rss

Senin, 13 Juni 2011

Tentang Do'a


Tentang doa


Secara etimologi, Ibnu Manzhur berkata bahwa arti secara etimologinya menyeru. (Lisanul Arab)
Definisi Doa
Secara istilah, ada beberapa pendapat, diantaranya permohonan dengan sungguh-sungguh kepada Allah (Lisanul Arab)
Berkata al Imam al Khaththabiy rahimahullah: “Doa ialah seorang hamba memohon pertolongan dan meminta bantuan kepadaNya. Sedangkan hakikat doa ialah menampak kefairan kepadaNya, membebaskan dan membersihkan diri dari daya dan kekuatan, ini merupakan ciri-ciri ‘ubudiyyah seseorang, merasakan kelezatan manusiawi yang mana didalamnya terkandung makna pujian kepada Allah serta pengakuan terhadap sifat kedermawanan Allah” (Sya’nud Du’a)
Inti dari doa itu sendiri adalah permohonan untuk mendatangkan manfa’at dan permohonan agar dilepaskannya atau dihindarkannya kemudharatan, sebagaimana dijelaskan Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah.
(Lihat: ad Du’aa, Mafhumuhu, Ahkamuhu, Akhta’un, Taqa’u fiihi, (edisi indonesia: “Berdoa Sesuai Sunnah”)
Penggunaan kata doa dalam al Qur-aan
1. Ibadah
Allah berfirman:
قُلْ أَنَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا
Katakanlah: “Apakah kita akan berdoa (beribadah) [kepada] selain Allah? [yaitu] sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita?…”
(Al-An’aam: 71)
Allah berfirman:
وَلَا تَدْعُ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ
Dan janganlah kamu berdoa (beribadah/menyembah) [kepada] apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah.
(Yunus: 106)
Allah berfirman:
فَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتَكُونَ مِنَ الْمُعَذَّبِينَ
Maka janganlah kamu berdoa (menyembah/beribadah) [kepada] sesembahan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang diazab.
(Asy-Syu’araa: 213)
2. Perkataan
Allah berfirman:
دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ
Doa (perkataan) mereka di dalamnya ialah: “Subhanakallahumma”
(Yunus: 10)
3. Seruan atau Panggilan
Allah berfirman:
يَوْمَ يَدْعُ الدَّاعِ إِلَىٰ شَيْءٍ نُّكُرٍ
(Ingatlah) hari (ketika) seorang penyeru (malaikat) menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari pembalasan)
(Al-Qamar: 6)
4. Pujian
Allah berfirman:
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ
“Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman”…”
(QS al Isra: 110)
5. Istigha-tsah
Allah berfirman:
وَادْعُوا شُهَدَاءَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
dan ajaklah (minta tolonglah/istigha-tsah) [kepada] penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
(Al-Baqara: 23)
6. Memohon
Allah berfirman:
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.”
(Ghafir: 60)
7. Adzab
Berkata Ibnul Jauziy: “Doa dalam al qur-aan mengandung arti adzab”
Dan hal ini bisa kita lihat dalam firmanNya:
كَلَّا ۖ إِنَّهَا لَظَىٰ ‪.‬ نَزَّاعَةً لِّلشَّوَىٰ ‪.‬ تَدْعُو مَنْ أَدْبَرَ وَتَوَلَّىٰ ‪.‬
Sekali-kali tidak dapat, sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak,
yang mengelupas kulit kepala, yang MENGADZAB orang yang membelakang dan yang berpaling (dari agama)
(al Ma’aarij: 15-17)
Berkata al-Mubarrad dan Muhammad bin Yazid tentang تَدْعُو dalam ayat diatas: “maknanya adalah MENGADZAB”. Berkata Ibnu Manzhur: “atau diberlakukan bagi mereka sesuatu”
(al Wujuhu an Nazha-ir)
[dinukil dari ad Du'a mafhumuhu karya syaikh Muhammad bin Ibrahim al Hamd (edisi Indonesia: Berdoa sesuai sunnah)]
Doa adalah IBADAH
Rasulullah bersabda:
‎الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Doa adalah ibadah”
Kemudian beliau membaca ayat:
‎{ قَالَ رَبُّكُمْ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ }
“Berdoalah (yaitu Beribadah-lah/Sembah-lah) kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” -Ghaafir: 60-
(Shahiih, HR. at Tirmidziy)
Allah berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.
(Ghaafir: 60)
Berkata Ibnu Katsir dalam menafsirkan:
إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku
Yaitu orang yang TIDAK MAU menyembahKu, dan TIDAK MENG-ESA-KAN-Ku dalam peribadatan.
(Tafsir Ibnu Katsir)
Al-Hulaimi (wafat tahun 403 H) berkata :
“Dan doa secara umum merupakan bentuk ketundukkan dan perendahan, karena setiap orang yang meminta dan berdoa maka ia telah menampakkan hajatnya (kebutuhannya) dan mengakui kerendahan dan kebutuhan kepada dzat yang ia berdoa kepadanya dan memintanya. Maka hal itu pada hamba seperti ibadah-ibadah yang dilakukan untuk bertaqorrub kepada Allah.
Oleh karenanya Allah berfirman ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ((Berdoalah kepadaku niscaya akan Aku kabulkan, sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepadaku akan masuk dalam neraka jahannam dalam keadaan terhina)). Maka Allah menjelaskan bawhasanya doa adalah ibadah”
(Al-Minhaaj fai syu’ab Al-Iimaan 1/517; dari artikel ustadz firanda)
Imam Hafizh Ibnu Hajar menuturkan bahwa Imam At-Thaibi berkata :
Sebaiknya hadits Nu’man di atas difahami secara arti bahasa, artinya berdoa adalah memperlihatkan sikap berserah diri dan membutuhkan Allah, karena tidak dianjurkan ibadah melainkan untuk berserah diri dan tunduk kepada Pencipta serta merasa butuh kepada Allah.
Oleh karena itu Allah mengakhiri ayat tersebut dengan firman-Nya :
إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي
“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu”.
Dalam ayat ini orang yang tidak mau tunduk dan berserah diri kepada Allah disebut orang-orang yang sombong, sehingga berdoa mempunyai keutamaan di dalam ibadah, dan ancaman bagi mereka yang tidak mau berdoa adalah hina dina.
[Fathul Bari 11/98 Lihat: www.almanhaj.or.id/content/72/slash/0].
Ketahuilah! Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita, untuk berdoa KepadaNya
Maka barangsiapa yang meninggalkan doa berarti menentang perintah Allah dan barangsiapa yang melaksanakan berarti telah memenuhi perintah-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Artinya : Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.
[Al-Baqarah : 186].
Syaikh Sa’di mengatakan bahwa ayat di atas sebagai jawaban atas pertanyaan para sahabat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka bertanya : Wahai Rasulullah, apakah Allah dekat sehingga kami memohon dengan berbisik-bisik ataukah Dia jauh sehingga kami memanggil-Nya dengan berteriak ? Maka turunlah ayat Allah:
[Tafsir At-Thabari dan didhaifkan oleh Imam Ahmad 3/481; Lihat: www.almanhaj.or.id/content/72/slash/0].
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat”.
Karena Allah adalah Dzat Yang Maha Melihat, Maha Mengetahui dan Maha Menyaksikan terhadap sesuatu yang tersembunyi, rahasia dan mengetahui perubahan pandangan mata serta isi hati.
Allah juga dekat dengan hamba-Nya yang meminta dan selalu sanggup mengabulkan permintaan. Maka Allah berfirman :
أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku”.
Dua macam doa
Doa adalah dua macam yaitu doa ibadah dan doa permohonan. Kedekatan Allah dengan hamba-Nya terbagi dua macam yaitu ; kedekatan ilmu-Nya dengan setiap mahluk-Nya dan kedekatan dengan hamba-Nya dalam memberikan setiap permohonan, pertolongan dan taufik kepada mereka.
Barangsiapa yang berdoa kepada Allah dengan hati yang khusyu’ dan berdoa sesuai dengan aturan syariat serta tidak ada penghalang diterima doa tersebut seperti makan makanan yang haram atau semisalnya, maka Allah berjanji akan mengabulkan permohonan tersebut.
Apalagi bila disertai hal-hal yang menyebabkan terkabulnya doa seperti memenuhi perintah Allah, meninggalkan larangan-Nya baik secara ucapan maupun perbuatan dan yakin bahwa doa tersebut akan dikabulkan.
Maka Allah berfirman :
فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hedaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.
Artinya orang yang berdoa akan berada dalam kebenaran yaitu mendapatkan hidayah untuk beriman dan berbuat amal shalih serta terhindar dari kejahatan dan kekejian.
[Tafsir As-Sa'di 1/224-225]
(Lihat: http://www.almanhaj.or.id/content/72/slash/0)
Kita berdoa kepada Allah saja, dan tidak boleh memalingkannya kepada selainNya atau mendatangkan sekutu-sekutu dalam berdoa/beribadah.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ
Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Sesembahan (yang berhak untuk diibadahi) selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling?
(Faatir: 3)
Allah berfirman:
ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ
Itulah Allah, Rabbmu; (yang) tidak ada sesembahan (yang berhak diibadahi) selain Dia; (Dialah) Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia (saja); dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.
(Al-An’aam: 102)
Allah berfirman:
أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ ۚ تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Apakah disamping Allah ada sesembahan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya).
(An-Naml: 63)
Allah berfirman:
قُلْ أَرَأَيْتُمْ شُرَكَاءَكُمُ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ أَمْ آتَيْنَاهُمْ كِتَابًا فَهُمْ عَلَىٰ بَيِّنَتٍ مِّنْهُ
Katakanlah: “Terangkanlah kepada-Ku tentang sekutu-sekutumu yang kamu seru selain Allah. Perlihatkanlah kepada-Ku (bahagian) manakah dari bumi ini yang telah mereka ciptakan? ataukah mereka mempunyai saham dalam (penciptaan) langit? atau adakah Kami memberi kepada mereka sebuah Kitab sehingga mereka mendapat keterangan-keterangan yang jelas daripadanya?
(Faatir: 40)
Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِن يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ
Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.
(Al-Hajj: 73)
Allah berfirman:
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ هَلْ مِن شُرَكَائِكُم مَّن يَفْعَلُ مِن ذَٰلِكُم مِّن شَيْءٍ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Sucilah Dia dan Maha Tinggi, dari apa yang mereka persekutukan.
(Ar-Rum: 40)
Allah berfirman:
ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah (sesembahan) yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah (sesembahan) yang batil; dan sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar
(Luqman: 30)
Allah berfirman:
وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ
Maka Janganlah kamu menyembah di samping (menyembah) Allah, sesembahan apapun yang lain. Tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Dia.
(Al-Qasas: 88)
Allah berfirman:
بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُن مِّنَ الشَّاكِرِينَ
Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.
(Az-Zumar: 66)
Allah berfirman:
قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّهُ دِينِي
Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”
(Az-Zumar: 14)
Berdoa kepada Allah adlaah IBADAH yang paling MULIA
Rasulullah bersabda:
لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللهِ_عَزَّ وَجَلَّ_ مِنَ الدُّعَاءِ
“Tidak ada yang lebih mulia atas Allah dari doa.”
(Hadits Hasan; diriwayatkan Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dan dinilai hasan oleh Syeikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad, 549).
Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa makna hadits tersebut adalah tidak ada sesuatu ibadah qauliyah (ucapan) yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa, sebab membandingkan sesuatu harus sesuai dengan substansinya. Sehingga pendapat yang mengatakan bahwa shalat adalah ibadah badaniyah yang paling utama sehingga hal ini tidak bertentangan dengan firman Allah.
[lihat: ustadzkholid.com]
Sering berdoa adalah sifat hamba Allah yang bertakwa.
Dalam menjelaskan sifat keluarga Zakaria, Allah berfirman:
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami”
(QS Al-Anbiya’: 90)
Doa merupakan sebab dibukakan oleh Allah pintu rahmatNya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
‎ مَنْ فُتِحَ لَهُ مِنْكُمْ بَابُ الدُّعَاءِ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ
“Barang siapa diantara kalian yang dibukakan baginya pintu doa maka dibukakan baginya pintu rahmat.”
[HR. Tirmidziy dengan sanad yang hasan, dihasankan syaikh al-albaaniy dalam shahiihul jaami' (no. 3409)]
Orang yang paling lemah adalah orang yang meninggalkan berdoa
berdasarkan hadits Nabi bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إِنَّ أَعْجَزَ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ بِالدُّعَاءِ ، وَإِنَّ أَبْخَلَ النَّاسِ مَنْ بَخِلَ بِالسَّلامِ
“Artinya : Orang yang lemah adalah orang yang meninggalkan berdoa dan orang yang paling bakhil adalah orang yang bakhil terhadap salam”.
[Al-Haitsami, kitab Majma' Az-Zawaid. Thabrani, Al-Ausath. Al-Mundziri, kitab At-Targhib berkata : Sanadnya Jayyid (bagus) dan dishahihkan Al-Albani,As-Silsilah Ash-Shahihah 2/152-153 No. 601; Lihat: www.almanhaj.or.id/content/72/slash/0]
Imam Manawi berkata bahwa yang dimaksud dengan ‘Ajazu an-naasi adalah orang yang paling lemah akalnya dan paling buta penglihatan hatinya, dan yang dimaksud dengan Min ‘ajzin ‘an ad-dua’i adalah lemah memohon kepada Allah terlebih pada saat kesusahan dan demikian itu bisa mendatangkan murka Allah karena dia meninggalkan perintah-Nya padahal berdoa adalah pekerjaan yang sangat ringan.
[Faidhul Qadir 1/556; lihat: www.almanhaj.or.id/content/72/slash/0]
Ahli syair berkata:
Janganlah kamu meminta kepada manusia,
(akan tetapi,) memintalah kepada Dzat yang tidak pernah tertutup pintu-Nya
Allah akan murka jika engkau tidak meminta-Nya,
sementara manusia marah jika sering diminta.
Doa menjadi sebab menolak kemurkaan Allah
Sebagaimana sabda Rasulullah,
مَنْ لمَ ْيَسْأَلِ اللهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ
“Siapa yang tidak meminta kepada Allah niscaya Allah murka kepadanya.”
(Hadits Hasan; diriwayatkan Ahmad dan At-Tirmizi dan dinilai hasan oleh Syeikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad, 512; Lihat:ustadzkholid.com).
Jelaslah doa seorang hamba termasuk kewajiban terpenting, karena menjauhkan sesuatu yang menjadikan Allah murka adalah wajib tanpa khilaf.
(lihat Tuhfah Adz-Dzaakirin, hal. 31; lihat: ustadzkholid.com/ibadah/tawakal-dan-doa/)
Imam Hafizh Ibnu Hajar menuturkan bahwa Imam At-Thaibi berkata : “Makna hadits di atas yaitu barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Dia akan murka begitu pula sebaliknya Dia sangat senang apabila diminta hamba-Nya”.
[Fathul Bari 11/98; www.almanhaj.or.id/content/72/slash/0]
Imam Al-Mubarak Furi berkata bahwa orang yang meninggalkan doa berarti sombong dan merasa tidak membutuhkan Allah.
Imam At-Thaibi berkata bahwa Allah sangat senang tatkala dimintai karunia-Nya, maka barangsiapa yang tidak memohon kepada Allah, maka berhak mendapat murka-Nya.
Dari hadits di atas menunjukkan bahwa permohonan hamba kepada Allah merupakan kewajiban yang paling agung dan paling utama, karena menghindar dari murka Allah adalah suatu yang menjadi keharusan.
[Mura'atul Mashabih 7/358; www.almanhaj.or.id/content/72/slash/0]
Doa menjadi sebab dihilangkan bencana setelah terjadinya
Sebagaimana dijelaskan Rasulullah dalam sabdanya,
مَنْ فُتِحَ لَهُ مِنْكُمْ بَابُ الدُّعَاءِ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ، وَمَا سُئِلَ اللهُ شَيْئًا يُعْطَى أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ الْعَافِيَةَ, إِنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ؛ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ باِلدُّعَاءِ
“Siapa yang dimudahkan berdoa maka dibukakan baginya pintu-pintu rahmat. Allah tidak ditanya sesuatu yang diberi lebih Dia sukai dari permintaan sehat (afiyah), karena doa bermanfaat pada musibah yang telah terjadi dan yang belum terjadi. Maka wajib bagi kalian -wahai hamba Allah- untuk berdoa.”
(HR At-Tirmizi dan dinilai hasan oleh Syeikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’, 3409).
Dan sudah sepantasnya, seorang hamba apabila mendapatkan rasa suka dan semangat untuk segera memperbanyak doa. Karena itu, akan dikabulkan dan akan ditunaikan kebutuhannya dengan keutamaan dan rahmat Allah. Sebab dibukanya pintu-pintu rahmat adalah tanda dikabulkannya doa.
Doa menjadi sebab digagalkan bala (bencana) sebelum terjadi, sebagaimana sabda Rasulullah,
وَلاَ يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلاَّ الدُّعَاءُ
“Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa.”
(HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh Syeikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’, 7687).
Bahwasanya berdoa itu termasuk takdir Allah. Terkadang Allah akan menetapkan suatu takdir untuk hambanya dengan syarat ketika dia tidak berdoa. Namun jika dia berdoa, maka Allah menghapus takdir tersebut untuknya.
(lihat Tuhfah Adz-Dzaakirin hal. 31; ustadzkholid.com/ibadah/tawakal-dan-doa/).
Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa yang dimaksud adalah, takdir yang tergantung pada doa dan berdoa bisa menjadi sebab tertolaknya takdir karena takdir tidak bertolak belakang dengan masalah sebab akibat, boleh jadi terjadinya sesuatu menjadi penyebab terjadi atau tidaknya sesuatu yang lain termasuk takdir.
Suatu contoh berdoa agar terhindar dari musibah, keduanya adalah takdir Allah. Boleh jadi seseorang ditakdirkan tidak berdoa sehingga terkena musibah dan seandainya dia berdoa, mungkin tidak terkena musibah, sehingga doa ibarat tameng dan musibah laksana panah.
[Mura'atul Mafatih 7/354-355; www.almanhaj.or.id/content/72/slash/0].
Hendaknya seseorang tidak bingung dalam hal ini, taqdir itu ada dua:
1. Al-Qadarul Mutsbat (qadar yang telah tetap dan pasti).
Yaitu apa yang telah tertulis dalam Ummul-Kitab (al-Lauhul Mahfuzh). Qadar ini tetap, tidak berubah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
قَدَّرَ اللَّهُ الْمَقَادِيرَ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Allah telah menetapkan ketentuan-ketentuan para makhluk 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi…”
(HR. Muslim, VIII/51)
Allah berfirman:
وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ
Dan sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.
(az Zukhruf 5)
Setelah menyuruh anaknya membaca ayat diatas Atha’ bertanya kepadanya, “Apakah kamu tahu apa maksudnya Ummul Kitab?”
aku menjawab, “Hanya Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”
Atha’ berkata, “Susungguhnya Ummul Kitab adalah kitab yang ditulis oleh Allah sebelum menciptakan langit dan bumi di dalamnya terdapat ayat yang menyatakan bahwa Fir’aun termasuk penghuni neraka, dan di dalamnya terdapat ayat, ‘تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa).’”
2. Al-Qadarul Mu’allaq atau Muqayyad (qadar yang tergantung atau terikat).
Yaitu, apa yang tertulis dalam catatan-catatan Malaikat, sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ
“Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah seperti itu pula (empat puluh hari), kemudian menjadi segumpal daging seperti itu pula, kemudian Dia mengutus seorang Malaikat untuk meniupkan ruh padanya, dan diperintahkan (untuk menulis) dengan empat kalimat: untuk menulis rizkinya, ajalnya, amalnya dan celaka atau bahagia(nya)…”
(HR. Bukhari, No. 3208; Muslim, No. 2643; Ibnu Majah, No. 76. Lafazhnya adalah dari riwayat Muslim).
Berkata Ibn Hajar:
Maka penghapusan dan penetapan itu adalah berhubungan dengan apa yang ada dalam ilmu Malaikat, sedangkan yang tertulis dalam Ummul-Kitab, yaitu yang berada dalam ilmu Allah Ta’ala, maka tidak ada penghapusan sama sekali. Untuk qadha’ ini dinyatakan dengan qadha’ yang bersifat tetap, sedangkan untuk yang disebutkan sebelumnya dinyatakan dengan qadha’ yang tergantung.
(Fathul Baari, X/430; Syarh Shahiih Muslim, an-Nawawi, XVI/114; Ifaadah al-Khabar bin Nashshihi fii Ziyaadatil ‘Umr wa Naqshihi, as-Suyuti)
http://abuzuhriy.com
[dari mfpu]

0 komentar:


Posting Komentar