rss

Selasa, 15 November 2011

Hukum Daging Tupai


Assalamu’alaikum. Ustadz, ana mau bertanya, apa hukum daging tupai? Ana minta dalilnya ustadz. Jazakumullah khairan.
Penanya: BoXXXXXXgmail.com

Jawaban:
Wa ‘alaikumus salam
Hukum Makan Tupai
Ulama berselisih pendapat tentang hukum makan tupai. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa makan tupai hukumnya halal. Sementara sebagian ulama berpendapat haramnya tupai, karena hewan ini mengigit dengan taringnya. Pendapat kedua ini merupakan pendapat Madzhab Hanafi dan sebagian ulama Syafi’iyah dan Hanabilah. Sementara Malikiyah berpendapat makruh. Pendapat yang lebih kuat adalah boleh, sebagaimana yang ditegaskan Imam An-Nawawi dalam al-Majmu’, Ibnu Qudamah dalam al-Mughni, Khalil dalam at-Taudhih, dan Al-Mardawi dalam al-Inshaf.
Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
READ MORE - Hukum Daging Tupai

Fatwa Dilarang Memelihara Hamster


Bolehkah Memelihara Hamster?
Pertanyaan:
Assalamu ‘alaikum. Saya mau bertanya. Apakah seorang muslim boleh memelihara hamster? Apakah boleh melakukan jual beli hamster? Jazakumullah khairan katsiran.
Affan (affan_**@***.com)

Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatulah.
Terdapat fatwa dalam situs www.islamqa.com tentang hamster sebagai berikut,
“Alhamdulillah. Setelah mempelajari berbagai buku tentang hamster, berikut gambar yang tersebar di internet, tampak jelas, hewan ini sangat mirip sekali dengan tikus. Sebagaimana dipahami, tikus memiliki jenis spesies yang sangat banyak. Sebagian hasil penelitian menyebutkan, tikus memiliki 86 genus dan terdiri dari 720 spesies. Keterangan ini bisa dilihat di kitab Al-Qawaridh fi Al-Wathni Al-’Arabi karya Adil Muhammad Ali. Ternyata, hamster termasuk jenis tikus, sebagaimana yang disebutkan dalam referensi di atas.
Dalam Ensiklopedi Al-Arabiyah Al-Alamiyah disebutkan, ‘Hamster termasuk jenis pengerat kecil pendek, yang menjadi salah satu hewan berbulu hiasan rumah. Umumnya, hamster memiliki ekor yang pendek, mulutnya basah, yang membantu dirinya untuk menampung banyak makanan. Ada sekitar 15 varietas hamster yang hidup. Hamster termasuk jenis tikus sehingga kita tidak boleh memeliharanya atau menjualnya. Bahkan, kita diwajibkan untuk membunuhnya, baik di tanah halal (selain Mekah dan Madinah) maupun di tanah haram (Mekah dan Madinah).’
Para ulama menegaskan bahwa hukum tikus di atas berlaku untuk semua jenis tikus. Ibnu hajar mengatakan, ‘Tikus ada berbagai macam, seperti al-juradz (rat),al-khuld (tikus gurun), tikus unta, tikus ikan, … dan semua hukumnya sama, haram dimakan dan boleh dibunuh.’ (Fathul Bari, 4:39)
Allahu a’lam.” (www.islamqa.com, Fatwa Islam, no. 133190)

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).

READ MORE - Fatwa Dilarang Memelihara Hamster

Senin, 07 November 2011

Membuka Pintu Rizki Dengan Istighfar


Membuka Pintu Rizki Dengan Istighfar


Membuka Pintu Rizki Dengan Istighfar
Segala puji bagi Allah, Shalawat dan salam semoga tercurah pada Rasulullah.
· “AJIMAT ROJO BRONO: Suatu ritual khusus yang apabila Anda menjalankan dengan benar, insyaAllah dalam waktu 3 hari Anda akan segera mendapat rizqi, untuk menambah modal atau melunasi hutang tanpa tumbal. Mahar kesepakatan”.
“GOMBAL GENDERUWO: Usaha seret, atau sering tertipu, banyak saingan, untuk apa bingung. Dengan ajimat Gombal Gendruwo bisnis akan kembali lancar, disegani dan dapat menetralkan kekuatan jahat yang ingin merusak. Mahar kesepakatan”.
Demikian tawaran pelancar rizki dalam sebuah iklan yang dipasang salah satu ‘Gus’ yang memimpin sebuah “Padepokan Ilmu Hikmah dan Seni Pernafasan Tenaga Dalam” di kota Malang.[1]
· “Sarana spiritual kerezekian yang ada di majelis kami biasa dinamakan Bukhur Qomar. Untuk mendapatkan dayanya: tanamlah Bukhur Qomar di tempat usaha, lalu baca Sholawat Nariyah 11 x bakda subuh, untuk lafal Kamilatan dibaca 41 x. InsyaAllah dalam waktu tidak lama anda akan berhasil”.
Demikan jawaban seorang ‘Gus’ pemimpin sebuah “Majlis Taklim wa Dzikr” di Semarang, tatkala ditanya dalam sebuah rubrik “Konsultasi Gaib” tentang piranti pembuka rizki.[2]
Dua contoh di atas merupakan segelintir dari puluhan bahkan mungkin ratusan tawaran pembuka pintu rizki yang ada di media massa. Belum jika kita mau mencermati tawaran-tawaran pelancar lainnya yang ada di media elektronik dan dunia maya.
Yang jadi pertanyaan:
bisakah para pelaku penawaran di atas mendatangkan dalil dari al-Qur’an dan hadits -yang merupakan pedoman hidup umat Islam- sebagai landasan dari amaliah atau ajian yang mereka obral? Ataukah Islam tidak menyentuh permasalahan rizki serta melewatkan hal penting tersebut dari sorotannya?
Seorang muslim yang cerdas, tentunya akan memilah dan memilih apa yang ia baca, lihat dan dengar, serta memfilter hal-hal yang tidak memiliki landasan syar’i dari yang mempunyainya. Dia sadar betul bahwa hidupnya di dunia hanyalah sekali, sehingga tidak akan sembarangan tatkala menempuh suatu langkah atau mengambil suatu keputusan. Apalagi jika hal itu berkaitan dengan nasibnya di akherat kelak.
Dorongan mencari rizki kerap menyebabkan banyak orang terpental dari jalan yang lurus. Padahal Islam, sebagai agama sempurna yang mengatur seluruh dimensi kehidupan seorang hamba, telah memberikan solusi yang begitu jelas dalam usaha memperlancar rizki.
Di antara tuntunan yang ditawarkan untuk menggapai tujuan tersebut: memperbanyak istighfar.
Dalil tuntunan tersebut firman Allah ta’ala,
“فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً . يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً” (نوح: 10-12)
Artinya: “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu”. QS. Nuh: 10-12.
Ayat di atas menjelaskan dengan gamblang bahwa di antara buah istighfar: turunnya hujan, lancarnya rizki, banyaknya keturunan, suburnya kebun serta mengalirnya sungai.
Karenanya, dikisahkan dalam Tafsir al-Qurthubi, bahwa suatu hari ada orang yang mengadu kepada al-Hasan al-Bashri tentang lamanya paceklik, maka beliaupun berkata, “Beristighfarlah kepada Allah”. Kemudian datang lagi orang yang mengadu tentang kemiskinan, beliaupun memberi solusi, “Beristighfarlah kepada Allah”. Terakhir ada yang meminta agar didoakan punya anak, al-Hasan menimpali, “Beristighfarlah kepada Allah”.
Ar-Rabi’ bin Shabih yang kebetulan hadir di situ bertanya, “Kenapa engkau menyuruh mereka semua untuk beristighfar?”.
Maka al-Hasan al-Bashri pun menjawab, “Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Namun sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh: “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu”.
Adapun dalil dari Sunnah Rasul shallallahu’alaihiwasallam yang menunjukkan bahwa memperbanyak istighfar merupakan salah satu kunci rizki, suatu hadits yang berbunyi:
“مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ”
“Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir.
Maka silahkan perbanyaklah istighfar, serta tunggulah buahnya… Jika buahnya belum terlihat juga, perbanyaklah terus istighfar dan jangan pernah berputus asa! Di dalam setiap kesempatan, kapan dan di manapun memungkinkan; di waktu-waktu kosong saat berada di kantor, ketika menunggu dagangan di toko, saat menunggu burung di sawah dan lain sebagainya..
Catatan penting:
1. Pilihlah redaksi istighfar yang ada tuntunannya dalam al-Qur’an ataupun hadits Nabishallallahu’alaihiwasallam dan hindarilah redaksi-redaksi yang tidak ada tuntunannya. Di antara redaksi istighfar yang ada haditsnya:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
Astaghfirullâh. HR. Muslim. [3]
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْه
Astaghfirullôhal ‘azhîm alladzî lâ ilâha illâ huwal hayyul qoyyûm wa atûbu ilaih.
HR. Tirmidzi dan dinilai sahih oleh al-Albani.[4]
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْت
“Allôhumma anta robbî lâ ilâha illa anta kholaqtanî wa anâ ‘abduka wa anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’ûdzubika min syarri mâ shona’tu, abû’u laka bini’matika ‘alayya, wa abû’u bi dzanbî, faghfirlî fa innahu lâ yaghfirudz dzunûba illa anta”. HR. Bukhari.[5]
Redaksi terakhir ini kata Nabi shallallahu’alaihiwasallam merupakan sayyidul istighfar atau redaksi istighfar yang paling istimewa. Menurut beliau, fadhilahnya: barangsiapa mengucapkannya di siang hari dengan penuh keyakinan, lalu meninggal di sore harinya maka ia akan dimasukkan ke surga. Begitu pula jika diucapkan di malam hari dengan meyakini maknanya, lalu ia meninggal di pagi harinya maka ia akan dimasukkan ke surga.
2. Tidak ada hadits yang menentukan jumlah khusus tatkala mengucapkan istighfar, semisal sekian ratus, ribu atau puluh ribu. Yang ada: perbanyaklah istighfar di mana dan kapanpun kita berada, jika memungkinkan, tanpa dibatasi dengan jumlah sekian dan sekian, kecuali jika memang ada tuntunan jumlahnya dari sosok sang maksum shallallahu’alaihiwasallam.
3. Hendaklah tatkala beristighfar kita menghayati maknanya sambil berusaha memenuhi konsekwensinya berupa menghindarkan diri dari berbagai macam bentuk perbuatan maksiat. Hal itu pernah diisyaratkan oleh al-Hasan al-Bashri tatkala berkata, sebagaimana dinukil al-Qurthubi dalam Tafsirnya,
“استغفارنا يحتاج إلى استغفار”
“Istighfar kami membutuhkan untuk diistighfari kembali”.
Semoga Allah senantiasa melancarkan rizki kita dan menjadikannya berbarokah serta bermanfaat dunia akherat, amien.
Wallahu ta’ala a’lam. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA
@ Kedungwuluh Purbalingga, 5 Rabi’uts Tsani 1431 H / 21 Maret 2010 M
[1] Lihat: Tabloid Posmo edisi 566, 24 Maret 2010 (hal. 04).
[2] Periksa: Ibid (hal. 14).
[3] Redaksi lengkap haditsnya:
عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ: “كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ”. قَالَ الْوَلِيدُ فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ.
Tsauban bercerita, “Jika Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam selesai shalat beliau beristighfar tiga kali, lalu membaca “Allahumma antas salam wa minkas salam tabarokta ya dzal jalali wal ikrom”. Al-Walid (salah satu perawi hadits) bertanya kepada al-Auza’i, “Bagaimanakah (redaksi) istighfar beliau?”. “Astaghfirullah, astaghfirullah” jawab al-Auza’i.
[4] Redaksi lengkap haditsnya adalah:
“مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنْ الزَّحْفِ”
“Barangsiapa mengucapkan “Astaghfirullahal azhim alladzi la ilaha illah huwal hayyul qoyyum wa atubu ilaih” niscaya akan diampuni walaupun lari dari medan perang”.
[5] Redaksi lengkap haditsnya sebagai berikut:
عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ: “اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ” إِذَا قَالَ حِينَ يُمْسِي فَمَاتَ دَخَلَ الْجَنَّةَ أَوْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ, وَإِذَا قَالَ حِينَ يُصْبِحُ فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ مِثْلَهُ”.
Dari Syaddad bin Aus, bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Istighfar yang paling istimewa adalah: “Allôhumma anta robbî lâ ilâha illâ anta kholaqtanî wa anâ ‘abduka wa anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu, abû’u laka bini’matika ‘alayya wa abû’u laka bidzanbî, faghfirlî fa innahu lâ yaghfirudz dzunûba illâ anta, a’ûdzubika min syarri mâ shona’tu” (Ya Allah, Engkaulah Rabbku itdak ada yang berhak disembang melainkan diriMu. Engkau telah menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu dan aku akan setia di atas perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku mengakui nikmat-Mu untukku dan aku mengkaui dosaku. Maka ampunilah diriku, sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa melainkan diri-Mu. Aku memohon perlindungan dari-Mu dari keburukan perbuatanku). Andaikan seorang hamba mengucapkannya di sore hari kemudian ia mati maka akan masuk surga atau akan termasuk penghuni surga. Dan jika ia mengucapkannya di pagi hari lalu meninggal maka ia akan mendapatkan ganjaran serupa”.
READ MORE - Membuka Pintu Rizki Dengan Istighfar

Sabtu, 05 November 2011

Memulai Hari dengan Kalimat Tauhid


Memulai Hari dengan Kalimat Tauhid


Di antara doa-doa agung yang dipanjatkan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam setiap pagi hari, diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Abdurrohman bin Abza rodhiyallohu ‘anhu berkata: “Dahulu Nabi (shollallohu ‘alaihi wasallam) jika waktu telah pagi, beliau berkata:
أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّم وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْراَهِيْمَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Di waktu pagi kami berada di atas fithroh Islam, di atas kalimat ikhlas, di atas agama Nabi kami Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, di atas agama ayah kami, Ibrohim ‘alaihissalam, yang berdiri di atas jalan yang lurus, seorang muslim, dan bukan termasuk di antara orang-orang musyrik.
Hal apa yang paling indah di pagi hari, tatkala seorang muslim baru membuka matanya, baru bangun dari kematian kecil, tiada yang lebih indah dengan cara memulai dengan bacaan doa di atas, dengan kalimat-kalimat agung di atas yang mencakup tentang pembaharuan keimanan seorang hamba, pengumuman tentang ketauhidan, pengokohan akan kesungguhan mengikuti agama Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, dan mengikuti agama kekasih Alloh -Nabi Ibrohim alaihissalam-, agama yang lurus nan selamat, dan jauh dari kesyirikan, baik yang kecil maupun yang besar.
Doa di atas merupakan doa yang mencakup tetang kalimat-kalimat keimanan, ketauhidan, kejujuran, keikhlasan, ketundukan, sangat mendebarkan bagi mereka yang menjaga dan menghapalnya serta merenungi dan memikirkan makna yang terkandung di dalamnya.
Berada di atas Fithroh Islam
Sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam:
أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ
Di waktu pagi kami berada di atas fithroh Islam.
Alloh telah memberikan kepada kita kehidupan pagi setelah bangun dari tidur dan kita dalam keadaan di atas fithroh keIslaman, berpegang teguh dengan agama Islam, menjaganya, tidak mengubah atau menggantinya.
Yang dimaksud dengan fithroh Islam adalah agama Islam yang Alloh tetapkan atas manusia, menghadapkan agama Alloh yang lurus dengan hati, dan anggota badan kepada penetapan syariat-syariat agama, baik yang dzohir dan yang batin. Firman Alloh Ta’ala:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Alloh; (tetaplah atas) fithroh Alloh yang telah menciptakan manusia menurut fithroh itu. tidak ada peubahan pada fithroh Alloh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS ar-Rum: 30)
Pada dasarnya seluruh manusia berada di atas fithroh keIslaman, dan barangsiapa yang keluar dari asas ini maka dia telah keluar dari fithrohnya sehingga rusak.
Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan: “Sesungguhnya Aku (Alloh) ciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan yang hanif (lurus), dan mereka didatangi oleh setan sehingga mereka digelincirkan dari agama mereka, dan mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku (Alloh) halalkan atas mereka, dan diserukan kepada manusia agar menyekutukan Aku.” (HR Muslim)
Dan dalam Shohihain, dari hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata: Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah setiap anak yang dilahirkan kecuali terlahir secara fithroh, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.
Tidak diragukan lagi bahwa nikmat Alloh yang sangat besar atas seorang hamba, tatkala ia bangun pagi dalam keadaan di atas fithroh yang selamat, tanpa mengubah atau menggantinya.
Kalimat Ikhlas
Sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam:
وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ
Di atas kalimat ikhlas.
Di waktu pagi dalam keadaan di atas kalimat ikhlas, kalimat ikhlas tersebut adalah kalimat tauhid Laa ilaha Illalloh, kalimat yang agung lagi mulia, yang merupakan pokok, asas, atau pondasi agama dan asas dari perkara agama, sebab kalimat inilah para makhluk tercipta, dan sebab kalimat ini para utusan diutus dan diturunkan kitab-kitab, dan sebab kalimat ini manusia terpecah menjadi mukmin dan kafir, kalimat ini merupakan inti dakwah para Rosul dan inti risalah mereka, kalimat ini merupakan sebesar-besar nikmat Alloh atas hambaNya. Sufyan Ibnu Uyainah rohimahulloh berkata, “Tidaklah Alloh memberi nikmat kepada salah seorang di antara hambaNya, nikmat yang paling agung, selain nikmat dipahamkan atas mereka kalimat Laa ilaha Illalloh.”
Kalimat Laa ilaha Illalloh merupakan kalimat ikhlas dan kalimat tauhid, menafikan syirik, dan berlepas dari kesyirikan serta orang-orang yang berbuat syirik, Alloh berfirman:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاء مِّمَّا تَعْبُدُونَ. إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ. وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Dan ingatlah ketika Ibrohim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.” Dan (lbrohim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu.” (QS az-Zukhruf: 26-28)
Jika seorang hamba mendapatkan dirinya di waktu pagi dalam keadaan di atas kalimat yang agung ini tanpa mengubah atau menggantinya, maka dia telah berada di pagi hari dalam keadaan yang sangat baik, sebab agungnya kalimat ini, kita memulai hari dengan membacanya, dan dianjurkan untuk memperbanyak bacaan kalimat tersebut berkali-kali setiap pagi.
Di atas agama Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam
Sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam:
وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّم
Di atas agama Nabi kami Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam.
Di waktu pagi kita berada di atas agama yang agung, yang Alloh ridho bagi hambaNya agama tersebut, dan sebab agama tersebut Nabi kita, Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam diutus. Alloh berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Aku ridhoi Islam itu jadi agama bagimu. (QS al-Maidah: 3)
Dan firman Alloh:
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ
Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Alloh hanyalah Islam. (QS Ali Imron: 19)
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS Ali Imron: 85)
Inilah agama Nabi kita yang mulia Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam yaitu berserah diri kepada Alloh dengan bertauhid, dan patuh kepadaNya dengan menjalankan ketaatan, menjauhi kesyirikan dan orang-orang yang berbuat syirik. Merupakan nikmat yang sangat mulia bagi seorang hamba yang mendapatkan pagi harinya dalam keadaan di atas agama yang mulia ini, di atas jalan yang lurus, jalan yang Alloh beri nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang Alloh murkai dan tersesat.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengingatkan hamba-hambanya yang Alloh cintai dengan diberinya nikmat ini atas mereka:
وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُوْلَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ
Tetapi Alloh menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. (QS al-Hujurot: 7)
Dan Alloh berfirman:
وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَداً وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Sekiranya tidaklah karena karunia Alloh dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Alloh membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS an-Nur: 21)
Tiada yang lebih agung dari pemberian dan lebih mulia dari nikmat yang telah Alloh berikan.
Di atas Agama Ayah Kami –Ibrohim-
Sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam:
وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْراَهِيْمَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْن
Di atas agama ayah kami Ibrohim yang berdiri di atas jalan yang lurus, seorang muslim, dan bukan termasuk di antara orang-orang musyrik (menyekutukan Alloh).
Di waktu pagi berada di atas agama yang penuh dengan keberkahan, agama Ibrohim kekasih AllohSubhanahu wa Ta’ala yaitu agama yang lurus, berpegang teguh dengan Islam dan jauh dari kesyirikan, agama yang penuh keberkahan ini tidaklah ditinggalkan dan dibenci kecuali oleh orang-orang yang memperdayai dan memperbodoh dirinya sendiri. Alloh berfirman:
وَمَن يَرْغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلاَّ مَن سَفِهَ نَفْسَهُ
Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrohim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri.(QS al-Baqoroh: 130)
Alloh Azza wa Jalla telah memerintahkan NabiNya shollallohu ‘alaihi wasallam agar mengikuti agama ini dan memberi petunjuk (manusia) kepada agama tersebut, sebagaimana yang telah Alloh firmankan:
قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِيناً قِيَماً مِّلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrohim yang lurus, dan Ibrohim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik.” (QS al-An’am: 161)
Dan firman Alloh:
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ
Dan berjihadlah kamu pada jalan Alloh dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu, (Nabi) Ibrohim. (QS. al-Hajj: 78)
Jika seorang hamba mendapati dirinya di waktu pagi dalam keadaan di atas agama yang penuh berkah, yang lurus, maka dia berada di pagi yang sangat banyak kebaikannya dan keutamaannya.
Berapa banyak kebaikan dan keagungan bagi seorang hamba yang membuka harinya dengan kalimat yang penuh keberkahan ini, membuka harinya dengan kalimat ini dengan hati yang jujur, maka Alloh akan memuliakan harinya dengan kalimat tersebut.
Wallohu a’lam. Semoga Alloh memudahkan lisan kita untuk senantiasa berdzikir dengan doa-doa yang telah disunnahkan oleh NabiNya, Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam.

(Disarikan dari kitab Fiqh al-Ad’iyah wa al-Adzkar karya Prof. DR. Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, oleh Maryono, S.Th.I)
Dipublikasi ulang oleh  http://abu-hashifah.blogspot.com/dari sumber  http://www.majalahislami.com


READ MORE - Memulai Hari dengan Kalimat Tauhid