rss

Tampilkan postingan dengan label AQIDAH WASHITIYAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AQIDAH WASHITIYAH. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juli 2011

Syarah Al-'Aqidah Al-Wasithiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. ( Studi Tentang Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah) [11]


AYAT-AYAT DAN HADITS-HADITS TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH

: Orang-Orang Mukmin Melihat Allah Pada Hari Kiamat
:Allah Turun Ke Langit Dunia Setiap Malam

Oleh
Syaikh Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qathani


[39]. Orang-Orang Mukmin Melihat Allah Pada Hari Kiamat

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ
 إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

"Artinya : Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat."[Al-Qiyamah : 22-23]

Pada bab ini penulis Rahimahullah Ta'ala menyebutkan ayat-ayat yang menunjukkan bahwa orang-orang mukmin melihat Rabb mereka pada hari kiamat, secara langsung dengan mata kepala mereka, dengan cara yang layak dengan kebesaran-Nya, yang mana hal itu tidak mirip dengan satu pun di antara para makhluk-Nya. Hal itu juga telah disebutkan di dalam As Sunnah. Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

“Bila penduduk jannah telah masuk jannah, Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman, 'Inginkah kalian jika aku menambahkan sesuatu untuk kalian ?' Mereka berkata, 'Tidakkah Engkau telah menjadikan wajah kami menjadi putih, Engkau masukkan kami ke jannah, dan Engkau selamatkan kami dari naar? Maka, Allah menyingkapkan hijab. Tidak ada sesuatupun yang diberikan kepada mereka, yang lebih mereka sukai daripada kenikmatan melihat kepada Rabb mereka 'Azza wa Jalla."

Kemudian, Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam, membaca ayat ini :

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

"Artinya : Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (Jannah) dan tambahannya.(yaitu melihat wajah Allah.) [1] [Yunus : 26]

Pendapat bahwa orang-orang mukmin melihat Rabb mereka pada Hari Kiamat ini, disepakati oleh para nabi, rasul, seluruh shahabat, tabi'in, dan imam kaum muslimin dalam berbagai masa. Yang menentang pendapat ini hanyalah orang-orang Jahmiyah dan Mu'tazilah serta orang-orang yang mengikuti mereka. Pendapat mereka itu bathil dan tertolak dengan Al-Kitab dan As-Sunnah. [2]

Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak berjubel dalam melihat-Nya. Maka, apabila kalian bisa dengan sepenuh daya menjaga shalat sebelum matahari terbit (shalat fajar) dan shalat sebelum matahari tenggelam (shalat ‘ashar) maka lakukanlah.” [3]

<span class=" fbUnderline">[40]. Allah Turun Ke Langit Dunia Setiap Malam </span>

Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Artinya : Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun pada "Sesungguhnya kalian akan mclilwt Rabb kalian seba-gaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak berjiibd dalam melihat-Nya. Maka, apabila kalian bisa dcngan sepenuh daya menjaga shalat sebelum rnatahari tcrbit (shalat fajar) dan shalat sebelum matahari tenggelam (shalat 'ashar) maka lakukanlah."

Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

”Artinya : Rabb kita Tabaraka wa Ta'ala turun pada setiap malam ke langit dunia, ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman : 'Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkannya, siapa yang memohon kepada-Ku, niscaya Aku memberinya, siapa yang meminta ampun kepada-Ku niscaya Aku mengampuninya?" [4]

Hadits yang disepakati keshahihannya ini, merupakan dalil yang sahih dan gamblang, yang menyatakan turunnya Allah Ta'ala ke langit dunia pada setiap malam, ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir. Turunnya Allah Ta'ala ini sesuai dengan kebesaran dan keagunganNya. Turun merupakan salah satu sifat Fi'liyah. Dia turun ketika Dia menghendaki dan kapan saja Dia menghendaki. Arti turun telah diketahui, tetapi bagaimana keadaan turun-Nya itu tidak diketahui, mengimaninya merupakan kewajiban, sedangkan bertanya mengenainya adalah bid'ah. Demikian pula turunnya Allah pada Hari Kiamat, sebagaimana disebutkan dalam Al-Kitab-dan As-Sunnah. Turun-Nya tidak sama dengan turunnya tubuh manusia dari atap rumah ke tanah, yang mana atap tetap berada di atasnya, tetapi Allah Maha Suci dari hal yang demikian itu. [5]


[Disalin dari kitab Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah Li Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah, Penulis Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qathaniy, Edisi Indonesia Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Penerjemah Hawin Murtadho, Penerbit At-Tibyan]
_________
[1]. Diriwayatkan oleh Muslim I/163, sedangkan ayat dalam hadits ini adalah ayat ke-26 dari Surah Yunus
[2]. “Al-Kawasyif Al-Jaliyah”, hal.401.
[3]. Diriwayatkan Al-Bukhari, “Fathul Bari” III/29 dan Muslim I/521
[4]. Diriwayatkan Al-Bukhari, “Fathul Bari” XI/377 dan Muslim I/201
[5]. “Syarh Hadits An-Nuzul”, Ibnu Taimiyah, hal.33 dan “Ar-Raudhah An-Nadiyah”, hal. 175 Lafazh hadits ini milik Muslim

Almanhaj.or.id
READ MORE - Syarah Al-'Aqidah Al-Wasithiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. ( Studi Tentang Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah) [11]

Sabtu, 28 Mei 2011

Syarah Al-'Aqidah Al-Wasithiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. ( Studi Tentang Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah) [10]


AYAT-AYAT DAN HADITS-HADITS TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH

 
Sifat : Al-Istiwa, Al-Uluw, Al-Maiyah Dan Al-Kalam

Oleh
Syaikh Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qathani


[35]. Sifat Al-Istiwa' (Bersemayam) [36]. Al-'Uluw (Tinggi)

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Artinya : Allah Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas 'Arsy." [Thaha : 5]

Sifat itu disebutkan oleh Allah Subhanallahu wa ta’ala di tujuh tempat dalam kitab-Nya dan kita meyakini apa yang telah ditegaskan oleh Allah bagi diri-Nya. Kita mengatakan bahwa Dia benar-benar bersemayam, dengan sifat bersemayam yang layak dengan kebesaran-Nya. Bersemayam itu telah diketahui artinya, bagaimananya tidak diketahui, mengimaninya merupakan kewajiban, sedangkan bertanya mengenainya adalah bid'ah, dan inilah madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah.[1]

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

"Artinya : Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkan-Nya." [Fathir : 10]

Al-Uluw (Tinggi) merupakan sifat Dzatiy bagi Allah Ta'ala. dia memiliki ketinggian absolut : ketinggian dzat, ketinggian kekuasaan, dan ketinggian pemaksaan [2] dalam hadits disebutkan :

"'Artinya : Arsy itu -di atas air, sedangkan Allah di atas 'Arsy dan Dia mengetahui apa yang kamu di atasnya." [3]


[37]. Sifat Al-Ma'iyah (Kebersamaan) Bagi Allah Ta'ala

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِوَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

"Artinya : Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam cnam masa; kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia rnengetahui apa yang rnasuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya, juga apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Mdihat apa yang kamu kerjakan." [Al-Hadid : 4]

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْاوَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

"Artinya : Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa 'dan orang-orang yang berbuat kebaikan." [An-Nahl : 128]

Dalam ayat-ayat ini, kita menemukan bahwa Allah Ta'ala telah menetapkan bagi diri-Nya sifat Al-Ma'iyah (kebersamaan).

Ma'iyah ini terbagi menjadi dua macam :

[1]. Kebersamaan Allah dengan seluruh makhluk, yang konsekuensinya berupa sifat Al-llmu (mengetahui), Al-lhathah (meliputi), dan Al-Ithla' (melihat). Dalil kebersamaan ini adalah apa yang terkandung dalam surah Al-Hadid di depan.

[2]. Kebersamaan Allah khusus dengan orang-orang yang beriman dan bertakwa, yang konsekwensinya berupa penjagaan, perhatian, dan pertolongan.

Kebersamaan yang umum, termasuk salah satu sifat Dzatiyah, sedangkan kebersamaan yang khusus, termasuk salah satu sifat Fi'liyah. Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Sesungguhnya, bila seseorang dari kamu berdiri dalam shalatnya, maka ia sesungguhnya bermunajat kepada Rabbnya. Rabbnya berada diantara dirinya dan kiblat. Karena itu, janganlah salah seorang dari kamu meludah di hadapan wajahnya, tetapi hendaklah ia meludah di sebelah kirinya atau di bawah kedua telapak kakinya." Dalam riwayat lain, "... atau di bawah telapak kaki kirinya."[4]

" Artinya : Yang kamu seru dalam doamu lebih dekat kepada salah seorang dari kamu, daripada leher kendaraan tunggangan salah seorang dari kamu." [5]

[38]. Sifat Al-Kalam (Berbicara)


وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا

"Artinya : Dan Allah berbicara kepada Musa dengan langsung." [An-Nisa' : 164]

Ayat ini, juga ayat-ayat lain yang disebutkan oleh penulis, menunjukkan bahwa Allah benar-benar berbicara dengan pembicaraan yang sesuai dengan kebesaran-Nya. Dia berbicara bila Dia menghendaki, tentang apa yang Dia kehendaki, dan kapan saja Dia menghendaki. Dia, benar-benar telah berbicara dengan Al-Qur'an dan kitab-kitab lain yang diturunkan kepada para nabi 'alaihimush shalatu wassalam. Al-Qur'an adalah kalam-Nya Subhanahu wa Ta'ala , dirurunkan, bukan makhluk, bermula dari-Nya dan akan kembali kepa-da-Nya. Bila manusia menulis Al-Qur'an di mushaf atau membacanya, maka hal itu tidak merubah keberadaannya sebagai Kalam Allah. Karena perkataan itu disandarkan kepada siapa yang mengatakannya pertama kali, bukan kepada siapa yang menyampaikannya. Allah telah berbicara dengan huruf-hurufnya dan makna-maknanya, dengan lafazh dari diri-Nya sendiri, tidak sedikit pun dari hal itu yang berasal dari selain-Nya. Jadi, Allah Subhanahu wa Ta'ala berbicara dengan perkataan yang dari segi jenisnya adalah Qodim , akan tetapi dari segi satu persatunya adalah Hadits (baru), dan Dia terus-menerus berbicara dengan huruf, suara, dan perkataan yang didengar oleh siapa saja di antara makhluk-Nya yang Dia kehendaki. Dia akan berbicara kepada orang-orang mukmin pada Hari Kiamat dan sebaliknya mereka berbicara kepada-Nya. Pembicaraan-Nya terjadi dengan dzat-Nya dan merupakan sifat Dzat sekaligus sifat perbuatan, karena itu ia masih dan akan terus berbicara apabila la menghendaki, dengan pembicaraan yang sesuai dengan kebesaran-Nya [6] Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda :

"Artinya : Tidak ada seorang pun di antara kamu, kecuali Rabb-nya akan berbicara dengannya, tanpa perantara seorang penerjemah.[7]

Beliau juga bersabda : Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

" Artinya : Wahai Adam! "Adam alaihissalam menjawab, "Ku-penuhi panggilan-Mu, saya sangat berbahagia menjumpai-Mu, dan segala kebaikan berada di kedua tangan-Mu."Nabi bersabda : Lalu Allah berfirman, "Keluarkanlah utusan naar!" Adam bertanya, "Apakah utusan naar itu ?" Allah menjawab, "Untuk setiap seribu orang, ada 999 orang." Nabi bersabda, "Itulah hari dimana anak kecil beruban, setiap wanita yang hamil melahirkan kandungannya, dan kamu melihat manusia mabuk padahal mereka tidak mabuk, akan tetapi siksa Allah itu sangat keras." [8]

[Disalin dari kitab Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah Li Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah, Penulis Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qathaniy, Edisi Indonesia Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Penerjemah Hawin Murtadho, Penerbit At-Tibyan]
_________
[1]. “Fatawa” Ibnu Taimiyah V/144
[2]. “Ar-Raudhah An-Nadiyah”, hal.131
[3]. Hadits diriwayatkan oleh Abu Daud. Lihat “Aunul Ma’bud” XIII/14. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam”Mukhtashar Al-‘Uluw lil “Aliyyi Al-Ghaffar”, hal.103
[4]. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, “Fathul Bari” I/84 dan Muslim IV/2303
[5]. Fathul Bari XI/500 dan Muslim IV/2077, lafazh ini milik Muslim. Lihat Fatawa Ibnu Taimiyah V/103
[6]. “Ar-Raudhah An-Nadiyah”, 146, “Al-Ajwibah Al-Ushuliyah”, 93, dan “Syarh Al-Wasithiyah”, Al-Haras, hal.96
[7]. Diriwayatkan Al-Bukhari, “Fathul Bari” XI/377 dan Muslim I/201
[8]. Diriwayatkan Al-Bukhari, “Fathul Bari” XI/377 dan Muslim I/201


READ MORE - Syarah Al-'Aqidah Al-Wasithiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. ( Studi Tentang Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah) [10]

Syarah Al-'Aqidah Al-Wasithiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. ( Studi Tentang Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah) [9]


AYAT-AYAT DAN HADITS-HADITS TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH

Sifat : Al-Makru (Makar) , Al-Kaid (Tipu Daya) dll

Oleh
Syaikh Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qathani


[29]. Sifat Al-Makru (Makar) [30]. Al-Kaid (Tipu Daya)

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُالْمَاكِرِينَ

"Artinya : Mereka (orang-orang kafir itu) membuat makar, dan Allah membalas makar mereka. Dan Allah sebaik-baik pembuat makar." [Ali Imran : 54]


إِنَّهُمْ يَكِيدُونَ كَيْدًا.وَأَكِيدُ كَيْدًا

"Artinya : Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir itu) merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Dan Aku pun merencanakan tipu daya pula, dengan sebenar-benarnya." [Ath-Thariq : 15-16]

وَهُوَ شَدِيدُ الْمِحَالِ

"Artinya : Dan Dia-lah Dzat Yang Maha keras tipu daya-Nya." [Ar-Ra'd : 13]

Allah telah menetapkan bagi diri-Nya sifat-sifat yang tersebut dalam ayat-ayat tersebut, yaitu : Makar, Al-Kaid (tipu daya), dan Al-Mumahalah (tipu daya). Ini semua merupakan sifat Fi'liyah yang ada pada Allah, dengan makna yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya. Namun, dari sifat-sifat Fi'liyah ini tidak boleh diambil nama, sehingga tidak boleh mengatakan : bahwa salah satu nama-Nya adalah Al-Makir (Maha Makar), atau Al-Kaaid (Yang Maha Menipu Daya), karena nama tersebut tidak disebutkan. Kita berhenti pada apa yang tersebut saja, yaitu bahwa Dia Subhanallahu wa Ta'ala adalah sebaik-baik pembuat makar dan bahwa Dia merencanakan tipu daya terhadap musuh-musuh-Nya yang kafir itu. Jadi Allah mensifati diri-Nya dengan sifat makar dan menipu daya sebagai balasan, sebagaimana dalam firman-Nya :

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا

"Artinya : Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa." [Asy-Syura : 40]

Sifat tersebut termasuk dalam kategori ini, yaitu menimpakan makar dan tipu muslihat kepada siapa yang layak, sebagai hukuman baginya. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengakui untuk diri-Nya perbuatan-perbuatan, akan tetapi Dia tidak menamai diri-Nya dengan isim fa'il dari perbuatan-perbuatan tersebut. Misalnya : Araada, -menghendaki- , syaa'a, -menghendaki-, ahdatsa, -mengadakan- , akan tetapi Allah tidak menyebut diriNya dengan nama Asy-Syaa'i (Yang Menghendaki), Al-Murid (Yang Menghendaki), Al-Muhdits (Yang Mengadakan). Dia juga tidak menyebut diri-Nya dengan nama Ash-Shani' (Yang Mem-buat), Al-Fail (Yang Berbuat), Al-Mutqin (Yang Membuat dengan kokoh), dan nama-nama lain yang diambil dari perbuatan-perbuatan yang dinyatakan Allah sebagai perbuatan diri-Nya. Jadi, bab Af'al (perbuatan-perbuatan), lebih luas daripada bab Asma' (nama-nama). Tetapi, apa yang dinyatakan oleh Allah untuk diri-Nya, maka kitapun meyakininya, misalnya firman-Nya :

فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ
"Artinya : Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya". [Al-Buruj : 16]

صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ

"Artinya : Begitulah perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh segala sesuatu." [An-Naml : 88]

[31]. Sifat Al-'Afwu (Memaafkan) [32]. Al-Maghfirah (Mengampuni) [34] Al-'Izzah (Mulia) Dan Al- Qudrah (Kuasa, Mampu)

<span>إِنْ تُبْدُوا خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ أَوْ</span>تَعْفُوا عَنْ سُوءٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَعَفُوًّا قَدِيرًا 

"Artinya : Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan, menyem-bunyikan, atau memaafkan suatu kesalahan (oranglain), maka sesunggulmya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa." [An-Nisa' : 149]

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ

"Artinya : Padahal, kemuliaan hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman." [Al-Munafiqun : 8]

أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْوَ اللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Artinya : Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampuni? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang." [An-Nur : 22]

Dalam ayat-ayat di atas, Allah Subhanallahu wa Ta'ala menetapkan bagi diri-Nya sifat Al-'afwu (memaafkan), Al-maghfirah (mengampuni), Al-'Izzah (mulia), dan Al-Qudrah (kuasa, mampu), karena itu kita pun meyakininya sebagai sifat Allah, dengan makna yang layak bagi-Nya, tidak ada satupun dari makhluk-makhluk-Nya yang menyerupai sifat-sifat tersebut.[1]


[Disalin dari kitab Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah Li Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah, Penulis Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qathaniy, Edisi Indonesia Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Penerjemah Hawin Murtadho, Penerbit At-Tibyan]
_________
Foote Note.
[1]. Ar-Raudhah An-Nadiyah, hal.115, Al-Kawasyif Al-Jaliyah, hal.267, dan Mukhtashar Ash-Shawa'iq Al-Mursalah Ala Al-Jahmiyahwal Mu'athilah, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah II/31-35

almanhaj.or.id


READ MORE - Syarah Al-'Aqidah Al-Wasithiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. ( Studi Tentang Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah) [9]

Syarah Al-'Aqidah Al-Wasithiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. ( Studi Tentang Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah) [8]


AYAT-AYAT DAN HADITS-HADITS TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH

Sifat : Al-Mahabbah . Al-Mawaddah dll

Oleh
Syaikh Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qathani


[13]. Sifat Al-Mahabbah (Cinta) [14]. Al-Mawaddah (Cinta yang Murni)

وَأَحۡسِنُوٓاْ‌ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٩٥)

"Artinya : Dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik." [Al-Baqarah : 195]

Cinta Allah itu merupakan sifat yang sesuai dengan keagunganNya, sebagaimana telah dijelaskan di muka. la merupakan sifat Fi'liyah, yang muncul disebabkan dilaksanakannya perintah Allah, yaitu ibadah kepada Allah dengan baik dan perbuatan baik kepada hamba-hamba-Nya. Demikian halnya sifat Mawaddah. Karena Allah berfirman :

وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ

"Artinya : Dan Dia Maha Pengampun dan Maha Pencinta dengan kecintaan yang murni." [Al-Buruj : 14]

Al-Wudd artinya kecintaan yang bersih dan murni.

[15]. Sifat Ar-Rahmah (Kasih Sayang) [16]. Al-Maghfirah (Mengampuni)

رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَىْءٍۢ رَّحْمَةًۭ وَعِلْمًۭا
"Artinya : Wahai Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi sesuatu." [AL MU'MIN:7 : 7]

وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Artinya : Dan Dia Yang memberikan ampunan dan sayang." [Yunus : 107]

Pada ayat pertama, Allah menetapkan sifat rahmah bagi diriNya, sedangkan pada ayat kedua, Allah Subhanallahu wa Ta'ala menetapkan sifat Maghfirah. Kita menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi diriNya, dengan artian yang layak bagi-Nya

[17]. Sifat Ar-Ridha [18]. Al-Ghadhab (Marah) [19]. As-Sukht (Murka)

[20]. Al-La'n (Melaknat) [2l]. Al-Karahiyah (Benci) [22]. Al-Asaf (Marah) [23]. Al-Maqt (Murka)

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

"Artinya : Allah meridhai mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya." [Al-Bayyinah : 8]

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ

"Artinya : Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin secara sengaja, maka balasannya adalah Jahannam, ia kekal di dalamnya, sedangkan Allah marah dan melaknatnya." [An-Nisa' : 93]


ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ

"Artinya : Itu dikarenakan mereka mengikuti apa yang menjadikan Allah murka dan mereka membenci keridhaan-Nya." [Muhammad : 28]

فَلَمَّآ ءَاسَفُونَا ٱنتَقَمۡنَا مِنۡهُمۡ

"Artinya : Maka ketika mereka telah menyebabkan Kami marah, maka Kami menghukum mereka." [Az-Zukhruf : 55]

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوامَا لا تَفْعَلُونَ

"Artinya : Amat besarlah kemurkaan di sisi Allah, jika kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan." [Ash-Shaf : 3]

وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ

"Artinya : Tetapi Allah membenci keberangkatan mereka." [At-Taubah : 46]

Dalam ayat-ayat ini, Allah menetapkan bagi diri-Nya sifat Al-Ghadhab, marah, As-Sukht, murka, Ar- Ridha, Al-La'n (melaknat), Al-Karahiyah (benci), Al- Asaf (marah), serta Al-Maqt (murka). Ini semua merupakan sifat-sifat Af'al (perbuatan) yang dilakukan oleh Allah 'Azza wa Jalla, bila Dia menghendaki. Selain menetapkan sifat-sifat Dzatiyah bagi Allah, Ahlus Sunnah wal Jama'ah juga menetapkan sifat-sifat Fi'liyah-Nya yang bersifat ikhtiyari, dengan makna yang laik dengan keagungan-Nya7

[24]. Al-Maji' (Tiba) [25]. Al-Ityan (Datang)

هَلۡ يَنظُرُونَ إِلَّآ أَن يَأۡتِيَهُمُ ٱللَّهُ فِى ظُلَلٍ۬ مِّنَ ٱلۡغَمَامِ وَٱلۡمَلَـٰٓٮِٕڪَةُ وَقُضِىَ ٱلۡأَمۡرُ‌ۚ (٢١٠)

"Artinya : Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan kedatangan Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya." [Al-Baqarah : 210]

.كَلا إِذَا دُكَّتِ الأرْضُ دَكًّا دَكًّا 
 .وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا

"Artinya : ]angan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut. Dan tibalah Rabbmu sedangkan malaikat berbaris-baris." [Al-Fajr : 21-22]


Ayat-ayat yang disebutkan oleh penulis ini, juga ayat-ayat yang lain, memuat penetapan sifat Al-Maji' (tiba') dan Al-ltyan (datang), demikian pula sifat An-Nuzul (turun), sesuai dengan makna yang laik dengan keagungan Allah Ta'ala. Perbuatan-perbuatan ikhtiari ini dilakukan berkaitan dengan Al-Masyi'ah (kehendak) dan Al-Qudrah (kemampuan) Allah.

[26]. Sifat Al-Wajhu (Wajah) [27]. Al-Yadain (Dua Tangan) [28]. Al-'Ainain (Dua Mata)


وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِوَالإكْرَامِ

"Artinya : Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan." [Ar-Rahman : 27]

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا

"Artinya : Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabbmu, sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Mata Kami" [Ath-Thur : 48]

مَا مَنَعَكَ أَن تَسۡجُدَ لِمَا خَلَقۡتُ بِيَدَىَّ

"Artinya : Apakah yang mcnghalangi kamu sujud kepada (Adam) yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku." [Shad : 75]

Dalam ayat-ayat ini terkandung penetapan wajah, dua tangan, dan dua mata bagi Allah Ta'ala, dengan sifat yang sesuai dengan kebesaran-Nya. Adapun hadits yang menunjukkan sifat dua mata ini, adalah sabda Nabi Sallallahu 'alaihi wassalam :

"Artinya : Sesungguhnya Rabbmu tidak buta sebelah matanya." [1]


[Disalin dari kitab Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah Li Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah, Penulis Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qathaniy, Edisi Indonesia Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Penerjemah Hawin Murtadho, Penerbit At-Tibyan]
_________
Foote Note.
[1]. Fathul Bari XII/91 dan Muslim IV/2248

READ MORE - Syarah Al-'Aqidah Al-Wasithiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. ( Studi Tentang Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah) [8]

Syarah Al-'Aqidah Al-Wasithiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. ( Studi Tentang Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah) [7]


AYAT-AYAT DAN HADITS-HADITS TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH

Sifat : Al-Iradah, Al-Masyi'ah

Oleh
Syaikh Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qathani


[11]. Sifat Al-Iradah Dan [12]. Sifat Al-Masyi'ah (Menghendaki)

وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلُواْ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ (٢٥٣
"Artinya : Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya." [Al-Baqarah : 253]

فَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهۡدِيَهُ ۥ يَشۡرَحۡ صَدۡرَهُ ۥ لِلۡإِسۡلَـٰمِ‌ۖ وَمَن يُرِدۡ أَن يُضِلَّهُ ۥ يَجۡعَلۡ صَدۡرَهُ ۥ ضَيِّقًا حَرَجً۬ا ڪَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى ٱلسَّمَآءِ‌ۚ  (١٢٥
"Artinya : Barangsiapa yang Allah berkehendak untuk memberikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam. Dan barangsiapa yang Allah berkehendak untuk menyesatkannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit."[Al-An'am : 125]

Iradah (kehendak) Allah terbagi menjadi dua :

[1]. Al-Iradah Al-Kauniyah*

Al-Iradah Al-Kauniyah ini bersinonim dengan Al-Masyi'ah. Iradah Kauniyah atau Masyi'ah ini berkenaan dengan apa saja yang hendak dilakukan dan diadakan oleh Allah Subhanallahu wa Ta'ala Apabila Allah Subhanallahu wa Ta'ala menghendaki terjadinya sesuatu, maka sesuatu itu terjadi begitu. Dia menghendakinya. Sebagaimana firman Allah Ta'ala :

إِنَّمَآ أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ. (يس: 82)
"Artinya : Sesungguhnya pcrintah-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu, hanyalah berkata kepadanya"Kun" (Jadilah), maka terjadilah ia." [Yasin : 82]

Jadi, apapun yang dikehendaki oleh Allah, niscaya terjadi, sedangkan apapun yang dikehendaki Allah untuk tidak terjadi, niscaya tidak terjadi.

*kehendak Allah yang pasti terjadi, semakna dengan takdir

[2]. Al-Iradah Asy-Syar'iyah*

Iradah ini berkaitan dengan apa saja yang diperintahkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya, berupa hal-hal yang dicintai dan diridhai-Nya. Iradah ini disebutkan, misalnya, dalam firman Allah Ta'ala :

رِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ… (البقرة: 185
"Artinya : Allah menghendaki kemudahan bagimn, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." [Al-Baqarah : 185]

* Kehendak Allah yang berupa agama; yang kadang terjadi dan terkadang tidak terjadi

Perbedaan Antara Kedua Iradah Ini.

Al-Iradah Al-Kauniyah Al-Qadariyah bersifat umum, meliputi seluruh peristiwa dan apapun yang terjadi di jagad raya ini, entah berupa kebaikan maupun keburukan, kekafiran maupun keimanan, dan ketaatan maupun kemaksiatan.
Adapun Al-Iradah Ad-Diniyah Asy-Syar'iyah bersifat khusus berkaitan dengan apa saja yang dicintai dan diridhai oleh Allah, yang dijelaskan di dalam Al-Kitab dan As-sunah.

Kedua Iradah di atas berpadu pada diri seorang hamba yang taat. Adapun orang yang bermaksiat dan kafir hanya mengikuti Al-Iradah Al-Kauniyah Al-Qadariyah. Artinya, ketaatan seseorang itu sesuai dengan iradah (kehendak) Allah, baik Al-Iradah Ad-Diniyah Asy-Syar'iyah maupun Al-Iradah Al-Kauniyah Al-Qadariyah. Adapun orang kafir, perbuatannya itu sesuai dengan iradah kauniyah qadariyah, tetapi tidak sesuai dengan iradah diniyah syar'iyah. [1]



[Disalin dari kitab Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah Li Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah, Penulis Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qathaniy, Edisi Indonesia Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Penerjemah Hawin Murtadho, Penerbit At-Tibyan]
_________
Foote Note.
[1]. Al-'Aqidah Ath-Thawiyah, hal.116, Syarh Al-Wasithiyah Al-Haras, hal. 52 dan Al-Ushuliyah, hal.48

READ MORE - Syarah Al-'Aqidah Al-Wasithiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. ( Studi Tentang Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah) [7]

Senin, 23 Mei 2011

Syarah Al-'Aqidah Al-Wasithiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. ( Studi Tentang Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah) [6]

AYAT-AYAT DAN HADITS-HADITS TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH


Oleh
Syaikh Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qathani

Setelah Syaikhul Islam Rahimahullah Ta'ala menyebutkan akidah Firqah Najiyah secara ijmal, yaitu: Iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, Hari Akhir dan takdir yang baik maupun yang buruk dari Allah, maka beliau mulai menjelaskan hal itu secara mendetail. Beliau Rahimahullah menyebutkan bahwa di antara manifestasi iman kepada Allah adalah iman kepada apa yang disifatkan oleh-Nya untuk diri-Nya, atau oleh rasul-Nya Sallallahu 'alaihi wassalam, tanpa tahrif, ta'thil, takyif atau tamtsil.

Beliau Rahimahullah lalu menyebutkan sejumlah ayat dan hadits sahih yang di situ Rasulullah Sallallahu 'alaihi wassalam menetapkan Sifat-sifat Allah 'Azza wa Jalla, dengan penetapan yang laik bagi-Nya. Dalam hal ini, beliau Rahimahullah bermaksud menegaskan bahwa tidak ada jalan bagi seorang muslim untuk mengetahui Sifat-sifat Rabbnya yang Maha Tinggi dan Asma'-Nya yang Maha Indah, melainkan melalui perantaraan wahyu. Asma' dan Sifat-sifat Allah itu bersifat tauqifiyah (hanya bisa diketahui dari Allah). Maka, apapun yang ditetapkan oleh Allah bagi diri-Nya, atau oleh Rasulullah Sallallahu 'alaihi wassalam, kita meyakininya. Demikian pula, apa yang dinafikan oleh Allah dari diri-Nya, atau oleh Rasulullah Sallallahu 'alaihi wassalam, kita menafikannya. Cukuplah bagi kita informasi yang datang dari Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih ini.

Di antara ayat dan hadits yang disebutkan oleh beliau Rahimahullah adalah sebagai berikut:

[1]. Sifat Al-'Izzah (Perkasa)

سُبۡحَـٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ (١٨٠
وَسَلَـٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِينَ (١٨١) وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ (١٨٢

"Artinya : Maha Suci Rabbmu, Yang Memiliki Keperkasaan ('lzzah), dari apa yang mereka katakan. Keselamatan semoga dilimpahkan kepada para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam." [Ash-Shafat : 180-182]


Dalam ayat ini, Allah me-Mahasucikan diri-Nya dari apa yang disifatkan, oleh orang-orang yang menyelisihi para rasul, kepada-Nya, serta memberikan keselamatan kepada para rasul dikarenakan perkataan mereka bersih dari kekurangan dan cela.

[2]. Sifat Al-Ihathah (Meliputi)


هُوَ ٱلۡأَوَّلُ وَٱلۡأَخِرُ وَٱلظَّـٰهِرُ وَٱلۡبَاطِنُ‌ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمٌ (٣

"Artinya : Dialah yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."[Al-Hadid : 3]

Firman Allah di atas ditafsirkan dengan sabda Rasulullah Sallallahu 'alaihi wassalam :

"Artinya : Ya Allah, Engkaulah Al-Awwal, maka tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu; Engkaulah Al-Aakhir, maka tidak ada sesuatu pun sesudah-Mu; Engkaulah Azh-Zhahir, maka tidak ada sesuatu pun di atas-Mu; dan Engkaulah Al-Bathin, maka tidak ada sesuatu pun di bawah-Mu."[1]

Ayat dan hadits di atas menunjukkan sifat Al-Ihathah Az-Zamaniyah (meliputi waktu) yaitu pernyataan, "Dialah Al-Awwal dan Al-Akhir; serta Al-Ihathah Al-Makaniyah (meliputi tempat), yaitu pernyataan, "Dan Azh-Zhahir dan Al-Bathin."

[3]. Sifat Al-Ilmu (Mengetahui) [4]. Sifat Al-Hikmah (Bijaksana) [5]. Sifat Al-Khibrah (Mengetahui)

إِنَّهُ ۥ هُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ (١٠٠

"Artinya : Sesungguhnya, Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." [Yusuf : 100].

وَهُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡخَبِيرُ (١٨

"Artinya : Dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." [Al-An'am : 18]

Al-Ilmu merupakan salah satu sifat Dzatiyah yang tidak akan pernah lepas dari Allah Ta'ala. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu, secara global maupun terperinci. Kebijaksanaan Allah berlaku didunia maupun di akhirat. Apabila Allah menyempurnakan sesuatu, maka sesuatu itu tidak mengandung kerusakan. Allah telah menciptakan manusia dan Dia Maha Suci, Maha Bijaksana, lagi Maha Mengetahui. [2]

[6]. Sifat Ar-Rizq (Memberi Rezki) [7] . Al-Quwwah (Kuat) [8]. Al-Matanah (Kokoh)

إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ (٥٨

"Artinya : Sesungguhnya Allah Maha Pemberi Rezki, Yang Mempunyai Kekuatan, dan Yang Sangat Kokoh." [Adz-Dariat : 58]

Ar-Razzaq artinya Yang banyak memberi rezki secara luas (sebagaimana ditunjukkan oleh shighah mubalaghah bentuk kata yang menyangatkan. Apapun rezki yang ada di alam semesta ini berasal dari Allah Ta'ala. Rezki itu ada dua :

Pertama : Rezki yang manfaatnya berlanjut sejak di dunia hingga di akhirat, yaitu rezki hati. Contohnya : Ilmu, iman, dan rezki halal.

Yang kedua : Rezki yang secara umum diberikan kepada seluruh manusia, yang shalih maupun yang jahat, termasuk binatang dan lain-lain.

Allah Subhanahu wa Ta'ala memiliki sifat Al-Quwwah (Kekuatan), Al-Qawiy artinya adalah Syadidul Quwwah (Sangat Kuat). Maka, Al-Qawiy merupakan salah satu nama-Nya, yang berarti Yang Memiliki Sifat Kuat. Adapun Al-Matin berarti Yang Memiliki Puncak Kekuatan dan Kekuasaan.4

[9]. As-Sam'u (Mendengar) [10]. Al-Bashar (Melihat)

لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَىۡءٌ۬‌ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ (١١

"Artinya : Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." [Asy-Sura: 11]

Di antara sifat-sifat Dzatiyah Allah adalah As-Sam'u dan Al-Bashar. Jadi, Allah memiliki sifat mendengar dan melihat, sesuai dengan keagungan-Nya, tidak sebagaimana mendengar dan melihatnya makhluk-Nya. Bahkan, pendengaran-Nya meliputi segala hal yang terdengar, dan Dia Melihat dan menyaksikan segala sesuatu, sekalipun sesuatu tersebut tersembunyi secara lahir maupun batin. [4]

Seorang penyair berkata :

Duhai Dzat Yang Melihat nyamuk,
ketika mengembangkan sayapnya
Di kegelapan malam yang pekat dan kelam
Dan Melihat urat syaraf di lehernya
Juga otak yang didalam tulang-tulang
nan amat mungil itu
Berikanlah kepadaku, ampunan yang menghapuskan
Dosa-dosa yang kulakukan, sejak kali pertama


[Disalin dari kitab Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah Li Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah, Penulis Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qathaniy, Edisi Indonesia Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Penerjemah Hawin Murtadho, Penerbit At-Tibyan]
_________
Foote Note.
[1]. Shahih Muslim IV/2084. Lihat juga Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Al-Haras, hal. 42.
[2]. Lihat Al-Ajwibah Al-Ushuliyah, hal.42
[3]. Ar-Raudhah An-Nadiyah, hal. 74
[4]. Lihat Ar-Raudhah An-Nadiyah, hal. 74 dan 112


almanhaj.or.id

dari catatan Abu Hashifah di Facebook >>>http://www.facebook.com/note.php?note_id=192937764071121
READ MORE - Syarah Al-'Aqidah Al-Wasithiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. ( Studi Tentang Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah) [6]
 
Free counters!