rss

Tampilkan postingan dengan label KISAH SAHABAT DAN ULAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH SAHABAT DAN ULAMA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Mei 2012

Harun Al Rasyid dan Abu Nuwas (Abu Nawas) Dan Cerita Bohong Dalam Buku CERITA SERIBU SATU MALAM



Harun Al Rasyid dan Abu Nuwas (Abu Nawas)

Konon pada zaman Khalifah Harun Al Rasyid –salah satu khalifah Daulah Bani Abbasiyyah- hiduplah seorang pujangga yang bernama Abu Nuwas (Abu Nawas). Khalifah mempunya hubungan dekat dengan Abu Nuwas ini, sedangkan Abu Nuwas adalah seorang yang suka meminum minuman keras, bermain dengan wanita, mendengarkan musik, berjoget, dan berdansa, serta perbuatan lain semisalnya, sehingga khalifah pun banyak melakukan itu semua karena kedekatannya dengan Abu Nuwas.
Kemasyhuran Kisah Ini
Kisah ini sangat masyhur di negeri nusantara dan mungkin juga di berbagai belahan bumi Islam lainnya. Banyak komik yang ditulis, lalu dikonsumsi oleh semua kalangan yang menggambarkan bagaimana bejatnya perbuatan khalifah ini beserta teman karibnya Abu Nuwas. Sehingga kalau disebut di kalangan orang banyak tentang Harun Al Rasyid, maka yang terbetik dalam bayangan mereka adalah gambaran raja tanpa wibawa yang suka main musik dan wanita diiringi dengan minum khamr (minuman keras). Jarang sekali di antara kaum muslimin mengetahui siapa sebenarnya Khalifah Harun Al Rasyid kecuali dari cerita yang beredar ini.
Akar Cerita
Asal-usul utama cerita ini bersumber dari sebuah buku dongengg Alfu Lailatin wa Lailah (cerita seribu satu malam). Buku ini dari lembar pertama sampai terakhir hanyalah berisi dongengg. Dan yang namanya “dongengg” berarti ia tidak punya asal-usul sanad yang terpercaya. Isinya pun hanyalah khayalan belaka; misalnya, cerita tentang Ali Baba dengan perampok, ksiah Aladin dengan lampu ajaibnya, begitu pula cerita tentang Abu Nuwas dengan Harus Al Rasyid.
Buku ini asal-usulnya adalah dongeng yang berasal dari bangsa India dan Persia. Lalu dialihbahasakan ke dalam bahasa Arab pada sekitar abad ketiga Hijriah. Kemudian ada yang menambahi beberapa ceritanya sehingga sampai masa Daulah Mamalik.
Buku ini sama sekali bukan buku sejarah, dan sama sekali tidak bisa menjadi landasan untuk mengetahui keadaan umat tertentu.
Oleh karena itu, para ulama sepakat untuk men-tahdzir (memperingatkan) atas buku ini dan melarang umat untuk membaca dan menjadikannya sebagai landasan sejarah. Di antara mereka adalah Al-Ustadz Anwar Al Jundi yang berkata, “Buku Alfu Lailatin wa Lailah adalah sebuah buku yang campur baur tanpa penulis. Buku ini disusun dalam rentang waktu yang bermacam-macam. Kebanyakan isinya menggambarkan tentang keadaan sosial masyarakat sebelum kedatangan Islam di negeri persia, India, dan berbagai negeri paganis lainnya.” Ibnu Nadim dalam Al-Fahrosat berkata tentang buku ini, “Itu adalah buku yang penuh dengan kedunguan dan kejelekan.”
Dan masih banyak lainnya. Silakan melihat apa yang dipaparkan oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman dalam Kutubun Hadzdzara minha Ulama, 2:57.
Syaikh Shalih Al Fauzan pernah ditanya, “Sebagian buku sejarah terutama buku Alfu Lailatin wa Lailah menyebutkan bahwa Khalifah Harun Al Rasyid adalah seorang yang hanya dikenal sebagai orang yang suka bermain-main, minum khamr dan lainnya. Apakah ini benar?”
Beliau menjawab: “Ini adalah kedustaan dan tuduhan yang dihembuskan ke dalam sejarah Islam. Buku Alfu Lailatin wa Lailah adalah sebuah buku yang tidak boleh dijadikan sandaran. Tidak selayaknya seorang muslim menyia-nyiakan waktunya untuk menelaah buku tersebut. Harun Al Rasyid dikenal sebagai orang yang Shalih dan istiqomah dalam agamanya, serta sungguh-sungguh dan bagus dalam mengatur masyarakatnya. Beliau satu tahun menunaikan haji dan tahun berikutnya berjihad. Ini adalah sebuah kedustaan yang terdapat ke dalam buku ini. Tidak layak bagi seorang muslim untuk membaca buku kecuali yang ada faidahnya, seperti buku sejarah yang terpercaya, buku tafsir, hadis, fiqih, dan aqidah yang dengannya seorang muslim akan bisa mengetahui urusan agamanya. Adapun buku yang tidak berharga, tidak selayaknya seorang muslim terutama penuntut ilmu menyia-nyiakan waktunya dengan membaca buku seperti itu.” (Nur Ala Darb, Fatawa Syaikh Shalih Fauzan Hal. 29)
Hakikat Cerita Ini
Dari keterangan di atas, tiada lagi keraguan bahwa kisah tentang Khalifah Harun Al Rasyid seperti yang digambarkan tadi adalah sebuah kedustaan. Banyak sekali para ulama yang menyatakan bahwa itu adalah sebuah kedustaan, di antara mereka ialah:
-          Syaikh Shalih Fauzan, sebagaimana nukilan dari beliau di atas.
-          Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin, beliau berkata: “Ini merupakan kedustaan yang jelas dan kezaliman yang nyata…” (Fatawa Islamiyyah, 4:187)
-          Syaikah Salim bin Id Al-Hilali berkata, “Kita harus membersihkan sejarah Islam dari hal-hal yang digoreskan oleh para pemalsu dan pendusta beserta cucu-cucu mereka bahwa sejarah Islam merupakan panggung anak kecil, musik, dan nyanyian. (Mereka gambarkan) para khalifah kaum muslimin sebagaimana yang dilakukan oleh para perusak tersebut dalam menodai sejarah Khalifah Harun Al Rasyid dan yang lain.” (Al-Jama’at Islamiyyah, Hal. 430)
Atas dasar ini, maka alangkah baiknya kalau kita sedikit mengetahui perjalanan hidup kedua orang ini, agar kita bisa mengetahui siapa sebenarnya Abu Nuwas juga siapa dan bagaimana sebenarnya Khalifah Harun Al Rasyid.

Siapakah Abu Nuwas (Abu Nawas)?

Dia adalah Abu Ali Hasan bin Hani’ al-Hakami, seorang penyair yang sangat masyhur pada zaman Bani Abbasiyyah.
Kepiawaiannya dalam menggubah qoshidah syair membuat dia sangat terkenal di berbagai kalangan, sehingga dia dianggap sebagai pemimpin para penyair di zamannya.
Namun amat disayangkan, perjalanan hidupnya banyak diwarnai dengan kemaksiatan, dan itu banyak juga mewarnai syair-syairnya. Sehingga saking banyaknya dia berbicara tentang masalah khamr, sampai-sampai kumpulan syairnya ada yang disebut khamriyyat.
Abu Amr Asy-Syaibani berkata, “Seandainya Abu Nuwas tidak mengotori syairnya dengan kotoran-kotoran ini, niscaya syairnya akan kami jadikan hujjah dalam buku-buku kami.”
Bahkan sebagian orang ada yang menyebutnya sebagai orang yang zindiq meskipun pendapat ini tidak disetujui oleh sebagian ulama. Di antara yang tidak menyetujui sebutan zindiq ini untuk Abu Nuwas adalah Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah (14:73), ketika menyimpulkan tentang kehidupan Abu Nuwas beliau berkata, “Kesimpulannya, para ulama banyak sekali menceritakan peristiwa kehidupannya, juga tentang syair-syairnya yang mungkar, penyelewengannya, kisahnya yang berhubungan dengan masalah khamr, kekejian, suka dengan anak-anak kecil yang ganteng serta kaum wanita sangat banyak dan keji, bahkan sebagian orang menuduhnya sebagai pezina. Di antara mereka juga ada yang menuduhnya sebagai seorang yang zindiq. Di antara mereka ada yang berkata: ‘Dia merusak dirinya sendiri.’ Hanya saja, yang tepat bahwa dia hanyalah melakukan berbagai tuduhan yang pertama saja, adapun tuduhan sebgian orang yang zindiq, maka itu sangat jauh dari kenyataan hidupnya, meskipun dia memang banyak melakukan kemaksiatan dan kekejian.”
Akan tetapi, walau bagaimanapun juga disebutkan dalam buku-buku sejarah bahwa dia bertaubat di akhir hayatnya; semoga memang demikian dan menunjukkan taubatnya adalah sebuah syair yang ditulisnya menjelang wafat:
Ya Allah, jika dosaku teramat sangat banyak
namun saya tahu bahwa pintu maaf-Mu lebih besar
Saya berdoa kepada-Mu dengan penuh tadharru’ sebagaimama Engkau perintahkan
Lalu jika Engkau menolak tangan permohonanku, lalu siapa yang akan merahmati-ku
Jika yang memohon kepada-Mu hanya orang yang baik-baik saja
Lalu kepada siapakah orang yang jahat akan memohon
Saya tidak mempunyai wasilah kepada-Mu kecuali hanya sebuah pengharapan
Juga bagusnya pintu maaf-Mu kemudian saya pun seorang yang muslim
Semoga Allah menerima taubatnya dan memaafkan kesalahannya, karena bagaimanapun juga dia mengakhiri hidupnya dengan taubat kepada Allah. Dan semoga kisah yang diceritakan oleh Ibnu Khalikan dalam Wafyatul-A’yan 2:102 benar adanya dan menjadi kenyataan. Beliau menceritakan dari Muhammad bin Nafi berkata, “Abu Nuwas adalah temanku, namun terjadi sesuatu yang menyebabkan antara aku dengan dia tidak saling berhubungan sampai aku mendengar berita kematiannya. Pada suatu malam aku bermimpi bertemu dengannya, kukatakan, ‘Wahai Abu Nuwas, apa balasan Allah terhadapmu?’ Dia menjawab, ‘Allah mengampuni dosaku karena beberapa bait syair yang kututlis saat aku sakit sebelum wafat, syair itu berada di bawah bantalku.’ Maka saya pun mendatangi keluarganya dan menanyakan bantal tidurnya dan akhirnya kutemukan secarik kertas yang bertuliskan: … (lalu beliau menyebutkan bait syair di atas).”
Setelah mengetahui sekelumit tentang Abu Nuwas, marilah kita beranjak utuk membahas siapakah sebenarnya Khalifah Harun Al Rasyid.
Beliau adalah Amirul-Mukminin Harun Al Rasyid bin Mahdi al-Qurasyi al-Hasyimi. Beliau adalah salah satu Khalifah Bani Abbasiyyah, bahkan pada masa beliaulah Bani Abbasiyyah mencapai zaman keemasannya.
Beliau dikenal sebagai raja yang dekat dengan ulama, menghormati ilmu, dan banyak beribadah serta berjihad. Disebutkan dalam berbagai buku sejarah yang terpercaya bahwa beliau selalu berhaji pada suatu tahun dan tahun berikutnya berjihad, begitulah seterusnya.
Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Perjalanan hidup beliau sangat bagus. (Beliau) seorang raja yang paling banyak berjihad dan menunaikan ibadah haji. Setiap hari beliau bershodaqoh dengan hartanya sendiri sebanyak seribu dirham. Kalau pergi haji beliau juga menghajikan seratus ulama dan anak-anak mereka, dan apabila beliau tidak pergi haji, maka beliau menghajikan tiga ratus orang. Beliau suka sekali bershodaqoh. Beliau mencintai para ulama dan pujangga. Cincin beliau bertuliskan kalimat La ilaha ilallah, beliau mengerjakan shalat setiap harinya seratus rakaat sampai meninggal dunia. Hal ini tidak pernah beliau tinggalkan kecuali kalau sedang sekit.” (Al-Bidayah wa Al-Nihayah, 14:28)
Imam Adz-Dzahabi berkata, “Ammar bin Laits al-Wasithi berkata, ‘Saya mendengar Fudhail bin Iyadh berkata, ‘Tidak ada kematian seorang pun yang lebih memukul diriku melebihi kematian Amirul-Mukminin Harun Al Rasyid. Sungguh saya ingin seandainya Allah menambah umurnya dengan sisa umurku.’ Ammar berkata, ‘Perkataan beliau ini terasa berat bagi kami, namun tatkala Harun telah meninggal dunia, muncullah fitnah, khalifah setelahnya yaitu Al-Makmun memaksa orang-orang untuk meyakini bahwa Alquran makhluk. Saat itu kami mengatakan, ‘Syaikh (Fudhail) lebih mengetahui tentang apa yang beliau katakan’.”
Beliau sangat keras terhadap orang yang menyimpang dari sunah dan berusaha menentangnya. Pada suatu ketika Abu Mu’awiyah menceritakan kepada beliau sebuah hadis dari Abu Hurairah bahwa Nabi Adam dan Musa berdebat, maka paman Khalifah Harun Al Rasyid berkata, “Wahai Abu Mu’awiyyah, kapan keduanya bertemu?” Maka Khalifah sangat marah seraya berkata, “Apakah engkau menentang hadis Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam? Ambilkan sebilah pedang dan tempat pemotongan kepala.” Maka segeralah yang beliau minta itu didatangkan. Orang-orang yang hadir saat itu pun memintakan maaf untuk paman beliau tersebut. Berkatalah Harun Al Rasyid, “Ini adalah perbuatan zindiq.” Akhirnya beliau memerintahkan untuk memenjarakannya. Sebagian orang juga pernah bercerita, “Saya masuk menemui Harun Al Rasyid dan saat itu ada seseorang yang barusan dipenggal kepalanya dan algojo sedang membersihkan pedangnya. Maka Haru Al Rasyid berkata, ‘Saya membunuhnya karena dia berkata bahwa Alquran itu makhluk’.”
Beliau sangat mencintai nasihat yang mengingatkan diri pada hari akhirat. Al-Ashma’i berkata, “Pada satu hari Harun Al Rasyid memanggilku. Saat itu dia menghiasi istana, membuat hidangan yang banyak dan lezat, lalu dia memanggil Abu Al-Atahiyyah, lalu Harun berkata kepadanya, “Sifatilah kenikmatan dan kesenangan hidup kami.” Maka Abu Al Athiyah menyenandungkan sebuah syair:
Hiduplah semaumu
Di bawah naungan istana nan megahmu
Engkau berusaha mendapatkan apa yang engkau senangi
Baik pada waktu sore maupun pagi
Namun, apabila jiwa tersengal-sengal
Karena sempitnya pernapasan dalam dada
Saat itu berulah engkau tau
Bahwa selama ini engkau sedang tertipu
Harun Al Rasyid pun langsung menangis sejadi-jadinya, sehingga Fadhi bin Yahya berkata, “Amirul-Mukminin memanggilmu agar engkau bisa membuatnya senang, tetapi engkau malah membuatnya susah.” Maka Harun Al Rasyid berkata, “Biarkan dia, dia melihat kita sedang kebutaan dan dia tidak ingin kita semakin buta.”
Suatu saat lainnya, Harun Al Rasyid memanggil Abu Al Atahiyyah lalu berkata, “Nasihatilah saya dengan sebuah bait syair.” Maka Abu Al Athiyah berkata,
Jangan engkau merasa aman dari kematian sekejap mata pun
Meski engkau mempunyai para penjaga dan para pasukan
Ketahuilah bahwa panah kematian pasti tepat sasaran
Meski bagi yang membentengi diri darinya
Engkau ingin selamat namun tidak mau mengikuti jalannya
Bukankan sebuah bahtera tidak akan mungkin berlayar di jalan raya
Begitu mendengarnya, Harun Al Rasyid pun langsung jatuh pingsan.
Inilah sekilas tentang kehidupan Khalifah Harun Al Rasyid meskipun kita mengakui bahwa sebagai manusia biasa beliau pun banyak memiliki cacat dan kemaksiatan. Namun keutamaan dan kebaikan beliau jauh melebihi cacat yang beliau kerjakan. Sampai-sampai Syaikh Abu Syauqi Khalil menulis buku berjudul Harun Al Rasyid Amirul-Khulafa wa Ajallu Mulukid-Dunya (Harun Al Rasyid Pemimpin Para Khalifah dan Raja Dunia Teragung) yang mana buku ini banyak dipuji oleh Syaikh Masyhur Salman dalam beberapa tempat di dalam buku Kutubun Hadzdzara minha Ulama.
(Lihat tentang kehidupan Harun Al Rasyid dengan agak terperinci pada Al-Bidayah wa Al-Nihayah, 14:27-48, Siyar A’lamin Nubala, 8:163-188)
Wallahu a’lam.
Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 5 Tahun Ke-8 1429H/2008 M
READ MORE - Harun Al Rasyid dan Abu Nuwas (Abu Nawas) Dan Cerita Bohong Dalam Buku CERITA SERIBU SATU MALAM

Kamis, 03 Mei 2012

Zainab: Wanita yang Dinikahkan Langsung oleh Allah



Nama dan Nasab  Zainab

Dia adalah Ummul Mu’minin Zainab bintu Jahsy bin Riab bin Ya’mar bin Shabirah bin Murrah Al-Asadiyyah. Ibunya adalah Umaimah bintu Abdul Muthallib bin Hasyim bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pihak ayahnya.

Sifat-sifatnya

Dia adalah seorang wanita yang cantik parasnya, merupakan penghulu para wanita dalam hal agamanya, wara’nya, kezuhudannya, kedermawanannya, dan kebaikannya.

Pernikahannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Sebelum menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Zainab telah menikah dengan Zaid bin Haritsah, maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamyang kemudian dijadikan anak angkat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dialah yang diceritakan Allah dalam firman-Nya,
وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَنعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَااللهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَاهُ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لاَيَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَآئِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللهِ مَفْعُولاً
“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: ‘Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah,” sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya). Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.” (QS. Al-Ahzab: 37)
Maka Allah nikahkan Zainab dengan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nash Kitab-Nya tanpa wali dan tanpa saksi. Dan Zainab biasa membanggakan hal itu di hadapan Ummahatul Mukminin (istr-istri Nabi) yang lain, dengan mengatakan,“Kalian dinikahkan oleh Allah dari atas Arsy-Nya.” (Diriwayatkan oleh Zubair bin Bakar dalam Al-Muntakhob min Kitab Azwajin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1:48 dan Ibnu Sa’d dalam Thabaqah Kubra, 8:104-105 dengan sanad yang shahih).
Di saat pernikahan Zainab dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terjadi keajaiban yang merupakan mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammenikah dengan Zainab, ibuku berkata kepadaku, ‘Wahai Anas sesungguhnya hari ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadi pengantin dalam keadaan tidak punya hidangan siang, maka ambilkan wadah itu kepadaku!’ Maka aku berikan kepadanya wadah dengan satu mud kurma, kemudian dia membuat hais dalam wadah itu, kemudian ibuku berkata, ‘Wahai Anas berikan ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istrinya!’ Kemudian datanglah aku kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa hais tersebut dalam sebuah bejana kecil yang terbuat dari batu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Anas letakkan dia di sisi rumah dan undanglah Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman, dan beberapa orang lain!’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi, ‘Undang juga penghuni masjid dan siapa saja yang engkau temui di jalan!’ Aku berkata, ‘Aku merasa heran dengan banyaknya orang yang diundang padahal makanan yang ada sedikit sekali, tetapi aku tidak suka membantah perintah Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku undanglah orang-orang itu sampai penuhlah rumah dan kamar dengan para undangan.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku seraya berkata, ‘Wahai Anas apakah engkau melihat orang yang melihat kita?’ Aku berkata, ‘Tidak wahai Nabiyullah’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Bawa kemari bejana itu!’ Aku ambil bejana yang berisi hais itu dan aku letakkan di depannya. Kemudian Rasulullah membenamkan ketiga jarinya ke dalam bejana dan jadilah kurma dalam bejana itu menjadi banyak sampai makanlah semua undangan dan keluar dari rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdalam keadaan kenyang.” (Diriwayatkan oleh Firyabi dalam Dalail Nubuwwah, 1:40-41 dan Ibnu Sa’d dalam Thabaqah Kubra 8:104-105).
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Zainab orang-orang munafiq menggunjingnya dengan mengatakan: ‘Muhammad telah mengharamkan menikahi istri-istri anak dan sekarang dia menikahi istri anaknya!, maka turunlah ayat Allah,
مَّاكَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللهِ
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)
Dan Allah berfirman,
ادْعُوهُمْ لأَبَآئِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ
“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 5)
Maka sejak saat itu Zaid dipanggil dengan Zaid bin Haritsah yang dia sebelumnya biasa dipanggil dengna Zaid bin Muhammad (Al-Isti’ab, 4:1849-1850)

Turunnya Ayat Hijab

Anas bin Malik berkata, “Aku adalah orang yang paling tahu tentang turunnya ayat hijab, ketika terjadi pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyiapkan hidangan dan mengundang para sahabat sehingga mereka datang dan masuk ke rumahnya. Ketika itu Zainab sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam rumah, kemudian para sahabat berbincang-bincang, saat itu keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kemudian kembali dalam keadaan para sahabat duduk-duduk di rumahnya, saat itu turunlah firman Allah,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلآَّ أَن يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانتَشِرُوا وَلاَمُسْتَئْنِسِينَ لِحَدِيثٍ إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِ مِنكُمْ وَاللهُ لاَيَسْتَحْيِ مِنَ الْحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَسْئَلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu ke luar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang hijab (tabir).” (QS. Al-Ahzab: 53)
Saat itu berdirilah para sahabat dan diulurkan hijab. (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Thabaqoh Kubra, 8:105-106 dengan sanad yang shahih)

Keutamaan-keutamaan Zainab

Aisyah berkata, “Zainab binti Jahsyi yang selalu menyaingiku di dalam kedudukannya di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pernah aku melihat wanita seperti Zainab dalam hal kebaikan agamanya, ketaqwaannya kepada Allah, kejujurannya, silaturrahimnya, dan banyaknya shadaqahnya.” (Al-Isti’ab, 4:1851)
Aisyah berkata, “Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada istri-istrinya, ‘yang paling cepat menyusulku dari kalian adalah yang paling panjang tangannya,’ Aisyah berkata, ‘Maka kami setelah itu jika berkumpul saling mengukur tangan-tangan kami di tembok sambil melihat mana yang paling panjang, tidak henti-hentinya kami melakukan hal itu sampai saat meninggalnya Zainab, padahal dia adalah wanita yang pendek dan tidaklah tangannya paling panjang di antara kami, maka tahulah kami saat itu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammemaksudkan panjang tangan adalah yang paling banyak bershadaqah. Adalah Zainab seorang wanita yang biasa bekerja dengan tangannya, dia biasa menyamak dan menjahit kemudian menshadaqahkan hasil kerjanya itu di jalan Allah’,” (Muttafaq Alaih)
Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Umar, “Sesungguhnya Zainab adalah wanita yang awwahah.” Seseorang bertanya, “Apa yang dimaksud dengan awwahah wahai Rasulullah?” Rasulullahs shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang khusyu lagi merendahkan diri di hadapan Allah.” (Al-Isti’ab, 4:1852)
Dari Barzah binti Rofi dia berkata, “Suatu saat Umar mengirimkan sejumlah uang kepada Zainab, ketika sampai kepadanya Zainab berkata, ‘Semoga Allah mengampuni Umar, sebenarnya selain aku lebih bisa membagi-bagikan ini,’ mereka berkata, ‘Ini semua untukmu,’ Zainab berkata, ‘Subhanallah, letakkanlah uang-uang itu dan tutupilah dengan selembar kain!’ kemudian dia bagi-bagikan uang itu kepada kerabatnya dan anak-anak yatimnya dan dia berikan sisanya kepadaku yang berjumlah delapan puluh lima dirham, kemudian dia mengangkat kedua tangannya ke langit dan berdoa, ‘Ya Allah jangan sampai aku mendapati pemberian Umar lagi setelah tahun ini.’ Tidak lama kemudian dia meninggal dunia.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Thabaqoh Kubra, 8:105-106)

Peran Zainab di Dalam Penyebaran Sunah-sunah Rasulullah

Zainab binti Jahsyi termasuk deretan istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjaga dan menyampaikan sunah-sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara deretan perawi yang meriwayatkan hadis dari beliau adalah saudaranya Muhammad bin Abdullah bin Jahsyi, Ummul Mu’minin Ummu Habibah bintu Abi Sufyan, Zainab bintu Abi Salamah, dan selain mereka dari kalangan shahabat dan tabi’in.

Wafatnya

Zainab binti Jahsyi wafat di Madinah pada tahun 20 Hijriyyah di masa kekhilafahan Umar, saat Mesir ditaklukkan oleh kaum muslimin, waktu itu beliau berusia 53 tahun. Beliau dikuburkan di pekuburan Baqi. Semoga Allah meridhainya dan membalasnya dengan kebaikan yang melimpah.
Rujukan:
Thabaqoh Kubra oleh Ibnu Sa’ad (8:101-1150, Al-Muntakhob min Kitab Azwajin Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam oleh Zubair bin Bakar (1:48), Dalail Nubuwwah 1:40-41 oleh Firyabi, Siyar A’lamin Nubala oleh Adz-Dzahabi (2:211-218), Al-Ishabah oleh Ibnu Hajar (7:667-669), dan Al-Isti’ab oleh Ibnu Abdil Barr. (4/1849-1452).
Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 6 Tahun III (Publis ulang dan edit tatabahasa  Tim KisahMuslim.com)
READ MORE - Zainab: Wanita yang Dinikahkan Langsung oleh Allah

Sabtu, 05 November 2011

Ash-Shabuni dan Ibnu Arabi masing-masing ada dua ?!?


Ash-Shabuni dan Ibnu Arabi masing-masing ada dua ?!?


1) Nadharakumullâh, Bârakallâhu fîkum. Apa benar ash-Shabuni ada dua orang? (Yang) satu sunnah dan satu lagi ahli bid’ah? Bagaimana cara membedakannya? Juga Ibnu Arabi, ada dua? Syukran.
2) Kitab al-Hadyu an-Nabawi ash-Shahîh fî Shalâh at-Tarâwîh, karangan ash-Shabuni. Ini ash-Shabuni yang mana? Ia dikritik Syaikh al-Albani -rahimahullah-. Jazâkumullâh khairan, syukran katsiran.
3) Bârakallahu fîkum. Ana usul, kalau ada dua nama yang sama tapi beda manhaj, tolong dikasih catatan kaki untuk membedakan. Syukran. Riau, 085271411XXX
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan Salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad -shollallahu alaihi wa sallam-, keluarga, dan para sahabat beliau. Amma ba’du.
1). Antara Muhammad Ali ash-Shabuni dan Abu Utsman ash-Shabuni 
Benar, orang yang bernama ash-Shabuni ada dua orang. Yang pertama bernama Muhammad Ali ash-Shabuni, penulis kitab Shafwah at-Tafâsîr, Mukhtashar Tafsîr Ibn Katsîr, dll. Begitu banyak kritikan pedas ulama yang ditujukan kepadanya, semisal Syaikh Bin Baaz, Syaikh al-Albani, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Syaikh Bakr Abu Zaid, Syaikh Muhammad Jami Zainu, dll. [Selengkapnya, lihat adz-Dzakhiirah, Vol. 6, No. 9, Edisi 41, hlm 39-43].
Yang kedua bernama Isma’il bin Abdurrahman bin Ahmad bin Ismail ash-Shabuni -rahimahullah-, kunyahnya Abu Utsman, masyhur dengan sebutan Abu Utsman ash-Shabuni atau ash-Shabuni saja. Lahir pada tahun 373 H. di Negeri Nisaphur, dan di negeri itu pula beliau wafat, tepatnya pada tahun 983 H.
Beliau adalah seorang pakar hadits senior. Seorang Syaikh besar yang memiliki lisan yang fasih, berwawasan dan berpengetahuan luas, sangat paham dengan cabang ilmu hadits dan tafsir. Bahkan, beliau sangat menguasai bahasa Persia sebagaimana penguasaannya terhadap bahasa Arab. Sehingga, ulama Ahlu Sunnah memberikan kepada beliau gelar Syaikhul Islam. Di antara karya populer beliau adalah kitab ‘Aqidah as-Salaf Ash-hâb al-Hadîts, al-Fushûl fî al-Ushûl, dll.
Antara Ibnu Arabi dan Ibnul Arabi
Orang yang bernama Ibnu ‘Arabi juga ada dua. Yang pertama Ibnu ‘Arabi [اِبْنُ عَرَبِيٍّ], tanpa menggunakan alif dan lâm. Sedangkan yang menyerupai nama ini adalah Ibnul ‘Arabi [اِبْنُ العَرَبِيِّ] dengan menggunakan alif dan lâm. Sehingga secara sekilas, keduanya bernama Ibnu Arabi atau juga Ibnul Arabi. Namun, ternyata keduanya berbeda dengan perbedaan ada tidaknya huruf alif dan lâm.
Ibnu Arabi
Yang pertama bernama Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah al-Hatimi al-Andalusi, bergelar Muhyiddin, yang tenar dengan panggilan Ibnu Arabi, seorang sufi tulen.
Pernah tinggal di Mekah beberapa tahun. Dan ketika di sana, ia sempat menulis bukunya yang berjudul al-Futûhât al-Makkiyyah. Ia juga memiliki beberapa tulisan lain, seperti Fushûsh al-Hikam, yang dikritik habis oleh Ibnu Taimiyyah, juga memiliki Dîwân Syi’r (kumpulan syair) yang menunjukkan kafasihannya yang berkelas. Hanya saja, ia mengotorinya dengan ucapan terus terangnya dengan akidah wihdatul wujûd (keyakinan seorang makhluk yang dapat bersatu dengan Khalik/Sang Pencipta). Dari sisi sinilah ulama terdahulu dan terkini mengupas habis akidah Ibnu Arabi, di samping beberapa penyimpangan sesat yang lain.
Di Antara Akidah Rusak Ibnu Arabi
• Ibnu Arabi mengaku, bahwa tulisan dan buku yang ia sebarkan telah mendapatkan izin dari Nabi n, ketika ia bertemu dengan beliau n dalam mimpi.
• Meyakini bahwa Rabb adalah hamba dan hamba adalah Rabb.
• Mengatakan bahwa hewan-hewan tertentu adalah Rabb.
• Mengatakan bahwa Rabb adalah pendeta yang ada di gereja.
• Bahwa Allah al-Haq al-Munazzah (suci dari segala aib dan kekurangan) adalah hamba yang diserupakan.
• Ia berkata tentang kaum Nabi Nuh p, andai saja mereka meninggalkan peribadatan kepada Wadd, Suwâ’, Yaghûts, Ya’ûq dan Nasr, sungguh mereka akan menjadi jauh lebih bodoh tentang Allah al-Haq.
• Allah al-Haq memiliki wajah pada setiap hamba-Nya.(1)
Di antara Ulama yang Membantah Habis Kesesatan Ibnu Arabi 
Begitu banyak ulama yang membantah, mengkritik, mengupas habis, dan menyesatkan Ibnu Arabi as-Sufi. Berikut ini beberapa nama ulama yang membantah akidah Ibnu Arabi: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Taqiyyuddin as-Subki, Abu Zur’ah al-Iraqi, Jamaluddin al-Mizzi, Zainuddin al-Kannani, Nuruddin al-Bakri, Syihabuddin al-Asqalani, dll. (2)
Meluruskan Kesalahan; Tidak Ada Karomah Bagi Ibnu Arabi
Ada sebuah hikayat yang menerangkan, bahwa Ibnu Arabi mati terbunuh ketika orang-orang bertanya kepadanya tentang Tuhan mereka? Ia menjawab, bahwa tuhan mereka ada di kedua telapak kakinya. Dengan serta merta orang-orang yang hadir pada waktu itu mengeroyok Ibnu Arabi dan menyekaknya dengan pukulan dan tamparan hingga mati.
Kemudian, ada cerita bualan yang menjelaskan, bahwa seusai Ibnu Arabi dikebumikan, teman-teman seperjuanganya datang ke makamnya. Lalu mereka membongkar suatu tempat yang pernah ditunjuk oleh Ibnu Arabi. Ternyata, mereka mendapatkan lempengan emas yang begitu melimpah. Dan mereka pun menganggap itu semua sebagai salah satu karomahnya.
Setelah diteliti dan dicermati, ternyata cerita di atas adalah bualan dusta yang tidak ada dasarnya sama sekali. Dan yang benar, sebagaimana yang dituturkan oleh ulama yang menulis biografi Ibnu Arabi, bahwa dirinya mati dalam keadaan wajar. Tidak ada pukulan, tidak ada tamparan, tidak ada emas, dan tidak ada karomah.
Ibnu Arabi wafat pada malam jumat, 24 Rabi’ul Akhir 638 di Damaskus. Dan dikebumikan di sebuah komplek pemakaman yang terkenal dengan nama Turbah Bani Zaki.
Ibnul Arabi al-Maliki al-Qadhi -rahimahullah-
Beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad al-Isybili, masyhur dengan sebutan Abu Bakar Ibnul Arabi. Adalah seorang ulama madzhab Maliki, seorang Qâdhi/Hakim, dan pakar hadits senior. Lahir di kota Isybilia 22 Sya’ban 468 H, dan wafat pada tahun 543 H.
Begitu pandai dengan sastra Arab dan telah sampai derajat ijtihad dalam hal ilmu agama. Beliau memiliki beberapa tulisan dalam cabang hadits, fikih, ushul, tafsir, sastra, dan sejarah.
Di antara karangan beliau al-’Awâshim min al-Qawâshim, Ahkâm al-Qur`ân, an-Nâsikh wa al-Mansûkh fî al-Qur`ân, al-Mahshûl fî Ushûl al-Fiqh, Qânûn at-Ta`wîl, dll.
2). Adapun kitab al-Hadyu an-Nabawi ash-Shahîh fî Shalâh at-Tarâwîh, karya ash-Shabuni, meskipun secara pasti kami belum mengetahuinya, namun dari perkataan antum bahwa ia sering dikritik Syaikh al-Albani t, maka insyâ`Allah kitab tersebut adalah tulisan Muhammad Ali ash-Shabuni. Wallâhu a’lam.
3). Usulan antum di atas Insyâ`Allâh akan kami realisasikan pada edisi-edisi selanjutnya. Semoga bermanfaat.
—————————
1. Untuk menambah pengetahuan, silahkan baca buku Aqidah Ibn Arabi wa Hayatuhu, karya Syaikh Taqyuddin al-Farisi (wafat 832H) -rahimahullah-, dan diteliti serta dikomentari oleh Syaikh Ali Hasan al-Halabi al-Atsari, juga Minhaj al-Firqah an-Najiyah, karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
2. Silahkan lihat perincian komentar mereka tentang Ibnu Arabi pada buku di atas
(Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 43 hal. 4-5)
D
Dipublikasi ulang oleh http://abu-hashifah.blogspot.com dari  http://www.majalahislami.com
READ MORE - Ash-Shabuni dan Ibnu Arabi masing-masing ada dua ?!?

Jumat, 21 Oktober 2011

Kisah Menakjubkan Para Tabi'in : Sa'id bin Jubair



SAID BIN JUBAIR

Badannya kekar, sempurna bentuk tubuhnya, lincah gerak-geriknya, cerdas otaknya, jenius akalnya, antusias terhadap kebajikan dan menjauhi dosa. Meski hitam warna kulitnya, keriting rambutnya dan asalnya dari Habsyi, namun tidaklah jatuh rasa percaya dirinya untuk menjadi manusia yang istimewa, apalagi umurnya masih muda.

Pemuda yang berasal dari Habsyi asli dan menjadi warga Arab ini sadar betul bahwa ilmu adalah jalan yang bisa mengantarkan kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Dan takwa adalah jalan yang menuntunnya ke surga. Oleh sebab itu dijadikannya takwa di sisi kanannya dan ilmu di sisi kirinya. Keduanya dipadukan dengan ikatan yang erat.

Dengan dua hal tersebut beliau mengarungi samudera kehidupan tanpa berleha-leha dan berpangku tangan. Sejak beliau masih muda, orang-orang telah mengenalnya sebagai pemuda yang akrab dengan buku-buku yang ia baca. Atau jika mereka tidak mendapatkannya sedang membaca buku, maka beliau di tengah mehrabnya untuk ibadah. Itulah dia manusia pilihan di zamannya, Said bin Jubair.

Pemuda Sa'id ini berguru kepada banyak shahabat senior, seperti Abu Sa'id Al-Khudri, Adi bin Hatim Ath-Thayy, Abu Musa Al-Asy'ari, Abu Hurairah Ad-Dausi, Abdullah bin Umar maupun Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha. Tapi guru utamanya adalah Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhu, guru besar umat Islam dan lautan ilmu yang luas.

Dengan setia Sa'id bin Jubair mengikuti Abdullah bin Abbas layaknya bayangan yang selalu mengikuti orangnya. Dari shahabat inilah beliau menggali tafsir Al-Qur-an, hadits-hadits dan seluk beluknya. Darinya pula beliau mendalami persoalan agama maupun tafsirnya. Juga mempelajari bahasa hingga mahir dengannya. Dan pada gilirannya, tidak ada seorang pun di muka bumi ini kecuali memerlukan ilmunya.

Selanjutnya beliau mengembara dan berkeliiling di negara-negara muslimin untuk mencari ilmu sesuai kehendak Allah. Setelah merasa cukup, beliau memutuskan Kufah sebagai tempat tinggalnya. Dan kelak beliau menjadi guru dan imam di kota itu.

Beliau menjadi imam shalat bagi kaum muslimin di bulan Ramadhan, terkadang membaca Al Qur-an dengan qira'ah Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu , terkadang dengan qira'ah Zaid bin Tsabitradhiyallahu 'anhu dan terkadang dengan qira'ah selainnya.

Jika beliau shalat sendirian, adakalanya beliau khatamkan Al Qur-an dalam sekali shalat. Dan sudah menjadi kebiasaan bagi beliau apabila membaca ayat Allah :

"Yaitu orang-orang yang mendustakan Al-Kitab (Al Qur-an) dan wahyu yang dibawa oleh rasul-rasul Kami yang telah Kami utus. Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai di pasang di leher mereka, seraya mereka diseret, ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api."
QS. Al-Mukmin :70-72

Atau ketika membaca ayat-ayat serupa yang berisi ancaman, maka menjadi gemetarlah badannya, gentar hatinya dan menetes air matanya. Kemudian mengulang-ulang ayat tersebut sampai adakalanya hampir pingsan.

***

Beliau melakukan perjalanan ke Baitullah Al-Haram dua kali setiap tahunnya. Pertama pada bulan Rajab untuk melakukan umrah, lalu di bulan Dzulqa'idah hingga usai ibadah haji.

Orang-orang yang merindukan ilmu dan kebaikan datang berduyun-duyun ke Kufah untuk menghirup sumber air yang jernih dari Sa'id bin Jubeir. Beliau ditanya: "Apakah khasyyah (takut) itu?" Beliau menjawab: "Khasyyah adalah bahwa engkau harus takut kepada Allah subhanahu wa ta'ala hingga rasa takutmu menghalangi dirimu dari perbuatan maksiat.

Ketika ditanya tentang dzikir, beliau berkata: "Dzikir itu adalah taat kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Barangsiapa menyahut seruan Allah subhanahu wa ta'ala dan mentaati-Nya, berarti dia berdzikir kepada-Nya. Adapun orang yang berpaling dan tak mau taat, maka dia bukanlah termasuk ahli dzikir, meski dia bertasbih dan membaca Al Qur-an semalam suntuk."

Kota Kufah menjadi pilihan beliau untuk menetap ketika itu di bawah kepemimpinan gubernur Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Kekuasaan Hajjaj meliputi Irak dan seluruh masyriq serta negeri di seberangnya, dia memegang kedudukan dan kekuasaannya dengan penuh kesombongan. Dia telah membunuh Abdullah bin Zubair, menumpas gerakannya, menundukkan Irak dibawah kekuasaan Bani Umayah dan memadamkan pemberontakan disana-sini. Menghunus pedangnya di tengkuk manusia dan menyebarkan rasa takut di seluruh negeri kekuasaannya. Hingga para penduduk merasa ngeri dan takut akan kekejamannya.

***

Suatu ketika takdir Allah menghendaki terjadinya perselisihan antara Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi dengan salah satu pendampingnya yang bernama Abdurrahman bin Asy'ats. Perang argumen akkhirnya berkembang menjadi fitnah besar yang menelan sangat banyak korban, meninggalkan bekas luka yang dalam dan menyedihkan hati kaum muslimin.

Ada yang berkata bahwa fitnah tersebut terjadi ketika Hajjaj mengutus Ibnu Asy-'ats bersama pasukannya untuk menaklukkan kota Ratbil di Turki, di belakang daerah yang bernama Sajistan.

Maka berangatlah panglima yang tangguh tersebut dengan membawa  pasukan besarnya dan berhasil menguasai sebagian besar wilayah negeri tersebut. Termasuk merebut beberapa benteng yang kokoh dan mendapatkan banyak ghanimah dari kota-kota dan desa-desa. Kemudian panglima itu mengirim utusan untuk menghadap kepada Hajjaj agar menyampaikan berita gembira dan sekaligus mengirimkan seperlima dari ghanimah untuk baitul maal milik kaum muslimin. Selain itu dia juga menulis surat, minta izin untuk sementara menghentikan perang. Agar dia dapat mempelajari seluk beluk medan maupun keadaan dan kebiasaan penduduk negeri itu, sebelum memutuskan untuk menyerbu daerah pedalaman yang belum diketahui medannya oleh pasukan yang sebelumnya telah berhasail mendapatkan kejayaan.

Namun Hajjaj murka dengan pendirian panglima tersebut. Dia menulis surat balasan berisi kecaman pedas dan menuduh Abdurrahman sebagai pengecut serta mengancam akan memecatnya. Begitu surat dari gubernur datang, Abdurrahman bin Asy-'ats segera mengumpulkan para komandan pasukan dan perwiranya. Beliau membaca surat tersebut untuk kemudian dimusyawarahkan bagaimana sikap yang harus mereka ambil.

Ternyata komandan itu menyarankan untuk menentang perintah Hajjaj. Maka Abdurrahman berkata: "Apakah kalian bersedia berbai'at untuk berjihad kepadanya hingga Allah membersihkan bumi Irak dari kezhalimannya??" Akhirnya mereka melakukan bai'at kepada panglimanya....

Tentara Abdurrahman bin Asy-'ats bergerak menyerang pasukan Hajjaj dengan kebencian berkobar di dada. Terjadilah pertempuran dahsyat antara mereka dengan pasukan ibnu Yusuf, dan pasukan Abdurrahman berhasil memenangkannya hingga mampu menguasai Sajistan serta sebagian besar wilayah Persia. Selanjutnya Abdurrahman berhasrat merebut Kufah dan Bashrah dari kekuasaan Hajjaj bin Yusuf.

Perang masih berkecamuk antara dua kubu. Ibnu Asy-'ats terus menguasai kota demi kota. Hal itu membuat kemarahan Hajjaj memuncak ke ubun-ubun. Bersamaan dengan itu, para wali di berbagai daerah telah menulis surat kepada Hajjaj yang melaporkan banyaknya ahli dzimmah yang memeluk Islam untuk melepaskan diri dari kewajiban membayar jizyah. Mereka meninggalkan pedesaan menuju ke kota-kota. Ini berarti makin menipisnya pendapatan negara.

Kemudain Hajjaj menulis surat kepada walinya di Bashrah dan kota-kota lainnya untuk mengumpulkan para ahli dzimmah yang telah berpindah dan mengembalikan semuanya ke tempat asal masing-masing. Tak luput pula bagi mereka yang telah lama tinggal di kota. Perintah Hajjaj segera dilaksanakan. Sejumlah besar ahli dzimmah tersebut dikumpulkan dan dijauhkan dari mata pencahariannya. Di pinggiran kota, mereka dikumpulkan beserta anak-istrinya dan dipaksa kembali ke desa-desa yang telah lama mereka tinggalkan.

Para wanita, anak-anak dan orang-orang tua menangis beruraian air mata. Mereka minta tolong sambil berseru: "Wahai umat Muhammad... wahai umat Muhammad..." Mereka bingung hendak berbuat apa, tak tahu harus pergi kemana. Kemudian, keluarlah para ulama dan ahli-ahli fikih Bashrah untuk menolong dan mengusahakan agar perintah tersebut dibatalkan. Namun hasilnya nihil, sehingga mereka pun ikut menangis karena tangisan mereka, lalu berdo'a agar Allah mengentaskan mereka dari musibah tersebut.

***

Kekecewaan para ulama itu dimanfaatkan oleh Abdurrahman. Dia mendekati para alim ulama untuk mendukung perjuangannya. Kemudian beberapa tokoh tabi'in dan pemuka-pemuka Islam turun tangan, diantaranya termasuk Sa'id bin Jubair, Abdurrahman bin Laila, Imam Asy-Sya'bi, Abul Buhtari dan lain-lain.

Perang besar antara keduanya meletus. Mulanya kemenangan berpihak di pasukan Ibnu Asy-'ats, tapi kemudian sedikit demi sedikit keseimbangan beralih..... pasukan Hajjaj mulai berada di atas angin, sampai akhirnya kekuatan Ibnu Asy-'ats dapat dihancurkan. Ibnu Asy-'ats melarikan diri dan pasukanya menyerah kepada Hajjaj.

***

setelah itu Hajjaj memerintahkan pegawainya untuk menyeru kepada para pemberontak agar memperbaharui bai'atnya. Diantara mereka ada yang mentaati dan sebagian kecil menghilang, termasuk Sa'id bin Jubair.

Orang-orang yang menyerah itu datang untuk berbai'at, namun mereka dikejutkan oleh kejadian yang tidak mereka duga. Hajjaj berkata kepada salah seorang di antara mereka: "Apakah engkau mengaku kafir karena telah membatalkan bai'atmu kepada amirmu? Jika dia menjwab "Ya" maka diterima bai'atnya yang baru lalu dibebaskan. Namun jika mereka menjawab : "Tidak" maka dibunuh.

Sebagian dari mereka yang lemah, tunduk dan terpaksa mengaku kafir demi keselamatan dirinya. Sedangkan sebagian lagi tetap teguh dan tidak mengindahkan perintah tersebut, tetapi mereka harus membayar dengan lehernya.

Menurut kabar yang tersebar, penjagalan tersebut telah memakan ribuan orang, sedangkan ribuan lainnya selamat setelah mengaku kafir.

***

Dalam kejadian lain, ada orang tua dari suku Khat'am. Ketika terjadi huru hara dan kekacauan antara dua kubu, dia tidak berpihak kepada siapapun dan tinggal di suatu tempat yang jauh di belakang sungai Eufrat. Kemudian dia digiring menghadap Hajjaj, lalu ditanya tentang dirinya.

Orang tua :
"Semenjak meletus pertempuran, aku mengasingkan diri ke tempat yang jauh sambil menunggu perang usai. Setelah anda menang dan perang usai, maka aku datang  kemari untuk melakukan bai'at."

Hajjaj :
"Celaka engkau! Engkau tinggal diam menjadi penonton dan tidak ikut membantu pemimpinmu, sekarang apakah engkau mengaku bahwa dirimu telah kafir?"

Orang tua :
"Terkutuklah aku jika selama 80 tahun ini mengabdi kepada Allah, lalu mengaku sebagai kafir."

Hajjaj :
"Jika demikian aku akan membunuhmu!"


Orang tua :
"Jika engkau membunuhku... demi Allah, yang tersisa dari usiaku selama ini hanyalah seperti waktu kesabaran seekor keledai yang kehausan. Pagi hari dia minum dan sorenya mati. Aku memang sudah menanti kematian itu siang dan malam hari. Oleh karena itu lakukanlah semaumu.

Akhirnya orang tua itupun dipenggal lehernya. Tak seorangpun dari pengikut ataupun musuh Hajjaj yang hadir disitu yang tak memuji dan merasa iba kepada syaikh tua tersebut serta memintakan rahmat untuknya.

***

Kemudian giliran hajjaj memanggil Kamil bin Ziyad An-Nukhai dihadapkan dan ditanya:

Hajjaj : "Apakah engkau mengakui dirimu telah kafir?"

Kamil : "Tidak. Demi Allah aku tidak mengakuinya."

Hajjaj : "Bila demikian, aku akan membunuhmu!"

Kamil :
"Silakan saja kalau engkau mau melakukannya. Kelak akan bertemu disisi Allah dan setiap pembunuhan ada perhitungannya."

Hajjaj : "Ketika itu kesalahan ada di pihakmu."

Kamil : "Benar, bila engkau yang menjadi hakimnya di hari kiamat itu."

Hajjaj : "Bunuh dia!"

Lalu, beliau pun dibunuh...

***

Selanjutnya dihadapkan pula seseorang yang sudah lama menjadi buronan Hajjaj karena dianggap menghinanya. Hajjaj berkata:"Kurasa orang yang di hadapanku ini mustahil mengakui dirinya kafir." Namun orang itu menjawab: "Janganlah tuan memojokkan aku dulu dan jangan pula berdusta tentang diriku. Sesungguhnya akulah orang yang paling kafir di muka bumi ini, lebih kafir daripada Fir'aun yang semena-mena itu." Hajjaj terpaksa membebaskannya, padahal ia sudah gatal untuk membunuhnya.

Konon, pembantaian besar-besaran tersebut telah menelan ribuan korban dari orang-orang mukmin yang teguh pendiriannya. Dan ribuan lain yang selamat adalah yang dipaksa mengaku dirinya kafir. Sa'id bin Jubair merasa yakin bahwa kalu dia tertangkap, maka akan menghadapi dua pilihan seperti yang lain juga, yaitu dipenggal lehernya atau mengakui dirinya kafir.
Dua pilihan, yang paling manis dari keduanya pun begitu pahit. Oleh sebab itu, beliau memilih keluar dari Irak, ia menyembunyikan diri dari masyarakat. Maka berkelilinglah ia di bumi Allah dengan sembunyi-sembunyi agar tak diketahui oleh Hajjaj dan kaki tangannya, hingga akhirnya tinggal di sebuah desa di dekat Mekah.

Selama sepuluh tahun beliau tinggal di sana, waktu yang cukup lama untuk menghilangkan dendam dan kedengkian Hajjaj.

Akan tetapi, ternyata ada perkembangan situasi yang tak terduga. Seorang amir baru didatangkan ke Makkah, yaitu Khalid bin Abdullah Al-Qasri yang juga berasal dari banu Umayah. Para sahabat Sa'id bin Jubair menjadi gelisah dan khawatir karena mereka tahu tentang kekejaman wali baru tersebut. Mereka menduga bahwa wali baru tersebut pasti akan menangkap Sa'id bin Jubair.

Di antara mereka segera menemui sa'id bin Jubair lalu berkata : "Orang itu telah datang ke Makkah. Demi Allah, kami khawatir akan diri anda, maka sebaiknya anda keluar saja dari sini."
Namun beliau menjawab : "Demi Allah, sudah lama aku bersembunyi sampai malu rasanya kepada Allah. Aku telah memutuskan akan tetap tinggal disini, pasrah dengan kehendak Allah."

Dugaan orang-orang tentang kekejaman Khalid ternyata tak meleset. Begitu mendengar dan mengetahui tempat persembunyian Sa'id bin Jubeir, dia langsung mengirimkan pasukannya untuk menangkap Sa'id, mengikat lalu mengirimkannya kepada Hajjaj di kota Wasit nanti.

Tentara Khalid mengepung rumah syaikh tersebut lalu menangkap dan mengikatnya di depan murid-murid dan para shahabatnya. Setelah itu mereka bersiap-siap untuk membawanya kepada Hajjaj. Sa'id menghadapi semua itu dengan tenang. Beliau menoleh kepada para shahabatnya dan berkata:

"Saya merasa akan terbunuh di tangan penguasa zhalim itu. Sesungguhnya pada suatu malam aku pernah melakukan ibadah bersama dua orang teman. Kami merasakan manisnya ibadah dan doa kepada Allah, lalu kami bertiga memohon syahadah (mati syahid). Kedua kawan tersebut sudah mendapatkannya, tinggal aku yang masih menunggu."

Belum lagi selesai beliau bicara, seorang gadis cilik muncul dan demi melihat beliau diikat dan diseret oleh para prajurit, dia langsung merangkul Sa'id sambil menangis. Sa'id menghiburnya dengan lembut dan berkata: "Katakanlah kepada ibumu wahai putriku, kita akan bertemu nanti di surga, insya Allah." Bocah itu pun pergi.

Sampailah utusan yang membawa Sa'id seorang imam yang zahid, abid dan berbakti itu di kota wasit. Sa'id dihadapkan kepada Hajjaj bin Yusuf.
Setelah Sa'id berada di hadapan Hajjaj, dengan pandangan penuh kebencian Hajjaj bertanya :

Hajjaj : "Siapa namamu?"

Sa'id : "Sa'id (bahagia) bin Jubair (perkasa)."

Hajjaj : "yang benar engkau adalah Syaqi (celaka) bin Kasir (lumpuh)."

Sa'id : "ibuku lebih mengetahui namaku daripada engkau."

Hajjaj : "Bagaimana pendapatmu tentang Muhammad?"

Sa'id : "Apakah yang kau maksud adalah Muhammad bin Abdullah shallallahu 'alaihi wa sallam?"

Hajjaj : "Benar."

Sa'id :
"Manusia utama di antara keturunan Adam 'alaihis salaam dan nabi yang terpilih. Yang terbaik di antara manusia yang hidup dan yang paling mulia di antara yang telah mati. Beliau telah mengemban risalah dan menyampaikan amanat, beliau telah menunaikan nasihat bagi Allah, kitab-Nya , bagi seluruh kaum muslimin secara umum dan khusus."

Hajjaj : "Bagaimana pendapatmu tentang Abu Bakar?"

Sa'id :
"Ash-Shiddiq khalifah Rasulullah. Beliau wafat dengan terpuji dan hidup dengan bahagia. Beliau mengambil tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tanpa merubah atau pun mengganti sedikitpun darinya."

Hajjaj : "Bagaimana pendapatmu tentang Umar?"

Sa'id : "Beliau adalah al-Faruq, dengannya Allah membedakan antara yang haq dengan yang batil. Beliau adalah manusia pilihan Allah dan Rasul-Nya, beliau melaksanakan dan mengikuti jejak kedua pendahulunya, maka dia hidup terpuji dan mati sebagai syuhada."

Hajjaj : "Bagaimana dengan Utsman??"

Sa'id :
"Beliau yang membekali pasukan Usrah dan meringankan beban kaum muslimin dengan membeli sumur "Ruumah" dan membeli rumah untuk dirinya di surga. Beliau adalah menantu Rasulullah atas dua putri beliau dan dinikahkan karena wahyu dari langit. Lalu terbunuh di tangan orang zhalim."

Hajjaj : "Bagaimana dengan Ali?"

Sa'id :
"Beliau adalah putra paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan pemuda pertama yang memeluk Islam. Beliau adalah suami Fathimah Az-Zahra putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ayah dari Hasan dan Husain yang merupakan dua pemimpin pemuda ahli surga."

Hajjaj : "Khalifah yang mana dari Bani Umayah yang paling kau sukai??"

Sa'id : "Yang paling diridhai Pencipta mereka."

Hajjaj : "Manakah yang paling diridhai Rabb-nya?"

Sa'id : "Ilmu tentang itu hanyalah diketahui oleh Yang Maha Mengetahui yang zhahir dan yang tersembunyi."

Hajjaj : "Bagaimana pendapatmu tentang diriku?"

Sa'id : "Engkau lebih tahu tentang dirimu sendiri."

Hajjaj : "Aku ingin mendengar pendapatmu."

Sa'id : "Itu akan menyakitkan dan menjengkelkanmu."

Hajjaj : "Aku harus tahu dan mendengarnya darimu."

Sa'id :
"Yang kuketahui, engkau telah melanggar Kitabullah, engkau mengutamakan hal-hal yang kelihatan hebat padahal justru membawamu ke arah kehancuran dan menjerumuskanmu ke neraka."

Hajjaj : "Kalau begitu, demi Allah aku akan membunuhmu."

Sa'id : "Bila demikian, maka engkau merusak duniaku dan aku merusak akhiratmu."

Hajjaj : "Pilihlah bagi dirimu cara-cara kematian yang kau sukai."

Sa'id : "Pilihlah sendiri wahai Hajjaj. Demi Allah, untuk setiap cara yang kau lakukan, Allah akan membalasmu dengan cara yang setimpal di akhirat nanti."

Hajjaj : "Tidakkah engkau menginginkan ampunanku?"

Sa'id : "Ampunan itu hanyalah dari Allah subhanahu wa ta'ala, sedangkan engkkau tak punya ampunan dan alasan lagi di hadapan-Nya."

Memuncaklah kemarahan Hajjaj. Kepada algojonya diperintahkan : "Siapkan pedang dan alasnya!."

Sa'id tersenyum mendengarnya, sehingga bertanyalah Hajjaj, "Mengapa engkau tersenyum?"

Sa'id : "Aku takjub atas kecongkakanmu terhadap Allah dan kelapangan Allah terhadapmu."

Hajjaj : "Bunuh dia sekarang!"

Sa'id : (menghadap kiblat sambil membaca firman Allah Ta'ala) :

"Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah"
(QS Al-An'am : 79)

Hajjaj : "Palingkan ia dari kiblat!"

Sa'id : (membaca firman Allah Ta'ala) :

"Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemana pun kamu menghadap disitulah wajah Allah."(QS Al-Baqarah : 115)

Hajjaj : "Sungkurkan dia ke tanah!"

Sa'id : (membaca firman Allah Ta'ala) :

"Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkanmu pada kali yang lain." (QS. Thaha : 55)

Hajjaj : "Sembelihlah musuh Allah ini! Aku belum pernah menjumpai orang yang suka berdalih dengan ayat-ayat Allah seperti dia!"

Sa'id : (Mengangkat kedua tangannya sambil berdoa), "Ya Allah, jangan lagi Kau beri kesempatan ia melakukannya atas orang lain setelah aku."

***

Tak lebih dari lima belas hari setelah wafatnya Sa'id bin Jubair. Mendadak Hajjaj bin Yusuf terserang demam. Kian hari suhu tubuhnya makin mengingkat dan bertambah parah rasa sakitnya hingga keadaannya siilih berganti antara pingsan dan siuman. Tidurnya tak lagi nyenyak, sebentar-sebentar terbangun dengan ketakutan dan mengigau : "Ini Sa'id bin Jubair hendak menerkamku! Ini Sa'id bin Jubair berkata : "Mengapa engkau membunuhku?" Dia menagis tersedu-sedu menyesali diri : "Apa yang aku perbuat atas Sa'id bin Jubair? Kembalikan Sa'id bin Jubair kepadaku!"

Kondisi itu terus berlangsung hingga dia meninggal.

***
Untuk menambah keterangan tentang Sa'id bin Jubair, lihatlah :
  1. Ath-Thabaqat Al-Kubra Ibnu Sa'ad 6/256.
  2. Az-Zuhdu Imam Ahmad bin Hambal 370.
  3. Thabaqat Al-Fuqahaa' Asy-Syairaazi 82.
  4. Al-Bidayah wa An-Nihayah 9/96-98.
  5. Tarikh Al-Bukhari 3/461.
  6. Wafiyaat Al-A'yaan 2/371.
  7. Taarikh Al-Islam 4/2.
  8. Tadzkirah Al-Huffazh 1/71.
  9. Al-I'bar 1/112.
  10. Akhbaar Al-Qudhaah 2/411.
  11. Al Aqd Ats-Tsamin  4/549.
  12. An-Nujuum Az-Zaahirah 1/228.
  13. Thabaqat Al-Mufassiriin 1/181.
  14. Syadzaraat Adz-Dzahab 1/108.

========================================================================
Disalin dari buku : "Mereka adalah para Tabi'in ... " Dr. Abdurrahman Ra'fat Basya

Dipublikasi ulang di http://abu-hashifah.blogspot.com dari catatan Facebook Al- akhi Abu Arini Ahmad
READ MORE - Kisah Menakjubkan Para Tabi'in : Sa'id bin Jubair
 
Free counters!