rss

Rabu, 25 Mei 2011

Asy-Syaafi, Allah yang Maha Penyembuh (Bagian 2)

Penjabaran makna nama Allah Asy-Syaafi




Imam Ibnul Qayyim ketika menjelaskan makna doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, beliau berkata, “Dalam ruqyah (doa/zikir perlindungan) ini (terdapat) tawassul (usaha/ sebab untuk mendekatkan diri) kepada Allah dengan kesempurnaan (sifat) rububiyah-Nya (pengaturan-Nya atas semua urusan makhluk-Nya) dan kasih sayang-Nya dalam menyembuhkan (penyakit manusia), dan bahwa Dialah satu-satunya Asy-Syaafi (Yang Maha Penyembuh), tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan (dari)-Nya. Maka ruqyah (doa/ zikir perlindungan) ini mengandung tawassul (usaha/ sebab untuk mendekatkan diri) kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya (mengesakan-Nya alam beribadah), (sifat) ihsan (kebaikan) dan rububiyah-Nya.” (Kitab Zaadul Ma’aad (4/172)).
Al-Halimi berkata, “Diperbolehkan untuk mengucapkan dalam doa: wahai Asy-Syaafi (Yang Maha Penyembuh), wahai Al-Kaafi (Yang Maha Pemberi Kecukupan), karena Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah yang menyembuhkan dada (hati) manusia dari syubhat (kerancuan/ kesalahpahaman dalam memahami Islam) dan keragu-raguan, juga dari (sifat) dengki dan khianat, serta menyembuhkan badan manusia dari berbagai macam penyakit dan kerusakan. Tidak ada yang mampu melakukan semua itu selain-Nya dan tidak ada yang (pantas) diseru dengan nama ini (asy-Syaafi) kecuali Dia.” (Kitab Al-Minhaaj fi Syu’abil Iimaan, (1/209)).
Allah ‘Azza wa Jalla Dialah Yang Maha Menyembuhkan segala macam penyakit manusia, dan tidak ada kesembuhan bagi mereka kecuali kesembuhan (dari)-Nya.
Kesembuhan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala ada dua macam:
1. Kesembuhan yang bersifat maknawi dan rohani, yaitu kesembuhan dari penyakit-penyakit hati manusia.
2. Kesembuhan fisik, yaitu kesembuhan dari penyakit-penyakit badan manusia (Lihat kitab Syarhu Asma-illahil Husna, (hal. 115)).
Kedua macam penyembuhan ini terungkap dalam keumuman sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, kecuali Dia (juga) menurunkan obat (penyembuh) bagi penyakit tersebut.” (Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (no. 5354)).
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan dua macam kesembuhan ini dalam al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tentang penyembuhan yang pertama, yaitu penyembuhan penyakit hati manusia, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ}
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu nasihat dari Rabb-mu (al-Qur’an) dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada (hati manusia), dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yuunus: 57).
Imam Ibnu Jarir ath-Thabari, “Allah menjadikan al-Qur’an bagi orang-orang yang beriman sebagai penyembuh, (dengan) mereka mengambil pengobatan dari nasihat-nasihat (yang terkandung dalam) al-Qur’an untuk (menyembuhkan) penyakit-penyakit yang merasuk ke dalam dada (hati) mereka, (juga penyakit yang berupa) bisikan dan godaan setan (yang akan merusak hati dan keimanan manusia), maka Allah mencukupkan (nasihat) bagi orang-orang yang beriman dengan penjelasan ayat-ayat-Nya, sehingga mereka tidak butuh lagi kepada nasihat yang lain.” (Kitab Tafsir Ath-Thabari, (1/67).
Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
{وَنُنزلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلا خَسَارًا}
Dan Kami turunkan pada al-Qur’an suatu yang merupakan penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. al-Israa’: 82).
Imam Ibnu Katsir berkata, “Arti ‘al-Qur’an sebagai penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman’: al-Qur’an akan menghilangkan penyakit-penyakit yang ada di hati mereka, yang berupa keraguan (ketidakyakinan), kemunafikan, kesyirikan, penyelewengan dan penyimpangan, maka al-Qur’an akan menyembuhkan semua (penyakit) tersebut…” (Kitab Tafsir Ibnu Katsir, (3/83)).
Akan tetapi perlu diingatkan di sini, bahwa fungsi al-Qur’an sebagai petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menyembuhkan penyakit hati, hanyalah bisa diambil oleh orang-orang yang mengimani kebenaran al-Qur’an, serta memahami kandungan makna dan artinya.
Imam Ibnul Qayyim berkata, “Al-Qur’an adalah penyembuh yang hakiki  dari berbagai syubhat (kerancuan/ kesalahpahaman dalam memahami Islam) dan keragu-raguan (dalam keimanan), akan tetapi semua (manfaat al-Qur’an) itu tergantung dari (sejauh mana) kita memahami (kandungan) artinya dan mengetahui maksud (penafsiran yang benar) darinya.” (Kitab Igaatsatul Lahfaan min Masha-yidisy Syaithaan, (1/44)).
Adapun tentang penyembuhan yang kedua, yaitu penyembuhan pada fisik dan badan manusia, ini ditunjukkan dalam beberapa hadits yang shahih.
Misalnya, hadits riwayat Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu tentang beberapa orang shahabat radhiallahu ‘anhum yang melakukan safar (perjalanan), lalu mereka singgah di sebuah perkampungan Arab, kemudian kepala suku perkampungan tersebut sakit karena disengat binatang buas, dan salah seorang shahabat radhiallahu ‘anhu mengobatinya dengan membaca surat al-Fatihah, maka serta merta orang tersebut sembuh total, lalu mereka diberi hadiah beberapa ekor kambing. Kemudian setelah pulang dari perjalanan tersebut, mereka menceritakan kejadian tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliaupun membenarkan perbuatan mereka seraya bersabda, “Dari mana kamu mengetahui bahwa surat al-Fatihah adalah ruqyah (doa/ zikir untuk penyembuhan)?“, bahkan kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta bagian dari hadiah kambing tersebut.” (Hadits shahih riwayat al-Bukhari (no. 2156) dan Muslim (no. 2201)).
Juga hadits riwayat ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ditimpa sakit, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca al-mu’awwidzaat (surat al-Falaq dan an-Naas) untuk diri beliau sendiri dan meludah sedikit. Lalu ketika sakit beliau sudah parah, akulah yang membacanya untuk beliau dan aku mengusap dengan tangan beliau, karena mengharap keberkahannya.” (Hadits shahih riwayat al-Bukhari (no. 4728) dan Muslim (no. 2192)).
_____________
Bersambung insya Allah
Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, M.A.
Artikel www.manisnyaiman.com

0 komentar:


Posting Komentar