rss

Sabtu, 05 November 2011

Ash-Shabuni dan Ibnu Arabi masing-masing ada dua ?!?


Ash-Shabuni dan Ibnu Arabi masing-masing ada dua ?!?


1) Nadharakumullâh, Bârakallâhu fîkum. Apa benar ash-Shabuni ada dua orang? (Yang) satu sunnah dan satu lagi ahli bid’ah? Bagaimana cara membedakannya? Juga Ibnu Arabi, ada dua? Syukran.
2) Kitab al-Hadyu an-Nabawi ash-Shahîh fî Shalâh at-Tarâwîh, karangan ash-Shabuni. Ini ash-Shabuni yang mana? Ia dikritik Syaikh al-Albani -rahimahullah-. Jazâkumullâh khairan, syukran katsiran.
3) Bârakallahu fîkum. Ana usul, kalau ada dua nama yang sama tapi beda manhaj, tolong dikasih catatan kaki untuk membedakan. Syukran. Riau, 085271411XXX
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan Salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad -shollallahu alaihi wa sallam-, keluarga, dan para sahabat beliau. Amma ba’du.
1). Antara Muhammad Ali ash-Shabuni dan Abu Utsman ash-Shabuni 
Benar, orang yang bernama ash-Shabuni ada dua orang. Yang pertama bernama Muhammad Ali ash-Shabuni, penulis kitab Shafwah at-Tafâsîr, Mukhtashar Tafsîr Ibn Katsîr, dll. Begitu banyak kritikan pedas ulama yang ditujukan kepadanya, semisal Syaikh Bin Baaz, Syaikh al-Albani, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Syaikh Bakr Abu Zaid, Syaikh Muhammad Jami Zainu, dll. [Selengkapnya, lihat adz-Dzakhiirah, Vol. 6, No. 9, Edisi 41, hlm 39-43].
Yang kedua bernama Isma’il bin Abdurrahman bin Ahmad bin Ismail ash-Shabuni -rahimahullah-, kunyahnya Abu Utsman, masyhur dengan sebutan Abu Utsman ash-Shabuni atau ash-Shabuni saja. Lahir pada tahun 373 H. di Negeri Nisaphur, dan di negeri itu pula beliau wafat, tepatnya pada tahun 983 H.
Beliau adalah seorang pakar hadits senior. Seorang Syaikh besar yang memiliki lisan yang fasih, berwawasan dan berpengetahuan luas, sangat paham dengan cabang ilmu hadits dan tafsir. Bahkan, beliau sangat menguasai bahasa Persia sebagaimana penguasaannya terhadap bahasa Arab. Sehingga, ulama Ahlu Sunnah memberikan kepada beliau gelar Syaikhul Islam. Di antara karya populer beliau adalah kitab ‘Aqidah as-Salaf Ash-hâb al-Hadîts, al-Fushûl fî al-Ushûl, dll.
Antara Ibnu Arabi dan Ibnul Arabi
Orang yang bernama Ibnu ‘Arabi juga ada dua. Yang pertama Ibnu ‘Arabi [اِبْنُ عَرَبِيٍّ], tanpa menggunakan alif dan lâm. Sedangkan yang menyerupai nama ini adalah Ibnul ‘Arabi [اِبْنُ العَرَبِيِّ] dengan menggunakan alif dan lâm. Sehingga secara sekilas, keduanya bernama Ibnu Arabi atau juga Ibnul Arabi. Namun, ternyata keduanya berbeda dengan perbedaan ada tidaknya huruf alif dan lâm.
Ibnu Arabi
Yang pertama bernama Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah al-Hatimi al-Andalusi, bergelar Muhyiddin, yang tenar dengan panggilan Ibnu Arabi, seorang sufi tulen.
Pernah tinggal di Mekah beberapa tahun. Dan ketika di sana, ia sempat menulis bukunya yang berjudul al-Futûhât al-Makkiyyah. Ia juga memiliki beberapa tulisan lain, seperti Fushûsh al-Hikam, yang dikritik habis oleh Ibnu Taimiyyah, juga memiliki Dîwân Syi’r (kumpulan syair) yang menunjukkan kafasihannya yang berkelas. Hanya saja, ia mengotorinya dengan ucapan terus terangnya dengan akidah wihdatul wujûd (keyakinan seorang makhluk yang dapat bersatu dengan Khalik/Sang Pencipta). Dari sisi sinilah ulama terdahulu dan terkini mengupas habis akidah Ibnu Arabi, di samping beberapa penyimpangan sesat yang lain.
Di Antara Akidah Rusak Ibnu Arabi
• Ibnu Arabi mengaku, bahwa tulisan dan buku yang ia sebarkan telah mendapatkan izin dari Nabi n, ketika ia bertemu dengan beliau n dalam mimpi.
• Meyakini bahwa Rabb adalah hamba dan hamba adalah Rabb.
• Mengatakan bahwa hewan-hewan tertentu adalah Rabb.
• Mengatakan bahwa Rabb adalah pendeta yang ada di gereja.
• Bahwa Allah al-Haq al-Munazzah (suci dari segala aib dan kekurangan) adalah hamba yang diserupakan.
• Ia berkata tentang kaum Nabi Nuh p, andai saja mereka meninggalkan peribadatan kepada Wadd, Suwâ’, Yaghûts, Ya’ûq dan Nasr, sungguh mereka akan menjadi jauh lebih bodoh tentang Allah al-Haq.
• Allah al-Haq memiliki wajah pada setiap hamba-Nya.(1)
Di antara Ulama yang Membantah Habis Kesesatan Ibnu Arabi 
Begitu banyak ulama yang membantah, mengkritik, mengupas habis, dan menyesatkan Ibnu Arabi as-Sufi. Berikut ini beberapa nama ulama yang membantah akidah Ibnu Arabi: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Taqiyyuddin as-Subki, Abu Zur’ah al-Iraqi, Jamaluddin al-Mizzi, Zainuddin al-Kannani, Nuruddin al-Bakri, Syihabuddin al-Asqalani, dll. (2)
Meluruskan Kesalahan; Tidak Ada Karomah Bagi Ibnu Arabi
Ada sebuah hikayat yang menerangkan, bahwa Ibnu Arabi mati terbunuh ketika orang-orang bertanya kepadanya tentang Tuhan mereka? Ia menjawab, bahwa tuhan mereka ada di kedua telapak kakinya. Dengan serta merta orang-orang yang hadir pada waktu itu mengeroyok Ibnu Arabi dan menyekaknya dengan pukulan dan tamparan hingga mati.
Kemudian, ada cerita bualan yang menjelaskan, bahwa seusai Ibnu Arabi dikebumikan, teman-teman seperjuanganya datang ke makamnya. Lalu mereka membongkar suatu tempat yang pernah ditunjuk oleh Ibnu Arabi. Ternyata, mereka mendapatkan lempengan emas yang begitu melimpah. Dan mereka pun menganggap itu semua sebagai salah satu karomahnya.
Setelah diteliti dan dicermati, ternyata cerita di atas adalah bualan dusta yang tidak ada dasarnya sama sekali. Dan yang benar, sebagaimana yang dituturkan oleh ulama yang menulis biografi Ibnu Arabi, bahwa dirinya mati dalam keadaan wajar. Tidak ada pukulan, tidak ada tamparan, tidak ada emas, dan tidak ada karomah.
Ibnu Arabi wafat pada malam jumat, 24 Rabi’ul Akhir 638 di Damaskus. Dan dikebumikan di sebuah komplek pemakaman yang terkenal dengan nama Turbah Bani Zaki.
Ibnul Arabi al-Maliki al-Qadhi -rahimahullah-
Beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad al-Isybili, masyhur dengan sebutan Abu Bakar Ibnul Arabi. Adalah seorang ulama madzhab Maliki, seorang Qâdhi/Hakim, dan pakar hadits senior. Lahir di kota Isybilia 22 Sya’ban 468 H, dan wafat pada tahun 543 H.
Begitu pandai dengan sastra Arab dan telah sampai derajat ijtihad dalam hal ilmu agama. Beliau memiliki beberapa tulisan dalam cabang hadits, fikih, ushul, tafsir, sastra, dan sejarah.
Di antara karangan beliau al-’Awâshim min al-Qawâshim, Ahkâm al-Qur`ân, an-Nâsikh wa al-Mansûkh fî al-Qur`ân, al-Mahshûl fî Ushûl al-Fiqh, Qânûn at-Ta`wîl, dll.
2). Adapun kitab al-Hadyu an-Nabawi ash-Shahîh fî Shalâh at-Tarâwîh, karya ash-Shabuni, meskipun secara pasti kami belum mengetahuinya, namun dari perkataan antum bahwa ia sering dikritik Syaikh al-Albani t, maka insyâ`Allah kitab tersebut adalah tulisan Muhammad Ali ash-Shabuni. Wallâhu a’lam.
3). Usulan antum di atas Insyâ`Allâh akan kami realisasikan pada edisi-edisi selanjutnya. Semoga bermanfaat.
—————————
1. Untuk menambah pengetahuan, silahkan baca buku Aqidah Ibn Arabi wa Hayatuhu, karya Syaikh Taqyuddin al-Farisi (wafat 832H) -rahimahullah-, dan diteliti serta dikomentari oleh Syaikh Ali Hasan al-Halabi al-Atsari, juga Minhaj al-Firqah an-Najiyah, karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
2. Silahkan lihat perincian komentar mereka tentang Ibnu Arabi pada buku di atas
(Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 43 hal. 4-5)
D
Dipublikasi ulang oleh http://abu-hashifah.blogspot.com dari  http://www.majalahislami.com

0 komentar:


Posting Komentar