rss

Rabu, 25 April 2012

Manfaat Mengangkat Tangan Ketika Berdoa



Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Jika engkau perhatikan hikmah yang menakjubkan dari syariat agama Islam ini, maka tidak ada untaian kalimat yang bisa menerangkannya dan tidak ada satu pun akal yang bisa menciptakan sebuah syariat (aturan) yang lebih sempurna darinya. Cukuplah sebagai sebuah kesempurnaan akal apabila ia (berhasil ed.) mengetahui keagungan dan keutamaannya.” (Miftah Darus Sa’adah, 2:308)

Di antara makna dan hikmah yang tersembunyi di balik syariat mengangkat tangan dalam berdoa adalah:

1. Menunjukkan kerendahan, hajat, dan kebutuhan seseorang kepada Allah Ta’ala. Dengan ini seseorang akan bertambah khusyu dalam doanya dan itu merupakan sebab diterimanya doa Allah Ta’ala berfirman,
Wahai sekalian manusia, kalian adalah faqir (membutuhkan) Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fahir: 15)
Imam As Safarini mengatakan, “Para ulama’ mengatakan, ‘Disyariatkannya mengangkat tangan dalam berdoa adalah supaya lebih merendahkan diri kepada Allah. Dengan melakukan itu seseorang benar-benar menunjukkan tadhorru’ (perendahan diri) dalam beribadah kepada Allah. Juga terkadang seseorang tidak mampu untuk membangunkan hatinya dari kelalaian, maka ia bisa melakukannya dengan tangan dengan lisan ketika berdoa. Ini semua adalah salah satu cara untuk menuju khusunya hati.” (Syarah Tsulatsiyat Musnad, 1:655)
2. Dalam mengangkat tangan terdapat makna bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang mengatur alam semesta, dan berbuat sekehandak-Nya. Oleh karena itulah, Dia berhak diibadahi dan dimintai serta menerima perendahan diri hamba-Nya dengan serendah-rendahnya. Karena barang siapa yang menyombongkan diri kepada-Nya akan memperoleh kehinaan dan orang yang tidak butuh dengan karunia-Nya akan memperoleh kefaqiran.
3. Dalam mengangkat tangan juga menunjukkan bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Pengasih dan Pemurah yang akan mengabulkan semua permintaan hamba-Nya. Tidak ada dosa yang tidak bisa diampuni oleh-Nya, tidak ada kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi-Nya, oleh karena itu, Allah Malu melihat hamba-Nya yang mengangkat tangan kepada-Nya kemudian tangannya kembali dalam keadaan hampa, sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah.
4. Mengangkat tangan saat berdoa menunjukkan bahwa Allah berada di atas, tepatnya di Arsy di atas langit ke tujuh.
Sumber: Ahmadsabiq.com
READ MORE - Manfaat Mengangkat Tangan Ketika Berdoa

Selasa, 24 April 2012

Kaitan Nyeri Pinggang dengan Ginjal


Kaitan Nyeri Pinggang dengan Ginjal

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum
Usia saya 26 tahun, saya bekerja 8 jam dalam ruangan AC, duduk dan menghadap monitor, pulang pergi ke kantor naik motor sejauh kurang lebih 40 km, intinya saya lebih sering posisi duduk dan jarang gerak. Beberapa bulan terakhir pinggang bawah (belakang pusar) agak ke bawah sedikit, terasa nyeri apalagi dalam posisi membungkuk (saat wudu/ruku’). Apakah yg terjadi pada saya Dok? Apakah ada gejala penyakit ginjal? Adakah tips/terapi/senam yang bisa saya lakukan? Adakah ramuan alami yang dapat saya konsumsi untuk nyeri pinggang tersebut?
Terima kasih atas jawabanya.
Dari: Sandi
Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
Saudaraku yang semoga senantiasa dalam limpahan rahmat dan taufik Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebelumnya kami ucapkan terima kasih atas pertanyaan yang Saudara ajukan. Semoga sedikit informasi berikut dapat membantu.

Hubungan Antara Banyak Minum dan Gerak dengan Kerja Ginjal

Saudara, sebelum menjawab pertanyaan Anda, kami ingin sedikit mengupas lebih dalam judul di atas, agar di kemudian hari kebiasaan banyak minum dan bergerak dapat diterapkan.
Ginjal merupakan salah satu organ dengan fungsi yang sangat penting bagi tubuh manusia. Ginjal sendiri merupakan organ berukuran kira-kira sebesar kepalan tangan, dan terletak di kedua sisi tulang belakang, setinggi tulang rusuk yang paling bawah. Ginjal terdiri dari unit-unit penyaring mini yang disebut nefron, yang merupakan unit fungsionalnya. Beberapa fungsi ginjal bagi tubuh manusia antara lain:
- Membuang bahan tak terpakai sisa metabolisme tubuh.
- Membuang sisa obat-obatan dalam tubuh.
- Menjaga keseimbangan cairan tubuh.
- Memproduksi hormon yang mengatur tekanan darah.
- Memproduksi bentuk aktif vitamin D yang membantu menjaga kekuatan dan kesehatan tulang.
- Mengontrol produksi sel darah merah.
Fungsi terpenting ginjal adalah menyaring zat buangan dan racun dari tubuh, dengan jumlah total penyaringan sekitar 190 l dalam 24 jam. Sebagian besarnya diserap kembali oleh tubuh, dan sekitar 1-2 l dikeluarkan dalam bentuk urin.
Fungsi dan kesehatan ginjal terkait erat satu sama lainnya. Jumlah cairan tubuh yang memadai akan membantu ginjal berfungsi dengan baik, sekaligus menjaga kesehatannya. Jumlah cairan yang dianjurkan untuk dikonsumsi per hari minimal adalah 2 l air (air putih). Konsumsi ini hendaknya ditingkatkan pada kondisi banyak berkeringat dan beraktivitas untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh.
Jika tubuh kekurangan cairan –terhadap ginjal khususnya-, maka akan timbul risiko penyakit, seperti batu ginjal. Batu ginjal muncul akibat terkonsentrasinya zat-zat tertentu dalam urin, karena urin yang pekat. Pada urin yang encer, zat tersebut sulit untuk terkumpul. Urin yang pekat disebabkan oleh kurangnya asupan cairan dalam tubuh. Selain itu, pembuangan toksin dan zat sisa lainnya tidak dapat berlangsung lancar, begitu pula aliran darah untuk memberi nutrisi pada ginjal, padahal beberapa zat toksin serta bahan obat dapat merusak ginjal secara langsung. Sehingga risiko terjadinya kerusakan pada ginjal semakin besar, yang dapat menyebabkan penyakit ginjal kronis dan gagal ginjal.
Gerak yang aktif, tentunya yang lebih bermakna adalah olahraga yang sesuai dan teratur, mempengaruhi kesehatan tubuh secara umum, termasuk ginjal. Olahraga yang teratur membantu melancarkan sirkulasi darah dari dan ke organ vital, seperti otak, jantung, dan ginjal, membantu mengefektifkan pengeluaran toksin dari tubuh, memperbaiki metabolisme tubuh, meningkatkan efektifitas kerja berbagai hormone, misalnya insulin -peranannya sangat penting dalam penyakit Diabetes-, dan mengurangi risiko penyakit seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan obesitas. Padahal diketahui bahwa penyakit-penyakit tersebut memiliki kaitan erat dengan kerusakan ginjal. Oleh karena itu, olahraga dan gerak tubuh yang cukup membantu menjaga kesehatan ginjal; baik secara langsung dengan membantu melancarkan aliran darah dan membuang racun dan tidak langsung melalui pencegahan terhadap penyakit berat lainnya yang dapat merusak ginjal.

Apakah Nyeri Pinggang Gejala Sakit Ginjal?

Nyeri pinggang semata dapat dikatakan keluhan yang tidak spesifik untuk sakit ginjal. Namun pada beberapa keadaan, penyakit ginjal memang disertai oleh sakit ginjal. Beberapa kondisi tersebut diantaranya:
  • Batu saluran kemih. Batu pada saluran kemih seperti diuraikan di atas, terbentuk dari konsentrat zat-zat tertentu yang mengkristal dalam urin dan dapat berada di mana saja di sepanjang saluran kemih. Contoh batu antara lain batu yang terbentuk dari zat kalsium dan oksalat. Gejalanya antara lain: nyeri yang berat pada salah satu atau bahkan kedua sisi punggung bagian bawah; nyeri bagian bawah punggung yang lebih ringan namun terasa tumpul, atau sakit perut yang tak kunjung sembuh, mual atau muntah, demam dan menggigil, urin yang berbau tidak sedap atau berwarna keruh.
  • Infeksi saluran kemih. Infeksi saluran kemih utamanya disebabkan virus, dapat terjadi organ perkemihan yang mana saja. Namun yang paling sering menimbulkan nyeri di daerah pinggang adalah infeksi pada ginjal dan ureter; saluran penghubung ginjal dan kandung kemih. Gejalanya adalah demam, menggigil, nyeri pinggang, nyeri ketok daerah punggung bawah, mual, muntah, lemas, dan bisa disertai urin yang keruh.
  • Penyakit lain yang bisa saja menimbulkan rasa nyeri di pinggang, atau perut bagian bawah, bisa saja berasal dari otot yang keseleo di daerah tersebut, atau penyakit usus seperti usus buntu. Kami sarankan bagi Saudara, selain meneliti gejala di atas. untuk mengetahui lebih lanjut apakah gejala yang Saudara derita berhubungan dengan penyakit saluran kemih, ada baiknya untuk melakukan pemeriksaan urin untuk memeriksa kandungan urin dan fungsi ginjal Saudara.

Tips dan Bahan Alami Untuk Mengatasi Nyeri pinggang

Beberapa tips yang kami anjurkan bagi Saudara, terutama merujuk pada gaya hidup yang Saudara jalani sekarang antara lain:
- Minumlah air putih minimal 2 l per hari. Jika aktivitas Saudara berlebih, minumlah lebih banyak. Untuk memudahkan mengingat saat kerja, selalu sediakan sebotol besar air di atas meja kerja sehingga mudah dilihat dan diraih kapan saja. Jangan tunggu sampai haus, karena ketika tubuh haus, berarti kekurangan cairan sudah terjadi.
- Usahakan untuk bergerak di saat kerja. Biasakanlah untuk bangkit dan berjalan setiap sekitar 30 menit, untuk meregangkan tubuh atau melakukan gerakan senam singkat selama 5 menit.
- Usahakan untuk meluangkan waktu untuk berolahraga rutin, minimal 30 menit setiap harinya, 5-6 kali dalam seminggu, misalnya dengan lari, jogging, skipping, atau olahraga aerobik. Teori memang lebih mudah daripada praktiknya, namun jangan pernah berhenti untuk berusaha.
- Mengurangi makanan atau minuman dengan kandungan garam berlebih.
- Memperbanyak konsumsi sayuran hijau dan buah-buahan.
- Adapun terapi dengan ramuan alami bagi keluhan Saudara, berdasarkan bukti empiris yang ada pada kami, antara lain ekstrak kumis kucing dan ekstrak tempuyung. Saudara bisa memilih mengonsumsi dalam bentuk rebusan daun segar atau ekstrak praktis yang kini tersedia di pasaran, Alhamdulillah.
Allahu Ta’ala a’lam, semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Dijawab oleh dr. Hafidz N. (Pengasuh Rubrik Kesehatan Konsultasi Syariah)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com
READ MORE - Kaitan Nyeri Pinggang dengan Ginjal

Kiat Membuang Pikiran Kotor


Pertanyaan:
Assalamu’alaikum,
Ustadz, saya ingin bertanya:  caranya untuk menghilangkan pikiran kotor? karena hal itu membuat saya tidak bisa konsentrasi dalam belajar. Apakah saya harus diruqyah? dan apakah saya harus segera menikah? terima kasih. Wassalamu’alaikum.
Dian
Jawaban Ustadz:
‘Alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,
Cara untuk menghilangkan pikiran kotor dapat dilakukan dengan beberapa hal
berikut:
Pertama,
Menjauhi segala sebab yang dapat menimbulkan hal tersebut seperti menonton film, membaca cerita porno atau berita tentang terjadinya pemerkosaan, begitu juga melihat gambar porno, serta menjaga pandangan dari melihat wanita (apa lagi di negeri kita porno aksi sebagai santapan yang biasa dinikmati), semoga Allah melindungi kita dari fitnah wanita dan fitnah dunia.
Kedua,
 pelajaran dari kisah para nabi atau orang sholeh yang mampu menjaga diri ketika dihadapkan kepada fitnah wanita, seperti kisah nabi Yusuf‘alaihissalam, betapa beliau saat digoda oleh wanita yang bangsawan lagi cantik, tapi hal itu tidak mampu menebus tembok keimanan beliau, bahkan beliau memilih untuk ditahan dari pada terjerumus ke dalam maksiat.
Ketiga,
Ingat akan besarnya pahala diri di sisi Allah yang dijanjikan bagi orang yang mampu menjaga kehormatan diri sebagaimana yang disebutkan dalam hadits tujuh golongan yang akan mendapat naungan dari Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan Allah disebutkan di antaranya adalah seorang pemuda yang diajak untuk melakukan  oleh seorang wanita cantik lagi bangsawan, anak muda itu menjawab: “Aku takut pada Allah”. Di samping mengingat tentang balasan yang akan diterimanya dalam  yaitu bidadari yang senyumnya berkilau bagaikan cahaya, silakan baca .
Keempat,
Ingat betapa besarnya azab yang akan diterima bagi orang yang melakukan zina silakan baca ayat-ayat dan hadits-hadits yang mengharamkan zina, seperti yang disebutkan dalam hadits bawa para pezina akan diazab dalam gerbong yang berbentuk kerucut, yang arah kuncupnya ke atas di bawahnya dinyalakan api bergelora dan membara, mereka melayang-layang dalam gerbong yang berbentuk kerucut tersebut karena disembur api dari bawah, tapi tidak bisa keluar karena lobang atas gerbong itu sangat kecil. Mereka berteriak dan memekik sekuat-kuatnya, sehingga pekik satu sama lainnya pun menyiksa. Semoga Allah menjauhkan kita dari api neraka.
Kelima,
Menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat, jangan banyak menyendiri dan berkhayal. Di samping selalu berdoa kepada Allah supaya dihindarkan dari berbagai maksiat.
Keenam,
Bila memiliki kemampuan untuk berkeluarga ini adalah jalan yang paling terbaik yang dianjurkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, bila tidak mampu maka usahakan berpuasa Senin Kamis, wallahu a’lam.
***
Dijawab Oleh: Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra,M.A.
READ MORE - Kiat Membuang Pikiran Kotor

Kencing Tidak Tuntas


Saya sering mengalami kencing tidak tuntas
Pertanyaan:
Assalamu’alaikum, Dok.
Saya sering mengalami kencing tidak tuntas. Setelah kencing, saya tunggu lama tetapi tidak keluar lagi. Namun, setelah saya pakai celana, kencing keluar lagi walau tidak banyak. Kadang hanya setetes, kadang hanya rembesan saja. Apakah ini penyakit atau cacat pada kandung kemih? Apa obat yang bisa saya beli di apotik? Apakah ada latihan khusus yang bisa mengurangi kelainan ini?
Mohon dijelaskan. Terima kasih.
Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Dari: Yusuf Gmail

Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
Terima kasih Saudara Yusuf atas pertanyaan Saudara. Semoga sedikit informasi berikut dapat berguna bagi Saudara.
Permasalahan keluarnya urin setelah buang air kecil (istilah medisnya post void dribbling) cukup sering dialami baik oleh pria maupun wanita dewasa. Kondisi ini bisa bersifat patologis, namun bisa juga merupakan varian normal pada pria dewasa.
Beberapa kondisi patologis terkait kelainan ini antara lain:
Pembesaran Prostat Jinak (Benign Prostatic Hyperplasia). Umumnya terjadi pada pria di atas usia 40 tahun, disertai gejala sulit atau lama saat akan memulai berkemih, pancaran urin melemah, aliran pancaran urin bercabang, rasa tidak lampias setelah buang air kecil karena masih ada sisa urin dalam kandung kemih, danpost void dribbling.
Penyempitan saluran kemih bagian bawah (striktur uretra). Dapat terjadi pada usia berapa pun, namun umumnya didahului riwayat trauma atau perlukaan pada daerah saluran kemih bawah, yang menyebabkan timbul jaringan parut di sekitarnya sehingga salurannya menyempit. Tandanya di antaranya juga pancaran urin yang melemah dan post void dribbling.
Stress Inkontinensia, banyak terjadi pada wanita, dimana saat kandung kemih penuh kemudian terjadi tekanan mendadak seperti saat batuk, bersin, atau tertawa, urin ‘bocor’ dan mengalir keluar.
Neurogenic bladder. Kandung kemih sangat mudah terstimulasi untuk berkemih, meskipun volume urin belum penuh. Biasanya penderita sangat sering bolak-balik berkemih, meskipun dalam satu kali perkemihan terasa puas, namun setelahnya cepat terdorong untuk buang air kembali.
Kanker prostat biasanya terjadi pada pria di atas usia 40 tahun, dengan gejala sedikit mirip BPH namun prostat teraba keras saat diraba dan disertai gejala penurunan kondisi fisik.
Infeksi Saluran kemih. Kadang menimbulkan gejala keinginan sering berkemih dan desakan berkemih sehingga menyebabkan dribbling/tetesan.
Meski demikian, seperti yang kami kemukakan sebelumnya, kondisi ini dapat terjadi pada pria dewasa normal, dengan penyebab yang belum diketahui sepenuhnya.
Untuk menentukan kondisi Saudara Yusuf yang sebenarnya, ada baiknya Saudara memeriksakan ke ahli kesehatan terkait, seperti Dokter Spesialis Urologi. Atau bisa juga dengan memperhatikan tanda dan gejala penyakit di atas untuk mencocokkan dengan yang Saudara alami. Meskipun kami lebih menyarankan pemeriksaan, sebab data di atas bersifat minimal. Begitu pula untuk obatnya, sebab obat atau terapi sangat terkait dengan diagnosis penyakit.
Adapun untuk mereka yang kondisi kesehatannya normal namun mengalami keluhan di atas, dapat dicoba beberapa trik berikut ini:
- Senam kegel, atau senam penguatan otot-otot dasar panggul. Panduan senam ini bisa didapatkan melalui buku atau instruktur senam yang baik.
- Menunggu beberapa saat setelah berkemih, seperti yang Saudara lakukan, bisa disertai dengan meletakkan secarik kain atau tisu pada saluran kemih untuk menyerap sisa urin yang mungkin keluar.
- Melakukan pijatan ringan setelah berkemih pada daerah sepanjang saluran kemih bawah, dimulai dari pangkal paha. Diharapkan urin dapat keluar bersamaan dengan tekanan ringan tersebut.
- Tak lupa kami anjurkan untuk memperbanyak doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diberikan kemudahan dan kesabaran dalam menghadapi kondisi saat ini.
Allahu Ta’ala a’lam,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Dijawab oleh dr. Hafidz N. (Pengasuh Rubrik Kesehatan Konsultasi Syariah)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com
READ MORE - Kencing Tidak Tuntas

Senin, 23 April 2012

APAKAH BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA MENCAKUP SEGALA HAL ?


Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin


Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Sebagian orang, beranggapan bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah dalam segala hal. Kami mohon perkenan Syaikh untuk menjelaskan batasan-batasan berbakti kepada kedua orang tua.

Jawaban
Berbakti kepada kedua orang tua adalah berbuat baik kepada keduanya dengan harta, bantuan fisik, kedudukan dan sebagainya, termasuk juga dengan perkataan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan tentang bakti ini dalam firmanNya.

“Artinya : Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kemu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” [Al-Isra : 23]

Demikian ini terhadap orang tua yang sudah lanjut usia. Biasanya orang yang sudah lanjut usia perilakunya tidak normal, namun demikian Allah menyebutkan.

“Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’”

Yakni sambil merasa tidak senang kepada keduanya.

“Dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”

Bentuk perbuatan, hendaknya seseorang bersikap santun dihadapan kedua orang tuanya serta bersikap sopan dan penuh kepatuhan karena status mereka sebagai orang tuanya, demikian berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, kasihinilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” [Al-Isra : 24]

Lain dari itu, hendaknya pula berbakti dengan memberikan harta, karena kedua orang tua berhak memperoleh nafkah, bahkan hak nafkah mereka merupakan hal yang paling utama, sampai-sampai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersada.

“Artinya : Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu” [1]

Lain dari itu, juga mengabdi dengan bentuk berbuat baik, yaitu berupa perkataan dan perbuatan seperti umumnya yang berlaku, hanya saja mengabdi dalam perkara yang haram tidak boleh dilakukan, bahkan yang termasuk baktin adalah menahan diri dari hal tersebut, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Tolonglah saudaramu baik ia dalam kondisi berbuat aniaya maupun teraniaya”

Ditanyakan kepada beliau, “Begitulah bila ia teraniaya, lalu bagaimana kami menolongnya bila ia berbuat aniaya ?” beliau menjawab.

“Artinya : Engkau mencegahnya dari berbuat aniaya” [2]

Jadi, mencegah orang tua dari perbuatan haram dan tidak mematuhinya dalam hal tersebut adalah merupakan bakti terhadapnya. Misalnya orang tua menyuruhnya untuk membelikan sesuatu yang haram, lalu tidak menurutinya, ini tidak dianggap durhaka. Bahkan sebaliknya, ia sesungguhnya telah berbuat baik, karena dengan begitu ia telah mencegahnya dari yang haram.

[Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-3, Darul Haq]
_________
Foote Note
[1] Hadits Riwayat Abu Daud dalam Al-Buyu 3530, Ibnu Majah dalam At-Tijarah 2292 dari hadits Ibnu Amr, Ibnu Majah 2291 dari hadits Jabir
[2] Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Mazhalim 24444 dari hadits Anas, Muslim meriwayatkan seperti dalam Al-Birr 2584 dari hadits Jabir, Ahmad 12666 dari Anas. Lafazh di atas adalah riwayat Ahmad



Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1484&bagian=0
READ MORE - APAKAH BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA MENCAKUP SEGALA HAL ?

SYIRIK DAN MACAM-MACAMNYA


SYIRIK DAN MACAM-MACAMNYA[1]


Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas




DEFINISI SYIRIK

Syirik yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam Rububiyyah dan Uluhiyyah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Umumnya menyekutukan dalam Uluhiyyah Allah, yaitu hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Allah, seperti berdo'a kepada selain Allah disamping berdo'a kepada Allah, atau memalingkan suatu bentuk ibadah seperti menyembelih (kurban), bernadzar, berdo'a dan sebagainya kepada selainNya.

Karena itu, barangsiapa menyembah selain Allah berarti ia meletakkan ibadah tidak pada tempatnya dan memberikannya kepada yang tidak berhak, dan itu merupakan kezhaliman yang paling besar.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar"[ Luqman: 13]

Allah tidak akan mengampuni orang yang berbuat syirik kepadaNya, jika ia meninggal dunia dalam kemusyrikannya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar".[An-Nisaa': 48]

Surga-pun Diharamkan Atas Orang Musyrik.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan Surga kepadanya, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun"[ Al-Maa'idah: 72]

Syirik Menghapuskan Pahala Segala Amal Kebaikan.
Allah Azza wa Jalla berfirman.

"Artinya : Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan"[Al-An'aam: 88]

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi"[Az-Zumar: 65]

Orang Musyrik Itu Halal Darah Dan Hartanya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : ...Maka bunuhlah orang-orang musyirikin dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian..."[At-Taubah: 5]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq melainkan Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, dan membayar zakat. Jika mereka telah melakukan hal tersebut, maka darah dan harta mereka aku lindungi kecuali dengan hak Islam dan hisab mereka ada pada Allah Azza wa jalla"[2]

Syirik adalah dosa besar yang paling besar, kezhaliman yang paling zhalim dan kemungkaran yang paling mungkar.

JENIS-JENIS SYIRIK

Syirik Ada Dua Jenis : Syirik Besar dan Syirik Kecil.

[1]. Syirik Besar
Syirik besar bisa mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menjadikannya kekal di dalam Neraka, jika ia meninggal dunia dan belum bertaubat daripadanya.

Syirik besar adalah memalingkan sesuatu bentuk ibadah kepada selain Allah, seperti berdo'a kepada selain Allah atau mendekatkan diri kepadanya dengan penyembelihan kurban atau nadzar untuk selain Allah, baik untuk kuburan, jin atau syaitan, atau mengharap sesuatu selain Allah, yang tidak kuasa memberikan manfaat maupun mudharat.

Syirik Besar Itu Ada Empat Macam.

[a]. Syirik Do'a, yaitu di samping dia berdo'a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, ia juga berdo'a kepada selainNya. [3]

[b]. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta'ala [4]

[c]. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah [5]

[d]. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan. [6]

[2]. Syirik Kecil
Syirik kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, tetapi ia mengurangi tauhid dan merupakan wasilah (perantara) kepada syirik besar.

Syirik Kecil Ada Dua Macam.

[a]. Syirik Zhahir (Nyata), yaitu syirik kecil yang dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Dalam bentuk ucapan misalnya, bersumpah dengan nama selain Allah.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kufur atau syirik"[7]

Qutailah Radhiyallahuma menuturkan bahwa ada seorang Yahudi yang datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan berkata: "Sesungguhnya kamu sekalian melakukan perbuatan syirik. Kamu mengucapkan: "Atas kehendak Allah dan kehendakmu" dan mengucapkan: "Demi Ka'bah". Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan para Shahabat apabila hendak bersumpah supaya mengucapkan, "Demi Allah Pemilik Ka'bah" dan mengucapkan: "Atas kehendak Allah kemudian atas kehendakmu"[8]

Syirik dalam bentuk ucapan, yaitu perkataan.
"Kalau bukan karena kehendak Allah dan kehendak fulan"
Ucapan tersebut salah, dan yang benar adalah.
"Kalau bukan karena kehendak Allah, kemudian karena kehendak si fulan"

Kata (kemudian) menunjukkan tertib berurutan, yang berarti menjadikan kehendak hamba mengikuti kehendak Allah.[9]

[b]. Syirik Khafi (Tersembunyi), yaitu syirik dalam hal keinginan dan niat, seperti riya' (ingin dipuji orang) dan sum'ah (ingin didengar orang) dan lainnya.

Rasulullah Shallallahu ¡¥alaihi wa sallam bersabda.

"Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil. "Mereka (para Shahabat) bertanya: "Apakah syirik kecil itu, ya Rasulullah?" .Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Yaitu riya'"[10]


[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]
_________
Foote Note
[1]. Lihat ‘Aqiidatut Tauhiid (hal. 74-80) oleh Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan.
[2]. HR. Al-Bukhari (no. 25) dan Muslim (no. 22), dari Shahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu 'anhuma.
[3]. Lihat QS. Al-Ankabut: 65.
[4]. Lihat QS. Huud: 15-16.
[5]. Lihat QS. At-Taubah: 31.
[6]. Lihat QS. Al-Baqarah: 165.
[7]. HR. At-Tirmidzi (no. 1535) dan al-Hakim (I/18, IV/297), Ahmad (II/34, 69, 86) dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu 'anhuma. Al-Hakim berkata: “Hadits ini shahih menurut syarat al-Bukhari dan Muslim.” Dan disepakati oleh adz-Dzahabi.
[8]. Lihat HR. An-Nasa'i (VII/6) dan Amalul Yaum wal Lailah no. 992, al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata dalam al-Ishaabah (IV/389): 'Hadits ini shahih, dari Qutailah Radhiyallahu 'anhuma, wanita dari Juhainah Radhiyallahu anha. Lihat Fat-hul Majiid Syarh Kitabit Tauhid (bab 41 dan 43), lihat juga di Silsilah al-Ahaadits as-Shahiihah (no. 2042).
[9]. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla dalam surat at-Takwir: 29.
[10].HR. Ahmad (V/428-429) dari Shahabat Mahmud bin Labid Radhiyallahu 'anhu. Berkata Imam al-Haitsami di dalam Majma'uz Zawaa'ij (I/102): "Rawi-rawinya shahih". Dan diriwayatkan juga oleh ath-Thabrani dalam Mu'jamul Kabiir (no. 4301), dari Shahabat Rafi¡' bin Khadiij Radhiyallahu 'anhu. Imam al-Haitsami dalam Majma'uz Zawaa-ij (X/222) berkata: "Rawi-rawinya shahih" Dan hadits ini dihasankan oleh Ibnu Hajar al-Atsqalani dalam Bulughul Maram. Dishahihkan juga oleh Syaikh Ahmad Muham-mad Syakir dalam tahqiq Musnad Imam Ahmad (no. 23521 dan 23526).



Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1740&bagian=0
READ MORE - SYIRIK DAN MACAM-MACAMNYA

Minggu, 15 April 2012

ADA SUATU HADITS YANG BERBUNYI "AMBILLAH (AYAT) APAPUN DARI AL-QUR'AN UNTUK KEPERLUAN APAPUN YANG ENGKAU INGINKAN" APAKAH HADITS INI SHAHIH ?


ADA SUATU HADITS YANG BERBUNYI "AMBILLAH (AYAT) APAPUN DARI AL-QUR'AN UNTUK KEPERLUAN APAPUN YANG ENGKAU INGINKAN" APAKAH HADITS INI SHAHIH ?


Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani


Pertanyaan.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Syaikh yang mulia! Saya membaca di sebuah kitab kecil satu hadits yang berbunyi

"Artinya : Ambillah (ayat) apapun dari Al-Qur'an untuk keperluan apapun yang engkau inginkan" [Adh-Dhoifah No. 557]

Apakah hadits ini shahih ? Kami mohon jawaban. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala membalas anda dengan kebaikan.

Jawaban.
Dalam beberapa bahasa, hadits tersebut cukup terkenal terutama lewat khutbah-khutbah dan ceramah-ceramah. Tetapi sayang sekali hadits tersebut termasuk hadits yang tidak ada asal-usulnya dalam sunnah. Oleh karena itu kita tidak boleh meriwayatkannya atau menyandarkan perkataan tersebut kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dari segi makna, hadits tersebut sangat bertentangan dengan syari'at Islam. Coba kita renungkan.

"Ambillah (ayat) apapun dari Al-Qur'an untuk keperluan apapun yang engkau inginkan"

Misalnya, seandainya kita duduk-duduk saja di salah satu ruangan di rumah kita, tidak bekerja dan tidak melakukan aktifitas apapun, sementara kita mengharapkan Allah menurunkan rezeki (uang) dari langit, dengan alasan kita mengambil/menggunakan Al-Qur'an untuk medapatkan rezeki dengan cara seperti ini. Apakah kita yang berakal sehat melakukan hal seperti ini .?

Ini adalah perkataan yang jelas-jelas batil. Hal seperti di atas hanya dilakukan orang-orang sufi pemalas yang kerjanya hanya duduk-duduk dan berdiam diri di satu tempat yang mereka namakan "tempat pengikatan". Di tempat tersebut tidak ada yang mereka lakukan kecuali menunggu-nunggu datangnya rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta'ala lewat orang-orang yang menaruh belas kasih terhadap mereka.

Ketahuilah bahwa kelakuan seperti ini bukan kebiasaan seorang muslim, sebab Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mendidik seluruh kaum muslimin untuk memiliki semangat yang tinggi, cita-cita yang luhur, serta kebanggaan diri.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang dibawah. Tangan yang di atas adalah si pemberi, sedang tangan yang di bawah adalah si peminta" [Shahih Bukhari No. 1429 dan Shahih Muslim No. 103]

Saya terkejut ketika saya membaca beberapa kisah tentang orang-orang zuhud dan orang-orang Sufi yang sengaja bepergian jauh tanpa membawa perbekalan sedikitpun. Dia mengira yang dilakukannya merupakan suatu bentuk tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Ketika tiba di suatu tempat di ditimpa kelaparan yang sangat dahsyat dan merasa seolah-olah ajal sudah dekat, tiba-tiba dari kejauhan tampak sebuah perkampungan. Dengan tertatih-tatih dia mendekati kampung tersebut. Kebetulan hari itu adalah hari Jum'at. Karena dari awal dia sudah berniat untuk "bertawaqal" hanya kepada Allah saja, maka dia tidak mau memperlihatkan dirinya yang sedang kelaparan kepada orang-orang yang berada di masjid. Dan untuk lebih menjaga rasa "tawaqalnya", dia memutuskan untuk tidak ikut shalat Jum'at di masjid kampung tersebut, tetapi malah bersembunyi di bawah mimbar agar tidak diketahui oleh siapapun.

Anehnya lagi .... ketika shalat Jum'at telah selesai dan orang-orangpun sudah banyak yang pulang serta pintu-pintu masjid sudah ditutup, dia berdehem berulangkali sambil menggerak-gerakkan badannya. Kemudian beberapa orang menghampirinya dan selanjutnya mereka memberikan pertolongan dengan minuman dan makanan.

Orang sufi itu ditanya oleh orang-orang yang menghampirinya : "Siapa anda ?" Dia menjawab : "Aku adalah seorang yang zuhud dan bertawakkal hanya kepada Allah saja" Salah seorang penduduk kampung tersebut berkata : "Kalau engkau betul-betul bertawaqal kepada Allah, kenapa engkau minta tolong kepada kami dengan cara berdehem-dehem ? Kenapa engkau tidak pasrah saja kepada Allah sampai engkau mati denan membawa dosa-dosamu?". Inilah perumpamaan dari hadits palsu di atas.

"Ambillah (ayat) apapun dari Al-Qur'an untuk keperluan apapun yang engkau inginkan"

Kesimpulannya adalah bahwa hadits tersebut tidak ada asal-usulnya sama sekali.


[Disalin kitab Kaifa Yajibu 'Alaina Annufasirral Qur'anal Karim, edisi Indonesia Tanya Jawab Dalam Memahami Isi Al-Qur'an, Penulis Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan Pustaka At-Tauhid, penerjemah Abu Abdul Aziz]



Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=299&bagian=0
READ MORE - ADA SUATU HADITS YANG BERBUNYI "AMBILLAH (AYAT) APAPUN DARI AL-QUR'AN UNTUK KEPERLUAN APAPUN YANG ENGKAU INGINKAN" APAKAH HADITS INI SHAHIH ?

PENJELASAN : DAN SEGALA SESUATU TELAH KAMI TERANGKAN DENGAN SEJELAS-JELASNYA


PENJELASAN : DAN SEGALA SESUATU TELAH KAMI TERANGKAN DENGAN SEJELAS-JELASNYA


Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani


Pertanyaan.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Syaikh yang kami muliakan ! Kami mohon keterangan dan penjelasan dari anda terhadap ayat-ayat dan hadits berikut ini.

"Artinya : Dan segala sesuatu telah kami terangkan dengan sejelas-jelasnya" [Al-Isra : 12]

"Artinya : Tidak kami tinggalkan di dalam Al-Kitab ini sesuatupun (tidak ada satupun yang tidak kami tulis di dalam kitab ini)" [Al-An'am : 38]

"Artinya : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : 'Sesungguhnya Al-Qur'an ini ujungnya ada di tangan Allah dan ujung satunya lagi ada di tangan kalian. Maka berpegang teguhlah kalian dengan Al-Qur'an, sebab kalian tidak akan sesat dan tidak akan binasa selama-lamanya selama kalian berpegang teguh dengannya" [Shahih Targhib wa Tarhib 1/93/35]

Jawaban.
Adapun ayat.

"Artinya : Tidak satupun yang tidak kami tulis di dalam Al-Kitab" [Al-An'am : 38]

Yang dimaksud "kitab" di dalam ayat ini adalah lauh mahfudz (tempat Allah menulis semua kejadian), bukan Al-Qur'anul Karim.

Tentang ayat.
"Artinya : Dan segala sesuatu telah kami terangkan dengan sejelas-jelasnya" [Al-Isra : 12]

Menurut keterangan dari Allah dan Rasul-Nya (Al-Qur'an dan Hadits) makna dari ayat ini ada dua macam.

[1]. Secara tafshil, yaitu terperinci (seperti : Shalat, zakat, haji, dan seterusnya, -pent-)
[2]. Secara mujmal, yaitu garis besarnya saja atau kaidah-kaidah/batasan-batasannya saja, (seperti masalah khamr, masalah bid'ah, tasyabuh, dan lain-lain, -pent-)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Tidak ada satupun perintah Allah yang belum aku sampaikan kepada kalian, begitu juga tidak ada satupun larangan Allah yang belum aku sampaikan kepada kalian" [Ash-Shahihah No. 1803]

Padahal kalau kita lihat hari ini, jenis khamr dan bid'ah barangkali jumlahnya mencapai puluhan bahkan mungkin ratusan. Apakah puluhan khamr dan ratusan bid'ah ini semuanya diterangkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam satu persatu ? Ternyata tidak, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam hanya mejelaskan kaidah dan batasan-batasannya saja. Di antara hadits-haditsnya adalah :

"Artinya : Tidak boleh menimpakan bahaya kepada diri sendiri dan kepada orang lain" [Shahihul Jaami' No. 7517]

"Artinya : Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap khamr adalah haram" [Irwa'ul Ghalil 8/40/2373]

"Artinya : Setiap bid'ah adalah sesat dan setiap yang sesat pasti di neraka"
[Shahih Targhib wa Tarhib 1/92/34]

Inilah kaidah-kaidah umum yang bersifat luas dan menyeluruh yang datang dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dengan kaidah-kaidah seperti ini maka seluruh permasalahan yang menyangkut tentang khamr, bid'ah, perbuatan yang membahayakan keselamatan diri sendiri, dan lain-lain, semua bisa kita tentukan hukumnya satu persatu.

Hal ini betul-betul menunjukkan bahwa Allah dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menerangkan segala hukum syar'i dengan sejelas-jelasnya. Tapi sekali lagi, keterangan-keterangan tersebut kadang-kadang hanya berupa kaidah-kaidah dan batasan saja. Tidak diperinci satu persatu.

Adapun tentang hukum-hukum fiqih seperti tata cara wudhu, shalat, pusa, zakat, haji dan lain-lain, semuanya sudah dijelaskan dan dicontohkan secara rinci di dalam sunnah. Bahkan kadang-kadang dijelaskan langsung oleh Allah di dalam Al-Qur'an. Misalnya tentang hukum faraidh (pembagian warisan).

Tentang derajat hadits yang ditanyakan di atas, hadits tersebut shahih. Mengamalkan hadits tersebut adalah dengan cara berpegang teguh dengan Al-Qur'an. Dimana disebutkan dalam hadits tersebut bahwa Al-Qur'an merupakan tali yang ujungnya ada di tangan Allah dan ujung satunya lagi ada di tangan kita. Dan kita harus tahu bahwa kita tidak mungkin bisa berpegang teguh dengan Al-Qur'an tanpa mempelajari dan mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berupa hadits-hadits yang shahih.

Sebagaimana disabdakan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Artinya : Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama-lamanya selagi kalian berpegang teguh kepada dua perkara tersebut, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Rasul" [Misykatul Mashabih 1/66/186]



[Disalin kitab Kaifa Yajibu 'Alaina Annufasirral Qur'anal Karim, edisi Indonesia Tanya Jawab Dalam Memahami Isi Al-Qur'an, Penulis Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan Pustaka At-Tauhid, penerjemah Abu Abdul Aziz]



Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=309&bagian=0
READ MORE - PENJELASAN : DAN SEGALA SESUATU TELAH KAMI TERANGKAN DENGAN SEJELAS-JELASNYA

DALAM PERTEMUAN DIPERDENGARKAN BACAAN AL-QUR'AN AKAN TETAPI YANG HADIR TIDAK MENYIMAK, SIAPAKAH YANG BERDOSA ?


DALAM PERTEMUAN DIPERDENGARKAN BACAAN AL-QUR'AN AKAN TETAPI YANG HADIR TIDAK MENYIMAK, SIAPAKAH YANG BERDOSA ?


Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani


Pertanyaan.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Apabila dalam suatu majelis (perkumpulan) diperdengarkan kaset murattal (bacaan Al-Qur'an) tetapi orang-orang yang hadir dalam perkumpulan tersebut kebanyakan mengobrol dan tidak menyimak (mendengarkan) bacaan Al-Qur'an yang keluar dari kaset tersebut. Siapakah dalam hal ini yang berdosa ? Yang mengobrol atau yang memasang kaset itu ?

Jawaban.
Apabila majelis tersebut memang majelis zikir dan ilmu yang di dalamnya ada tilawah Al-Qur'an maka siapaun yang hadir dalam majelis tersebut wajib diam dan menyimak bacaan tersebut. Dan berdosa bagi siapa saja yang sengaja mengobrol dan tidak menyimak bacaan tersebut.

Dalilnya adalah surat Al-A'raf : 204.

"Artinya : Apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah dan diamlah agar kalian mendapat rahmat"

Adapun jika majelis tersebut bukan majelis ilmu dan zikir serta bukan majelis tilawah Al-Qur'an akan tetapi hanya kumpul-kumpul biasa untuk mengobrol, diskusi, bekerja, belajar atau pekerjaan lain-lain, maka dalam suasana seperti ini tidak boleh kita mengeraskan bacaan Al-Qur'an baik secara langsung ataupun lewat pengeras suara (kaset), sebab hal ini berati memaksa orang lain untuk ikut mendengarkan Al-Qur'an, padahal mereka sedang mempunyai kesibukan lain dan tidak siap untuk mendengarkan bacaan Al-Qur'an. Jadi dalam keadaan seperti ini yang salah dan berdosa adalah orang yang memeperdengarkan kaset murattal tersebut.

Di dalam masalah ini ada sebuah contoh : Misalnya kita sedang melewati sebuah jalan, yang jalan tersebut terdengar suara murattal yang keras yang berasal dari sebuah toko kaset. Begitu kerasnya murattal ini sehingga suaranya memenuhi jalanan.

Apakah dalam keadaan seperti ini kita wajib diam untuk mendengarkan bacaan Al-Qur'an yang tidak pada tempatnya itu ? Jawabannya tentu saja "tidak". Dan kita tidak bersalah ketika kita tidak mampu untuk menyimaknya.

Yang bersalah dalam hal ini adalah yang memaksa orang lain untuk mendengarkannya dengan cara memutar keras-keras murattal tersebut dengan tujuan untuk menarik perhatian orang-orang yang lewat agar mereka tertarik untuk membeli dagangannya.

Dengan demikian mereka telah mejadikan Al-Qur'an ini seperti seruling (nyanyian) sebagaimana telah di-nubuwah-kan (diramalkan) dalam sebuah hadits shahih [Ash-Shahihah No. 979]. Kemudian mereka itu juga menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang rendah sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, hanya caranya saja yang berbeda.

"Artinya : Mereka menukar ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit" [At-Taubah : 9]



[Disalin kitab Kaifa Yajibu 'Alaina Annufasirral Qur'anal Karim, edisi Indonesia Tanya Jawab Dalam Memahami Isi Al-Qur'an, Penulis Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan Pustaka At-Tauhid, penerjemah Abu Abdul Aziz]



Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=346&bagian=0
READ MORE - DALAM PERTEMUAN DIPERDENGARKAN BACAAN AL-QUR'AN AKAN TETAPI YANG HADIR TIDAK MENYIMAK, SIAPAKAH YANG BERDOSA ?

Rabu, 28 Desember 2011

ADAB-ADAB KEPADA ORANG KAFIR

ADAB-ADAB KEPADA ORANG KAFIR

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari


Allah Azza wa Jalla menciptakan manusia hanya untuk beribadah kepada-Nya. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla mengutus para rasul dengan membawa agama yang haq, untuk membimbing manusia menuju cara beribadah yang benar. Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebut para rasul itu sebagai orang-orang Muslim. Maknanya, orang yang menyerahkan diri, tunduk dan patuh kepada Allah Azza wa Jalla. Itulah arti Islam secara umum. Yaitu semua agama yang dibawa oleh para nabi dan rasul semenjak Nabi Nuh Alaihissallam sampai Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun secara khusus, Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dari Allah Azza wa Jalla. Dengan agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ini, Allah Azza wa Jalla menghapus seluruh agama dan syariat sebelumnya. Maka, orang yang mendapati agama ini, namun tidak memeluknya, maka dia kafir.

Agama Islam adalah agama yang haq dan adil, mengajarkan cara-cara bermuamalah dengan seluruh jenis manusia, termasuk mengajarkan sikap seorang Muslim kepada orang-orang kafir. Di sini kami akan menyampaikan beberapa adab kepada orang kafir. Penjelasan ini merujuk padas penjelasan Syaikh Abu Bakar Jâbir al-Jazâiri dalam kitab Minhâjul Muslim, dan kitab-kitab ulama lainnya.

Seorang Muslim meyakini bahwa seluruh agama selain agama Islam itu batil dan pemeluknya kafir. Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. [Ali Imrân/3: 19]

Dan firmanNya:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [Ali Imrân/3: 85]

Juga firman-Nya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. [al-Mâidah/5: 3]

Dengan berita-berita dari Allah Azza wa Jalla ini, seorang Muslim mengetahui bahwa semua agama sebelum Islam telah dihapus dan Islam menjadi agama semua manusia. Sehingga Allah k tidak akan menerima agama kecuali Islam, juga tidak ridha dengan syariat selain syariat Islam. Dari sini seorang Muslim meyakini bahwa setiap orang yang tidak tunduk kepada Allah dengan menganut Islam, maka dia kafir yang harus disikapi dengan sikap yang telah ditentukan syariat. Di antaranya, sebagai berikut :

1. Tidak menyetujui keberadaannya di atas kekufuran dan tidak ridha terhadap kekufuran. Karena ridha terhadap kekufuran merupakan salah satu kekufuran.

2. Membenci orang kafir karena Allah k juga benci kepadanya. Karena dalam Islam, cinta itu karena Allah, begitu juga benci karena Allah. Oleh karena itu, selama Allah k membenci orang kafir karena kekufurannya, maka seorang Mukmin harus juga membenci orang kafir tersebut.

3. Tidak memberikan wala’ (kedekatan; loyalitas, kesetiaan) dan kecintaan kepada orang kafir. Allah Ta’ala berfirman :

لَّا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ

Janganlah orang-orang Mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (teman akrab; pemimpin; pelindung; penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. [Ali ‘Imrân/3: 28]

Dan firman-Nya:

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

Kamu tidak akan mendapati satu kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang yang menentang itu asdalah bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. [al-Mujâdilah/58: 22]

4. Bersikap adil dan berbuat baik kepadanya, selama orang kafir tersebut bukan kafir muhârib (orang kafir yang memerangi kaum Muslimin). Berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla :

لَّا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. [al-Mumtahanah/60: 8]

Ayat yang mulia lagi muhkam (ayat yang maknanya jelas-red) ini membolehkan bersikap adil dan berbuat baik kepada orang-orang kafir, kecuali orang-orang kafir muhârib (orang-orang kafir yang memerangi umat Islam). Karena Islam memberikan sikap khusus terhadap orang-orang kafir muhârib.

5. Mengasihi orang kafir dengan kasih sayang yang bersifat umum. Seperti memberi makan jika dia lapar; memberi minum jika haus; mengobatinya jika sakit; menyelamatkannya dari kebinasaan; dan tidak mengganggunya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Kasihilah orang-orang yang berada di atas bumi, niscaya Dia (Allah) yang berada di atas langit akan mengasihi kamu. [HR. at-Tirmidzi, no. 1924]

6. Tidak mengganggu harta, darah, dan kehormatan, selama dia bukan kafir muhârib. Karena itu merupakan kezhaliman yang dilarang oleh Allah Azza wa Jalla, berdasarkan hadits qudsi berikut ini :

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَى عَنْ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ قَالَ يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا

Dari Abu Dzarr Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau meriwayatkan dari Allah Tabâraka wa Ta’âla berfirman: “Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku, dan Aku menjadikannya sesuatu yang diharamkan di tengah kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi”. [HR. Muslim, no. 2577]

7. Boleh memberikan hadiah kepadanya dan boleh juga menerima hadiah darinya serta diperbolehkan memakan daging sembelihan ahli kitab. Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ

Pada hari ini Dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu. [al-Mâidah/5: 5]

8. Tidak boleh menikahkan wanita Muslimah dengan laki-laki kafir (walaupun lelaki ini Ahli kitab-pent). Dan laki-laki Muslim tidak boleh menikahi wanita kafir, kecuali wanita Ahli kitab.

Tentang larangan menikahkan wanita Muslimah dengan lelaki kafir, Allah Azza wa Jalla berfirman:

لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ

Mereka (perempuan-perempuan yang beriman) tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal pula bagi mereka. [al-Mumtahanah/60: 10]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman :

وَلَا تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

”Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik daripada wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka itu mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. [al-Baqarah/2: 221]

Sedangkan tentang bolehnya menikahi wanita Ahli kitab, Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ

(Dan dihalalkan mangawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka, dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. [al-Mâidah/5: 5]

9. Tidak mendahului orang kafir dalam mengucap salam. Jika orang kafir tersebut mengucapkan salam terlebih dahulu, maka cukup dijawab dengan ”Wa ‘Alaikum”. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ

Jika salah seorang ahli kitab mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah dengan ”Wa ‘Alaikum. [HR. Ibnu Mâjah, no. 3697; dishahîhkan oleh al-Albâni]

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

لَا تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلَا النَّصَارَى بِالسَّلَامِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ

Janganlah kamu memulai salam kepada orang-orang Yahudi dan Nashâra. Dan jika kamu menemui salah seorang dari mereka di jalan, maka desaklah ia ke jalan yang paling sempit/pinggir. [HR. Muslim, no. 2167]

Dalam penjelasan tentang makna hadits ini, Imam Nawawi rahimahullah mengatakan : “Para sahabat kami mengatakan, orang kafir dzimmi tidak dibiarkan berjalan di tengah jalan, namun dia didesak ke pinggirnya jika umat Islam melewati jalan tersebut. Namun jika jalan itu sepi, tidak berdesakan (di jalan itu) maka tidak mengapa”.

10. Kaum Muslimin harus menyelisihi orang kafir dan tidak boleh melakukan tasyabbuh (menyerupai) dengannya.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk mereka. [HR. Abu Dawud, no. 4031]

Tasyabbuh artinya menyerupai atau meniru. Tasyabbuh dengan orang kafir yang terlarang adalah meniru atau menyerupai orang kafir dalam masalah keyakinan, ibadah, kebiasaan, atau model-model perilaku yang merupakan ciri khas mereka. Demikian keterangan Syaikh Dr. Nâshir bin Abdul Karîm al-‘Aql dalam dalam kitab beliau : "Man Tasyabbaha Bi Qaumin Fahuwa Minhum", hlm. 5.

Inilah beberapa adab berkaitan dengan orang-orang kafir. Lewat paparan singkat ini, kita dapat mengetahui sikap adil yang diajarkan agama Islam dalam menyikapi orang-orang kafir secara umum. Wallahu a’lam bisshawab.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XII/1430H/2009M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
almanhaj.or.id
READ MORE - ADAB-ADAB KEPADA ORANG KAFIR

JANGAN MENGAMBIL ILMU AGAMA DARI AHLI BID’AH


JANGAN MENGAMBIL ILMU AGAMA DARI AHLI BID’AH


Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al Atsari


Orang yang berniat mencari ilmu yang haq harus memperhatikan dari siapa dia mengambil ilmu. Jangan sampai mengambil ilmu agama dari ahli bid’ah, karena mereka akan menyesatkan, baik disadari atau tanpa disadari. Sehingga hal ini akan mengantarkannya kepada jurang kehancuran.

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah menyatakan, bahwa untuk meraih ilmu ada dua jalan.

Pertama : Ilmu diambil dari kitab-kitab terpercaya, yang ditulis oleh para ulama yang telah dikenal tingkat keilmuan mereka, amanah, dan aqidah mereka bersih dari berbagai macam bid’ah dan khurafat (dongeng; kebodohan). Mengambil ilmu dari isi kitab-kitab, pasti seseorang akan sampai kepada derajat tertentu, tetapi pada jalan ini ada dua halangan. Halangan pertama, membutuhkan waktu yang lama dan penderitaan yang berat. Halangan kedua, ilmunya lemah, karena tidak dibangun di atas kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip.

Kedua : Ilmu diambil dari seorang guru yang terpercaya di dalam ilmunya dan agamanya. Jalan ini lebih cepat dan lebih kokoh untuk meraih ilmu.[1]

Akan tetapi pantas disayangkan, pada zaman ini kita melihat fenomena pengambilan ilmu dari para ahli bid’ah marak di mana-mana, padahal perbuatan tersebut sangat ditentang oleh para ulama Salaf. Maka benarlah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang telah memberitakan bahwa hal itu merupakan salah satu di antara tanda-tanda dekatnya kiamat. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ مِنْ أَشْرِاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ

"Sesungguhnya di antara tanda hari Kiamat adalah, ilmu diambil dari orang-orang kecil (yaitu ahli bid’ah)" [2].

Imam Ibnul Mubarak rahimahullah ditanya : “Siapakah orang-orang kecil itu?”

Beliau menjawab : “Orang-orang yang berbicara dengan fikiran mereka. Adapun shaghir (anak kecil) yang meriwayatkan dari kabir (orang tua, Ahlus Sunnah), maka dia bukan shaghir (ahli bid’ah).[3]

Di dalam riwayat lain, Imam Ibnul Mubarak juga mengatakan: “Orang-orang kecil dari kalangan ahli bid’ah”. (Riwayat al Lalikai, 1/85).

Syaikh Bakar Abu Zaid –seorang ulama Saudi, anggota Komisi Fatwa Saudi Arabia- berkata : “Waspadalah terhadap Abu Jahal (bapak kebodohan), yaitu ahli bid’ah, yang tertimpa penyimpangan aqidah, diselimuti oleh awan khurafat; dia menjadikan hawa nafsu sebagai hakim (penentu keputusan) dengan menyebutnya dengan kata “akal”; dia menyimpang dari nash (wahyu), padahal bukankah akal itu hanya ada dalam nash? Dia memegangi yang dha’if (lemah) dan menjauhi yang shahih. Mereka juga dinamakan ahlusy syubuhat (orang-orang yang memiliki dan menebar kerancauan pemikiran) dan ahlul ahwa’ (orang-orang yang mengikuti kemauan hawa nafsu). Oleh karena itulah Ibnul Mubarak menamakan ahli bid’ah dengan ash shaghir (anak-anak kecil).[4]

Dan tanda hari Kiamat, yaitu “mengambil ilmu dari orang-orang kecil (yaitu ahli bid’ah)” pada zaman ini benar-benar sudah terjadi dan terus berjalan. Sungguh telah terbukti sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas. Bahkan sesuatu yang lebih besar dari itu, yaitu mengambil ilmu agama Islam dari orang-orang kafir, yakni para dosen yang mengajarkan pengetahuan tentang Islam di berbagai perguruan tinggi di negara Barat.

Maka apakah kira-kira komentar para ulama Salaf, jika mereka mengalami zaman kita ini? Sedangkan mereka adalah orang-orang yang sangat tulus dalam memberikan nasihat, dan tegas menghadapi berbagai penyimpangan?

Marilah kita renungkan perkataan Imam adz Dzahabi rahimahullah tentang ahli bid’ah pada zaman beliau.

Beliau mengatakan: “Jika engkau melihat seorang mutakallim (seorang yang zhahirnya muslim tetapi menggeluti ilmu kalam, mantiq, filsafat, Pen), ahli bid’ah, berkata,’Tinggalkan kami dari al Kitab (al Qur`an) dan hadits-hadits, dan datangkanlah akal,’ maka ketahuilah bahwa dia Abu Jahal. Dan jika engkau melihat seorang salik tauhidi (seorang shufi, Pen) berkata,’Tinggalkan kami dari naql (wahyu) dan akal, dan datangkanlah perasaan dan rasa,’ maka ketahuilah bahwa dia adalah iblis yang telah muncul dengan bentuk manusia, atau iblis telah merasuk padanya. Jika kamu merasa takut padanya, maka larilah. Jika tidak takut, maka bantinglah dia, dan tindihlah dadanya, dan bacakan ayat kursi kepadanya, dan cekiklah dia”.[5]

PERINGATAN PARA ULAMA
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyebutkan sifat ulama yang akan selalu ada sepanjang zaman, sampai waktu yang dikehendaki oleh Allah, yaitu di dalam sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam :

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ : يَنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ وَ إِنْتِحِالَ الْمُبْطِلِيْنَ

"Ilmu agama ini akan dibawa oleh orang-orang yang lurus pada setiap generasi; mereka akan menolak tahrif (perubahan) yang dilakukan oleh orang-orang yang melewati batas; ta’wil (penyimpangan arti) yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh; dan kedustaan yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat kepalsuan" [6]

Hadits ini jelas dan tegas menunjukkan sifat-sifat pengemban ilmu agama, yaitu ‘adalah (lurus, istiqamah), maka sepantasnya ilmu itu hanyalah diambil dari mereka. Oleh karena itu, banyak peringatan ulama tentang memilih guru agama yang tepat di dalam mengambil ilmu. Berikut ini di antara perkataan ulama berkaitan dengan hal tersebut.

1). Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu berkata :

اُنْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ هَذَا الْعِلْمَ فَإِنَّمَا هُوَ دِينٌ

"Perhatikanlah dari siapa kamu mengambil ilmu ini, karena sesungguhnya ia adalah agama" [7]

Perkataan ini juga diriwayatkan dari sejumlah Salafush Shalih, seperti Muhammad bin Siirin, adh Dhahhak bin Muzahim, dan lain-lain (Lihat muqaddimah Shahih Muslim).

2). Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'anhu berkata :

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ مِنْ أَكَابِرِهِمْ , فَإِذَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ قِبَلِ أَصَاغِرِهِمْ , وَ تَفَرَّقَتْ أَهْوَاءُهُمْ , هَلَكُوْا

"Manusia akan selalu berada di atas kebaikan, selama ilmu mereka datang dari para sahabat Nabi Muhammad n dan dari orang-orang besar (tua) mereka. Jika ilmu datang dari arah orang-orang kecil (ahli bid’ah) mereka, dan hawa-nafsu mereka bercerai-berai, mereka pasti binasa" [8].

Dalam riwayat lain disebutkan :

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا أَخَذُوْا الْعِلْمَ عَنْ أَكَابِرِهِمْ , فَإِذَا أَخَذُوْهُ مِنْ أَصَاغِرِهِمْ وَ شِرَارِهِمْ هَلَكُوْا

"Manusia selalu berada pada kebaikan selama mereka mengambil ilmu dari orang-orang besar (tua) mereka. Jika mereka mengambil ilmu dari orang-orang kecil (ahli bid’ah) dan orang-orang buruk (orang fasik) di antara mereka, maka mereka pasti binasa" [9]

3). Imam Malik rahimahullah berkata :

لاَ يُؤْخَذُ الْعِِلْمُ عَنْ أَرْبَعَةٍ: سَفِيْهٍ مُعلِنِ السَّفَهِ , وَ صَاحِبِ هَوَى يَدْعُو إِلَيْهِ , وَ رَجُلٍ مَعْرُوْفٍ بِالْكَذِبِ فِيْ أَحاَدِيْثِ النَّاسِ وَإِنْ كَانَ لاَ يَكْذِبُ عَلَى الرَّسُوْل صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَ رَجُلٍ لَهُ فَضْلٌ وَ صَلاَحٌ لاَ يَعْرِفُ مَا يُحَدِّثُ بِهِ

"Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang : (1) Orang bodoh yang nyata kebodohannya, (2) Shahibu hawa` (pengikut hawa nafsu) yang mengajak agar mengikuti hawa nafsunya, (3) Orang yang dikenal dustanya dalam pembicaraan-pembicaraannya dengan manusia, walaupun dia tidak pernah berdusta atas (nama) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam , (4) Seorang yang mulia dan shalih yang tidak mengetahui hadits yang dia sampaikan.[10]

4). Imam Nawawi rahimahullah berkata menjelaskan ghibah yang dibolehkan :
“Di antaranya, jika seseorang melihat pencari ilmu sering mengambil ilmu dari ahli bid’ah atau orang fasik, dan dia khawatir hal itu akan membahayakan pencari ilmu tersebut, maka dia wajib menasihatinya, dengan menjelaskan keadaan (guru)nya, dengan syarat dia berniat menasihati”. [Riyadhush Shalihin, al Adzkar, Syarah Muslim].

5). Disebutkan di dalam kitab Fatawa Aimmatil Muslimin, hlm. 131, susunan Mahmud Muhammad Khithab as Subki yang berisikan fatwa-fatwa sebagian ulama Mesir, Syam dan Maghrib mutaqaddimin : “Seluruh imam mujtahidin telah sepakat, bahwa tidak boleh mengambil ilmu dari ahli bid’ah”.

TUJUAN PERINGATAN ULAMA
Syaikh Dr. Ibrahim bin Amir Ruhaili –hafizhahullah- berkata,”Sesungguhnya para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para tabi’in sesudah mereka telah memberikan bimbingan untuk mengambil ilmu dari orang yang ‘adil dan istiqamah. Mereka telah melarang mengambil ilmu dari orang yang zhalim dan menyimpang. Dan di antara orang yang menyimpang, yaitu para ahli bid’ah. Sesungguhnya mereka telah menyimpang dan menyeleweng dari agama dengan sebab bid’ah-bid’ah itu, maka tidah boleh mengambil ilmu dari mereka. Karena ilmu merupakan agama, dipelajari untuk diamalkan. Maka jika ilmu diambil dari ahli bid’ah, sedangkan ahli bid’ah tidak mendasarkan dan menetapkan masalah-masalah kecuali dengan bid’ah-bid’ah yang dia jadikan agama, sehingga ahli bid’ah itu akan mempengaruhi murid-muridnya secara ilmu dan amalan. Sehingga murid-murid itu akan tumbuh di atas bid’ah dan susah meninggalkan kebid’ahan setelah itu. Apalagi jika belajar dari ahli bid’ah itu pada masa kecil, maka pengaruhnya akan tetap dan tidak akan hilang selama hidupnya.”[11]

Syaikh juga menjelaskan, maksud peringatan para ulama ini ada dua. Pertama. Menjaga orang-orang yang belajar dari kerusakan aqidah, karena terpengaruh oleh perkataan dan perbuatan ahli bid’ah. Kedua. Memboikot (mengisolir) ahli bid’ah yang menyerukan bid’ahnya, dengan niat mencegah dan menghentikan mereka dari bid’ah.[12]

Larangan ini berlaku saat situasi memungkinkan. Adapun dalam keadaan terpaksa, boleh belajar kepada ahli bid’ah, dengan tetap waspada dari kesesatan mereka.[13]

Syaikh Bakar Abu Zaid berkata,”Wahai, penuntut ilmu. Jika engkau berada dalam kelonggaran dan memiliki pilihan, janganlah engkau mengambil (ilmu) dari ahli bid’ah, (yaitu) : seorang Rafidhah (Syi’ah), seorang Khawarij, seorang Murji’ah, seorang qadari (orang yang mengingkari takdir), seorang quburi (orang yang berlebihan mengagungkan kuburan), dan seterusnya, karena engkau tidak akan mencapai derajat orang yang benar aqidah agamanya, kokoh hubungannya dengan Allah, benar pandangannya, mengikuti atsar (jejak Salaf), kecuali dengan meninggalkan ahli bid’ah dan bid’ah mereka”.[14]

PERINGATAN BELAJAR AGAMA KEPADA ORANG KAFIR!
Setelah kita mengetahui keterangan di atas, maka selayaknya umat Islam agar senantiasa jeli dan berhati-hati dalam mengambil ilmu. Sehingga pantas untuk diperingatkan, yaitu adanya fenomena pada zaman ini dan sebelumnya, berupa pengambilan ilmu dari orang-orang yang menyimpang, yaitu para ahli bid’ah, bahkan dari orang-orang kafir! Tidakkah orang-orang yang mengambil ilmu dari orang-orang kafir itu pernah membaca atau mendengar firman Allah k tentang usaha orang-orang musyrik untuk memurtadkan umat Islam? Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرُُ فَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ {217}

"Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka (dapat) mengembalikan kalian dari agama kalian (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kalian dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya" [al Baqarah : 217].

Tidakkah mereka juga pernah mendengar firman Allah Azza wa Jalla tentang keinginan orang-orang Ahli Kitab yang selalu berkeinginan memurtadkan umat Islam?

وَدَّكَثِيرُُ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ {109}

"Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran" [al Baqarah : 109]

Apakah mereka mengira, bahwa keinginan dan usaha orang-orang kafir untuk memurtadkan umat Islam itu hanyalah pada zaman turunnya ayat-ayat al Qur`an itu?

Anggapan seperti itu adalah perkiraan yang salah, karena ayat-ayat itu berasal dari Allah Yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Seluruh berita dariNya adalah haq, baik saat turunnya ayat maupun setelahnya. Maka, hendaklah mereka memperhatikan sejarah umat Islam, memperhatikan kejadian-kejadian umat Islam, dahulu dan sekarang. Dengan demikian, mereka akan mengetahui kebenaran firman Allah tersebut.

Inilah sedikit keterangan seputar jalan mengambil ilmu. Semoga Allah selalu membimbing kita kepada ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa dan Bijaksana. Al hamdulillahi Rabbil ‘alamin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
________
Footnote
[1]. Diringkas dari Kitabul Ilmi, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah, hlm. 68-69.
[2]. Riwayat Ibnul Mubarak, al Lalikai, dan al Khaththib al Baghdadi. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani di dalam Shahih al Jami’ ash Shaghir, no. 2203, dan Syaikh Salim al Hilali dalam kitab Hilyatul ‘Alim, hlm. 81.
[3]. Lihat Jami’ Bayanil ‘ilmi, hlm. 246.
[4]. Hilyah Thalibil ‘Ilmi, hlm. 39, karya Syaikh Bakar Abu Zaid.
[5]. Siyar A’lamin Nubala, 4/472, dinukil dari Hilyah Thalibil ‘Ilmi, hlm. 39.
[6]. HR Ibnu ‘Adi di dalam al Kamil, al Baihaqi di dalam Sunan Kubra, Ibnu ‘Asakir di dalam Tarikh Dimsyaq, Ibnu Hibban di dalam ats Tsiqat, Abu Nu’aim di dalam Ma’rifatush Shahabat, Ibnu Abdil Barr di dalam at Tamhid, al Khath-thib di dalam Syaraf Ash-habul Hadits, dan lain-lain. Hadits ini diriwayatkan lebih dari 10 sanad, sehingga saling menguatkan. Dishahihkan oleh Imam Ahmad, dihasankan oleh Syaikh Salim al Hilali di dalam Hilyatul ‘Alim al Mu’allim, hlm. 77, juga oleh Syaikh Ali bin Hasan di dalam Tashfiyah wat Tarbiyyah.
[7]. Riwayat al Khaththib al Baghdadi di dalam al Kifayah, hlm. 121. Dinukil dari Mauqif Ahli Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa` wal Bida`, hlm. 686, karya Dr. Ibrahim bin Amir Ruhaili.
[8]. Riwayat Imam Ibnul Mubarak di dalam az Zuhud, hlm. 281, hadits 815. Dinukil dari kitab Asy-rathus Sa’ah, hlm. 184, karya Syaikh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf al Wabil.
[9]. Jami’ Bayanil ‘Ilmi, hlm. 248. Dinukil dari Mauqif Ahli Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa` wal Bida`, hlm. 687.
[10]. Jami’ Bayanil ‘Ilmi, hlm. 348. Dinukil dari Mauqif Ahli Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa` wal Bida`, hlm. 688.
[11]. Mauqif Ahli Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa` wal Bida`, hlm. 686, karya Syaikh Ibrahim ar Ruhaili.
[12]. Lihat Mauqif Ahli Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa` wal Bida`, hlm. 693.
[13]. Lihat Mauqif Ahli Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa` wal Bida`, hlm. 685-695.
[14]. Hilyah Thalibil ‘Ilmi, hlm. 40.

almanhaj.or.id
READ MORE - JANGAN MENGAMBIL ILMU AGAMA DARI AHLI BID’AH

SIFAT-SIFAT DAN BALASAN PELAKU KEBAJIKAN

SIFAT-SIFAT DAN BALASAN PELAKU KEBAJIKAN •)


هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنسَانِ حِينٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْئًا مَّذْكُورًا
إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا

1. Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut.
2. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan),
karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. [al Insan/76:1-2].

Ketahuilah, sesungguhnya surat al Insan ini memiliki kandungan yang sangat menakjubkan meski ringkas. Allah Subhanahu wa Ta'ala memulainya dengan penyebutan penciptaan manusia dari nuthfah (hasil pembuahan antara sel telur lelaki dan wanita) yang bercampur. Dengan kekuasaan, kelembutan dan hikmah-Nya, Allah menciptakannnya melalui beberapa fase; mengalihkannya dari keadaan satu ke keadaan berikutnya, sampai akhirnya proses penciptaan tersebut tuntas, bentuk dan rupanya sempurna. Selanjutnya, Allah mengeluarkannya sebagai manusia yang sempurna, bisa mendengar lagi melihat.

Begitu daya tangkap dan penalarannya beranjak sempurna, Allah menunjukinya kepada dua jalan. Yaitu jalan kebaikan dan kejelekan. Allah Subahnahu wa Ta'ala berfirman :

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. [al Insan/76:3].

Berikutnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengemukakan tempat kesudahan orang-orang yang bersyukur dan orang-orang yang kufur, serta apa-apa yang disediakan bagi masing-masing golongan itu.

Allah memulai dengan memaparkan kesudahan orang-orang kafir (secara global) dan diiringi dengan penjelasan kesudahan orang-orang yang bersyukur. Dan di penghujung surat ini, Allah menyebutkan orang-orang yang meraih rahmat terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan keterangan orang-orang yang ditimpa siksa.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

يُدْخِلُ مَن يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ ۚ وَالظَّالِمِينَ أَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Dia memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya (surga). Dan bagi orang-orang zhalim disediakan-Nya adzab yang pedih. [al Insan/76:31].

Jadi, Dia memulai surat ini dengan fase pertama manusia, yaitu nuthfah, dan mengakhiri surat al Insan dengan menyebutkan keadaan fase penghujung kehidupanrnya. Yaitu, menjadi yang meraih rahmat atau tertimpa siksa.

Di tengah-tengah ayat, Allah menyebutkan amal perbuatan dua golongan tersebut. Mengenai orang-orang yang ditimpa siksaan, Allah menyebutkan secara global dalam firman-Nya:

إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ سَلَاسِلَ وَأَغْلَالًا وَسَعِيرًا

Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala. [al Insan/76:4].

Ayat di atas diiringi dengan menceritakan amal perbuatan orang-orang yang mendapat rahmat-Nya dan balasan kepada mereka secara detail.

Jadi, dalam surat ini, mengandung dua klasifikasi anak Adam. Mereka itu, menjadi golongan kiri -yaitu kaum kuffar- dan golongan kanan yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu golongan abrar (orang-orang yang berbuat kebajikan) dan muqarrabun (orang-orang yang didekatkan kepada Allah).

Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan, minuman kaum al abrar dicampur dengan minuman para hamba Allah dari kalangan muqarrabin. Karena mereka juga mencampur amalan-amalan mereka. Sedangkan kalangan muqarrabun, minuman mereka adalah minuman yang murni, sebagaimana mereka telah memurnikan amalan-amalan mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan minuman orang-orang muqarrabin dari bahan kafur, yang mengandung unsur kesejukan dan kekuatan, sesuaian dengan kesejukan keyakinan dan kekuatannya yang mengendap di dalam hati mereka dan menembusnya saat berada di dunia, disamping usahanya untuk menjauhkan diri dari Neraka Sa'ir.

Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitahukan (juga), bahwa bagi mereka minuman lain yang bercampur dengan zanjabil (jahe), karena aromanya yang sedap dan kelezatan cita-rasanya, serta kehangatan yang akan merubah dinginnya kafur dan melarutkan kotoran-kotoran dan membersihkan rongga-rongga (tubuh).

وَيُسْقَوْنَ فِيهَا كَأْسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا

Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. [al Insan/76:17].

Karena itu, Allah l menyebutnya sebagai ma`an thahura. Artinya minuman yang membersihkan lambung-lambung mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan sebutan kepada mereka dengan keelokan fisik dan batin. Allah berfirman:

وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا

[dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. -al Insan/76 ayat 11].

النَّضْرَة (An-nadhrah, kejernihan) merupakan sifat keelokan pada wajah mereka. Sedangkan surur (keceriaan hati), adalah keindahan hati-hati mereka. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ

Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan. [al Muthaffifin/83:24].

Kemudian, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyampaikan sebagian amal perbuatan kalangan al abrar yang mengisyaratkan kepada yang mendengarnya, bahwa mereka telah membukukan seluruh amal-amal baik.

يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا

Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang adzabnya merata di mana-mana. [al Insan/76:7].

Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan sifat menepati nadzar yang merupakan kewajiban tingkat terendah. Lantaran manusialah yang mewajibkannya atas dirinya sendiri (bukan Allah). Tingkatannya di bawah kewajiban yang Allah gariskan kepadanya. Bila manusia telah memenuhi kewajiban yang paling lunak di antara dua kewajiban yang ia pegangi itu, sudah tentu dan pasti ia akan lebih memperhatian untuk menjalankan kewajiban yang lebih agung yang telah Allah wajibkan atas dirinya.

Dari sini, sejumlah ahli tafsir menyatakan, kalangan muqarrabun telah menepati ketaatan kepada Allah dan menjalankan hak-Nya yang menjadi kewajiban mereka. Demikian ini, karena jika seorang hamba telah mengikrarkan sebuah nadzar bagi Allah sebagai amalan ketaatan, lantas memenuhinya, berarti ia menjalankannya semata-mata hanya lantaran telah menjadi hak milik Allah yang wajib ia tunaikan. Hak ini berada dalam lingkup hak-hak Allah, sama dengan yang lain.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitahukan, mereka adalah manusia-manusia yang takut kepada hari yang sulit lagi sangat dingin. Yakni hari Kiamat. Ketakutan mereka kepada hari Kiamat nampak dari keimanan mereka kepada hari Akhir, pengekangan diri dari berbuat maksiat yang akan mendatangkan malapetaka, pelaksanaan amal-amal ketaatan yang bermanfaat bagi mereka dan sebaliknya, mereka pun meninggalkan perbuatan yang akan berbuah mudharat bagi mereka.

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. [al Insan/76:8].

Berikutnya (pendapat di atas), Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitahukan karakter mereka yang suka memberi makanan kepada orang lain, meskipun mereka begitu menyukainya. Sesuatu yang sedemikian penting dan besar nilainya, dapat menyebabkan jiwa manusia menjadi pelit, hati merasa sangat membutuhkannya, tangan ingin mendekapnya seerat mungkin. Ini menjadi pertanda, betapa besar dan berharganya kebutuhan mereka terhadap makanan itu. Sehingga, jika mereka telah mengorbankannya dalam kondisi seperti itu, berarti ini menunjukkan mereka lebih mudah dalam memenuhi hak sesama.

Jadi, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan sebagian hak-hak sesama yang dipenuhi (oleh mereka), secara konkret dalam bentuk memberi bahan makanan pokok, kendatipun sangat bernilai dan sangat dibutuhkan (oleh diri mereka sendiri), guna mengingatkan pemenuhan yang mereka jalankan kepada perkara-perkara lain yang tingkatannya lebih rendah. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala mengemukakan sebagian pemenuhan hak-hak-Nya oleh mereka melalui pemenuhan nadzar, guna mengarahkan perhatian kepada pemenuhan kewajiban yang lebih tinggi dan lebih wajib.

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengisyaratkan dengan firman Allah عَلَىٰ حُبِّهِ (yang disukainya) sebuah realita. Seandainya Allah Subhanahu wa Ta'ala bukan dzat yang mereka cintai dari makanan pokok itu, sudah tentu mereka tidak akan mengutamakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dibandingkan apa yang mereka sukai. Mereka lebih mendahulukan kecintaan bagi yang lebih tinggi ketimbang kecintaan kepada obyek yang lebih rendah (makanan).

Pos distribusi makanan mereka adalah orang-orang miskin, anak yatim, tawanan yang tidak ada kekuatan bagi mereka untuk menolong orang-orang tersebut, tiada kekayaan untuk menopang hidup orang-orang itu, tidak ada keluarga, kerabat yang mereka tunggu-tunggu dari orang-orang itu untuk memberi balasan sebagaimana dituju oleh para pemuja dunia yang mencari timbal-balik melalui infak dan pemberian makanan.

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. [al Insan/76:9].

Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitahukan bahwa mereka berbuat itu semua karena wajah Allah, tidak menginginkan balasan dari orang-orang yang menerima makanan dari mereka, baik berupa materi dunia maupun sanjungan manusia; tidak seperti tujuan orang-orang yang tidak memiliki keikhlasan, yaitu dengan menyebar luaskan kebaikan-kebaikan kepada manusia untuk mencari pamrih, atau ungkapan terima kasih dari manusia. Jadi, sifat ikhlas kepada Allah tanpa mencari pamrih dari manusia ini mencerminkan sifat mahabbah (cinta), ikhlas dan ihsan kaum Abrar

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan tentang kejujuran mereka yang sudah dibuktikan Allah sebelum mereka berkata:

إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا

[Sesungguhnya kami takut akan (adzab) Rabb kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. –al Insan/76 ayat 10].

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mempercayainya sebelum mereka menyampaikan pengakuan. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا

Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. [al Insan/76:7]

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengemukakan, sesungguhnya mereka telah dipelihara oleh Allah dari keburukan yang mereka takutkan. Allah menjaga mereka dengan perlindungan yang melebihi dari apa yang mereka angankan.

فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَٰلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا

Maka Rabb memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. [al Insan/76:11].

Ayat-ayat selanjutnya, yaitu surat al Insan/76 ayat 12–20 menyebutkan kenikmatan-kenikmatan yang sudah Allah Subhanahu wa Ta'ala berikan kepada mereka berupa tempat tinggal, pakaian, tempat-tempat duduk, buah-buahan, para pelayan, kenikmatan hidup dan kerajaan (kekuasaan) yang besar.

Lantaran titik fokus kesabaran adalah pengekangan jiwa dan penggencetannya dengan perkara keras yang akan dirasakan oleh fisik dan batin berupa kelelahan, keletihan dan kepanasan. Maka, balasannya adalah surga dengan berbagai kenikmatannya, sutra yang penuh kelembutan lagi halus dan cara duduk bersandar yang menunjukkan kenyamanannya, serta naungan yang melindunginya dari panas.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera, di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukir mereka dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan Salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. [al Insan/76:12-20].

Warna pakaian yang dipakai oleh kalangan al abrar adalah kain sutra halus yang berwarna hijau dan kain sutra yang tebal. Perhiasan yang mereka kenakan ialah gelang-gelang dari perak. Ini semua merupakan atribut keindahan secara zhahirnya. Sedangkan keindahan batin mereka berupa syarab thahur, yaitu bermakna minuman yang mensucikan.

عَالِيَهُمْ ثِيَابُ سُندُسٍ خُضْرٌ وَإِسْتَبْرَقٌ ۖ وَحُلُّوا أَسَاوِرَ مِن فِضَّةٍ وَسَقَاهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا

Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Rabb memberikan kepada mereka minuman yang bersih. [al Insan/76:21].

إِنَّ هَٰذَا كَانَ لَكُمْ جَزَاءً وَكَانَ سَعْيُكُم مَّشْكُورًا

Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan). [al Insan/76:22].

Demikianlah, Allah mengabarkan, bahwa itu semua merupakan balasan terhadap usaha-usaha mereka, yaitu golongan al abrar dan muqarrabin yang harus disyukuri. Jadi, Allah menyebutkan usaha yang dihargai dan perbuatan yang dimurkai.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XI/1428H/2007. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
•) Diadaptasi oleh Ustadz Ashim bin Musthofa, dari Risalah fil Ma'anil Mustambathah min Suratil Insan, yang dibukukan dalam kitab Jami'ur Rasail, karya Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah, Tahqiq: Dr. Muhammad Rasyad Salim, Darul Mughni I, Tahun 1422 H – 2001M, halaman 67-77.

sumber :almanhaj.or.id
READ MORE - SIFAT-SIFAT DAN BALASAN PELAKU KEBAJIKAN

Senin, 26 Desember 2011

TERAPI PENYAKIT SUKA SESAMA JENIS

TERAPI PENYAKIT SUKA SESAMA JENIS

Oleh
Ustadz Muhammad Arifin Badri


Dalam setiap proses pengobatan, langkah pertama yang ditempuh oleh dokter atau tenaga medis adalah melakukan diagnosis. Tujuannya, ialah untuk mengetahui penyebab penyakit yang diderita. Diagnosis ini dapat ditempuh dengan berbagai cara, mulai dari wawancara dengan pasien, hingga dengan test laborat dengan menggunakan teknologi canggih.

Islam sendiri telah memudahkan proses pengobatan. Yaitu dengan cara mengajarkan kepada umatnya hasil diagnosa yang benar-benar aktual. Allah Ta'ala yang telah menurunkan penyakit, telah mengabarkan kepada kita bahwa di antara faktor yang menjadi penyebab datangnya penyakit adalah perbuatan dosa kita sendiri.

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ الشورى 30

"Dan musibah apapun yang menimpamu, maka itu adalah akibat dari ulah tanganmu sendiri". [asy-Syûrâ/42 : 30]

Abu Bilaad rahimahullah yang terlahir dalam keadaan buta bertanya kepada al-'Alâ` bin Badr rahimahullah : "Bagaimana penerapan ayat ini pada dirinya, padahal ia menderita buta mata sejak dalam kandungan ibunya?"

Jawaban al-'Alâ` bin Badr sangat mengejutkan, ia berkata: "Itu adalah akibat dari dosa kedua orang tuamu".[1]

Singkat kata, penyakit yang menimpa kita, tidak terkecuali penyakit suka sesama jenis sangat dimungkinkan adalah akibat dari perbuatan dosa, baik yang kita lakukan atau yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di sekitar kita.

DIAGNOSA PENYAKIT SUKA SESAMA JENIS
Berikut beberapa perbuatan dosa atau kesalahan yang mungkin pernah dialami oleh orang yang dihinggapi penyakit suka sesama jenis.

Pertama : Nama Yang Tidak Menunjukkan Identitas.
Di antara kewajiban pertama yang harus dilakukan oleh kedua orang tua, ialah memilihkan nama yang baik untuk anaknya. Bukan sekedar baik ketika didengar atau diucapkan, akan tetapi juga baik dari segala pertimbangan, dari makna maupun nilai sejarahnya. Pertimbangan pemilihan nama yang baik dapat menunjukkan identitas, baik secara agama maupun jenis kelamin. Oleh sebab itu, banyak ulama yang mencela penggunaan nama-nama yang terkesan "lembut" bagi anak laki-laki.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: "Ada hubungan keserasian antara nama dan pemiliknya. Sangat jarang terjadi ketidakserasian antara nama dan pemiliknya. Yang demikian itu, karena setiap kata sebagai pertanda makna yang terkandung di dalamnya. Dan nama adalah petunjuk bagi kepribadian pemiliknya. Bila engkau merenungkan julukan seseorang, niscaya makna dari julukan tersebut ada padanya. Sehingga nama yang buruk merupakan pertanda bahwa jiwa pemiliknya buruk. Sebagaimana wajah yang buruk, pertanda bagi buruknya jiwa seseorang".[2]

Oleh karena itu, bila seseorang yang ditimpa penyakit suka sesama jenis memiliki nama yang kurang menunjukkan jati dirinya, maka hendaklah segera merubah namanya, sehingga lebih menunjukkan jati dirinya sebagai seorang laki-laki atau wanita.

Kedua : Pengaruh Pakaian Dan Perhiasan.
Islam melarang kaum laki-laki menyerupai kaum wanita, baik dalam berpakaian, perhiasan, perilaku atau lainnya, dan demikian juga sebaliknya.

لَعَنَ النبي n الْمُخَنَّثِينَ من الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلَاتِ من النِّسَاءِ وقال: (أَخْرِجُوهُمْ من بُيُوتِكُمْ). متفق عليه

"Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki, dan beliau bersabda: “Usirlah mereka dari rumah-rumah kalian". [Muttafaqun 'alaih]

Berdasarkan hadits ini, kaum laki-laki dilarang mengenakan pakaian dan perhiasan yang merupakan ciri khas kaum wanita, dan demikian juga sebaliknya. Sebagaimana kaum laki-laki juga dilarang untuk menyerupai suara, cara berjalan, dan seluruh gerak-gerik kaum wanita, demikian juga sebaliknya.[3]

Berdasarkan ini pula, maka diharamkan bagi kaum lelaki mengenakan perhiasan emas dan pakaian yang terbuat dari sutera. Karena kedua hal itu merupakan ciri khas kaum wanita. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيْرِ وَالذَّهَبُ عَلَى ذُكُوْرِ أُمَّتِيْ وَأُحِلَّ لِإِنَاثِهِمْ رواه الترمذي والنسائي وصححه الألباني

"Diharamkan pakaian sutera dan perhiasan emas atas kaum laki-laki dari umatku, dan dihalalkan atas kaum wanita mereka" [HR at-Tirmidzi, an-Nasâ`i, dan dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni]

Para ulama menjelaskan hikmah larangan ini, bahwa perhiasan emas dan pakaian sutera dapat mempengaruhi kepribadian seorang laki-laki yang mengenakannya. Bahkan Ibnul-Qayyim rahimahullah menyatakan, biasanya, seseorang yang mengenakan perhiasan emas atau pakaian sutera memiliki perilaku yang menyerupai kaum wanita. Kedua hal ini akan terus-menerus melunturkan kejantanan laki-laki yang memakainya. Hingga pada akhirnya (sifat kelelakiannya) akan menjadi sirna, dan berubah menjadi seorang yang banci. Karena itu, pendapat yang benar ialah diharamkan bagi orang tua mengenakan kepada anak lelakinya perhiasan emas atau pakaian sutera, agar kejantanan anak tersebut tidak terkikis.[4]

Aturan untuk membedakan dari lawan jenis. Demikian juga hal ini ditekankan kepada kaum wanita, sehingga mereka juga dilarang berperilaku yang menyerupai kaum laki-laki, dan dianjurkan untuk melakukan hal-hal yang selaras dengan kewanitaannya.

Salah satu yang dapat menunjukkan identitas kewanitaan seseorang, ialah dengan cara merubah warna kuku jari jemarinya dengan hinna' (pacar kuku dari tumbuhan tertentu, ed).

عن عَائِشَةَ رضي الله عنها قالت: مَدَّتِ امْرَأَةٌ من وَرَاءِ السِّتْرِ بِيَدِهَا كِتَاباً إلى رسول اللَّهِ n، فَقَبَضَ النبي n يَدَهُ، وقال: (ما أَدْرِى أَيَدُ رَجُلٍ أو أيد امْرَأَةٍ) فقالت: بَلِ امْرَأَةٌ . فقال: (لو كُنْتِ امْرَأَةً، غَيَّرْتِ أَظْفَارَكِ بِالْحِنَّاءِ).

"'Aisyah Radhiyallahu 'anha menceritakan: "Ada seorang wanita dari balik tabir yang menyodorkan secarik surat kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Nabipun menahan tangannya, dan beliau bersabda: 'Aku tidak tahu, apakah ini tangan seorang laki-laki atau wanita?' Wanita itupun berkata: 'Ini adalah tangan wanita,' maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Andai engkau benar-benar wanita, niscaya engkau telah mewarnai kukumu dengan hinna'." [HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasâ`i dan dihasankan oleh Syaikh al-Albâni]

Ketiga : Pengaruh Makanan Haram.
Tidak dapat dipungkiri, perangai dan kepribadian setiap manusia bisa dipengaruhi oleh jenis makanan yang ia konsumsi. Sehingga tidak mengherankan bila seseorang yang memakan daging onta disyari'atkan untuk berwudhu, untuk menghilangkan pengaruh buruk daging yang ia makan.

Diriwayatkan dari Jabir bin Samurah, ia mengisahkan: "Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : 'Apakah kita diwajibkan berwudlu karena memakan daging kambing?' Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: 'Engkau boleh berwudhu, dan juga boleh untuk tidak berwudhu,' laki-laki itu kembali bertanya: 'Apakah kita wajib berwudhu karena memakan daging onta?' Beliau menjawab: 'Ya, berwudhulah engkau karena memakan daging onta'." [HR Muslim]

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: "Orang yang berwudhu setelah memakan daging onta akan terhindar dari pengaruh sifat hasad dan jiwa yang kaku yang biasa menimpa orang-orang yang senang memakannya, sebagaimana dialami orang-orang pedalaman. Ia akan terhindar dari perangai hasad dan jiwa yang kaku seperti disebutkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits riwayat Imam Bukhâri dan Muslim:

(إِنَّ اْلغِلْظَةَ وَقَسْوَةَ الْقُلُوْبِ فِيْ الْفَدَّادِيْنَ أَصْحَابِ الْإِبِلِ وَإِنَّ السَّكِيْنَةَ فِيْ أَهْلِ الْغَنَمِ)

"Sesungguhnya perangai kasar dan jiwa yang kaku, biasanya ada pada orang-orang pedalaman, para pemelihara onta, sedangkan lemah-lembut biasanya ada pada para pemelihara kambing" [5].

Bila demikian, maka tidak diragukan lagi bahwa makanan yang jelas keharamannya memiliki pengaruh buruk pada diri dan kepribadian pemakannya. Dan di antara makanan haram yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorang, sehingga dijangkiti penyakit suka sesama jenis ialah daging babi dan keledai. Ibnu Sirin rahimahullah berkata: "Tidaklah ada binatang yang melakukan perilaku kaum Nabi Luth selain babi dan keledai".[6]

Bila seseorang membiasakan dirinya dan juga keluarganya memakan daging babi atau keledai, lambat laun, berbagai perangai buruk kedua binatang ini dapat menular kepadanya. Na'udzubillah.

Keempat : Pengaruh Pergaulan Dan Pendidikan.
Masing-masing diri kita pasti memiliki pengalaman tersendiri tentang pergaulan dalam mempengaruhi pembentukan jati diri dan perangainya. Sedikit banyak, cara berpikir dan kesukaan manusia dipengaruhi oleh keluarga, teman bergaul, atau masyarakat sekitar. Oleh karena itu, jauh hari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan agar memilihkan kawan yang baik untuk anak-anak kita, sehingga mereka terpengaruh oleh kebaikan dan terhindar dari pengaruh buruk.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu , ia menuturkan: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidaklah ada seorang yang dilahirkan melainkan dalam keadaan fitrah (muslim), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi. Perumpamaannya bagaikan seekor binatang yang dilahirkan dalam keadaan utuh anggota badannya, maka apakah kalian mendapatkan padanya hidung yang dipotong?” [Muttafaqun ‘alaih]

Sebagaimana Islam juga mengajarkan agar orang tua mulai memisahkan tempat tidur anak laki-laki dengan tempat tidur anak wanita.

(مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عليها وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ في الْمَضَاجِعِ)

"Perintahlah anak-anakmu untuk mendirikan shalat ketika mereka telah berumur tujuh tahun, dan pukullah bila enggan mendirikan shalat ketika telah berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka" [Riwayat Abu Dawud dan dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni]

Pemisahan tempat tidur antara anak laki-laki dan tempat tidur anak wanita dapat menumbuhkan kesadaran pada diri masing-masing tentang jati dirinya. Sehingga anak laki-laki mulai menyadari bahwa dirinya berlawanan jenis dengan saudarinya, demikian juga dengan anak wanita. Sejalan dengan perjalanan waktu dan disertai pendidikan yang baik, masing-masing akan menjadi manusia yang berkepribadian lurus lagi luhur.

Di antara yang dapat memupuk kesuburan jati diri anak-anak, ialah dengan membedakan jenis permainan mereka. Melalui sarana permainan yang terarah dan mendidik, orang tua dapat menumbuhkan kesadaran pada masing-masing anak tentang jati dirinya. Salah satu permainan yang dapat memupuk kepribadian anak wanita adalah boneka.

Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu 'anha berkata:

(كُنْتُ أَلْعَبُ بِالْبَنَاتِ في بَيْتِهِ وَهُنَّ اللُّعَبُ) متفق عليه

"Dahulu, aku bermain boneka anak-anak di rumah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam" [Muttafaqun 'alaih]

Para ulama' menyatakan, bahwa dibolehkannya membuatkan boneka untuk anak-anak wanita yang masih kecil ini merupakan keringanan atau pengecualian dari dalil-dalil umum yang melarang kita membuat patung. Melalui sarana permainan ini, anak-anak wanita kita diharapkan mulai memahami jati dirinya dan juga peranan yang harus mereka lakukan kelak ketika telah dewasa dan berkeluarga.[7]

Dengan demikian, pergaulan dan pendidikan memiliki peranan besar dalam pembentukan karakter dan cara pandang anak-anak. Sehingga kesalahan dalam pendidikan dan pergaulan dapat mengakibatkan perilaku kurang terpuji di kemudian hari.

TERAPI PENYEMBUHAN
Bila melalui diagnosa di atas, seseorang dapat menemukan penyebab datangnya penyakit yang dideritanya, maka segeralah melakukan langkah-langkah pengobatan.

Langkah Pertama : Yang harus dilakukan ialah dengan membenahi kesalahan dan bertobat dari kekhilafan.

Langkah Kedua : Berdoa Kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Ketahuilah, perbuatan dosa dan khilaf dapat terjadi karena kita memperturutkan bisikan kotor, baik yang datang dari iblis maupun dari jiwa yang tidak suci. Oleh karena itu, dahulu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa memohon agar dikaruniai hati yang suci dan dijauhkan dari perilaku buruk :

اللهم آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أنت خَيْرُ من زَكَّاهَا (رواه مسلم )

"Ya Allah, limpahkanlah ketakwaan kepada jiwaku dan sucikanlah. Engkau adalah sebaik-baik Dzat Yang Mensucikan jiwaku" [Riwayat Muslim]

Pada kesempatan lain, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلاَقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ (رواه الترمذي والحاكم والطبراني )

"Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari akhlak, amalan, dan hawa nafsu yang buruk" [Riwayat at-Tirmidzi, al-Hakim, dan ath-Thabrani]

Oleh sebab itu,bagi orang yang telah terjangkiti penyakit ini, hendaknya memohonlah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar jiwanya disucikan, dan perangainya diluruskan. Ia hendaklnya yakin, bila bersungguh-sungguh berdoa, terlebih ketika sedang sujud dan pada sepertiga akhir malam, yakinlah, pasti Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mengabulkan.

Langkah Ketiga : Melakukan Kegiatan-Kegiatan Yang Sesuai Dengan Jenis Kelamin Kita.
Di antara cara yang dapat kita tempuh untuk memupuk jati diri ialah dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang selaras dengan diri kita. Bagi kaum wanita, misalnya dengan mengasuh anak kecil (keponakan, adik, atau lainnya), memasak, berdandan, menjahit, membuat karangan bunga. Bagi kaum laki-laki, misalnya dengan mencangkul, olah raga angkat besi, bela diri, tukang kayu, berenang. Dan hendaklah menjauhi segala perbuatan dan perilaku yang biasa dilakukan oleh lawan jenis.

Langkah Keempat : Terapi Hormon.
Salah satu metode pengobatan yang sekarang dikenal masyarakat adalah dengan terapi hormon. Oleh karena itu, tidak ada salahnya bila seseorang yang menderita penyakit suka sesama jenis mencoba pengobatan dengan cara ini. Akan tetapi, sebelum mencoba terapi ini, seyogyanya ia terlebih dahulu berkonsultasi kepada tenaga medis yang berkompeten, untuk mengetahui sejauh mana kegunaannya. Juga untuk meyakinkan bahwa dalam seluruh proses terapi ini tidak mengandung hal-hal yang diharamkan atau melanggar syari'at.

Langkah Kelima : Berbesar Harapan Dan Kuatkan Semangat.
Sebagaimana telah diisyaratkan di atas, bahwa setiap manusia terlahir ke dunia dalam keadaan normal dan berjiwa suci, dan hanya lantaran pengaruh dunia luarlah seseorang mengalami perubahan. Allah Ta'ala berfirman dalam hadits qudsi:

وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عن دِينِهِمْ (رواه مسلم)

"Sesungguhnya Aku telah menciptakan seluruh hamba-Ku dalam keadaan lurus lagi suci, kemudian mereka didatangi oleh setan dan kemudian setanlah yang menyesatkan mereka dari agamanya" [Riwayat Muslim]

Dari situ, hendaklah kita senantiasa berbesar harapan dan optimis bahwa segala penyakit yang kita derita dapat disembuhkan. Yakinlah, penyakit yang kita derita merupakan salah satu akibat dari ulah dan godaan setan. Setanlah yang telah menodai kesucian jiwa kita. Oleh karena itu, besarkan harapan, bulatkan tekad, dan kuatkan semangat untuk merebut kembali kesucian jiwa kita dari belenggu setan dengan selalu berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla dan membaca Al-Qur`ân. Ketahuilah, wahai Saudaraku, membaca Al-Qur`ân dengan khusyu' dan penuh penghayatan merupakan senjata paling ampuh untuk menghancurkan perangkap syetan.

Termasuk pula di antara cara untuk menghindarkan diri dari perangkap setan ialah dengan senantiasa menghadiri majlis-majlis ilmu, dan berusaha agar selalu berada bersama dengan teman-teman yang baik.

إِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ ، وَ هُوَ مِنَ الْاِثْنَيْنِ أَبْعَدُ (رواه أحمد وابن ماجة وصححه الألباني)

"Sesungguhnya setan itu bersama orang yang menyendiri, dan ia akan menjauh dari dua orang" [Riwayat Ahmad, Ibnu Majah, dan dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni]

Semoga pemaparan singkat ini bermanfaat bagi kita. Dan semoga Allah Ta'ala senantiasa melimpahkan kesucian jiwa dan keluhuran budi pekerti kepada kita.
Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.
Wallahu a'lam bish-Shawab.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XII/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
________
Footnote
[1]. Tafsîr Ibnu Abi Hâtim (10/3279) dan Tafsîr al-Baghawi (7/355).
[2]. Tuhfatul-Maudûd, Ibnul Qayyim, 51.
[3]. Fat-hul-Bâri, Ibnu Hajar al-Asqalâni (10/334) dan Faidhul-Qadîr, al-Munawi (5/271).
[4]. Zâdul-Ma'âd, Ibnul-Qayyim, 4/80.
[5]. Majmu' Fatâwa Ibnu Taimiyyah, 21/11.
[6]. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab Dzammul-Malâhi.
[7]. Fat-hul-Bâri, Ibnu Hajar al-Asqalâni, 10/527.
sumber : almanhaj.or.id

READ MORE - TERAPI PENYAKIT SUKA SESAMA JENIS
 
Free counters!