rss

Rabu, 13 Juli 2011

RISALAH SYAHRI RAMADHAN

Oleh
Kholid bin Abdullah Al-Hamudiy



Saudaraku muslim dan muslimah…
Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu

Kami sampaikan risalah ini kepada Anda dengan penuh kerinduan dan penghormatan. Kami sampaikan risalah ini dari lerung hati kami yang paling dalam, disertai luapan cinta kami kepada Anda karena Allah. Kita mohon kepada Allah yang Maha Perkasa agar Dia mempertemukan kami dan Anda kelak di Surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan dan rahmat.

Saudaraku muslim dan muslimah…
Sehubungan dengan akan datangnya bulan Ramadhan, kami sampaikan sebuah nasihat sebagai sebuah hadiah yang berharga. Kami tidaklah membuat sesuatu yang baru dalam nasihat ini, melainkan sebagai suatu pengingatan yang insya Allah akan bermanfaat untuk orang-orang yang beriman. Kami harap, semoga Anda berkenan menerimanya dengan lapang dada dan mendoakan kita semua agar senantiasa dijaga, dibimbing oleh Allah Yang Maha Kuasa di jalan yang diridhoi-Nya.

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkhususkan bulan Ramadhan dari bulan-bulan yang lainnya. Diantara kekhususan dan keutamaan Ramadhan antara lain:

1. Bau mulut orang yang berpuasa, lebih harum di sisi Allah, daripada minyak wangi kesturi.
2. Para malaikat senantiasa mendoakan ampunan bagi orang yang berpuasa sampai ia berbuka puasa.
3. Dibukanya pintu-pintu surga dan ditutupnya pintu-pintu neraka.
4. Terdapat Lailatul Qodar, yaitu suatu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan
5. Terdapat ampunan bagi orang yang berpuasa
6. Diikatnya syaithan

Saudaraku muslim dan muslimah...
Bagaimanakah kita menyambut bulan Ramadhan yang penuh dengan kekhususan dan keutamaan ini? Apakah disambut dengan perbuatan yang sia-sia? Begadang semalaman? Berfoya-foya? Naudzu billahi min dzalika.

Sesungguhnya hamba yang sholih akan menyambut kehadiran bulan Ramadhan ini dengan taubat yang murni kepada Allah, meminta ampunan kepada Allah dan bertekad kuat dan jujur, serta berupaya meningkatkan amal sholih dengan tetap mengharap pertolongan Allah agar Dia memudahkan kita untuk beribadah kepada-Nya.

Saudaraku muslim dan muslimah...
Berikut ini adalah beberapa amal sholih yang wajib dikerjakan atau sangat dianjurkan dilakukan:

1. BERPUASA
Dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

”Artinya : Setiap amal manusia adalah untuk dirinya, satu perbuatan baik akan dibalas dengan sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Orang yang berpuasa meninggalkan nafsu syahwatnya, makanannya, minumannya untuk Aku. Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagian, yaitu kebahagian saat berbuka puasa dan kebahagiaan saat berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh bau mulut orang yang sedang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada harumnya minyak wangi kesturi.”

Rasululloh Shalallahu alaihi wa sallam bersabda.

”Artinya : Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan berharap pahala Allah, maka diampuni dosa-dosanya di masa lalu.” [Hadits Riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim]

Saudaraku muslim dan muslimah...
Tidak diragukan lagi bahwa balasan yang sangat agung tersebut tidaklah diberikan kepada orang yang sekedar meninggalkan makanan atau minuman saja! Akan tetapi hanya sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam :

”Artinya : Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan keji serta amal perbuatan keji, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membutuhkan puasanya yang sekedar meninggalkan makanan dan minuman” [Hadits Riwayat Imam Bukhori]

Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda.

”Artinya : Puasa itu perisai, maka apabila seseorang berpuasa, hendaklah dia tidak berbuat rofats (perbuatan yang menjurus kepada hubungan seksual), tidak berbuat kefasikan, tidak berbuat suatu kebodohan. Apabila seseorang mencaci makinya, hendaklah dia mengatakan: Saya sedang berpuasa!” [Hadits Riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim]

Saudaraku muslim dan muslimah...
Bila Anda berpuasa, maka hendaknya puasa pula pendengaran, penglihatan dan lisan Anda, serta berpuasalah seluruh anggota tubuh Anda! Janganlah keadaan Anda saat berpuasa sama dengan keadaan Anda ketika tidak berpuasa!

2. QIYAMU RAMADHAN YAITU SHALAT TARAWIH
Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda :

”Artinya : Barang siapa yang mendirikan Qiyamu Ramadhan dengan penuh keimanan dan berharap pahala Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [ Hadits Riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim]

Ada sebuah peringatan penting, yaitu hendaknya kita menyempurnakan shalat tarawih berjama’ah di masjid bersama imam shalat, agar kita dicatat sebagai orang-orang yang mendirikan qiyamu Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam :

”Artinya : Barang siapa yang mendirikan qiyamu Ramadhan bersama Imamnya sampai selesai, maka dicatat baginya pahala Qiyamu Ramadhan semalam penuh’ [Hadits Riwayat Ahlus Sunan]

3. BERSEDEKAH
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan. Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

”Artiya : Seutama-utama sedekah adalah sedekah di bulan Ramadhan” [Hadits Riwayat Tirmidzi].

Diantara bentuk-bentuk sedekah di bulan Ramadhan adalah:

a. Memberi makanan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

”Artinya : Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan dia memberi balasan kepada mereka Karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera”. [Al-Insan : 8 – 12]

Sesungguhnya salafus shalih (generasi pendahulu umat Islam yang shalih] amat bersemangat untuk memberikan makanan baik kepada yang membutuhkan atau kepada teman yang shalih, melebihi semangat menjalankan amal yang lainnya.

Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

”Artinya : Seorang mukmin yang memberikan mukmin yang lapar maka kelak Allah akan memberi makan kepadanya dari buah-buahan surga, dan barang siapa yang memberi minum seorang mukmin, maka kelak Allah akan memberi air minum dari surga” [Hadit Hasan Riwayat Tirmidzi].

Sebagian salafus shalih ada yang memberikan makanan kepada saudara-saudaranya kaum muslimin, padahal dia sendiri berpuasa, mereka tidak sekedar memberi makanan, tetapi juga turut duduk sambil berkhidmat (melayani) kebutuhan mereka.

b. Memberi Makan Orang Berbuka Puasa
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam bersabda:

”Artinya : Barang siapa yang memberi makan orang yang berbuka puasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang berpuasa tadi.” [Hadits Riwayat Imam Ahmad, An Nasa’i dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah]

4. BERSUNGGUH-SUNGGUH DALAM MEMBACA AL-QUR’AN AL-KARIM, MEMPELAJARI TAFSIRNYA DAN MEMAHAMINYA
Saudaraku muslim dan muslimah...
Bersungguh-sungguhlah dalam membaca Al Qur’an Al- Karim. Bacalah dengan penuh tadabur dan kekhusyuan. Sesungguhnya salafus sholih, semoga Allah merahmati mereka, benar-benar tersentuh hatinya dan terpengaruh dengan Al Qur’an Al-Karim. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Baihaqi dari sahabat Abu Hurairoh, semoga Allah meridloinya, beliau berkata: ”Ketika turun ayat Al Qur’an:

”Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis?” [An-Najm : 59-60]

Ahlus Sufah (para shahabat Nabi yang tinggal di Masjid Nabawi) menangis, berlinang air matanya. Ketika Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam mendengarnya, maka beliau pun turut menangis. Kami (para shahabat Nabi) pun menangis karenanya. Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda: ”Tidak akan disentuh api neraka, orang yang menangis karena takut kepada Allah”.

5. TETAP DUDUK DI MASJID SETELAH SHALAT SHUBUH BERJAMA’AH SAMPAI TERBIT MATAHARI
Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam senantiasa duduk di tempatnya setelah shalat shubuh sampai terbit matahari. [Hadits Riwayat Imam Muslim]

Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

”Artinya : Barang siapa yang shalat subuh berjama’ah lalu tetap duduk setelahnya, berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit, lalu dia sholat dua raka’at maka dia mendapat pahala seperti pahala haji dan umrah sempurna, sempurna, sempurna” [Hadits Riwayat Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah]

Saudaraku muslim dan muslimah...
Besarnya pahala yang Allah berikan atas amalan tersebut adalah amal yang dilakukan di hari-hari biasa, maka apalagi seandainya amal tersebut dikerjakan di bulan Ramadhan?

Marilah kita shalat shubuh berjama’ah di masjid, lalu setelahnya membaca dzikir atau wirid sesudah shalat, lalu membaca dzikir pagi dan sore yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam, atau membaca Al-Qur’an Al-Karim sampai terbit matahari, lalu setelah terbit matahari, shalat sunat dua raka’at. Sungguh Allah telah menjanjikan pahala yang besar, seperti pahala haji dan umrah!

6. I’TIKAF
Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam senantiasa i’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dan di tahun terakhir sebelum wafatnya, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari terakhir bulan Ramadhan. [Hadits Riwayat Imam Bukhori]

I’tikaf sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan yaitu berdiam diri di masjid, tidak keluar dari masjid sampai malam Iedul Fithri dengan melaksanakan berbagai amal ketaatan kepada Allah seperti shalat wajib berjamaah, shalat sunat, memperbanyak berdoa, berdzikir, beristighfar, bertobat, membaca Al-Qur’an Al-Karim dan amal sholih lainnya.

7. UMRAH DI BULAN RAMADHAN
Umrah di bulan Ramadhan memiliki pahala yang amat besar, bahkan sama dengan pahala haji. Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

”Artinya : Umrah di bulan Ramadhan menyamai haji atau haji bersamaku” [Hadits Riwayat Imam Bukhori]

Tetapi wajib diketahui, meskipun umrah di bulan Ramadhan berpahala menyamai haji, tetapi ia tidak bisa menggugurkan kewajiban haji bagi orang wajib melakukannya.

Demikian pula halnya shalat di Masjidil Haram di Mekah dan shalat di Masjid Nabawi di Madinah pahalanya dilipatgandakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita untuk dapat umrah di bulan Ramadhan, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

8. MENCARI LAILATUL QADAR
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

”Artinya : Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada Lailatul Qodar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” [Al-Qodr: 1-5]

Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

”Artinya : Barang siapa yang mendirikan qiyamu lail pada saat Lailatul Qodar karena iman dan mengaharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. [Hadits Riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim]

Adapun qiyamu lail yang dimaksud adalah menghidupkan malam tersebut dengan shalat tarawih, membaca Al -Qur’an Al-Karim, berdoa, berdzikir, beristighfar dan bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam senantiasa berusaha kuat untuk mendapatkan malam lailatul qodar. Beliau memerintahkan para shahabatnya untuk mendapatkan malam lailatul qodar. Beliau pun membangunkan keluarganya pada malam-malam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan harapan agar mendapatkan malam lailatul qodar. Malam lailatul qodar terjadi pada suatu malam diantara malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Ummul Mukminin, Aisyah, semoga Allah meridloinya, pernah bertanya kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam : Wahai Rasulullah, bila aku mendapati malam lailatul qodar, doa apakah yang sebaiknya saya baca? Maka Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam bersabda: Bacalah

“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibul al-afwa fa’ fu ‘anniy”

"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, dan suka untuk memberi ampunan, maka ampunilah aku" [Hadits Riwayat Imam Ahmad, Tirmidzi dan dishahihkannya]

9. MEMEPERBANYAK DZIKIR, DO’A DAN ISTIGHFAR
Saudaraku muslim dan muslimah...
Siang dan malam hari di bulan Ramadhan adalah waktu yang memiliki keutamaan, maka isilah dengan memperbanyak dzikir, doa, istighfar, khususnya di waktu-waktu tertentu dikabulkannya doa, antara lain yaitu:

a. Saat berbuka puasa. Bagi orang yang berpuasa ketika berbuka puasa memiliki doa yang tidak akan ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
b. Sepertiga malam yang terakhir, saat Allah Subhanahu Wa Ta’ala turun ke langit dunia.
c. Beristighfar di waktu sahur. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
”Artinya : Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.” [Adz- Dzariyat: 18]
d. Mencari suatu saat dikabulkannya doa di hari Jum’at, yaitu di suatu waktu antara ashar dan maghrib di hari Jum’at.

Saudaraku muslim dan muslimah...
Ada beberapa perbuatan yang harus kita tinggalkan atau jauhi baik di luar Ramadhan, terlebih lagi di bulan Ramadhan, diantaranya:

1. Menjadikan malam seperti siang dan menjadikan siang seperti malam. Maksudnya di malam hari dihabiskan untuk bergadang, mengobrol, menonton TV atau perbuatan sia-sia lainnya. Sementara di siang hari dihabiskan untuk tidur.
2. Tidur di sebagian waktu shalat wajib.
3. Berlebih-lebihan dalam makanan dan minuman
4. Terlalu dini makan sahur, lalu tertidur saat waktu shalat shubuh sehingga tidak shalat shubuh berjama’ah di masjid.
5. Berbohong dan berbuat perbuatan sia-sia diantaranya bermain petasan atau lainnya.
6. Menyia-nyiakan waktu
7. Berkumpul bersama teman-teman untuk kegiatan yang sia-sia, menggunjing, gosip dan semisalnya
8. Kaum wanita menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memasak makanan.

Saudaraku muslim dan muslimah...
Ketahuilah bahwa hal yang tak kalah pentingnya adalah ikhlas! Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga! Betapa banyak orang yang mendirikan shalat tarawih tidak mendapatkan apa-apa selain cape dan letih! Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari hal demikian. Oleh karena itu Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam menekankan dalam banyak sabdanya : ” Dengan keimanan dan mengharap pahala Allah”. Kita mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menganugerahkan keikhlasan dalam ucapan, amalan kita, baik ketika sendirian maupun bersama orang banyak. Ya Allah, kabulkan permohonan kami ini.

Saudaraku muslim dan muslimah...
Perhatikanlah nikmat usia dan kesehatan yang Allah karuniakan kepada kita! Sungguh umur kita terbatas! Pernakah Anda berfikir, mana orang-orang yang tahun lalu berpuasa Ramadhan bersama kita? Kemanakah orang-orang yang tahun lalu shalat tarawih bersama kita? Sebagian mereka ada yang sudah dijemput oleh malaikat maut! Sebagian lagi terbaring sakit! Sehingga mereka tidak kuat berpuasa dan shalat tarawih. Maka pujilah Allah! Bersyukurlah kepada Allah, wahai Saudaraku!

Berbekalah mulai sekarang juga! Sungguh, sebaik-baik bekal adalah taqwa!

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kesempatan untuk berpuasa Ramadhan dan mendirikan Qiyamu Ramadhan, dan jadikanlah kami di bulan Ramadhan orang-orang yang diterima amalan-amalannya dan jadikanlah kami di bulan Ramadhan orang-orang yang dibebaskan dari api neraka. Amin.

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarganya dan para shahabatnya. Akhir doa kami adalah Alhamdulillahi rabbil ’alamin.

Wassalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu

[Diterjemahkan (dengan penyesuaian) dari buletin ”Risalah Syahri Ramadhan” karya Kholid bin Abdullah Al Hamudiy oleh Bukit Adhinugraha, Bogor 16 Sya’ban 1428 Hijriyah]
READ MORE - RISALAH SYAHRI RAMADHAN

Jumat, 08 Juli 2011

Keberangkatan Rasulullah Hijrah ke Madinah


Konspirasi Quraiys

Gelombang hijrah kaum muslimin dari Makkah ke Madinah, baik secara individu maupun secara berkelompok, sangat menimbulkan kekhawatiran di kalangan kaum kafir Quraisy. Mereka khawatir kaum muslimin akan bersatu. Jika bersatu, berarti menjadi ancaman bagi keberadaan kaum kafir Quraisy dan budaya paganismenya. Kekhawatiran itu kian menjadi, jika Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut hijrah bersama mereka, lalu memimpin kaum muslimin. Ini tentu menjadi ancaman yang sangat menakutkan. Karena mereka mengetahui betapa sangat berpengaruh kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di hati kaum muslimin. Kaum musyrikin Quraisy juga mengetahui kesiapan kaum muslimin rela berkorban demi membela agama yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Terlebih lagi dengan keberadaan kabilah Aus dan Khazraj yang telah menerima kaum Muhajirin. Dua kabilah tersebut memiliki kemampuan yang tidak bisa diragukan. Begitu pula secara geografis, kota Madinah dengan posisinya yang strategis merupakan jalur perdagangan yang menjadi sumber utama penghidupan kafir Quraisy.

Demikian, beberapa hal yang sangat mengkhawatirkan kaum kafir Quraisy. Mereka pun ingin terlepas dari semua ketakutan yang membayang-bayanginya. Sehingga pada hari Kamis, 26 Safar tahun ke- 14 dari kenabian, bertepatan dengan 12 September 622 M, sekitar dua bulan setengah pasca Bai’ah Aqabah kedua, para tokoh kafir Quraisy berkumpul di Darun-Nadwah membahas keadaan ini. Mereka mencari solusi yang dirasa tepat untuk melumpuhkan Rasululloh dan dakwahnya.
Alquran  telah menjelaskan inti pendapat-pendapat yang dilontarkan dalam pertemuan itu, dalam firman-Nya,
وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْيُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللهُ وَاللهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. (QS. Al-Anfal:30). [1]
Dalam riwayat lain terdapat penjelasan yang lebih rinci, namun riwayatnya lemah (Dha’if). Dikisahkan ketika kaum kafir Quraisy berkumpul di Darun-Nadwah membicarakan cara yang tepat untuk melepaskan diri dari ancaman Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam , mereka didatangi Iblis yang menjelma menjadi seorang laki-laki. Iblis ini mengaku berasal dari Nejed. Dia mengaku telah mendengar acara pertemuan ini, dan ia ingin bergabung memberikan saran dan nasihat.
Kemudian, orang-orang Quraisy yang sedang berkumpul itu mempersilahkan ia ikut ke dalam majelis. Saat pembicaraan berlangsung, dan salah seorang mengusulkan agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditahan atau dipenjara, maka Iblis menyahut, “Jangan! Pendapat kalian ini tidak tepat. Jika kalian menawannya sebagaimana pendapat kalian, maka lelaki ini (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ) tetap akan keluar dari balik pintu yang kalian tutup rapat dan akan sampai ke telinga para pengikutnya, sehingga mereka akan menyerang kalian dan merebutnya dari kalian. Kemudian mereka akan membanggakan diri di hadapan kalian dengannya sehingga bisa mengalahkan kalian.”
Kemudian salah seorang lagi mengusulkan agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diasingkan. Iblis inipun menolak pendapat ini seraya mengatakan, bahwa tutur bahasa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyejukkan hati mampu menarik banyak orang untuk mengikutinya. Sehingga ia pun akan mampu mengalahkan Quraisy.
Terakhir, Abu Jahal mengusulkan agar memilih seorang pemuda terpandang lagi kuat dari masing-masing kabilah. Masing-masing pemuda ini diberi pedang tajam. Dengan pedang-pedang ini, mereka menyerang Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam secara bersama-sama, sehingga tanggung jawab atas kematiannya akan terbagi ke dalam beberapa kabilah. Dengan demikian, akan dapat memaksa Bani Abdul Manaf rela menerima diyat (tebusan harta atas kematian seseorang), sebab mereka tidak akan mampu memerangi sebuah kabilah yang terlibat dalam pembunuhan ini.
Mendengar pendapat Abu Jahal yang busuk ini, sang Iblis mendukungnya, dan seluruh peserta pun menyepakatinya. Pertemuan kaum kafir Quraisy di Darun-Nadwah ini menghasilkan suara bulat.
Meskipun kaum Quraisy membuat makar, tetapi mereka tidak mengetahui makar Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tipu daya mereka secara sepat diketahui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Karena seusai pertemuan itu, Malaikat Jibril ‘alaihissalam kemudian mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Jibril ‘alaihissalammemberitahukan perihal hasil pertemuan itu, dan selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan agar tidak bermalam di tempat tidurnya pada malam itu.


[1] Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini diturunkan berkaitan dengan peristiwa tersebut. Imam Ahmad membawakan kisah tersebut dalam Al-Musnad, 5/87. Syakir berkata, “Dalam sanadnya ada catatan, disebabkan oleh keberadaan Utsman Al-Jazari ….”
Hadits ini dinukil oleh Ibnu Katsîr dalam tafsirnya (4/49). Hadits ini dalam Majma’iz-Zawaaid (7/27) dinisbatkan kepada Ath-Thabrani. Penulis kitab Majma’iz Zawaaid berkata,”Di dalam sanadnya terdapat Utsman bin ‘Amr al-Jazari. Dia dianggap tsiqah oleh Ibnu Hibban, tetapi dianggap lemah oleh ulama lainnya. Sedangkan para perawi selain Utsman, semuanya shahih.”
Ibnu Katsir hafidzuhullah dalam Al-Bidayah berkata, “Ini adalah sanad yang hasan (baik). Riwayat ini merupakan kisah terbaik yang menceritakan tentang jaring laba-laba di bibir gua Tsar”. Ibnu Hajar t juga menghasankan riwayat ini dalam Al-Fath, 15/90.

________________________-

Mendapat Izin Berhijrah

Setelah adanya kesepakatan kaum Quraisy untuk membunuh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam , maka datanglah malaikat Jibril kepada beliau menceritakan konspirasi mereka dan menyampaikan izin untuk berhijrah.
Imam Bukhari[1] dan ath-Thabari[2] meriwayatkan hadits dari Ibnu Ishaq, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan izin untuk hijrah, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke rumah Abu Bakar pada siang hari waktu Zhuhur dengan mengenakan kain penutup wajah. Kedatangan beliau diwaktu Zhuhur bukanlah waktu yang biasanya untuk berkunjung menunjukkan pentingnya berita yang beliau bawa, karena orang biasanya berlindung dirumah dan tidur siang menghindari terik panasnya matahari. Ditambah lagi mengenakan penutup muka yang menunjukkan keadaan bahaya disekeliling beliau, karena kaum Quraisy telah bertekad membunuh beliau. Ini semua membuat Abu Bakar mengetahui kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tak lazim ini mengisyaratkan bahwa Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dengan membawa masalah yang sangat penting.

Setelah mendapatkan izin masuk, beliau n pun masuk dan meminta kepada semua yang ada di rumah selain Abu Bakarradhiallahu ‘anhu untuk keluar supaya mereka tidak mengetahui pembicaraan yang hendak disampaikan kepada Abu Bakar.
Abu Bakar radhiallahu ‘anhu pun memberitahukan, bahwa semua yang hadir adalah pengikut Rasulullah dan keluarganya sendiri. Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan izin kepadanya untuk berhijrah dan mengajak Abu Bakar radhiallahu ‘anhu untuk menemaninya.
Dengan permintaan ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan isyarat yang telah beliau n berikan sebelumnya, yaitu ketika Abu Bakar z hendak berangkat hijrah, namun ditahan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Abu Bakar pun menawarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memilih salah satu di antara dua kendaraan yang disukainya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersedia memilih, namun tetap dengan membayarnya.
Aisyah menceritakan hal ini:
Disatu hari ketika kami duduk-duduk di rumah Abu Bakar di saat Nahr azh-Zhahirah (Siang terik sekali). Ada seorang yang memberitahu Abu Bakar, “Itu Rasulullah datang dalam keadaan menutup wajahnya diwaktu yang tidak pernah beliau mendatangi kita.”
Maka Abu Bakar pun menyahut, “Sungguh benar, demi Allah tidaklah beliau datang diwaktu seperti ini kecuali karena perkara penting sekali.”
Aisyahpun menceritakan lagi, “Sampailah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam lalu minta izin masuk. Lalu diberi izin dan Beliaupun masuk.” Rasulullah pun berkata, “Keluarkanlah orang yang ada disekitarmu!”
Abu Bakar menjawab, “Semua mereka adalah keluarga engkau wahai Rasulullah.”
Rasulullahpun menyatakan, “Sungguh aku diizinkan untuk keluar (hijrah).”
Abu Bakarpun bertanya, “Apakah engkau butuh teman wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Iya.”
Maka Abu Bakarpun menyatakan, “Ambillah salah satu dari dua ontaku ini.”
Beliau menjawab, “Aku akan bayar.”
Aisyahpun bercerita (setelah itu), “Kami siapkan kedua kendaraan tersebut dengan sangat cepat , kami letakkan bekal perjalanan di kantong kulit, lalu Asma’ bintu Abu bakar menyobek selendang pengikat pinggangnya (an-Nithaaq) lalu ia gunakan untuk mengikat tutup kantong tersebut. Karena itulah beliau dijuluki dzatu an-Nithaaq.
Kemudian Rasulullah dan Abu Bakar sampai ke gua di bukit Tsaur lalu bersembunyi disana selama tiga malam. Abdullah bin Abu Bakar  dimalam hari tinggal bersama keduanya, lalu pulang ketika menjelang subuh, lalu dipagi hari ia sudah berada bersama orang-orang Quraisy di Makkah seperti orang yang tidak pernah keluar (dari Makkah), sehingga tidaklah ia mendengar sesuatu berita konspirasi (untuk Rasulullah) kecuali ia ambil sehingga dapat memeberi kabar berita untuk Rasulullah dan Abu Bakar ketika malam hari tiba. Sedangkan ‘Amir bin Fuhairah –budak Abu Bakar- menggembala sekumpulan kambing untuk keduanya. Sehingga ia menggiring kambingnya ke tempat keduanya hingga berlalu waktu Isya’. Sehingga keduanya bermalam dalam keadaan minum susu segar, hingga Amir bin Fuhairah pulang sebelum subuh dan hal ini dilakukan setiap malam selama tiga malam lamanya.
Rasulullah dan Abu Bakar menyewa seorang yang masih kafir dari suku Ad-Dail dari Bani Adi bin Adi sebagai penunjuk jalan, lalu keduanya menyerahkan onta kendaraannya kepadanya dan berjanji bertemu di Goa tsaur setelah tiga hari membawa kedua onta kendaraan tesebut pada pagi harinya. [3]

Merancang rencana perjalanan

Dalam pertemuan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu membahas rencana hijrah dan caranya keluar dari tipu daya kaum kafir Quraisy ini. Di antara rencana-rencana itu yang disebutkan dalam riwayat Imam Bukhari dan Ibnu ishaq ialah:
  1. Mereka akan keluar menuju gua Tsur[4] di sebelah barat daya Makkah pada malam hari. Ini untuk mengelabui kaum kafir, karena perhatian mereka dalam mencari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tertuju ke arah utara Makkah, yaitu arah menuju Madinah.
  2. Mereka akan tinggal di gua Tsur selama tiga hari, sehingga usaha pencaharian mulai surut.
  3. Mereka menyewa seorang penunjuk jalan yang mengerti perjalanan di padang pasir, yaitu ‘Abdullah bin Urqud, seorang musyrik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar merahasiakan permasalahan mereka kepada si penunjuk jalan ini.
  4. Asma` menyediakan bekal untuk mereka berdua. Ikat pinggang miliknya ia potong untuk mengikat bekal. Sehingga ia dikenal dengan sebutan Dzatun-Nithaq[5] atau Dzatun-Nithaqain.[6]
  5. Abu Bakar menyuruh anaknya, ‘Abdullah untuk menyadap informasi permbicaraan masyarakat Makkah tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu , lalu menyampaikan berita tersebut kepada mereka di gua Tsur pada malam hari.
  6. Abu Bakar menyuruh budaknya yang bernama ‘Amir bin Fuhairah untuk menggembalakan kambingnya di siang hari dan menggiringnya untuk di istirahat di gua Tsur saat sore hari, supaya mereka bisa memanfaatkan susu dan dagingnya.
  7. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dan memintanya untuk mengembalikan barang-barang titipan penduduk Makkah, karena banyak penduduk Makkah yang menitipkan barang-barang berharga mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam juga meminta Ali radhiallahu ‘anhu tidur di tempat tidurnya.
  8. Abu Bakar meminta budaknya ‘Amir bin Fuhairah menemaninya dalam hijrah untuk membantu mereka.
Demikianlah beberapa peristiwa yang mengawali hijrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Abu Bakarradhiallahu ‘anhu ke Madinah.


Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.
Artikel www.UstadzKholid.com

[1] Al-Fath, 15/88, no. 3905.
[2] Dalam Târikh-nya, 2/377-379, dengan sanad hasan.
[3] HR Al-Bukhori 7/389).
[4] Al-Fath, hadits no. 3905.
[5] Imam Bukhâri  no. 3905
[6] Imam Bukhâri 16/103, no. 3907, dari Ama`.
READ MORE - Keberangkatan Rasulullah Hijrah ke Madinah

Senin, 04 Juli 2011

ORANG MUKMIN AKAN MELIHAT ALLAH DI AKHIRAT





  • Oleh
    Ustadz Ahmas Faiz bin Asifuddin


    Kaum mukminin mengimani akan melihat Allah dengan mata kepala sendiri di akhirat, termasuk salah satu wujud iman kepada Allah, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya. Mereka akan melihatnya secara jelas, bagaikan melihat matahari yang bersih, sedikitpun tiada terliputi awan. Juga bagaikan melihat bulan pada malam purnama, tanpa berdesak-desakan.

    Demikian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskannya dalam Al Aqidah Al Wasithiyah [1]. Dan ini merupakan kesepakatan Salafush Shalih Radhiyallahu 'anhum.

    Imam Ibnu Abi Al Izz Al Hanafi, pensyarah kitab Aqidah Thahawiyah, menegaskan bahwa jelasnya kaum mukminin melihat Rabb-nya pada hari akhirat nanti, telah dinyatakan oleh para sahabat, tabi’in, serta para imam kaum muslimin yang telah dikenal keimaman mereka dalam agama. Begitu pula para ahli hadits dan semua kelompok Ahli Kalam yang mengaku sebagai Ahli Sunnah Wal Jama’ah. [2]

    Mengapa demikian? Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan, salah seorang ulama senior di Saudi Arabia, menjelaskan [3] : “Sebab Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberitakan hal tersebut dalam KitabNya ; Al Qur’an Al Karim. Begitu pula Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun telah memberitakannya dalam Sunnahnya. Barangsiapa yang tidak mengimani kejadian ini, berarti ia mendustakan Allah, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya. Sebab orang yang beriman kepada Allah, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya, akan beriman pula kepada segala yang diberitakannya”.

    Dalil-dalilnya, seperti yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Al Aqidah Al Wasithiyah [4]



  • DALIL DARI AL QUR’AN AL KARIM
    Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :


    وُجُوهُُ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ


    Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat.. [Al Qiyamah : 22-23].

    Imam Ibnu Katsir rahimahullah [5] menerangkan maksudnya, yaitu mereka melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya [6] yang akan diketengahkan di bawah nanti –Insya Allah-.

    Imam Ibnu Abi Al Izz rahimahullah mengatakan: “Ayat di atas termasuk salah satu dalil yang paling nyata”. Selanjutnya, setelah beliau mengemukakan akibat rusaknya tahrif (ta’wil), beliau mengatakan: “Dihubungkannya kata-kata nazhar (nazhirah, memandang) dengan wajah (wujuh) yang merupakan letak pandangan. Ditambah dengan idiom “ilaa” yang secara tegas menunjukkan pandangan mata, disamping tidak adanya qarinah yang menunjukkan makna lain, maka jelas dengan ayat itu, Allah memaksudkannya sebagai pandangan mata yang ada di wajah manusia, memandang Allah Azza wa Jalla“ [7]

    Juga firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

    عَلَى اْلأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ

    Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. [Al Muthaffifin : 35].

    Ibnu Katsir rahimahullah kembali menjelaskan arti memandang, yakni mereka melihat Allah Azza wa Jalla. [8]

    Selanjutnya firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

    لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

    Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. [Yunus:26].

    Syaikh Shalih Al Fauzan menjelaskan: ziyadah (tambahan dari pahala yang terbaik) dalam ayat di atas, maksudnya ialah melihat Wajah Allah, sebagaimana tafsir yang dikemukakan oleh Rasulullah n tentangnya, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim (haditsnya akan di ketengahkan di bawah, Insya Allah, Pen). Para Ulama Salaf juga menegaskan tafsir yang demikian itu [9].


  • Berikutnya firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:


    لَهُم مَّايَشَآءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ


    Mereka di dalamnya (surga) memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami adalah tambahannya. [Qaf : 35]

    Syaikh Shalih Al Fauzan juga menjelaskan makna tambahan pada ayat di atas, artinya ialah melihat Wajah Allah Azza wa Jalla [10]. Begitu juga Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan: Ayat ini, seperti firman Allah

    لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

    Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. [Yunus:26].

    Yaitu seperti dalam riwayat Muslim dari Shuhaib bin Sinan Ar Rumi, bahwa maksud ayat tersebut adalah melihat Wajah Allah Yang Mulia [11].

    Demikianlah beberapa dalil dari Al Qur’an yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Al Aqidah Al Wasithiyah tentang melihatnya kaum mu’minin pada wajah Allah.





  • Sementara itu, berkaitan dengan mafhum dari firman Allah:


    كَلآَّإِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ


    Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka. [Al Muthaffifin:15].

    Imam Syafi’i rahimahullah, seperti dinukil oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya [12] menegaskan : “Dalam ayat ini terdapat dalil, bahwa kaum mu’minin akan melihat Rabb-nya pada hari (akhirat) itu”.

    Di tempat lain (yaitu pada tafsir surat Al Qiyamah ayat 22-23), Ibnu Katsir menukil perkataan Imam Syafi’i lainnya berkenaan dengan surat Al Muthaffifin ayat 15. Yaitu: “Orang kafir tidak tertutup pandangannya dari melihat Allah, kecuali karena sudah difahami bahwa orang-orang abrar (kaum mu’minin) akan melihat Allah Azza wa Jalla.”





  • DALIL-DALIL DARI HADITS NABI SHALALLLAHU 'ALAIHI WA SALLAM


    Sebenarnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir [13] dan lain lain, hadits yang menyatakan bahwa kaum mu’minin akan melihat Allah di akhirat secara nyata dan dengan mata kepala mereka, adalah merupakan hadits mutawatir. Bahkan Ibnu Katsir menyatakan, bahwa kenyataan ini tidak mungkin dapat ditolak. Hanya saja, disini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mencukupkan pemaparan satu hadits saja. Yaitu hadits yang muttafaq ‘alaih.

    Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :

    إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لاَ تَضَامُّوْنَ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اْستَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوْا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَصَلاَةٍ قَبْلَ غُرُوْبِهَا فَافْعَلُوْا

    Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini (dalam permulaan hadits, diceritakan; waktu itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang melihat bulan yang tengah purnama). Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihatNya (ada yang membaca la tudhamuna tanpa tasydid dan di dhammah ta’nya, artinya: kalian tidak akan ditimpa kesulitan dalam melihatNya). Oleh karena itu, jika kalian mampu, untuk tidak mengabaikan shalat sebelum terbit matahari (Subuh) dan shalat sebelum terbenam matahari (Ashar), maka kerjakanlah. [14]

    Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan menerangkan makna hadits di atas, (yaitu) kalian akan melihat Allah semata-mata dengan pandangan mata kepala kalian. Dan hadits-hadits tentang ini adalah mutawatir [15].

    Begitu pula Imam Ibnu Hajar Al Asqalani serta Imam Nawawi, dalam mensyarah hadits-hadits yang dipaparkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim menegaskan secara jelas, bahwa kaum mu’minin di akhirat kelak akan melihat Allah semata-mata dengan pandangan mata [16]. Bahkan dalam menafsirkan hadits:

    أَمَا إِنَّكُمْ سَتُعْرَضُوْنَ عَلَى رَبِّكُمْ فَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ

    Ketahuilah, sesungguhnya kalian akan di hadapkan kepada Rabb kalian, maka kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. [HR Muslim].

    Imam Nawawi mengatakan, artinya kalian akan melihat Allah secara nyata, tidak ada keraguan dalam melihatNya, dan tidak pula ada kesulitan padanya. Seperti halnya kalian melihat bulan (purnama) ini secara nyata, tidak ada kesulitan dalam melihatnya. Yang diserupakan disini adalah cara melihatnya, bukan Allah diserupakan dengan bulan [17].




  • Juga hadits Abu Hurairah berikut:


    أَن النَّاسَ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: هَلْ تُضَارُّوْنَ فِى الْقَمَرِ لَيِلَةَ الْبَدْرِ ؟ قَالُوْا: لاَ يَا رَسُوْلَاللهِ. قَالَ : فَهَلْ تُضَارُّوْنَ فِى الشَّمْسِ لَيْسَ دُوْنَهَا سَحَابٌ؟ قَالُوْا: لاَ يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ : فَإِنَّكُمْ تَرَوْنَهُ كَذَلِكَ...الحديث.

    Sesungguhnya orang-orang (para sahabat) bertanya,”Wahai, Rasulullah. Apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat nanti?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam balik bertanya,”Apakah kalian akan mengalami bahaya (karena berdesak-desakan) ketika melihat bulan pada malam purnama?” Mereka menjawab,”Tidak, wahai Rasulullah.” Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya lagi,”Apakah kalian juga akan mengalami bahaya (karena berdesak-desakan) ketika melihat matahari yang tanpa diliputi oleh awan?” Mereka menjawab,”Tidak, wahai Rasulullah.” Maka Beliau bersabda,”Sesungguhnya, begitu pula ketika kalian nanti melihat Rabb kalian”…sampai akhir hadits. [20]

    Demikianlah sebagian kecil hadits shahih diantara sekian banyak hadits shahih lainnya, yang semuanya menyatakan bahwa kaum mu’minin kelak akan melihat Allah dengan mata kepala sendiri di akhirat. Sebelumnya, beberapa ayat Al Qur’anpun telah dipaparkan untuk membuktikan hal itu. Sungguh suatu nikmat luar biasa yang dianugerahkan Allah kepada kaum mu’minin, sebagai tambahan nikmat kepada mereka.

    Sebenarnya, masih banyak hadits-hadits lainnya, baik yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim di beberapa tempat dalam kitab shahih masing-masing, maupun yang diriwayatkan oleh imam-imam lain, seperti Imam Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan lain-lain. Namun di sini cukuplah kiranya pemaparan beberapa dalil di atas.

    Intinya, para ulama menyatakan bahwa hadits-hadits tentang melihatnya kaum mu’minin kepada Allah pada hari kiamat mencapai derajat mutawatir. Oleh karena itu, wajib bagi setiap insan yang beriman kepada Allah, kitab-kitabNya serta rasul-rasulNya, untuk mengimani masalah ini. Barangsiapa tidak mengimaninya, sama artinya dengan mendustakan Allah, kitab-kitabNya serta rasul-rasulNya, sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan pada permulaan tulisan ini.

    Melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan dambaan setiap insan yang benar-benar beriman dan cinta kepadaNya. Ternyata kelak akan menjadi kenyataan. Bukankah itu merupakan nikmat luar biasa?.Nas’alullah Al Jannah wan nazhar ila wajhihi Al Karim.





  • Footnote
    [1]. Lihat Syarah Al Aqidah Al Wasithiyah, Syaikh Shalih Al Fauzan, hlm. 140, terbitan Maktabah Al Ma’arif Li An Nasyr Wat Tauzi’- Riyadh, Cet. VI-1413 H/1993 M.
    [2]. Lihat Syarah Al Aqidah Ath Thahawiyah, tahqiq: Jama’ah minal Ulama dengan takhrij dari Syaikh Al Albani rahimahullah, hlm. 189, Al Maktab Al Islami, Cet. IX 1408 H/1988 M
    [3]. Lihat Syarh Al Aqidah Al Wasithiyah, Syaikh Shalih Al Fauzan, hlm. 140.
    [4]. Lihat Syarh Al Aqidah Al Wasithiyah, Syaikh Shalih Al Fauzan, hlm. 140
    [5]. Ini keterangan tambahan dari penyusun. Bukan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
    [6]. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, juz IV berkenaan dengan ayat di alas
    [7]. Syarh Al Aqidah Ath Thahawiyah, hlm. 189
    [8]. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, IV, berkaitan dengan ayat di atas
    [9]. Lihat Syarh Al Aqidah Al Wasithiyah, hlm. 98 dengan terjemah bebas
    [10]. Lihat Syarah Al Aqidah Al Wasithiyah, hlm. 98
    [11]. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, IV, tentang tafsir surat Qaf ayat 35
    [12]. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, IV, berkaitan dengan ayat tersebut
    [13]. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, IV, tentang tafsir surat Al Qiyamah ayat 22-23
    [14]. Shahih Bukhari, Fathul Bari, XIII/419, hadits no. 7434, dan Muslim Syarah Nawawi, tahqiq Khalil Ma’mun Syiha, V/135, hadits no. 1432, Bab Fadhli Shalati Ash Shubhi Wal ‘Ashri Wal Muhafazhah ‘Alaihima. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Tirmidzi, no. 2551; Shahih Sunan At Tirmidzi, III; Ibnu Majah, Shahih Sunan Ibni Majah, I, no. 147/176, dll
    [15]. Lihat Syarh Al Aqidah Al Wasithiyah, hlm. 121
    [16]. Lihat Fathul Bari, XIII/419-433, dan Shahih Muslim Syarah Nawawi, tahqiq Khalil Ma’mun Syiha, V/134-137
    [17]. Syarh Shahih Muslim, Nawawi, hlm. 136-137
    [18]. Fathul Bari, XIII/419, no. 7435
    [19]. Lihat Shahih Muslim Syarah Nawawi, tahqiq Khalil Ma’mun Syiha, III/19-20, hadits no. 448 & 449, Bab Itsbat Ru’yatil Mu’minin Fil Akhirah Rabbahum Subhanahu Wa Ta’ala. Begitu juga Shahih Sunan Tirmidzi, kitab Shifatil Jannah, Bab Ma Ja’a fi Ru’yatir Rabbi Tabaraka Wa Ta’ala, jilid III, no. 2552 dan Shahih Ibnu Majah, I, no. 155/186, hml. 80
    [20]. Hadits yang dikeluarkan oleh Al Bukhari dalam Shahih-nya, no. 7437; Fathul Bari, XIII/419

    sumber >>http://almanhaj.or.id/content/2984/slash/0
READ MORE - ORANG MUKMIN AKAN MELIHAT ALLAH DI AKHIRAT

Allah Turun Ke Langit Dunia Setiap Malam ...

Allah Turun Ke Langit Dunia Setiap Malam ...

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى

السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ الأَخِيْرِ يَقُوْلُ : مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ, مَنْ يَسْأَلُنِيْ فَأُعْطِيَهُ, مَنْ يَسْتَغْفِرُنِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: “Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku berikan, dan siapa yang yang memohon ampun kepadaKu, maka akan Aku ampuni”. [HR. Bukhari: 1145 dan Muslim: 758.

SYARH HADITS

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan:
“Para salaf, para imam dan para ahli ilmu dan hadits telah bersepakat membenarkan dan menerima hadits ini. Barangsiapa yang berkata seperti perkataan rasul, maka dia benar. Tetapi barangsiapa yang memahami hadits ini atau hadits-hadits sejenisnya dengan pemahaman yang Allah suci darinya, seperti menyerupakanNya dengan sifat makhluk, dan menyifatinya dengan kekurangan, maka dia telah salah. Oleh karena itu madzhab salaf menyakini dalam sifat ini dengan menetapkan sifat-sifat bagi Allah dan tidak menyerupakannya dengan makhluk. Karena Allah disifati dengan sifat-sifat yang terpuji dan suci dari penyerupaan dengan makhlukNya”. [Syarah Hadits Nuzul hal. 69-70.]

Imam Al-Ajurri berkata:
“Iman dengan ini wajib, tetapi tidak boleh bagi seorang muslim untuk bertanya: Bagaimana Allah turun? Dan tidak ada yang mengingkari ini kecuali kelompok Mu’tazilah. Adapun ahli haq, mereka mengatakan: Beriman dengannya adalah wajib tanpa takyif (membagaimanakan), sebab telah shahih sejumlah hadits dari Rasulullah bahwasanya Allah turun ke langit dunia setiap malam. Orang-orang yang meriwayatkan hadits ini kepada kita, mereka pula yang meriwayatkan hadits-hadits tentang hukum halal haram, shalat, zakat, puasa, haji dan jihad. Maka, sebagaimana para ulama menerima semua itu, maka mereka juga menerima hadits-hadits ini, bahkan mereka menegaskan: “Barangsiapa yang menolaknya maka dia adalah sesat dan keji”. Mereka waspada darinya dan memperingatkan umat dari penyimpangannya”. [Asy-Syari’ah 2/93 -Tahqiq Walid bin Muhammad-]

Imam Ibnu Khuzaimah berkata:

“Bab penyebutan hadits-hadits yang shahih sanad dan matan-nya. Para ulama Hijaz dan ‘Iraq meriwayatkan dari Nabi tentang turunnya Allah ke langit dunia setiap malam. Kita bersaksi dengan persaksian seorang yang menetapkan dengan lisannya dan membenarkan dengan hatinya penuh keyakinan terhadap hadits-hadits seputar turunnya Allah tanpa membagaimanakan sifatnya, sebab Nabi kita tidak menyifatkan kepada kita tentang sifat turunnya Allah ke langit dunia, tetapi hanya memberitakan kepada kita bahwa Dia turun, sedangkan Allah dan NabiNya tidak mungkin lalai untuk menjelaskan sesuatu yang dibutuhkan kaum muslimin dalam agama mereka. Maka kita membenarkan hadits-hadits ini yang berisi penetapan turunnya Allah tanpa menyulitkan diri untuk membagaimanakan sifat turunNya, lantaran Nabi tidak menerangkan kepada kita tentang sifat turunnya Allah”.[Kitab At-Tauhid wa Itsbat Shifat Ar-Rabb hal. 125 -Tahqiq Muhammad Khalil Harras]

Imam Ibnu Abdil Barr berkata:

“Mayoritas imam Ahli Sunnah berpendapat bahwa Allah turun sebagaimana dikhabarkan oleh Rasulullah, mereka membenarkan hadits ini dan tidak membagaimanakannya”. [At-Tamhid 3/349]
March 21 at 8:56pm · Like · 1 person
Abu Hashifah Rickywahyudi Kewajiban kita dalam hadits-hadits seperti ini adalah:

1. Beriman dengan nash-nash yang shahih.
2. Tidak bertanya bagaimannya serta menggambarkannya, baik dalam fikiran, terlebih lagi dalam ungkapan. Karena hal itu termasuk berkata terhadap Allah tanpa dasar ilmu, sedangkan Allah tak dapat dijangkau dengan akal fikiran.
3. Tidak menyerupakan sifatNya dengan sifat makhluk. Allah berfirman, yang artinya:

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Dan Dia-lah Maha mendengar dan melihat.

(QS. Asy-Syura: 11)


Apabila kita memahami kewajiban ini, maka tidak akan ada lagi kerancuan dalam hadits nuzul atau lainnya yang menerangkan sifat-sifat Allah. Yang penting, jika tibasepertiga malam terakhir maka Rabb turun ke langit dunia, sebagaimana diberitakan oleh Nabi”. [Majmu’ Fatawa wa Maqolat Syaikh Ibnu Utsaimin 1/216.]

 FIQIH HADITS

Hadits ini memiliki beberapa faedah yang banyak sekali. Dalam kitabnya Al-Kawasyif Al-Jaliyyah hal. 451-454, Syaikh Abdul Aziz Al-Muhammad As-Salman dapat menarik 38 faedah dari hadits di atas, diantaranya:

1. Ketinggian Allah di atas arsy-Nya.

Dalam hadits ini terdapat faedah berharga tentang sebuah aqidah yang banyak dilupakan oleh mayoritas kaum muslimin saat ini yaitu tentang ketinggian Allah di atas langit. Hal itu diambil dari lafadz “Turun” karena makna “turun” dalam bahasa adalah dari atas ke bawah bukan sebaliknya.


* Imam Utsman bin Sa’id ad-Darimi berkata: “Hadits ini sangat pahit bagi kelompok Jahmiyah dan mematahkan faham mereka bahwa Allah tidak di atas arsy tetapi di bumi sebagaimana Dia juga di langit. Lantas bagaimanakah Allah turun ke bumi kalau memang Dia sendiri sudah di atas bumi? Sungguh lafazh hadits ini membantah faham mereka dan mematahkan argumen mereka”.


* Imam Ibnu Abdil Barr berkata: “Dalam hadits ini terdapat dalil bahwasanya Allah berada di atas langit, di atas arsy sebagaimana dikatakan oleh para ulama. Hadits ini termasuk salah satu hujjah Ahli Sunnah terhadap kelompok Mu’tazilah dan Jahmiyah yang berpendapat bahwa Allah ada dimana-mana, bukan di atas arsy”.

‎2. Menetapkan sifat “kalam” (berbicara) bagi Allah

* Faedah ini diambil dari kandungan hadits: “Barangsiapa yang berdoa kepadaKu maka akan Aku kabulkan…”. Sifat “kalam” merupakan salah satu sifat yang sempurna dan hakekat (bukan majaz) bagi Allah. Banyak sekali dalil yang mendukungnya, salah satunya adalah firman Allah, yang artinya:

Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (QS. An-Nisa’: 164)

Pernah dikisahkan bahwa sebagian Mu’tazilah pernah datang kepada Abu ‘Amr bin Al-‘Alaa’, salah seorang pakar ahli qira’ah: Saya ingin agar anda membaca:

وَكَلَّمَ اللهَ مُوْسَى تَكْلِيْمًا

Dengan menashabkan (menfathah) lafadz Allah, agar supaya yang berbicara (subyek) adalah Musa, bukan Allah. Abu ‘Amr lantas menjawab: Taruhlah aku membaca ayat ini seperti itu, lantas apa yang akan kau perbuat dengan firman Allah:


Dan tatkala Musa datang untuk (munajat kepada kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya. (QS. Al-A’raf: 143)


Akhirnya, seorang Mu’tazilah itu diam seribu bahasa!. [34]

 ‎3. Keutamaan sepertiga malam terakhir

Malam hari adalah saat keheningan hati, ketenangan, keikhlasan, dimana saat itu manusia dalam kelelapan tidur. Oleh karenanya, doa pada saat itu mustajab, terutama pada malam terakhir.

Allah berfirman, yang artinya:

Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. (QS. Adz-Dzariyat: 16-17)

Nabi juga bersabda:
عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ قَالَ : قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ : أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ؟ قَالَ : جَوْفُ اللَّيْلِ الآخِرِ وَدُبُرُ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَاتِ

Dari Abu Umamah berkata: Ditanyakan kepada Rasulullah: “Doa apakah yang paling mustajab? Beliau menjawab: “Akhir malam dan penghujung shalat lima waktu”.


* Imam Abu Bakar Ath-Thurthusi berkata dalam: “Sebagai penutup bab ini, tidak pantas bagi seorang yang butuh kepada Allah kemudian dia tidur di waktu malam terakhir”.
Maka pergunakanlah kesempatan berharga ini -wahai saudaraku- untuk memperbanyak doa, istighfar dan taubat sebelum maut menjemputmu.
اغْتَنِمْ فِيْ الْفَرَاغِ فَضْلَ رُكُوْعٍ فَعَسَى أَنْ يَكُوْنَ مَوْتُكَ بَغْتَةْ
كَمْ صَحِيْحٍ رَأَيْتَ مِنْ غَيْرِ سُقْمٍ ذَهَبَتْ نَفْسُهُ الْعَزِيْزَةُ فَلْتَةْ

Gunakanlah waktu luangmu untuk memperbanyak shalat

Barangkali kematianmu datang tiba-tiba secara cepat.

Betapa banyak orang yang sehat wal afiat, tiada cacat.

Jiwanya yang sehat melayang cepat[37].

.

penulis: Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi

Abiubaidah.com
READ MORE - Allah Turun Ke Langit Dunia Setiap Malam ...

Syarah Al-'Aqidah Al-Wasithiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. ( Studi Tentang Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah) [11]


AYAT-AYAT DAN HADITS-HADITS TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH

: Orang-Orang Mukmin Melihat Allah Pada Hari Kiamat
:Allah Turun Ke Langit Dunia Setiap Malam

Oleh
Syaikh Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qathani


[39]. Orang-Orang Mukmin Melihat Allah Pada Hari Kiamat

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ
 إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

"Artinya : Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat."[Al-Qiyamah : 22-23]

Pada bab ini penulis Rahimahullah Ta'ala menyebutkan ayat-ayat yang menunjukkan bahwa orang-orang mukmin melihat Rabb mereka pada hari kiamat, secara langsung dengan mata kepala mereka, dengan cara yang layak dengan kebesaran-Nya, yang mana hal itu tidak mirip dengan satu pun di antara para makhluk-Nya. Hal itu juga telah disebutkan di dalam As Sunnah. Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

“Bila penduduk jannah telah masuk jannah, Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman, 'Inginkah kalian jika aku menambahkan sesuatu untuk kalian ?' Mereka berkata, 'Tidakkah Engkau telah menjadikan wajah kami menjadi putih, Engkau masukkan kami ke jannah, dan Engkau selamatkan kami dari naar? Maka, Allah menyingkapkan hijab. Tidak ada sesuatupun yang diberikan kepada mereka, yang lebih mereka sukai daripada kenikmatan melihat kepada Rabb mereka 'Azza wa Jalla."

Kemudian, Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam, membaca ayat ini :

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

"Artinya : Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (Jannah) dan tambahannya.(yaitu melihat wajah Allah.) [1] [Yunus : 26]

Pendapat bahwa orang-orang mukmin melihat Rabb mereka pada Hari Kiamat ini, disepakati oleh para nabi, rasul, seluruh shahabat, tabi'in, dan imam kaum muslimin dalam berbagai masa. Yang menentang pendapat ini hanyalah orang-orang Jahmiyah dan Mu'tazilah serta orang-orang yang mengikuti mereka. Pendapat mereka itu bathil dan tertolak dengan Al-Kitab dan As-Sunnah. [2]

Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak berjubel dalam melihat-Nya. Maka, apabila kalian bisa dengan sepenuh daya menjaga shalat sebelum matahari terbit (shalat fajar) dan shalat sebelum matahari tenggelam (shalat ‘ashar) maka lakukanlah.” [3]

<span class=" fbUnderline">[40]. Allah Turun Ke Langit Dunia Setiap Malam </span>

Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Artinya : Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun pada "Sesungguhnya kalian akan mclilwt Rabb kalian seba-gaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak berjiibd dalam melihat-Nya. Maka, apabila kalian bisa dcngan sepenuh daya menjaga shalat sebelum rnatahari tcrbit (shalat fajar) dan shalat sebelum matahari tenggelam (shalat 'ashar) maka lakukanlah."

Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

”Artinya : Rabb kita Tabaraka wa Ta'ala turun pada setiap malam ke langit dunia, ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman : 'Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkannya, siapa yang memohon kepada-Ku, niscaya Aku memberinya, siapa yang meminta ampun kepada-Ku niscaya Aku mengampuninya?" [4]

Hadits yang disepakati keshahihannya ini, merupakan dalil yang sahih dan gamblang, yang menyatakan turunnya Allah Ta'ala ke langit dunia pada setiap malam, ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir. Turunnya Allah Ta'ala ini sesuai dengan kebesaran dan keagunganNya. Turun merupakan salah satu sifat Fi'liyah. Dia turun ketika Dia menghendaki dan kapan saja Dia menghendaki. Arti turun telah diketahui, tetapi bagaimana keadaan turun-Nya itu tidak diketahui, mengimaninya merupakan kewajiban, sedangkan bertanya mengenainya adalah bid'ah. Demikian pula turunnya Allah pada Hari Kiamat, sebagaimana disebutkan dalam Al-Kitab-dan As-Sunnah. Turun-Nya tidak sama dengan turunnya tubuh manusia dari atap rumah ke tanah, yang mana atap tetap berada di atasnya, tetapi Allah Maha Suci dari hal yang demikian itu. [5]


[Disalin dari kitab Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah Li Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah, Penulis Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qathaniy, Edisi Indonesia Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Penerjemah Hawin Murtadho, Penerbit At-Tibyan]
_________
[1]. Diriwayatkan oleh Muslim I/163, sedangkan ayat dalam hadits ini adalah ayat ke-26 dari Surah Yunus
[2]. “Al-Kawasyif Al-Jaliyah”, hal.401.
[3]. Diriwayatkan Al-Bukhari, “Fathul Bari” III/29 dan Muslim I/521
[4]. Diriwayatkan Al-Bukhari, “Fathul Bari” XI/377 dan Muslim I/201
[5]. “Syarh Hadits An-Nuzul”, Ibnu Taimiyah, hal.33 dan “Ar-Raudhah An-Nadiyah”, hal. 175 Lafazh hadits ini milik Muslim

Almanhaj.or.id
READ MORE - Syarah Al-'Aqidah Al-Wasithiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. ( Studi Tentang Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah) [11]