rss

Tampilkan postingan dengan label SIRAH NABI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SIRAH NABI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Agustus 2012

Kisah Nabi Ishaq ‘Alaihissalam


Kisah Nabi Ishaq ‘Alaihissalam

Nabi Ibrahim Dikarunia Seorang Putra dari Istrinya Sarah

بسم الله الرحمن الرحيم
Setelah Allah mengaruniakan Ismail kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala agar dikaruniakan anak dari istrinya yang bernama Sarah; istri yang selalu setia bersamanya dalam menegakkan kalimatullah. Maka Allah mengabulkan doanya dan mengutus beberapa malaikat dalam bentuk manusia untuk menyampaikan kabar gembira kepadanya akan lahirnya seorang anak dari istrinya; Sarah. Mereka juga memberitahukan tujuan mereka yang lain, yaitu pergi mendatangi kaum Luth untuk menimpakan azab kepada mereka.
Ketika para malaikat itu datang kepada Nabi Ibrahim, maka ia menyambut mereka dengan sebaik-baiknya dan mendudukkan mereka di ruang tamu, selanjutnya ia segera menyiapkan jamuan makan untuk mereka. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah seorang yang selalu memuliakan tamu di samping sebagai seorang yang dermawan.
Tidak lama kemudian, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam datang membawa anak sapi yang gemuk yang telah dipanggang serta menghidangkannya kepada mereka, tetapi mereka tidak makan dan tidak meminum jamuan yang telah dihidangkan itu, hingga akhirnya Nabi Ibrahim merasa takut terhadap mereka, maka malaikat-malaikat itu pun menenangkannya dan memberitahukan kepadanya tentang diri mereka serta memberikan kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang ‘alim (berilmu).
Ketika itu, Sarah mendengar pembicaraan mereka, maka ia datang dalam keadaan heran terhadap kabar gembira yang mereka sampaikan, bagaimana ia akan melahirkan sedangkan ia seorang wanita yang sudah tua lagi mandul (ketika itu usianya 90 tahun), sedangkan suaminya juga sudah lanjut usia (lihat surat Hud: 72). Maka malaikat berkata, “Demikianlah Tuhanmu memfirmankan. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Adz Dzaariyat: 30)
Mendengar berita itu, Nabi Ibrahim pun menjadi tenang dan berbahagia; apa yang dinanti-nantikannya ternyata akan tiba.
Selang beberapa waktu, maka datanglah apa yang dinantikan itu, istrinya yaitu Sarah melahirkan seorang anak yang kemudian diberi nama Ishaq oleh Nabi Ibrahim‘alaihissalam. Saat itu, usia Nabi Ibrahim 100 tahun. Ishaq lahir empat belas tahun setelah kelahiran Ismail.
Alquranul Karim tidak menyebutkan secara panjang lebar kisah Nabi Ishaq‘alaihissalam, demikian pula tentang kaum yang kepada mereka diutus Nabi Ishaq. Akan tetapi Allah memuji Nabi Ishaq di beberapa tempat dalam Alquran, di antaranya:
“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.–Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.–Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (QS. Shaad: 45-47)
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memuji Nabi Ishaq dalam sabdanya,
الكَرِيمُ، ابْنُ الكَرِيمِ، ابْنِ الكَرِيمِ، ابْنِ الكَرِيمِ يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ
Yang mulia putera yang mulia, putera yang mulia dan putera yang mulia adalah Yusuf putera Ya’qub, putera Ishaq, putera Ibrahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ahli Kitab menyebutkan, bahwa Ishaq ketika menikahi Rafqah binti Batu’il saat ayahnya (Nabi Ibrahim) masih hidup, saat itu usianya 40 tahun. Istrinya adalah seorang yang mandul, maka Nabi Ishaq berdoa kepada Allah untuknya, hingga istrinya pun hamil dan melahirkan anak yang kembar; yang pertama bernama ‘Iishuu. Orang-orang Arab menyebutnyta ‘Iish; ia adalah nenek moyang bangsa Romawi. Yang kedua bernama Ya’qub. Disebut Ya’qub karena ia lahir dalam keadaan memegang tumit saudaranya. Ia juga disebut Israil, yang merupakan nenek moyang Bani Israil.
Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai nabi dan rasul, maka Nabi Ishaq‘alaihissalam wafat.
Selesai dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Oleh: Marwan bin Musa
Maraaji’:
  • Alquranul Karim
  • Mausu’ah Al Usrah Al Muslimah (dari situs www.islam.aljayyash.net)
  • Shahih Bukhari
  • Shahih Qashashil Anbiya’ (Ibnu Katsir, takhrij Syaikh Salim Al Hilaaliy)
  • dll.
Artikel www.KisahMuslim,com
READ MORE - Kisah Nabi Ishaq ‘Alaihissalam

Kamis, 03 Mei 2012

Zainab: Wanita yang Dinikahkan Langsung oleh Allah



Nama dan Nasab  Zainab

Dia adalah Ummul Mu’minin Zainab bintu Jahsy bin Riab bin Ya’mar bin Shabirah bin Murrah Al-Asadiyyah. Ibunya adalah Umaimah bintu Abdul Muthallib bin Hasyim bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pihak ayahnya.

Sifat-sifatnya

Dia adalah seorang wanita yang cantik parasnya, merupakan penghulu para wanita dalam hal agamanya, wara’nya, kezuhudannya, kedermawanannya, dan kebaikannya.

Pernikahannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Sebelum menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Zainab telah menikah dengan Zaid bin Haritsah, maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamyang kemudian dijadikan anak angkat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dialah yang diceritakan Allah dalam firman-Nya,
وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَنعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَااللهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَاهُ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لاَيَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَآئِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللهِ مَفْعُولاً
“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: ‘Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah,” sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya). Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.” (QS. Al-Ahzab: 37)
Maka Allah nikahkan Zainab dengan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nash Kitab-Nya tanpa wali dan tanpa saksi. Dan Zainab biasa membanggakan hal itu di hadapan Ummahatul Mukminin (istr-istri Nabi) yang lain, dengan mengatakan,“Kalian dinikahkan oleh Allah dari atas Arsy-Nya.” (Diriwayatkan oleh Zubair bin Bakar dalam Al-Muntakhob min Kitab Azwajin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1:48 dan Ibnu Sa’d dalam Thabaqah Kubra, 8:104-105 dengan sanad yang shahih).
Di saat pernikahan Zainab dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terjadi keajaiban yang merupakan mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammenikah dengan Zainab, ibuku berkata kepadaku, ‘Wahai Anas sesungguhnya hari ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadi pengantin dalam keadaan tidak punya hidangan siang, maka ambilkan wadah itu kepadaku!’ Maka aku berikan kepadanya wadah dengan satu mud kurma, kemudian dia membuat hais dalam wadah itu, kemudian ibuku berkata, ‘Wahai Anas berikan ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istrinya!’ Kemudian datanglah aku kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa hais tersebut dalam sebuah bejana kecil yang terbuat dari batu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Anas letakkan dia di sisi rumah dan undanglah Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman, dan beberapa orang lain!’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi, ‘Undang juga penghuni masjid dan siapa saja yang engkau temui di jalan!’ Aku berkata, ‘Aku merasa heran dengan banyaknya orang yang diundang padahal makanan yang ada sedikit sekali, tetapi aku tidak suka membantah perintah Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku undanglah orang-orang itu sampai penuhlah rumah dan kamar dengan para undangan.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku seraya berkata, ‘Wahai Anas apakah engkau melihat orang yang melihat kita?’ Aku berkata, ‘Tidak wahai Nabiyullah’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Bawa kemari bejana itu!’ Aku ambil bejana yang berisi hais itu dan aku letakkan di depannya. Kemudian Rasulullah membenamkan ketiga jarinya ke dalam bejana dan jadilah kurma dalam bejana itu menjadi banyak sampai makanlah semua undangan dan keluar dari rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdalam keadaan kenyang.” (Diriwayatkan oleh Firyabi dalam Dalail Nubuwwah, 1:40-41 dan Ibnu Sa’d dalam Thabaqah Kubra 8:104-105).
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Zainab orang-orang munafiq menggunjingnya dengan mengatakan: ‘Muhammad telah mengharamkan menikahi istri-istri anak dan sekarang dia menikahi istri anaknya!, maka turunlah ayat Allah,
مَّاكَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللهِ
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)
Dan Allah berfirman,
ادْعُوهُمْ لأَبَآئِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ
“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 5)
Maka sejak saat itu Zaid dipanggil dengan Zaid bin Haritsah yang dia sebelumnya biasa dipanggil dengna Zaid bin Muhammad (Al-Isti’ab, 4:1849-1850)

Turunnya Ayat Hijab

Anas bin Malik berkata, “Aku adalah orang yang paling tahu tentang turunnya ayat hijab, ketika terjadi pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyiapkan hidangan dan mengundang para sahabat sehingga mereka datang dan masuk ke rumahnya. Ketika itu Zainab sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam rumah, kemudian para sahabat berbincang-bincang, saat itu keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kemudian kembali dalam keadaan para sahabat duduk-duduk di rumahnya, saat itu turunlah firman Allah,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلآَّ أَن يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانتَشِرُوا وَلاَمُسْتَئْنِسِينَ لِحَدِيثٍ إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِ مِنكُمْ وَاللهُ لاَيَسْتَحْيِ مِنَ الْحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَسْئَلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu ke luar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang hijab (tabir).” (QS. Al-Ahzab: 53)
Saat itu berdirilah para sahabat dan diulurkan hijab. (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Thabaqoh Kubra, 8:105-106 dengan sanad yang shahih)

Keutamaan-keutamaan Zainab

Aisyah berkata, “Zainab binti Jahsyi yang selalu menyaingiku di dalam kedudukannya di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pernah aku melihat wanita seperti Zainab dalam hal kebaikan agamanya, ketaqwaannya kepada Allah, kejujurannya, silaturrahimnya, dan banyaknya shadaqahnya.” (Al-Isti’ab, 4:1851)
Aisyah berkata, “Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada istri-istrinya, ‘yang paling cepat menyusulku dari kalian adalah yang paling panjang tangannya,’ Aisyah berkata, ‘Maka kami setelah itu jika berkumpul saling mengukur tangan-tangan kami di tembok sambil melihat mana yang paling panjang, tidak henti-hentinya kami melakukan hal itu sampai saat meninggalnya Zainab, padahal dia adalah wanita yang pendek dan tidaklah tangannya paling panjang di antara kami, maka tahulah kami saat itu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammemaksudkan panjang tangan adalah yang paling banyak bershadaqah. Adalah Zainab seorang wanita yang biasa bekerja dengan tangannya, dia biasa menyamak dan menjahit kemudian menshadaqahkan hasil kerjanya itu di jalan Allah’,” (Muttafaq Alaih)
Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Umar, “Sesungguhnya Zainab adalah wanita yang awwahah.” Seseorang bertanya, “Apa yang dimaksud dengan awwahah wahai Rasulullah?” Rasulullahs shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang khusyu lagi merendahkan diri di hadapan Allah.” (Al-Isti’ab, 4:1852)
Dari Barzah binti Rofi dia berkata, “Suatu saat Umar mengirimkan sejumlah uang kepada Zainab, ketika sampai kepadanya Zainab berkata, ‘Semoga Allah mengampuni Umar, sebenarnya selain aku lebih bisa membagi-bagikan ini,’ mereka berkata, ‘Ini semua untukmu,’ Zainab berkata, ‘Subhanallah, letakkanlah uang-uang itu dan tutupilah dengan selembar kain!’ kemudian dia bagi-bagikan uang itu kepada kerabatnya dan anak-anak yatimnya dan dia berikan sisanya kepadaku yang berjumlah delapan puluh lima dirham, kemudian dia mengangkat kedua tangannya ke langit dan berdoa, ‘Ya Allah jangan sampai aku mendapati pemberian Umar lagi setelah tahun ini.’ Tidak lama kemudian dia meninggal dunia.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Thabaqoh Kubra, 8:105-106)

Peran Zainab di Dalam Penyebaran Sunah-sunah Rasulullah

Zainab binti Jahsyi termasuk deretan istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjaga dan menyampaikan sunah-sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara deretan perawi yang meriwayatkan hadis dari beliau adalah saudaranya Muhammad bin Abdullah bin Jahsyi, Ummul Mu’minin Ummu Habibah bintu Abi Sufyan, Zainab bintu Abi Salamah, dan selain mereka dari kalangan shahabat dan tabi’in.

Wafatnya

Zainab binti Jahsyi wafat di Madinah pada tahun 20 Hijriyyah di masa kekhilafahan Umar, saat Mesir ditaklukkan oleh kaum muslimin, waktu itu beliau berusia 53 tahun. Beliau dikuburkan di pekuburan Baqi. Semoga Allah meridhainya dan membalasnya dengan kebaikan yang melimpah.
Rujukan:
Thabaqoh Kubra oleh Ibnu Sa’ad (8:101-1150, Al-Muntakhob min Kitab Azwajin Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam oleh Zubair bin Bakar (1:48), Dalail Nubuwwah 1:40-41 oleh Firyabi, Siyar A’lamin Nubala oleh Adz-Dzahabi (2:211-218), Al-Ishabah oleh Ibnu Hajar (7:667-669), dan Al-Isti’ab oleh Ibnu Abdil Barr. (4/1849-1452).
Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 6 Tahun III (Publis ulang dan edit tatabahasa  Tim KisahMuslim.com)
READ MORE - Zainab: Wanita yang Dinikahkan Langsung oleh Allah

Minggu, 30 Oktober 2011

Keteladanan Nabi Yusuf 'Alaihissalam Dalam Menghadapi Godaan Wanita


Keteladanan Nabi Yusuf 'Alaihissalam
Dalam Menghadapi Godaan Wanita
(Oleh: Ustadz ‘Ashim bin Musthafa)
(Qs Yusuf/12:33-34)
Yusuf berkata: “Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai
daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.
Dan jika tidak Engkau hindarkan diriku dari tipu daya mereka,
tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka)
dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.”.
Maka Rabbnya memperkenankan doa Yusuf,
dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka.
Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
(Qs Yusuf/12:33-34)
PENJELASAN AYAT
Kilas Balik Fitnah Wanita yang Mengancam Nabi Yusuf 'Alaihissalam
Setelah selamat dari lubang sumur dan berpindah-tangan ke pejabat besar Mesir, kemudian Nabi Yusuf 'alaihissalam tinggal dalam kemewahan. Beliau ternyata diperlakukan dengan baik, bukan layaknya budak belian pada umumnya. Tatkala usianya menginjak remaja, ketampanan paras menjadi simbol yang melekat pada beliau. Dalam peristiwa Isra‘ Mi’râj, Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam menjumpainya di langit tingkat ketiga dan beliau berkomentar: “Sungguh, ia diberi separuh ketampanan (Nabi Adam 'alaihissalam)”.[1]
Ketampanan Nabi Yusuf 'alaihissalam ini telah membuat istri majikannya terpikat, dan ia pun membuat rencana untuk memperdaya dan menjerumuskan Nabi Yusuf 'alaihissalam ke dalam perbuatan fâhisyah (perzinaan). Namun, Allâh Ta'âla melindungi beliau 'alaihissalam dari perbuatan maksiat tersebut.
Berita tergodanya istri pembesar Mesir dengan budaknya menyebar sampai ke telinga-telinga kaum Hawa pada masa itu. Awalnya, mereka mencela istri pembesar Mesir atas kejadian tersebut. Akan tetapi, wanita istri pembesar Mesir tidak kurang akal. Ia menempuh sebuah cara supaya wanita-wanita itu membenarkan dirinya sehingga sampai terpikat dengan seorang remaja bernama Yusuf.
Maka didatangkanlah wanita-wanita itu supaya menyaksikan sendiri ketampanan Nabi Yusuf 'alaihissalam. Ternyata benar, mereka benar-benar tersihir oleh keelokannya. Bahkan mereka menganggapnya sebagai malaikat, lantaran sedemikian tampan paras beliau.
Keterpukauan dan kekaguman ini sampai mengakibatkan mereka tidak menyadari telah mengiris tangan-tangan mereka sendiri dengan pisau-pisau yang sengaja telah disediakan oleh istri pembesar Mesir, untuk membalas tipu daya wanita-wanita tersebut, yang sebenarnya juga memendam hasrat besar untuk menyaksikan keelokan wajah Nabi Yusuf 'alaihissalam dengan mata kepala mereka sendiri. Bukan murni untuk mencela istri sang pembesar Mesir itu.
Selanjutnya, istri pembesar Mesir memberitahukan kepada para wanita yang hadir, mengenai kepribadian bagus yang tertanam pada diri Nabi Yusuf 'alaihissalam. Yaitu, sifat ‘iffah (ketangguhan untuk menjaga kehormatan diri), tidak sudi menyambut ajakan berbuat tidak senonoh. Karena penolakan itu, muncullah ancaman dari mulut wanita istri pembesar Mesir itu. Yakni dijebloskannya Nabi Yusuf 'alaihissalam ke dalam penjara dan hidup dalam keadaan terhina.

Nabi Yusuf 'Alaihissalam Memohon Perlindungan kepada Allâh Ta'âla.
Saat itulah Nabi Yusuf 'alaihissalam berlindung diri kepada Rabb-nya, dan beliau memohon pertolongan kepada-Nya dari keburukan dan tipu-daya.
(Qs Yusuf/12:33)
Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku
(QS Yusuf/12:33)
Ini menunjukkan bahwa para wanita itu menyarankan Nabi Yusuf 'alaihissalam supaya patuh terhadap tuan putrinya, dan mengupayakan untuk memperdaya Yusuf 'alaihissalam dalam masalah ini. Akan tetapi, Nabi Yusuf 'alaihissalam lebih menyukai terkurung dalam penjara dan siksaan duniawi ketimbang kenikmatan sesaat yang akan mendatangkan siksaan pedih.[2]
Sekaligus, ayat di atas juga mencerminkan bahwasanya istri pejabat itu masih saja mendesak Nabi Yusuf 'alaihissalam untuk mau menerima ajakannya, dan mengancamnya dengan penjara dan kurungan, bila menolak ajakan itu. Pasalnya, seandainya wanita itu tidak menekan dan melancarkan ancaman, maka mustahil membuat Nabi Yusuf 'alaihissalam sampai mengatakan “Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku”.[3]
Walaupun banyak kondisi yang sangat mendukung terjadinya perbuatan zina yang nanti akan dikemukakan satu-persatu, tetapi Nabi Yusuf 'alaihissalam lebih mengutamakan ridha dan rasa takut kepada Allâh Ta'âla. Begitu juga kecintaan kepada-Nya, telah mendorongnya untuk memilih hari-harinya hidup di bui daripada berbuat zina.[4]
(Qs Yusuf/12:33)
Dan jika tidak Engkau hindarkan diriku dari tipu daya mereka,
tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka)
Jika Engkau (wahai Rabb-ku) menyerahkan pengendalian urusan ini kepada diriku sendiri, sesungguhnya aku lemah, tiada daya, tidak mempunyai kekuatan, tidak sanggup mendatangkan bahaya dan kemanfaatan kecuali dengan bantuan dan kekuatan-Mu. Engkaulah tempat memohon pertolongan, kepada-Mulah tempat sandaran, jangan Engkau serahkan pada diriku sendiri.[5]
dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh
Imam ath-Thabari rahimahullâh mengatakan: “Dengan kecondonganku kepada mereka, aku akan menjadi orang-orang yang tidak mengetahui hak-Mu dan menentang perintah dan larangan-Mu”.[6]
Penyambutan terhadap ajakan itu, menyebabkan seseorang terjerumus dalam dosa dan berhak menyandang celaan atau telah bertindak dengan perbuatan orang-orang yang tolol. Karena berarti lebih mengutamakan kenikmatan sesaat, dan akan sangat menyengsarakannya di akhirat kelak daripada kenikmatan abadi dan kesenangan yang beraneka macam di Jannatun-Na’im. Orang yang memilih ini (memenuhi ajakan berbuat maksiat, red) daripada itu (menolaknya, red), apakah ada orang yang lebih bodoh darinya?[7] Dan berdasarkan ijma’ para ulama, orang yang dipaksa berzina dengan ancaman penjara, tetap saja tidak boleh untuk melakukannya.[8]
Ibnul-Qayyim rahimahullâh berkata: “Ia mengetahui kalau dirinya tidak mampu menghindarkan diri dari ajakan itu. Seandainya Rabb-nya tidak menjaga dan menyelamatkannya dari makar para wanita itu, atas dasar nalurinya akan condong kepada mereka dan termasuk dalam golongan orang-orang yang bodoh. Ini merupakan indikasi kesempurnaan ma’rifat beliau kepada Allâh dan dirinya (yang lemah)”.[9]
Dengan ini, Nabi Yusuf 'alaihissalam berarti telah mencapai kedudukan yang sempurna. Faktor-faktor yang mendukung terjadinya perzinaan, seperti usianya yang remaja dan anugerah ketampanan dan kesempurnaan pribadi, digoda oleh majikan wanita, seorang istri pejabat Mesir yang juga berwajah elok, kaya dan berkedudukan, namun keadaan seperti itu tidak menggoyahkan keteguhan hati Nabi Yusuf 'alaihissalam. Beliau lebih memilih hidup terhina dalam jeruji penjara daripada melakukan perbuatan buruk, karena beliau takut kepada Allâh Ta'âla dan berharap pahala dari-Nya.[10]
Syaikh as-Sa’di rahimahullâh menyebutkan rahasia Nabi Yusuf 'alaihissalam dapat selamat dari keadaan genting tersebut. Yakni, (setelah taufiq dari Allâh Ta'âla), juga karena ilmu dan akal pikiran sehat yang mengajaknya untuk lebih mengutamakan kemaslahatan dan kenikmatan yang terbesar, serta lebih mengedepankan perkara yang kesudahannya terpuji.[11]
Artinya, ketika aspek jahâlah (kebodohan) membelenggu manusia, baik masih dalam taraf yang ringan ataupun sudah pekat. Hawa nafsu manusia selalu berbisik kepada obyek yang buruk-buruk, yang tidak bermanfaat lagi membahayakannya di hari esok. Demikian ini, lantaran sisi jahâlah (kebodohan) yang menguasai jiwa tersebut. Oleh karena itu, siapa saja yang mencermati Al-Qur‘anul-Karim, maka akan berhenti pada kesimpulan bahwa faktor kebodohanlah yang menjadi pemicu terjadinya dosa-dosa dan maksiat. Tidak mengherankan bila Nabi Yusuf 'alaihissalam, seperti yang diceritakan oleh Allâh Ta'âla pada ayat di atas, akan menilai dirinya sebagai manusia bodoh jika menyambut ajakan wanita istri penguasa Mesir, majikannya.
Nabi Yusuf 'alaihissalam berkata: “Dan jika tidak Engkau hindarkan diriku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh”.
Imam al-Baghawi rahimahullâh berkata: “Pada ayat ini terdapat dalil, bahwa seorang mukmin yang berbuat dosa, ia melakukannya karena dorongan unsur jahâlah (kebodohan pada dirinya, Red.)”.[12]
Begitu juga Syaikh Abu Bakar al-Jazâiri hafizhahullâh mengatakan, tidak mengenal (al-jahlu) Allâh, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, janji baik dan ancaman, serta tidak mengenal syariatnya merupakan penyebab terjadinya setiap kejahatan di dunia.[13] Banyak ayat yang menjelaskan pengertian yang sama (al-jahlu) dengan ayat di atas.
Di antaranya Allâh Ta'âla berfirman saat menceritakan kaum Nabi Musa 'alaihissalam, yang artinya: Bani Israil berkata: “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala)”. Musa menjawab : “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Ilah)”. (Qs al-A’râf/7:138)
Firman Allâh Ta'âla, yang artinya: Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu melihat(nya)?” Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu(mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)”. (Qs an-Naml/27: 54-55).
Firman Allâh Ta'âla, yang artinya: Katakanlah:”Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?” (Qs az-Zumar/39:64).
Oleh sebab itu, siapa saja yang bermaksiat kepada Allâh Ta'âla dan melakukan perbuatan dosa, maka orang itu adalah jâhil (bodoh), sebagaimana telah menjadi kenyataan yang dimaklumi oleh generasi Salafush-Shalih.
Allâh Ta'âla berfirman :
(Qs an-Nisâ‘/4:17)
Sesungguhnya taubat di sisi Allâh hanyalah taubat
bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan,
yang kemudian mereka bertaubat dengan segera,
maka mereka itulah yang diterima Allâh taubatnya.
(Qs an-Nisâ‘/4:17)
Makna bi jahâlah adalah kebodohan (ketidaktahuan) pelakunya terhadap akibat buruk dari perbuatannya, yang dapat mendatangkan kemurkaan dan siksa Allâh Ta'âla. Sehingga setiap orang yang bermaksiat kepada Allâh Ta'âla, maka ia bodoh ditinjau dari segi ini. Kendatipun ia mengetahui (memiliki ilmu) kalau perbuatan itu memang diharamkan; kebodohannya terhadap pengawasan Allâh Ta'âla, kebodohannya terhadap dampak maksiat yang bisa mengurangi keimanan atau menghapuskannya.
Qatadah rahimahullâh berkata, ”Para sahabat Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallampernah berkumpul, dan mereka memandang setiap perkara yang dengannya Allâh didurhakai, berarti itu bentuk jahâlah (kebodohan), baik dikerjakan dengan sengaja maupun tidak.”
As-Suddi rahimahullâh berkata: “Selama seseorang masih bermaksiat kepada Allâh Ta'âla , berarti ia masih bodoh”.[14]
Maka Rabb-nya memperkenankan doa Yusuf
dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka
Wanita itu masih saja bernafsu menggoda Nabi Yusuf 'alaihissalam, dan ia menempuh segala cara yang mampu ia lakukan, tetapi Nabi Yusuf 'alaihissalam tidak bergeming, dan membuatnya patah arang, dan Allâh pun memalingkan tipu-daya mereka dari Nabi Yusuf 'alaihissalam.
Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar
Ini merupakan wujud pertolongan Allâh Ta'âla kepada Nabi Yusuf 'alaihissalam dari fitnah yang menghimpit dan berat ini.[15]
Mengapa disebutkan bahwa Allâh Ta'âla memperkenankan doa Nabi Yusuf 'alaihissalam, padahal tidak ada doa yang muncul dari bibirnya, dan Nabi Yusuf 'alaihissalam hanya mengungkapkan jika penjara lebih disukainya daripada bermaksiat kepada Allâh Ta'âla?
Jawabnya, lantaran dengan itulah Nabi Yusuf 'alaihissalam menyampaikan pengaduan kepada Allâh Ta'âla dan [Dan jika tidak Engkau hindarkan diriku dari tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka)] mengandung makna permohonan doa Nabi Yusuf 'alaihissalam kepada Allâh Ta'âla agar dihindarkan dari makar para penggoda. Oleh karena itu, lantas Allâh Ta'âla mengabulkan doanya.[16]
Dalam konteks ini, sudah tentu Nabi Yusuf 'alaihissalam masuk dalam kandungan hadits tujuh golongan yang meraih naungan Allâh Ta'âla pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya.
Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda:
سـَــبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِـي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ (و فيه) وَرَجُلٌ ظَلــَــبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَـمَالٍ فَقَالَ إِنِّـي أَخَافُ اللهَ
Ada tujuh golongan, Allâh akan menaungi mereka dengan naungan-Nya
pada hari tiada naungan kecuali naungan dari-Nya.
(Salah satunya disebutkan):
Seorang lelaki yang diajak seorang wanita
yang memiliki kedudukan dan paras elok (untuk berbuat zina),
akan tetapi ia mengatakan: “Saya takut kepada Allâh”. 
(HR al-Bukhari dan Muslim).

WANITA, FITNAH PALING BERBAHAYA BAGI LELAKI
Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kaum lelaki, bahwa fitnah wanita merupakan fitnah terberat yang dirasakan seorang lelaki. Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِـتْـنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ
Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku sebuah fitnah
yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki melebihi fitnah wanita.
(HR al-Bukhari dan Muslim).
Bahkan sejumlah ulama menyimpulkan, bahwasanya makar dan tipu daya wanita lebih berbahaya dari pada tipu daya setan. Yaitu dengan membandingkan penjelasan Allâh Ta'âla tentang tipu daya setan dengan tipu daya wanita.
Firman Allâh Ta'âla tentang tipu daya setan, (karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah) -Qs an-Nisâ‘/4 ayat 76- sedangkan mengenai tipu-daya wanita, Allâh Ta'âla berfirman (Sesungguhnya tipu daya mereka itu sangat besar) -Qs Yusuf/12 ayat 28. Komparasi ini menunjukkan bahwa tipu daya wanita lebih berbahaya daripada tipu daya setan.[17]

ALANGKAH DAHSYAT FITNAH YANG MENIMPA NABI YUSUF 'ALAIHISSALAM[18]
Allâh Ta'âla telah menyampaikan betapa besarnya fitnah perzinaan yang menghadang Nabi Yusuf 'alaihissalam. Banyak faktor yang dapat menjerumuskan Nabi Yusuf 'alaihissalam ke dalam lembah kenistaan, yang tidak pernah dijumpai oleh siapapun.
Penjelasannya sebagai berikut:
  1. Naluri Nabi Yusuf 'alaihissalam sebagai lelaki, beliau memiliki hasrat terhadap perempuan.
  2. Status sebagai pemuda, yang umumnya memiliki rangsangan nafsu syahwat yang kuat. Terlebih lagi statusnya juga masih lajang, tanpa budak perempuan yang dapat dijadikan untuk menyalurkan hasrat kelelakiannya, sekaligus tak ada anggota keluarga yang membebaninya.
  3. Ketampanan yang dimiliki Nabi Yusuf 'alaihissalam menjadi sumber daya pikat yang sangat berpengaruh, sehingga menyebabkan wanita tertarik kepadanya.
  4. Keberadaannya sebagai orang asing, jauh dari keluarga dan kampung halaman. Kebiasaan orang yang bermukim di lingkungan sendiri akan merasa malu berbuat tidak senonoh. Khawatir bila perbuatan nistanya terbongkar, yang pada gilirannya kehormatannya pun bisa terpuruk di mata masyarakatnya. Akan tetapi, meski di tempat asing, Nabi Yusuf 'alaihissalam tidak ternoda dengan godaan.
  5. Statusnya yang seperti mamlûk (budak belian). Seorang budak, ia sering keluar-masuk ke tempat majikan. Dia pun tidak terlalu memikirkan hal-hal yang dihindari oleh seseorang yang merdeka.
  6. Si wanita penggoda memiliki status sosial tinggi, sekaligus rupawan.
  7. Yang memulai menggoda adalah wanita itu, bukan Nabi Yusuf 'alaihissalam. Sehingga hilanglah beban seorang lelaki untuk melancarkan jurus-jurus cinta untuk bisa merayu seorang wanita. Hilang pula perasaan takut ditolak wanita itu. Belum lagi agresivitas wanita tersebut dalam mendekati Yusuf 'alaihissalam, yang berarti tindakannya itu bukan ditujukan untuk menguji ketahanan dan kesucian Nabi Yusuf 'alaihissalam, tetapi benar-benar mengajaknya berbuat nista. Akan tetapi, Nabi Yusuf 'alaihissalam bisa menjaga diri sehingga terhindar dari perbuatan yang menjijikkan.
  8. Tempat kejadian berada di dalam rumah yang berada dalam kekuasaan pemilik, yaitu wanita penggoda tersebut. Sehingga ia leluasa dan mengetahui waktu-waktu yang sepi, hingga memungkinkannya melakukan perzinaan tanpa diketahui orang lain. Wanita itu pun melakukan ancaman bila hasratnya tidak dipenuhi, Tetapi Nabi Yusuf 'alaihissalam menghindar dan menolaknya.
  9. Begitu pula wanita pemilik rumah telah mengunci pintu-pintu dengan rapat, untuk mengantipasi masuknya seseorang secara mendadak. Keadaan rumah benar-benar kosong kecuali Nabi Yusuf 'alaihissalam dan wanita itu. Tetapi Nabi Yusuf 'alaihissalam tetap tegar untuk tidak melakukannya.
  10. Ketika gagal merayu Nabi Yusuf 'alaihissalam, maka wanita istri pembesar itu mengundang kaum wanita lainnya, sehingga timbul opini untuk memojokkan Nabi Yusuf 'alaihissalam.
  11. Adapun suami wanita pembesar itu tidak terlalu memperlihatkan kecemburuan, sehingga memisahkan keduanya. Terhadap perbuatan nista istrinya, sang pembesar hanya meminta agar Nabi Yusuf 'alaihissalam melupakan kejadian tersebut, dan menuntut istrinya untuk bertaubat. Padahal, kecemburuan seorang suami dapat menjadi penangkal yang tepat dalam kasus semacam ini, supaya tidak terulang di kemudian hari.
Walaupun sangat mencekam, Nabi Yusuf 'alaihissalam tidak sudi menyambut ajakan wanita itu. Dia lebih mengutamakan hak Allâh Ta'âla daripada hak majikan wanitanya. Allâh Ta'âla telah menjaga kehormatannya. Mengapa Nabi Yusuf 'alaihissalam dikatakan berhasil menjaga kehormatannya, padahal Al-Qur‘ân menyatakan kalau Nabi Yusuf pun memiliki keinginan (sebagaimana disampaikan Allâh Ta'âla dalam Qs Yusuf/12:24)?
(Qs Yusuf/12:24)
Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud
(melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf,
dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu
andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Rabbnya.
(Qs Yusuf/12:24)
Jawabnya,[19] al hamm (keinginan) yang muncul dari beliau hanya sekedar khatharât(bisikan hati semata), yang kemudian ia singkirkan karena Allâh Ta'âla. Maka Allâh Ta'âla membalasnya dengan kebaikan. Sedangkan hasrat yang berkecamuk pada wanita itu adalahhamm ishrâr (hasrat yang terus-menerus). Dia mengerahkan segala upaya untuk mewujudkannya. Akan tetapi gagal.
Jadi, keinginan yang ada pada Nabi Yusuf 'alaihissalam dengan wanita itu berbeda. Imam Ahmad rahimahullâh berkata: “Keinginan itu ada dua macam, hamm khatharât (keinginan yang melintas) dan ishrâr (keinginan yang menetap). Hammul-khatharât tidak diperhitungkan sebagai dosa, dan hammul-ishrâr diperhitungkan sebagai dosa “.
Ringkasnya, Allâh Ta'âla telah memberikan perlindungan kepada Nabi Yusuf 'alaihissalam dengan berbagai faktor pendukung, sehingga beliau terhindar dari perbuatan nista tersebut. Faktor-faktor itu meliputi: ketakwaan kepada Allâh, memperhatikan hak majikan yang telah memuliakannya, memelihara diri dari tindakan aniaya (yang tidak akan membuat pelakunya selamat). Begitu juga, Allâh Ta'âla memberikan anugerah berupa keteguhan iman, sehingga menghasilkan ketaatan untuk mengerjakan perintah-perintah dan menghindari larangan-larangan-Nya.
Substansi dari perlindungan itu, Allâh Ta'âla telah memalingkan Nabi Yusuf 'alaihissalam dari keburukan dan perbuatan keji, karena ia tergolong hamba-Nya yang ikhlas kepada-Nya dalam beribadah. Allâh Ta'âla juga telah mengikhlaskan hati, memilih dan mengistimewakannya, mencurahkan kepada beliau berbagai kenikmatan, dan menyelamatkannya dari berbagai keburukan. Dengan pemeliharaan Allâh itu, Nabi Yusuf 'alaihissalam pun menjadi insan pilihan-Nya.
Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian.
Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih.
(Qs Yusuf/12:24)
Syaikhul-Islam rahimahullâh berkata: “Seandainya Nabi Yusuf 'alaihissalam telah berbuat dosa, niscaya akan bertaubat. Sesungguhnya Allâh Ta'âla tidak menyebutkan kejadian dosa pada nabi kecuali disertai dengan taubat. Sedangkan (di sini), Allâh Ta'âla tidak menyebut masalah taubat. Sehingga dalam kasus yang dialaminya itu dapat diketahui, beliau 'alaihissalam sama sekali tidak berbuat dosa. Wallâhu a’lam”. [20]

PELAJARAN AYAT
  1. Nabi yusuf 'alaihissalam lebih memilih menghuni penjara daripada berbuat maksiat. demikianlah seharusnya seorang hamba, bila di hadapkan pada dua pilihan ujian: berbuat maksiat atau hukuman duniawi, maka ia memilih sanksi duniawi ketimbang melakukan perbuatan dosa yang mendatangkan hukuman berat di dunia dan akhirat. Karena itulah, termasuk dari tanda keimanan, yaitu seorang hamba benci kembali kepada kekufuran setelah diselamatkan Allâh Ta'âla darinya, sebagaimana ia benci dicampakkan ke nyala api.
  2. Nabi Yusuf 'alaihissalam memilih masuk penjara daripada melakukan kemaksiatan meskipun dibawah ancaman. Sikap ini termasuk dalam kategori tanda kebenaran iman.
  3. Nabi Yusuf 'alaihissalam memilih bahaya yang lebih ringan. Ini merupakan kaidah syar’iyyah yang telah dipakai oleh ulama-ulama terdahulu, untuk menghindari bahaya yang lebih berat.
  4. Menghuni penjara tidak selalu menjadi bukti bahwa orang itu berkelakukan buruk. Sebab, seperti dicontohkan, Nabi Yusuf 'alaihissalam adalah kekasih Allâh Ta'âla . Bahkan masuk penjara bisa menjadi tonggak awal bagi masa depan yang lebih baik.
  5. Jika seorang hamba menyaksikan sebuah tempat yang mengandung fitnah dan faktor-faktor penggoda untuk berbuat maksiat, semestinya ia bergegas pergi dan menjauh darinya.
  6. Mewaspadai bahaya khalwat, Yaitu seseorang laki-laki berduaan dengan wanita asing. Juga, harus mewaspadai getaran cinta yang ditakutkan memantik bahaya.
  7. Hasrat yang muncul pada Nabi Yusuf 'alaihissalam terhadap wanita tersebut, yang kemudian ia singkirkan karena Allâh Ta'âla, menjadi salah satu tangga yang mengangkatnya kepada Allâh Ta'âla menuju kedudukan yang dekat dengan-Nya.
  8. Seorang hamba, seharusnya selalu mencari perlindungan kepada Allah dan bernaung di bawah pemeliharaan-Nya ketika berhadapan dengan pemicu-pemicu maksiat, kemudian berlepas diri sikap percaya diri yang ada pada daya dan kekuatan pribadinya.
  9. Seseorang tidak terpelihara dari maksiat kecuali karena pertolongan dari Allâh Ta'âla.
  10. Allah tidak akan menyia-nyiakan keteguhan iman, keseriusan hati, dan usaha seorang hamba yang muhsin.
  11. Seseorang yang sudah tercelup keimanan pada hatinya, ia adalah seorang yang ikhlas karena Allah pada semua perbuatannya. Allâh Ta'âla akan menyingkirkan berbagai kejelekan, perbuatan keji dan maksiat (dari dirinya) dengan kekuatan iman dan keikhlasannya, sebagai balasan bagi keimanan dan keikhlasannya. Allâh Ta'âla telah berfirman, yang artinya;"Demikianlah agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih."
  12. Kisah ini menunjukkan keindahan batin Nabi Yusuf 'alaihissalam, yaitu sifat iffah (penjagaan kehormatan diri) yang besar dari godaan maksiat.
  13. Sesungguhnya ilmu yang benar dan akal yang sehat akan membimbing pemiliknya kepada kebaikan dan menahannya dari kejelekan. Sebaliknya, kebodohan akan menjerumuskan seseorang selalu memperturutkan bisikan hawa nafsunya, walaupun merupakan maksiat yang berbahaya bagi pelakunya.
  14. Kisah dalam ayat ini memperlihatkan tentang buruknya kebodohan, dan celaan bagi orang bodoh (jahil).

Maraji‘:
  1. Al-Qur‘ân dan Terjemahannya, Cet. Mujamma’ Malik Fahd, Madinah.
  2. Ad-Dâ‘ wad-Dawâ‘, Imam Ibnul-Qayyim, KSA, Cet. III, Th. 1419 H – 1999 M.
  3. Adhwâul-Bayâni fi Idhâhil-Qur‘âni bil-Qur‘ân, Syaikh Muhammad al-Amîn asy-Syinqithi, Maktabah Ibni Taimiyyah, Kairo, Mesir, 1415 H - 1995 M.
  4. Ahkâmul-Qur‘ân, Abu Bakr Muhammad bin ‘Abdullah (Ibnul-’Arabi), Tahqiq: ‘Abdur-Razzâq al- Mahdi, Dârul- Kitâbil ‘Arabi, Cet I, Th. 1421 H – 2000 M.
  5. Aisarut-Tafâsîr, Abu Bakar Jâbir al-Jazâiri, Maktabah ‘Ulum wal-Hikam, Madinah.
  6. Al-Jâmi li Ahkâmîl-Qur‘ân (Tafsir al-Qurthubi), Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshâri al-Qurthubi, Tahqiq: ‘Abdur-Razzâq al-Mahdi, Dârul-Kitâbil-’Arabi, Cet. IV, Th. 1422H - 2001M.
  7. Asbâbu Ziyâdatil-Imân wa Nuqshâni, Prof. Dr. ‘Abdur- Razzâq bin Abdul-Muhsin al-’Abbâd, Penerbit Ghirâs, Cet. III, Th. 1424 H - 2003 M.
  8. Ithâful Ilf bi Dzikril-Fawâidil-Alfi wan-Naif min Sûrati Yûsuf 'Alaihissalam, Muhammad bin Mûsa Alu Nashr dan Salîm bin ‘Id al- Hilâli, Maktabah ar-Rusyd, Cet. I, Th. 1424 H - 2003 M.
  9. Jami’ul-Bayân ‘an Ta`wîl Ay Al-Qur`ân, Abu Ja’far Muhammad bin Jarîr ath-Thabari, Dar Ibnu Hazm, Cet. I, Th. 1423 H – 2002 M.
  10. Ma’âlimut-Tanzîl, Imam Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ûd al-Baghawi, Tahqîq dan Takhrîj: Muhammad ‘Abdullah an-Namr, ‘Utsmân Jum’ah Dhumairiyyah, dan Sulaimân Muslim al-Kharsy Dâr Thaibah, Th. 1411 H.
  11. Tafsîrul-Qur‘ânil-’Azhîm, al-Hafizh Abul-Fida Isma’îl bin ‘Umar bin Katsîr al-Qurasyi, Tahqîq: Sâmi bin Muhammad as- Salâmah, Dar Thaibah, Riyâdh, Cet. I, Th. 1422 H - 2002 M.
  12. Taisîrul-Karîmir-Rahmân, ‘Allâmah Syaikh Abdur-Rahmân bin Nâshir as-Sa’di, Dârul-Mughni, Riyadh, Cet. I, Th. 1419 H – 1999 M.

[1]
HR Muslim no. 162 dari Sahabat Anas bin Mâlik radhiyallâhu'anhu. As-Suhaili dan imam yang lain menyatakan: Maknanya separuh ketampanan Nabi Adam 'alaihissalam, karena Allâh Ta'âla telah menciptakan Adam 'alaihissalam dengan tanganNya dan meniupkan ruh ciptaanNya, sehingga jadilah beliau pada puncak ketampanan manusia. (Qashashul Ambiya’ karya Imam Ibnu Katsir).
[2]
Al-Jâmi’ li Ahkâmil-Qur‘ân (9/159), Taisîrul-Karîmir-Rahmân, hlm. 419.
[3]
Jâmi’ul-Bayân ‘an Ta`wîli Ay Al-Qur`ân (12/262).
[4]
Ad-Dâ‘ wad-Dawâ‘, hlm. 322.
[5]
Tafsîrul-Qur‘ânil-’Azhîm (4/386).
[6]
Jâmi’ul-Bayân ‘an Ta`wîli Ay Al-Qur`ân (12/263).
[7]
Taisîrul-Karîmir-Rahmân, hlm. 419.
[8]
Ahkâmul-Qur‘ân (3/39).
[9]
Ad-Dâ‘ wad-Dawâ‘, hlm. 322.
[10]
Tafsîrul-Qur‘ânil-’Azhîm (4/386-387).
[11]
Taisîrul-Karîmir-Rahmân, hlm. 419.
[12]
Ma’âlimut-Tanzîl (4/239).
[13]
Aisarut-Tafâsîr (2/610).
[14]
Tentang korelasi antara kebodohan dengan perbuatan maksiat seorang muslim, dikutip dari kitab Asbâbu Ziyâdatil-Imân wa Nuqshânihi, hlm. 62-64.
[15]
Taisîrul-Karîmir-Rahmân, hlm. 419.
[16]
Jâmi’ul-Bayân ‘an Ta`wîli Ay Al-Qur`ân (12/264).
[17]
Adhwâ-ul Bayân (3/63).
[18]
Diringkas dari ad-Dâ‘ wad-Dawâ‘, hlm. 319-322. Lihat Tafsîrul-Qur‘ânil-’Azhîm (4/387) dan Taisîrul-Karîmir-Rahmân, hlm. 419.
[19]
Ithâful lf bi Dzikril-Fawâidil-Alfi wan-Naif min Sûrati Yûsuf 'Alaihissalam (1/324).
[20]
Al-Fatâwa (15/149, 17/30-31).

(Majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XI)
READ MORE - Keteladanan Nabi Yusuf 'Alaihissalam Dalam Menghadapi Godaan Wanita
 
Free counters!