si murid hanya menampakkan di depan gurunya rasa gembira karena matinya salah satu musuh beliau, bukan gembira karena meninggalnya salah seorang tokoh ahli bidah dan tokoh kesesatan.
Sumber:
http://www.dorar.net/art/492

READ MORE - Matinya Tokoh Kesesatan

Hadis 1 Kitab Bulughul Marram (Kesucian Air Laut)


Hadis 1 Kitab Bulughul Marram (Kesucian Air Laut)

Kesucian Air Laut
1.  عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، في البَحْرِ: هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُأَخْرَجَهُ الأَرْبَعَةُ وَابْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَالتِّرْمِيْذِيُّ وَرَوَاهُ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ
  1. Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamtentang (hukum) air laut: Air laut itu suci, (dan) halal bangkainya.
Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidziyy, Nasaa-i, Ibnu Majah, dan Ibnu Abi Syaibah, dan ini merupakan lafalnya, dan telah disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, dan Tirmizi dan telah diriwayatkan pula oleh Malik, Syafi’i dan Ahmad.
Penjelasan Hadis.
Hadis ini akan dijelaskan dalam beberapa sub bahasan:
Biografi Perawi Hadis.
Perawi hadis ini adalah sahabat Nabi yang mulia Abu Hurairoh Abdurrahman bin Shakhr ad-Dausi yang terkenal dengan kunyah beliau “Abu Hurairah”. Beliau masuk islam pada tahun peristiwa perang Khaibar dan mulazamah(belajar) kepada Nabi sehingga menjadi sahabat yang terbanyak meriwayatkan hadis Nabi.

Beliau menjadi salah satu ulama besar dan ahli fatwa dikalangan sahabat dan terkenal dengan kewibawaan, ibadah dan sifat rendah hatinya. Imam al-Bukhari menyatakan, beliau memiliki delapan ratus murid atau lebih.
Beliau meninggal dunia di kota Madinah pada tahun 57 H. dan dimakamkan di pekuburan Baqi’..
Takhrij Hadis.
Sebelum memulai dengan penjelasan Takhrij hadis ini, perlu kiranya disampaikan sedikit tentang pengertian Takhrijdan pembagian hadis menurut kreteria diterima atau tidak..
Pengertian Takhrij
Takhrij menurut bahasa mempunyai beberapa makna. Yang paling mendekati di sini adalah berasal dari kata kharaja (خَرَجَ ) yang artinya nampak dari tempatnya, atau keadaannya, dan terpisah, dan kelihatan. Demikian juga kata al-ikhraj (اْلِإخْرَج ) yang artinya menampakkan dan memperlihatkannya. Dan al-makhraj ( المَخْرَج ) artinya artinya tempat keluar; dan akhrajal-hadis wa kharrajahu artinya menampakkan dan memperlihatkan hadis kepada orang dengan menjelaskan tempat keluarnya.
Takhrij menurut istilah adalah menunjukkan tempat hadis pada sumber aslinya yang mengeluarkan hadis tersebut dengan sanadnya dan menjelaskan derajatnya ketika diperlukan.
Hadis yang sedang kita bahas ini dikeluarkan oleh Malik di Muwath-tha’-nya (I/45 –Tanwiirul Hawalik syarah Muwath-tha oleh Suyuthi), Syafi’i di kitabnya Al Umm (I/16), Ahmad di Musnad-nya (2/232,361), Abu Dawud dalam sunan-nya (no: 83), Tirmizi (no: 69), Nasaa-i dalam sunannya (1/50, 176), Ibnu Majah dalam sunan-nya (no: 43), Ad Darimi dalam sunan-nya (1/186), Ibnul Jaarud dalam al-Muntaqaa’ (no: 43), Ibnu Khuzaimah dalam kitab sahih ibnu Khudzaimah (no: 777), Ibnu Hibban dalam sahihnya (no: 119 –Mawarid), Hakim dalam al-mustadrak (1/140-141), ibnu Abi Syaibah dalamal-Mushannaf (1/131) dan lain-lain, semuanya dari jalan imam Malik dari Sofwan bin Sulaim dari Sa’id bin Salamah (ia berkata:) sesungguhnya Mughirah bin Abi Burdah telah mengabarkan kepadanya, bahwasanya ia pernah mendengar Abu Hurairah berkata,
سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيْلُ مِنَ الْمَاءِ إِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَـتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هُوَ الطُّهُوْرُ مَاؤُهُ الحِلُّ مَيْتَتُهُ
“Telah bertanya seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ya Rasulullah, kami akan berlayar di lautan dan kami hanya membawa sedikit air, maka kalau kami berwudlu dengan mempergunakan air tersebut pasti kami akan kehausan, oleh karena itu bolehkah kami berwudlu dengan air laut? Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Laut itu suci airnya, (dan) halal bangkainya.
Hadis ini sahih dan semua perawinya tsiqah (kredibel) dan termasuk para perawi sahih al-Bukhari dan Muslim (asy-Syaikhan), kecuali al-Mughiroh bin Abi Burdah. Beliau ini dihukumi tsiqah oleh imam An-Nasaa’i dan dimasukkan ibnu Hibban dalam kitab Ats-Tsiqaat.
Hadis ini telah di-sahih-kan oleh jama’ah ahli hadis, diantaranya:
  1. Imam al-Bukhari, ketiak ditanya oleh imam at-Tirmizi tentang hadis ini, beliau menjawab : hadis ini sahih.
  2. Imam at-Tirmizi, ia berkata: hadis ini hasan sahih.
  3. Imam Ibnu Khuzaimah.
  4. Imam Ibnu Hibban.
  5. Imam al-Hakim.
  6. Ath-Thahawi
  7. Al-Baihaqi
  8. Ibnu Abdilbarr dalam at-Tamhid 16/218-219: Hadis ini menurutku sahih, karena para ulama telah menerima hadis ini dan beramal dengannya. Tidak ada seorang ahli fikih pun yang menyelisihinya secara umum.
  9. Ibnul Mundzir.
  10. Ibnu Mandah.
  11. Al Baghawi.
  12. Al-Khathabi.
  13. Abdulhaq al-Isybili
  14. Ibnu Taimiyah.
  15. Ibnu Katsir.
  16. Ibnul Atsir, ia berkata: ini hadis yang sahih lagi masyhur, telah dikeluarkan oleh para imam di kitab-kitab mereka, dan mereka telah berhujjah dengannya dan rawi-rawinya tsiqaat.
  17. Ibnu Hajar.
  18. Al-Albani, beliau menyatakan: ini sanadnya sahih semua perawinya tsiqah (kredibel). (irwa al-Ghalil 1/43).
Hadis di atas pun telah mempunyai beberapa jalan (thuruq) selain dari jalan imam Malik. dan juga telah mempunyaisyawaahid dari jamaah para sahabat, diantaranya: Jabir bin Abdillah, Al Firaasiy, Ibnu Abbas, Abdullah bin ‘Amru, Anas bin Malik, Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar.
Syeikh Abdullah bin Abdurrahman ali Basaam menyatakan: Hadis ini disahihkan oleh para ulama diantaranya: al-Bukhari, al-Haakim, ibnu Hibaan, ibnu Mundzir, ath-Thahawi, al-baghawi, al-Khathabi, ibnu Khuzaimah, ad-Daraquthni, ibnu Hazm, ibnu Taimiyah, ibnu Daqiqil Ied, ibnu Katsir, ibnu Hajar dan lainnya sampai lebih dari 36 imam. (Taudhih al-Ahkaam, 1/115).
Apa itu Hadis Sahih.
Hadis yang sahih adalah hadis yang bersambung sanadnya dari awal hingga akhir baik itu Nabi atau sahabat atau yang dibawahnya dengan syarat para perawinya adil dan memiliki kesempurnaan Dhabth tanpa adanya syadz dan ilat yang merusaknya.
Inilah definisi hadis sahih lidzatihi yang sudah disepakati para ulama hadis.
Dari definisi ini dapat dijelaskan bahwa keluar dari definisi ini :
  • Sahih lighairihi karena ia butuh penguat dari jalan lain (Mutaabi’) atau  penguat dari hadis lainnya (syaahid) yang manguatkanya dan menjadikannya sahih.
  • Hadis-hadis yang tidak bersambung sanadnya, seperti munqathi’, mu’dhal, mursal, dan mu’allaq.
  • Hadis-hadis yang ada perawinya yang tidak adil, seperti matruk, maudhu’ dan mungkar –versi penulismanzhumah-.
  • Hadis-hadis yang ada perawinya yang tidak sempurna Dhabth-nya atau dicela karena kelemahan dalam hal ini, sepeti hadis hasan dan hadis dha’if .
  • Hadis-hadis yang menyelisihi yang lebih kuat dan rajih darinya, seperti hadis Syaadz dan hadis mungkar –versi mayoritas ulama hadis dan dirajihkan ibnu Hajar.
  • Hadis-hadis yang ada illat yang merusaknya, seperti hadis muallal dan mudallas apabila pelaku tadlis-nya tidak menyampaikan kejelasan mendengarnya dengan lafal jelas.
Syarat hadis Sahih.
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa hadis yang sahih memiliki 5 Syarat.
1). Sanad-nya bersambung. Maksudnya setiap perawi mendengar langsung dari gurunya.
2). Al-‘Adalah (adil). Maksudnya disini para perawi memiliki kemampuan yang membuatnya dapat konsisten dalam ketakwaan dan menjauhi kefasikan dan perusak muru’ah (harga diri dan kehormatannya). Hal ini dapat dijabarkan dengan muslim, baligh dan berakal yang tidak melakukan perbuatan dosa besar dan tidak terus menerus berbuat dosa kecil serta tidak berbuat perbuatan yang merusak muru’ahnya.
3). Kesempurnaan Adh-Dhabth. Pengertiannya adalah kekuatan hafalan dan penjagaannya. Para ulama membagi sifatadh-Dhabth menjadi dua:
  • Ad –Dhabt ash-Shadr yaitu kemampuan untuk menyampaikan hafalannya kapan saja dan dimana saja.
  • Ad –Dhabt al-Kitaabah yaitu kemampuan untuk menjaga kitab dan tulisannya sejak mendengarnya hingga menyampaikannya.
4). Tidak ada syadz-nya.
5). Tidak ada illat yang merusaknya.
Contoh hadis sahih.
Contohnya adalah hadis yang berbunyi,
قَالَ الْبُخَارِيُّ : حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيْدٍ الأَنْصَارِيْ قَالَ أَخْبَرَنِيْ مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ التَّيْمِيْ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيْ يَقُوْلُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ : ( إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam mengetahui hadis sahih setelah mendapatkan sanad dan matannya adalah sebagai berikut:
  • Mengenal kedudukan dan pendapat para ulama tentang perawi yang ada dalam sanad satu persatu. Dalam hadis ini terdapat nama-nama perawi sebagi berikut:
  1. Abu Bakar Abdullah bin az-Zubair bin ‘Isaa al-Humaidi. Nasab beliau bertemu dengan Khadijah ummul mukminin pada Asad dan dengan Nabi pada Qushai. Seorang imam besar yang menemani Syafi’i dalam mencari ilmu dari Ibnu ‘Uyainah dan mengambil fikih dari beliau. Beliau seorang tsiqah hafizh dan faqih serta termasuk murid besar ibnu ‘Uyainah.  Beliau menemani imam asy-Syafi’i hingga ke Mesir dan baru pulang ke Makkah setelah asy-Syafi’i  wafat hingga meninggal tahun 219 H.
  2. Abu Muhammad Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imran al-Hilali al-Kufi kemudian al-Makki. Beliau kelahiran Kufah dan menetap di Makkah. Beliau mendengar lebih dari 70 tabi’in. ibnu Hajar menyatakan, “Beliau seorang Tsiqat hafizh faqih imam hujjah namun berubah hafannya diakhir hayatnya dan melakukan tadlisnamun hanya dari para perawi yang tsiqah. Beliau adalah orang yang paling bagus hafalannya dalam hadis Amru bin Dinaar. Beliau termasuk murid dari Yahya bin Saa’id al-Anshari. Meninggal pada bulan rajab tahun 178 H. dalam usia 71 tahun
  3. Abu Sa’id Yahya bin Sa’id bin Qais bin ‘Amru al-Anshari al-Madani al-Qaadhi seorang tsiqah tsabat dan meninggal tahun 144 H.
  4. Abu Abdillah Muhammad bin Ibrahim bin al-Haarits bin Khalid at-Taimi al-Madani seorang tsiqah meninggal tahun 120 H.
  5. ‘Alqamah bin Waqqaash al-Laitsi al-Madani seorang tsiqah tsabat dan meninggal pada masa kekhilafahan Abdulmalik bin Marwan.
  6. Umar bin al-Khathab al-‘Adawi sahabat nabi dan khalifah rasyid yang kedua.
  • Mengenal bersambung atau tidaknya sanad hadis yang sedang dicari hukumnya, dengan cara melihat kepada lafal simaa’ – nya. Didapatkan semua perawi menyampaikan dengan lafal yang jelas gamblang mendengar dari perawi diatasnya, sehingga dapat dipastikan mereka mendengar langsung dari perawi diatasnya.
  • Mengumpulkan jalan periwayatan hadis yang ada baik dalam riwayat lainnya atau hadis dari sahabat lainnya untuk diketahui apakah ada yang menyelisihinya atau ada illah (penyakit) yang merusak kebasahan hadis tersebut.
  • Kemudian baru dapat menghukum hadis tersebut termasuk sahih atau tidak.
Ternyata bila kita terapkan syarat-syarat hadis sahih didapatkan semuanya ada pada hadis ini. Sehingga dihukumi sebagai hadis sahih.
=Bersambung insya Allah=

Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi,L.c.
Artikel www.ustadzkholid.com
READ MORE - Hadis 1 Kitab Bulughul Marram (Kesucian Air Laut)

Jilbab atau Khimar


Jilbab atau Khimar

تحرير القول في معنى الجلباب :
ذكره النووي في شرح مسلم (ثمانية أقوال ) في معنى الجلباب وأخذها منه الحافظ منه في (الفتح ) و زاد بعضهم كما سيأتي إن شاء الله
Dalam Syarh Muslim an Nawawi menyebutkan delapan pendapat mengenai makna jilbab. Penjelasan an Nawawi ini lantas dikutip oleh al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.
1-قَالَ النَّضْر بْن شُمَيْلٍ هُوَ ثَوْب أَقْصَر وَأَعْرَض مِنْ الْخِمَار وهو اختيار الزمشخري قال في (كشافه) ثوب واسع أوسع من الخمار ودون الرداء تلويه المرأة على رأسها وتبقى منه ما ترسله على صدرها

Pendapat Pertama
, An Nadhr bin Syumail menyebutkan bahwa jilbab adalah kain yang lebih pendek dan lebih lebar dari pada khimar (kerudung). Inilah pendapat yang dipilih oleh Zamakhsyari. Dalam al Kasysyaf Zamakhsyari mengatakan bahwa jilbab adalah kain longgar yang lebih besar dari pada khimar namun lebih kecil jika dibandingkan dengan rida’ (rida’ adalah kain atasan yang pakai oleh laki-laki yang sedang dalam kondisi ihram, pent) yang dililitkan oleh seorang perempuan untuk menutupi kepalanya lalu sisanya dijulurkan untuk menutupi dada.
2- وَهِيَ الْمِقْنَعَة تُغَطِّي بِهِ الْمَرْأَة رَأْسهَا : وهو اختيار سعيد بن جبير

Pendapat kedua, jilbab adalah miqna’ah atau tutup kepala yang digunakan seorang perempuan untuk menutupi kepalanya. Inilah pendapat yang dipilih oleh Said bin Jubair.
3-وَقِيلَ : هُوَ ثَوْب وَاسِع دُون الرِّدَاء تُغَطِّي بِهِ صَدْرهَا ، وَظَهْرهَا
وهو اختيار السندي في حاشيته على ابن ماجة : (ثَوْب تُغَطِّي بِهِ الْمَرْأَة رَأْسهَا وَصَدْرهَا وَظَهْرهَا إِذَا خَرَجَتْ ) واختيار العيني في (شرح البخاري ) (جلباب وهو خمار واسع كالملحفة تغطي به المرأة رأسها وصدرها )

Pendapat ketiga, jilbab adalah kain longgar yang lebih kecil jika dibandingkan dengan rida yang digunakan untuk menutupi dada dan punggung. Inilah pendapat yang dipilih oleh as Sindi dalam Hasyiyah Ibnu Majah. As Sindi mengatakan, “Jilbab adalah kain yang digunakan oleh seorang perempuan untuk menutupi kepala, dada dan punggung ketika keluar rumah”. Pendapat ini dipilih oleh al Aini dalam Syarah al Bukhari. Beliau mengatakan, “Jilbab adalah khimar atau kerudung longgar seperti milhafah yang dipakai oleh perempuan untuk menutupi kepala dan dada”.
4-، وَقِيلَ : هُوَ كَالْمَلَاءَةِ
وهو اختيار ابن رجب قال : (( الجلباب )) : هي الملاءة المغطية للبدن كله ، تلبس فوق الثياب ، وتسميها العامة : الإزار ، ومنه قول الله – عز وجل – : { يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ } وهو اختيار البغوي في تفسيره والألباني

Pendapat keempat, jilbab adalah mala-ah [semisal jas hujan yang menutupi dari kepala sampai kaki, pent]. Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Rajab. Beliau mengatakan, “Jilbab adalah mala-ah yang menutupi seluruh badan yang dipakai setelah memakai pakaian rumahkan. Orang awam [di zaman beliau, ent] menyebutnya izar. Itulah makna jilbab yang Allah maksudkan dalam firman-Nya, “Mereka menjulurkan jilbab mereka”. Pendapat ini juga dipilih oleh al Baghawi dalam tafsirnya dan al Albani.
5- وَالْمِلْحَفَة : وهو اختيار الجوهري نقله ابن كثير عنه

Pendapat kelima, jilbab adalah milhafah. Inilah pendapat yang dipilih oleh al Jauhari sebagaimana nukilan Ibnu Katsir.
6- وَقِيلَ : هُوَ الْإِزَار ، وهو اختيار ابن الأعرابي كما في حاشية العدوي المالكي

Pendapat keenam, jilbab adalah izar [lihat pendapat keempat]. Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnul Arabi sebagaimana yang disebutkan dalam hasyiyah al ‘Adawi al Maliki.
7- وَقِيلَ : الْخِمَار : ذكره النووي وابن حجر وغيرهما

Pendapat ketujuh, jilbab itu sama dengan khimar alias kerudung. Adanya pendapat semacam ini disebutkan oleh an Nawawi, Ibnu Hajar dll.
8-وقيل: الرداء فوق الخمار. قاله ابن مسعود، وعبيدة، وقتادة، والحسن البصري، وسعيد بن جبير، وإبراهيم النخعي، وعطاء الخراساني، وغير واحد.. (ابن كثير في تفسيره )

Pendapat kedelapan, jilbab adalah rida’ yang dikenakan setelah mengenakan khimar atau kerudung. Demikian pendapat Ibnu Mas’ud, Ubaidah, Qatadah, al Hasan al Bashri, Said bin Jubair, Ibrahim an Nakhai, Atha al Khurasani dll. Demikian yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya.
9- وقال أبو حيان في (البحر ) : الجلباب : كل ثوب تلبسه المرأة فوق ثيابها ،

Pendapat kesembilan, jilbab adalah segala kain yang dikenakan oleh seorang perempuan setelah mengenakan pakaian rumahan. Demikian perkataan Abu Hayyan dalam al Bahr.
10- وقيل : كل ما تستتر به من كساء أو غيره
ذكره أبو حيان في تفسيره ونقل البقاعي أنه اختيار الخليل بن أحمد قال البقاعي في تفسيره : وقال حمزة الكرماني : قال الخليل : كل ما تستتر به من دثار وشعار وكساء فهو جلباب

Pendapat kesepuluh, jilbab adalah kain atau yang lainnya yang dipakai oleh seorang perempuan untuk menutupi tubuhnya. Al Baqa’i dalam tafsirnya menukil perkataan Hamzah al Karmani yang menukil perkataan al Khalil. Al Khalik mengatakan, “Semua pakaian yang digunakan oleh perempuan untuk menutupi badannya baik pakaian dalam, pakaian luar ataupun pakaian tambahan adalah jilbab”.
11-وقيل القميص : ذكره الملا علي القاري في (شرح المشكاة ) عن الأبهري وذكره البقاعي في تفسيره
وقال البقاعي عن جميع المعاني المتقدمة في تفسيره : (والكل يصح إرادته هنا )

Pendapat kesebelas, jilbab adalah qamis [long dress, pent]. Pendapat ini menurut al Mula ‘Ali al Qari dalam Syarh al Misykah adalah pendapat al Abari. Pendapat ini juga disebutkan oleh al Baqa’i dalam tafsirnya.
ثمرة الخلاف
Konsekuensi dari adanya perbedaan pendapat mengenai pengertian jilbab
بين البقاعي ثمرة الخلاف في معاني الجلباب فقال :
( فإن كان المراد القميص فإدناؤه إسباغه حتى يغطي يديها ورجليها ،
وإن كان ما يغطي الرأس فادناؤه ستر وجهها وعنقها
Al Baqa’I menyebutkan konsekuensi dari berbagai pendapat di atas dengan mengatakan, “Jika yang dimaksud dengan jilbab adalah qamis [long dress, pent] perintah Allah untuk idna’ jilbab maknanya adalah memakai long dress hingga menutupi kedua tangan dan kedua kaki.
Jika yang dimaksud dengan jilbab adalah penutup kepala maka makna idna’ jilbab adalah menutupi wajah dan leher dengan kain penutup kepala tersebut.
، وإن كان المراد ما يغطي الثياب فادناؤه تطويله وتوسيعه بحيث يستر جميع بدنها وثيابها ،
وإن كان المراد ما دون الملحفة فالمراد ستر الوجه واليدين )
Jika yang dimaksud dengan jilbab adalah kain yang menutupi pakaian rumahan maka makna idna’ jilbab adalah memanjangkan dan melonggarkan kain tersebut sehingga menutupi seluruh badan plus kain rumahan yang telah dikenakan terlebih dahulu.
وكما قال الملا علي القاري أن بعض هذه المعاني متقاربة .
al Mula ‘Ali al Qari mengatakan bahwa sebagian pendapat dalam masalah ini mirip-mirip dengan pendapat yang lain.
وعندي أن الراجح والله أعلم : أن كل ما غطت به المرأة رأسها ونحرها وظهرها هو الجلباب ، لأن آية (إدناء الجلباب ) نزلت لتمييز الحرائر عن الإماء عند المفسرين ، والإماء يكشفن شعورهن ونحورهن .

Pendapat yang lebih kuat
, semua kain yang dipergunakan oleh perempuan untuk menutupi kepala, leher dan punggung (sehingga panjangnya adalah sampai pantat, pent) adalah jilbab karena dua pertimbangan:
ولذلك كان عمر يضرب الإماء بالدرة إذا غطت رأسها وقعنته ،
Pertama, Umar memukuli budak-budak perempuan yang memakai penutup kepala.
ولأن الله عز وجل قال ({ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جلابيبهن } فمن هنا للتبعيض قاله الزمخشري و أبو حيان
Kedua, karena Allah berfirman (yang artinya), “Mereka menjulurkan sebagian jilbab mereka”. Min dalam ayat di atas bermakna sebagian.

وذكر الزمخشري أن التبعيض يحتمل أمرين :
الأول : أن أن يتجلببن ببعض ما لهنّ من الجلاليب ، والمراد أن لا تكون الحرة متبذلة في درع وخمار ، كالأمة والماهنة [ الخادمه ] ولها جلبابان فصاعداً في بيتها .
والثاني : أن ترخي المرأة بعض جلبابها وفضله على وجهها تتقنع حتى تتميز من الأمة )
az Zamakhsyari menyebutkan bahwa ‘sebagian’ di sini mengandung dua kemungkinan makna.
Pertama, perempuan berjilbab dengan sebagian jilbab mereka dengan pengertian wanita merdeka tidaklah hanya mengenakan long dress dan kerudung sebagaimana budak perempuan yang melakukan berbagai pekerjaan rumah. Wanita merdeka hendaknya memakai dua jilbab.
Kedua, perempuan menjulurkan sebagian dan sisa kain jilbabnya pada wajah sehingga wajah tertutup kain. Dengan ini wanita merdeka nampak berbeda dengan budak perempuan.
قلت : والراجح هو الاحتمال الأول ، لأن الوجه ليس بعورة على الصحيح والله أعلم .
Jika kita berpendapat bahwa wajah wanita bukanlah aurat maka kemungkinan makna yang paling mendekati untuk pengertian ‘sebagian’ di sini adalah kemungkinan makna yang pertama.

وأما من قال أن الوجه عورة . فلها أن تظهر أسافل ثيابها .
Sedangkan yang berpendapat bahwa wajah wanita adalah aurat maka seorang wanita ketika keluar rumah boleh menampakkan bagian atau ujung bawah dari pakaian rumahan yang dia kenakan.

قال ابن كثير : قال ابن مسعود: كالرداء والثياب. يعني: على ما كان يتعاناه نساء العرب، من المِقْنعة التي تُجَلِّل ثيابها، وما يبدو من أسافل الثياب فلا حرج عليها فيه؛ لأن هذا لا يمكن إخفاؤه.
Ibnu Katsir mengatakan bahwa menurut Ibnu Mas’ud yang dimaksud dengan ’kecuali yang nampak’ rida’ [baca: kain penutup kepala yang lebar] dan pakaian rumahan. Maksudnya sebagaimana kebiasaan wanita arab masa silam yang memakai kain penutup kepala yang lebar menutupi pakaian rumahan yang telah terlebih dahulu dikenakan. Dalam kondisi demikian, terlihatnya ujung bawah pakaian rumahan tidaklah mengapa karena hal tersebut tidak mungkin disembunyikan.

[ونظيره في زي النساء ما يظهر من إزارها، وما لا يمكن إخفاؤه. ]
Semisal dengan ujung bawah pakaian rumahan adalah izar [kain yang menutupi tubuh bagian bawah] dan pakaian perempuan yang lain yang tidak mungkin disembunyikan.


http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=162278
READ MORE - Jilbab atau Khimar

Beli Barang Hasil Hutang Bank


Beli Barang Hasil Hutang Bank

السؤال : الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد: فسؤالي هو كالتالي إشتريت منزلا بقرض ربوي فأردت أن ارضي الله تعالى ببيع المنزل و اللجؤ إلى إكتراء منزل, لكن المشكل لا يكمن في الإكتراء ولكن في البيع الذي سيترتب عنه ربح, لأني لن أبيع بالثمن الذي آشتريت به,سأسدد الديون التي هي علي تجاه البنك والباقي فما حكم الشرع فيه ؟ و لكم جزيل الشكر
Pertanyaan, “Aku membeli rumah dari uang utangan yang didapat dengan pinjam uang di bank ribawi. Aku ingin membuat Allah ridho dengan menjual rumah tersebut lalu ngontrak rumah. Akan tetapi yang jadi masalah, ngontrak adalah suatu hal yang tidak memungkinkan untuk dilakukan. Demikian pula menjual rumah tersebut berarti mendapatkan keuntungan karena aku tidak akan menjualnya dengan harga yang sama dengan harga pembelian lalu akan kulunasi hutangku di bank dan masih ada selisih keuntungan. Aku hukum syariat dalam masalah ini”.
الإجابة:
عقد شراء هذا المسكن صحيح ولا علاقه له بالمبلغ الذي اقترضته من البنك بفائدة ربويه
Jawaban Syaikh Abdul Muhsin bin Nashir al Ubaikan, “Transaksi untuk membeli rumah tersebut adalah transaksi yang sah dan tidak ada hubungannya dengan uang yang anda dapatkan dengan cara berhutang di bank yang mengunakan sistem bunga ribawi.
أنت اقترفت ذنبا بالقرض الربوي وليس امامك إلا التوبه إلى الله عز وجل من هذا العمل , وليس عليك بيع البيت فإن شئت بعت البيت وإن شئت أبقيته في ملكك إنما تتوب إلى الله عز وجل من الربا الذي فعلته
Anda telah berbuat dosa dengan menjadi nasabah riba. Anda tidak memiliki pilihan selain bertaubat kepada Allah dari perbuatan ini. Anda tidak memiliki kewajiban untuk menjual rumah yang telah anda beli tersebut. Jika anda mau anda boleh menjualnya, boleh pula tidak anda jual. Kewajiban anda hanyalah bertaubat kepada Allah dari dosa menjadi nasabah riba yang telah anda lakukan.
إن استطعت أن تتخلص من الفائدة الربويه بعدم إعادتها إلى البنك فهذا مطلوب وإن لم تستطع لأنك مجبر فعليك التوبه إلى الله عز وجل.
Jika anda mampu membebaskan diri dari keharusan membayarkan bunga ribawi dengan tidak membayarkan bunga tersebut kepada bank maka ini adalah pilihan yang ideal. Akan tetapi jika anda tidak mampu karena anda dipaksa untuk membayarkan bunga riba maka anda berkewajiban untuk bertaubat kepada Allah”.
Sumber:
http://al-obeikan.com/show_fatwa/267.html
Catatan:
Berdasarkan keterangan di atas jika ada seorang yang merintis bisnis atau usahanya dengan uang utangan dari bank maka selama bisnis yang dia jalankan adalah bisnis yang dibolehkan oleh syariat maka penghasilan yang dia dapatkan adalah penghasilan yang halal. Namun orang tersebut wajib bertaubat dari dosa besar yang dia lakukan yaitu menjadi nasabah riba.
READ MORE - Beli Barang Hasil Hutang Bank