rss

Jumat, 08 Juli 2011

Keberangkatan Rasulullah Hijrah ke Madinah


Konspirasi Quraiys

Gelombang hijrah kaum muslimin dari Makkah ke Madinah, baik secara individu maupun secara berkelompok, sangat menimbulkan kekhawatiran di kalangan kaum kafir Quraisy. Mereka khawatir kaum muslimin akan bersatu. Jika bersatu, berarti menjadi ancaman bagi keberadaan kaum kafir Quraisy dan budaya paganismenya. Kekhawatiran itu kian menjadi, jika Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut hijrah bersama mereka, lalu memimpin kaum muslimin. Ini tentu menjadi ancaman yang sangat menakutkan. Karena mereka mengetahui betapa sangat berpengaruh kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di hati kaum muslimin. Kaum musyrikin Quraisy juga mengetahui kesiapan kaum muslimin rela berkorban demi membela agama yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Terlebih lagi dengan keberadaan kabilah Aus dan Khazraj yang telah menerima kaum Muhajirin. Dua kabilah tersebut memiliki kemampuan yang tidak bisa diragukan. Begitu pula secara geografis, kota Madinah dengan posisinya yang strategis merupakan jalur perdagangan yang menjadi sumber utama penghidupan kafir Quraisy.

Demikian, beberapa hal yang sangat mengkhawatirkan kaum kafir Quraisy. Mereka pun ingin terlepas dari semua ketakutan yang membayang-bayanginya. Sehingga pada hari Kamis, 26 Safar tahun ke- 14 dari kenabian, bertepatan dengan 12 September 622 M, sekitar dua bulan setengah pasca Bai’ah Aqabah kedua, para tokoh kafir Quraisy berkumpul di Darun-Nadwah membahas keadaan ini. Mereka mencari solusi yang dirasa tepat untuk melumpuhkan Rasululloh dan dakwahnya.
Alquran  telah menjelaskan inti pendapat-pendapat yang dilontarkan dalam pertemuan itu, dalam firman-Nya,
وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْيُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللهُ وَاللهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. (QS. Al-Anfal:30). [1]
Dalam riwayat lain terdapat penjelasan yang lebih rinci, namun riwayatnya lemah (Dha’if). Dikisahkan ketika kaum kafir Quraisy berkumpul di Darun-Nadwah membicarakan cara yang tepat untuk melepaskan diri dari ancaman Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam , mereka didatangi Iblis yang menjelma menjadi seorang laki-laki. Iblis ini mengaku berasal dari Nejed. Dia mengaku telah mendengar acara pertemuan ini, dan ia ingin bergabung memberikan saran dan nasihat.
Kemudian, orang-orang Quraisy yang sedang berkumpul itu mempersilahkan ia ikut ke dalam majelis. Saat pembicaraan berlangsung, dan salah seorang mengusulkan agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditahan atau dipenjara, maka Iblis menyahut, “Jangan! Pendapat kalian ini tidak tepat. Jika kalian menawannya sebagaimana pendapat kalian, maka lelaki ini (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ) tetap akan keluar dari balik pintu yang kalian tutup rapat dan akan sampai ke telinga para pengikutnya, sehingga mereka akan menyerang kalian dan merebutnya dari kalian. Kemudian mereka akan membanggakan diri di hadapan kalian dengannya sehingga bisa mengalahkan kalian.”
Kemudian salah seorang lagi mengusulkan agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diasingkan. Iblis inipun menolak pendapat ini seraya mengatakan, bahwa tutur bahasa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyejukkan hati mampu menarik banyak orang untuk mengikutinya. Sehingga ia pun akan mampu mengalahkan Quraisy.
Terakhir, Abu Jahal mengusulkan agar memilih seorang pemuda terpandang lagi kuat dari masing-masing kabilah. Masing-masing pemuda ini diberi pedang tajam. Dengan pedang-pedang ini, mereka menyerang Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam secara bersama-sama, sehingga tanggung jawab atas kematiannya akan terbagi ke dalam beberapa kabilah. Dengan demikian, akan dapat memaksa Bani Abdul Manaf rela menerima diyat (tebusan harta atas kematian seseorang), sebab mereka tidak akan mampu memerangi sebuah kabilah yang terlibat dalam pembunuhan ini.
Mendengar pendapat Abu Jahal yang busuk ini, sang Iblis mendukungnya, dan seluruh peserta pun menyepakatinya. Pertemuan kaum kafir Quraisy di Darun-Nadwah ini menghasilkan suara bulat.
Meskipun kaum Quraisy membuat makar, tetapi mereka tidak mengetahui makar Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tipu daya mereka secara sepat diketahui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Karena seusai pertemuan itu, Malaikat Jibril ‘alaihissalam kemudian mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Jibril ‘alaihissalammemberitahukan perihal hasil pertemuan itu, dan selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan agar tidak bermalam di tempat tidurnya pada malam itu.


[1] Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini diturunkan berkaitan dengan peristiwa tersebut. Imam Ahmad membawakan kisah tersebut dalam Al-Musnad, 5/87. Syakir berkata, “Dalam sanadnya ada catatan, disebabkan oleh keberadaan Utsman Al-Jazari ….”
Hadits ini dinukil oleh Ibnu Katsîr dalam tafsirnya (4/49). Hadits ini dalam Majma’iz-Zawaaid (7/27) dinisbatkan kepada Ath-Thabrani. Penulis kitab Majma’iz Zawaaid berkata,”Di dalam sanadnya terdapat Utsman bin ‘Amr al-Jazari. Dia dianggap tsiqah oleh Ibnu Hibban, tetapi dianggap lemah oleh ulama lainnya. Sedangkan para perawi selain Utsman, semuanya shahih.”
Ibnu Katsir hafidzuhullah dalam Al-Bidayah berkata, “Ini adalah sanad yang hasan (baik). Riwayat ini merupakan kisah terbaik yang menceritakan tentang jaring laba-laba di bibir gua Tsar”. Ibnu Hajar t juga menghasankan riwayat ini dalam Al-Fath, 15/90.

________________________-

Mendapat Izin Berhijrah

Setelah adanya kesepakatan kaum Quraisy untuk membunuh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam , maka datanglah malaikat Jibril kepada beliau menceritakan konspirasi mereka dan menyampaikan izin untuk berhijrah.
Imam Bukhari[1] dan ath-Thabari[2] meriwayatkan hadits dari Ibnu Ishaq, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan izin untuk hijrah, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke rumah Abu Bakar pada siang hari waktu Zhuhur dengan mengenakan kain penutup wajah. Kedatangan beliau diwaktu Zhuhur bukanlah waktu yang biasanya untuk berkunjung menunjukkan pentingnya berita yang beliau bawa, karena orang biasanya berlindung dirumah dan tidur siang menghindari terik panasnya matahari. Ditambah lagi mengenakan penutup muka yang menunjukkan keadaan bahaya disekeliling beliau, karena kaum Quraisy telah bertekad membunuh beliau. Ini semua membuat Abu Bakar mengetahui kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tak lazim ini mengisyaratkan bahwa Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dengan membawa masalah yang sangat penting.

Setelah mendapatkan izin masuk, beliau n pun masuk dan meminta kepada semua yang ada di rumah selain Abu Bakarradhiallahu ‘anhu untuk keluar supaya mereka tidak mengetahui pembicaraan yang hendak disampaikan kepada Abu Bakar.
Abu Bakar radhiallahu ‘anhu pun memberitahukan, bahwa semua yang hadir adalah pengikut Rasulullah dan keluarganya sendiri. Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan izin kepadanya untuk berhijrah dan mengajak Abu Bakar radhiallahu ‘anhu untuk menemaninya.
Dengan permintaan ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan isyarat yang telah beliau n berikan sebelumnya, yaitu ketika Abu Bakar z hendak berangkat hijrah, namun ditahan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Abu Bakar pun menawarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memilih salah satu di antara dua kendaraan yang disukainya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersedia memilih, namun tetap dengan membayarnya.
Aisyah menceritakan hal ini:
Disatu hari ketika kami duduk-duduk di rumah Abu Bakar di saat Nahr azh-Zhahirah (Siang terik sekali). Ada seorang yang memberitahu Abu Bakar, “Itu Rasulullah datang dalam keadaan menutup wajahnya diwaktu yang tidak pernah beliau mendatangi kita.”
Maka Abu Bakar pun menyahut, “Sungguh benar, demi Allah tidaklah beliau datang diwaktu seperti ini kecuali karena perkara penting sekali.”
Aisyahpun menceritakan lagi, “Sampailah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam lalu minta izin masuk. Lalu diberi izin dan Beliaupun masuk.” Rasulullah pun berkata, “Keluarkanlah orang yang ada disekitarmu!”
Abu Bakar menjawab, “Semua mereka adalah keluarga engkau wahai Rasulullah.”
Rasulullahpun menyatakan, “Sungguh aku diizinkan untuk keluar (hijrah).”
Abu Bakarpun bertanya, “Apakah engkau butuh teman wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Iya.”
Maka Abu Bakarpun menyatakan, “Ambillah salah satu dari dua ontaku ini.”
Beliau menjawab, “Aku akan bayar.”
Aisyahpun bercerita (setelah itu), “Kami siapkan kedua kendaraan tersebut dengan sangat cepat , kami letakkan bekal perjalanan di kantong kulit, lalu Asma’ bintu Abu bakar menyobek selendang pengikat pinggangnya (an-Nithaaq) lalu ia gunakan untuk mengikat tutup kantong tersebut. Karena itulah beliau dijuluki dzatu an-Nithaaq.
Kemudian Rasulullah dan Abu Bakar sampai ke gua di bukit Tsaur lalu bersembunyi disana selama tiga malam. Abdullah bin Abu Bakar  dimalam hari tinggal bersama keduanya, lalu pulang ketika menjelang subuh, lalu dipagi hari ia sudah berada bersama orang-orang Quraisy di Makkah seperti orang yang tidak pernah keluar (dari Makkah), sehingga tidaklah ia mendengar sesuatu berita konspirasi (untuk Rasulullah) kecuali ia ambil sehingga dapat memeberi kabar berita untuk Rasulullah dan Abu Bakar ketika malam hari tiba. Sedangkan ‘Amir bin Fuhairah –budak Abu Bakar- menggembala sekumpulan kambing untuk keduanya. Sehingga ia menggiring kambingnya ke tempat keduanya hingga berlalu waktu Isya’. Sehingga keduanya bermalam dalam keadaan minum susu segar, hingga Amir bin Fuhairah pulang sebelum subuh dan hal ini dilakukan setiap malam selama tiga malam lamanya.
Rasulullah dan Abu Bakar menyewa seorang yang masih kafir dari suku Ad-Dail dari Bani Adi bin Adi sebagai penunjuk jalan, lalu keduanya menyerahkan onta kendaraannya kepadanya dan berjanji bertemu di Goa tsaur setelah tiga hari membawa kedua onta kendaraan tesebut pada pagi harinya. [3]

Merancang rencana perjalanan

Dalam pertemuan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu membahas rencana hijrah dan caranya keluar dari tipu daya kaum kafir Quraisy ini. Di antara rencana-rencana itu yang disebutkan dalam riwayat Imam Bukhari dan Ibnu ishaq ialah:
  1. Mereka akan keluar menuju gua Tsur[4] di sebelah barat daya Makkah pada malam hari. Ini untuk mengelabui kaum kafir, karena perhatian mereka dalam mencari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tertuju ke arah utara Makkah, yaitu arah menuju Madinah.
  2. Mereka akan tinggal di gua Tsur selama tiga hari, sehingga usaha pencaharian mulai surut.
  3. Mereka menyewa seorang penunjuk jalan yang mengerti perjalanan di padang pasir, yaitu ‘Abdullah bin Urqud, seorang musyrik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar merahasiakan permasalahan mereka kepada si penunjuk jalan ini.
  4. Asma` menyediakan bekal untuk mereka berdua. Ikat pinggang miliknya ia potong untuk mengikat bekal. Sehingga ia dikenal dengan sebutan Dzatun-Nithaq[5] atau Dzatun-Nithaqain.[6]
  5. Abu Bakar menyuruh anaknya, ‘Abdullah untuk menyadap informasi permbicaraan masyarakat Makkah tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu , lalu menyampaikan berita tersebut kepada mereka di gua Tsur pada malam hari.
  6. Abu Bakar menyuruh budaknya yang bernama ‘Amir bin Fuhairah untuk menggembalakan kambingnya di siang hari dan menggiringnya untuk di istirahat di gua Tsur saat sore hari, supaya mereka bisa memanfaatkan susu dan dagingnya.
  7. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dan memintanya untuk mengembalikan barang-barang titipan penduduk Makkah, karena banyak penduduk Makkah yang menitipkan barang-barang berharga mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam juga meminta Ali radhiallahu ‘anhu tidur di tempat tidurnya.
  8. Abu Bakar meminta budaknya ‘Amir bin Fuhairah menemaninya dalam hijrah untuk membantu mereka.
Demikianlah beberapa peristiwa yang mengawali hijrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Abu Bakarradhiallahu ‘anhu ke Madinah.


Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, L.c.
Artikel www.UstadzKholid.com

[1] Al-Fath, 15/88, no. 3905.
[2] Dalam Târikh-nya, 2/377-379, dengan sanad hasan.
[3] HR Al-Bukhori 7/389).
[4] Al-Fath, hadits no. 3905.
[5] Imam Bukhâri  no. 3905
[6] Imam Bukhâri 16/103, no. 3907, dari Ama`.

0 komentar:


Posting Komentar